
"Kamu pikir aku seperti kalian yang bisa tinggal di rumah sekecil ini?" tanya Sari. Tatapan matanya seolah menghina rumah yang ditempati keluarga Tania.
"Rumah seperti ini hanya pantas untuk kandang ayam! Apalagi kios yang di dekat terminal itu. Kiosku jauh lebih besar. Terus angkot itu? Bisa gatel-gatel aku menaikinya! Aku punya mobil mewah!" ucap Sari dengan sombong.
Widya dan Eni semakin meradang. Tapi masih berusaha diam.
"Terus apa maunya Bu Sari?" tanya Tania.
"Kalian sudah cukup banyak kan menerima pemberian Tono? Jadi jangan pernah usik rumah mewah Tono. Jangan pernah bermimpi untuk memilikinya!" sahut Sari.
"Maaf, Bu Sari. Saya tak pernah berminat dengan rumah itu!" ucap Tania ketus.
"Enggak usah bohong! Kamu merayu Tono kan, biar memberikan rumah itu padamu?" tanya Sari.
"Astaghfirullah! Saya tak pernah merayunya. Saya katakan sekali lagi, saya tak pernah berminat dengan rumah itu!" sahut Tania.
"Baguslah kalau begitu. Aku pegang omongan kamu!" ucap Sari.
"Silakan!" sahut Tania.
"Mungkin Tono sudah mengatakannya padamu, kalau dia akan memberikan rumah itu untuk kamu. Tapi itu kalau kamu menikah dengan Rendi!" ucap Sari.
"Tapi perlu kamu tau, aku tak akan pernah menyetujuinya. Karena Rendi akan menikah dengan Monica. Dan mereka akan tinggal di sana!" lanjut Sari.
Tania hanya menghela nafasnya.
Dalam hati berpikir, kasihan sekali Sari yang sudah dipengaruhi oleh Monica.
"Dan kamu mestinya sadar diri. Ngaca, siapa diri kamu! Kamu hanya anak pungut yang ditinggal kabur kedua orang tuamu!" ucap Sari dengan kasar.
Widya tak bisa lagi menahan emosinya. Apalagi ini sudah menyangkut keluarganya.
"Maaf, Bu Sari. Adik saya memang meninggalkan Tania. Dan Tania keponakan kami sendiri. Jadi, Tania bukan anak pungut!" ucap Widya dengan geram.
"Oh iya. Dia keponakan kalian. Dan sayangnya dia diasuh oleh orang yang matre kayak kalian. Jadi, ya...begitulah. Dia rela dinikahi orang yang pantas jadi bapaknya, demi harta! Begitu, kan?" sahut Sari.
Danu tak bisa lagi menahan emosinya. Dia keluar dan berdiri di ambang pintu tengah.
"Bu Sari. Kalau kedatangan Bu Sari untuk meminta lagi semua pemberian Tono, saya kembalikan semuanya! Apalagi kalau untuk menghina kami, sebaiknya Bu Sari keluar dari sini!" Danu yang sudah sangat emosinya, menunjuk ke arah pintu depan.
"Oh! Kamu mengusirku? Baik. Aku enggak perlu diusir! Aku juga akan pergi dari sini secepatnya. Aku cuma mau mengingatkan keponakan kamu, yang sebentar lagi jadi janda itu, supaya tidak meminta rumah mewah suamiku!"
Sari lalu berdiri dan kembali mengoceh.
"Aku tak akan tinggal diam, kalau kamu merebut rumah itu. Aku bisa laporkan kamu ke polisi dengan tuduhan pemerasan! Ingat itu!" ancam Sari.
Lalu Sari pergi dari rumah Danu.
__ADS_1
Tania menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu pecahlah tangisnya.
Widya yang duduk di sebelahnya, langsung memeluk dengan erat.
Eni pun menghampiri Tania dan ikut memeluk.
"Dia pikir bisa mengancamku seperti Tono dahulu? Kali ini, aku tak akan tinggal diam! Aku akan lawan dia!" ucap Danu dengan sangat marah.
Danu menatap tiga wanita yang sedang berpelukan sambil menangis. Hatinya sangat sakit.
Hinaan Sari benar-benar membuat harga dirinya memberontak.
"Tania! Jauhi Rendi! Paman enggak rela kamu dihina seperti itu oleh mamanya!" seru Danu.
Tania langsung melepaskan pelukan Widya dan Eni.
"Jangan bawa-bawa Rendi, Paman. Rendi tak salah apa-apa," sahut Tania.
"Iya, Rendi memang tak salah. Tapi kamu akan terus dihina oleh mamanya! Dan Paman enggak bisa terima!" sahut Danu.
"Enggak, Paman. Tania tetap akan meneruskan hubungan dengan Rendi. Tania sangat mencintai Rendi, Paman!" ucap Tania.
"Tania. Kamu enggak denger yang dikatakan mamanya Rendi tadi? Rendi sudah menghamili wanita lain!" ucap Widya.
"Bohong, Bude. Semua itu bohong. Bu Sari sudah dipengaruhi oleh Monica!" sahut Tania.
Tania menghapus air matanya. Dia berusaha untuk tenang.
"Dia...dia teman dekatnya Rendi. Rendi mencoba menjalin hubungan dengannya, karena Tono membohonginya waktu itu!" ucap Tania.
"Maksudnya?" tanya Eni.
"Tono berbohong pada Rendi, kalau Tania sedang hamil. Lalu Tono akan menjual rumahnya dan beli rumah lain, atas kemauan Tania. Biar Rendi enggak nyariin Tania lagi, Bi," jawab Tania.
"Dasar bangsat si Tono! Anak sendiri aja dibohongi!" maki Danu.
"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan dengan Rendi?" tanya Widya.
Widya tidak mendukung hubungan Tania dengan Rendi. Tapi juga tak melarangnya seperti Danu. Dia hanya ingin tahu rencana mereka ke depannya.
"Kita tunggu saja sampai Rendi pulang dari rumah sakit, Bude," jawab Tania.
Tania akan menyembunyikan dulu soal rencananya dengan Rendi dari keluarganya.
"Ya, sebaiknya begitu. Nanti kalau Rendi sudah pulang dari rumah sakit dan sudah sehat lagi, bicarakan masalah ini baik-baik," sahut Widya dengan bijak.
Tania mengangguk.
__ADS_1
"Kamu juga jangan memaksakan keinginan kamu, untuk memiliki Rendi. Kalau memang benar Rendi telah menghamili wanita lain, kamu harus legowo, ya," lanjut Widya.
Tania hanya diam. Karena dia yakin kalau Rendi tak pernah melakukannya dengan Monica.
Tania tak bisa ngeyel membela Rendi di depan keluarganya. Biarlah nanti Rendi yang akan menjelaskannya sendiri pada mereka.
Danu mengambil kunci motor Eni.
"Mau kemana kamu, Pak?" tanya Eni.
"Aku mau ke rumah Tono!" jawab Danu.
"Mau ngapain?" tanya Eni lagi.
"Aku mau bilang pada Tono soal ini. Terus terang, aku sangat merasa terhina dan tidak terima!" jawab Danu.
Eni menoleh pada Widya. Dia khawatir kalau Danu bakal ngamuk di rumah Tono.
"Danu. Duduk sini!" pinta Widya.
"Jangan halangi aku, Mbak. Aku tak terima keluargaku dihina seperti ini!" ucap Danu.
"Aku enggak akan menghalangi kamu, Danu. Aku cuma mau mengingatkan kamu, jangan berbuat nekat," sahut Widya.
"Kenapa enggak? Keluargaku sudah dihina oleh si Sari sialan itu!" sahut Danu memaki Sari.
"Sstt. Enggak boleh begitu. Mungkin bu Sari lagi stres saja. Kamu tau kan, masalah hidupnya banyak banget?" Widya berusaha untuk menahan emosi Danu.
"Kalau dia lagi stres, jangan terus kita yang jadi pelampiasannya dong," sahut Danu.
"Udahlah. Kita sementara diam dulu. Nanti kita selesaikan kalau Rendi sudah sehat. Kecuali kalau bu Sari itu kembali lagi," ucap Widya.
Widya tentunya tak akan tinggal diam, kalau sampai Sari datang dan menghina mereka lagi.
"En. Bikinkan suami kamu kopi. Biar anteng," ucap Widya.
"Iya, Mbak." Eni pun bergegas ke dapur.
Sementara Rendi yang mendengarkan semuanya lewat telpon, sangat marah pada mamanya.
Dia tak menyangka mamanya begitu tega menghina Tania dan keluarganya.
Rendi juga tak terima karena Sari mengatakan kalau dia telah menghamili Monica.
Dan lebih tak terima lagi, mendengar tangisan Tania yang menyayat hatinya.
Sabarlah, Tania. Aku akan menjemput dan membawamu pergi jauh dari mamaku. Janji Rendi dalam hati.
__ADS_1