HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 297 DIGIRING KE KANTOR POLISI


__ADS_3

"Dia kabur!" seru Diman. Tangannya menunjuk ke arah larinya Robi.


"Kejar!" sahut Dito.


Diman pun lari menerobos kerumunan orang. Jiwa premannya mencuat lagi. Dia sudah terbiasa mengejar orang.


Dito sampai kewalahan ikut mengejar. Maklum saja, selama ini Dito jarang sekali berolah raga. Terutama lari.


Dan tanpa kesulitan, Diman berhasil menangkap Robi. Meski usia Diman jauh di atas Robi, tapi kalau soal lari, Diman tak perlu diragukan lagi.


"Kena, kau!" Diman langsung menarik kerah kaos Robi bagian belakang.


"Auwh!" seru Robi. Lehernya terasa tercekik.


Dengan sekali gerakan, Diman sudah membuat Robi berada dalam dekapan lengan kekarnya.


"Mau lari kemana kamu, hah!" bentak Diman.


"Ampun! Ampun, Om! Apa salah saya?" tanya Robi.


Robi merasa tak punya salah pada Diman yang dipanggilnya om.


Dia lari karena melihat Mila berlari ke arahnya.


"Kamu kan yang mengambil hape adikku, hah!" seru Diman.


Diman tak sengaja menyebut Mila sebagai adiknya. Entah adik dalam bentuk apa.


Robi berpikir sejenak.


Mati aku!


Kakaknya Mila badannya segede kingkong begini. Bisa mati konyol aku. Batin Robi.


Dito dan Mila yang ikut mengejarpun sampai di dekat mereka.


"Iya, bener. Ini orangnya!" Mila menunjuk ke arah Robi.


Tak ada lagi rasa simpatik Mila pada Robi.


Dito mendekat. Lalu dia menarik kerah kaos Robi bagian depan. Diman masih mendekapnya dari belakang. Karena tak mau targetnya lepas lagi.


"Kembalikan hapenya Mila!" bentak Dito.


"I...Iya. A...Aku kembalikan. Tapi....lepas dulu ini," pinta Robi dengan nafas tercekat.


Dito menarik kerah kaosnya dengan sangat kuat. Hingga membuatnya susah bernafas.


"Kembalikan dulu hapenya! Baru aku lepasin!" Dito tak sedikitpun melonggarkan cekalannya.


Robi merogoh kantong celananya. Lalu mengambil hape Mila yang dari tadi masih di dalam kantongnya.


Mila buru-buru mendekat dan manyaut hapenya.


"Hhh...! Akhirnya." Mila menghela nafas lega.

__ADS_1


Lalu Mila mencoba menyalakan hapenya. Dia berharap hapenya belum diapa-apakan oleh Robi.


"Tuh, udah! Sekarang lepasin aku," pinta Robi. Dia merasa urusannya dengan Mila selesai.


"Enak aja lepasin! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" ucap Dito.


Dito tak mau juga kalau Robi kembali beraksi pada orang lain. Setidaknya Robi mendapatkan hukuman atas perbuatannya dari yang berwajib.


"Kalian mau apa?" tanya Robi tak mengerti.


"Kami mau bawa kamu ke kantor polisi! Ayo, Mang. Kita bawa dia ke pos!" seru Dito.


"Aduh! Jangan. Jangan. Ampun!" ucap Robi dengan nada memohon..


"Enak aja jangan. Kamu udah melakukan kejahatan. Dan kamu harus mempertanggungjawabkannya!" sahut Dito.


Diman masih mendekap Robi dari belakang. Tugasnya hanya menjaga agar Robi tak lari lagi.


"Tapi aku kan udah balikin hapenya. Apa aku harus ganti rugi juga?" tanya Robi.


Robi siap kalau Mila meminta ganti rugi padanya, daripada dia ditahan yang berwajib.


"Enggak! Aku enggak minta ganti rugi. Aku mau kamu membayar kejahatanmu di penjara!" sahut Mila yang sudah terlanjur kesal pada Robi.


"Mila! Jangan gitu dong. Maafkan aku. Aku enggak sengaja. Tadi saudaraku manggil, dan aku buru-buru menghampirinya. Aku lupa kalau hape kamu ada sama aku," ucap Robi memelas.


"Ah, bohong. Kamu pasti sengaja!" sahut Mila.


Mila sudah tak mau percaya lagi pada Robi. Dia sudah cukup kesal karena tadi kehilangan barang kesayangannya.


"Udah ketangkep orangnya?" Yahya dan dua yang lainnya sampai di dekat mereka.


"Ya udah. Bawa aja ke kantor polisi!" ucap Yahya.


"Jangan! Aku enggak mau dibawa ke sana!" sahut Robi.


"Kalau enggak mau, kita hajar aja! Kalau sudah sekarat, lempar ke laut!" ucap Wardi lebih kejam lagi.


Meski tampangnya biasa saja, tak segarang Tajab dan Diman, Wardi sering bersikap lebih kejam.


Wajah Robi langsung pucat. Dia tatap satu persatu orang-orang yang ada di depannya.


Kayaknya aku enggak bakalan bisa kabur. Gila! Badan mereka gede-gede semua. Nyali Robi makin ciut.


Aku enggak nyangka kalau Mila punya bodyguard sebanyak ini. Aku pikir dia cewek biasa yang gampang aku tipu. Batin Robi.


Dia benar-benar menyesal telah membawa lari ponsel Mila.


Kali ini dia kena batunya. Karena biasanya dengan mudah Robi membawa kabur ponsel targetnya tanpa masalah.


"Gimana? Mau pilih yang mana?" tanya Dito yang masih berdiri di depan Robi.


Wardi mengepalkan tangan sambil memainkannya. Seolah siap untuk menghajar Robi.


Robi hanya bisa menelan ludahnya.

__ADS_1


Tak ada pilihan yang enak buatnya. Di bawa ke kantor polisi pun, dia bakalan bonyok dihajar yang berwajib. Karena telah banyak kasus serupa yang terjadi di pantai itu.


"Udah jalan!" Diman memaksa Robi untuk berjalan menuju pos polisi terdekat.


"Eh. Itu kan cowok yang tadi ngambil hapeku!" seru seorang wanita seumuran Mila.


"Iya, benar! Itu orangnya!" ucap cewek di sebelahnya.


Dan mereka berdua pun mendekati Robi yang sedang berjalan dipegangi oleh Diman.


"Kalian ada masalah juga dengan laki-laki ini?" tanya Dito pada keduanya.


"Iya. Dia tadi bawa kabur hapeku!" jawab cewek yang berkaos merah.


"Benar! Dia tadi nyuruh kami bermain di pinggiran pantai sana. Katanya mau ambil foto-foto kami secara candid. Tau-tau dianya kabur!" sahut temannya.


Mila bengong mendengarnya. Rupanya modus Robi sama saja. Tadi juga dia disuruh begitu.


"Minta aja hapemu! Geledah kantong calana atau tasnya!" seru Mila.


Bukan dua cewek itu yang menggeledah, tapi Dito yang melakukannya. Karena pastinya dua cewek itu malu kalau menggeledah laki-laki.


Di kantong celana Robi tak ada hape. Lalu Dito menggeledah tas Robi.


Di sana ada beberapa hape dalam kondisi mati.


"Banyak banget hape kamu, hah!" Dito menoyor kepala Robi dengan kasar.


"Ini. Cari yang mana hapemu!" Dito memberikan beberapa hape untuk dipilih.


Cewek yang berkaos merah langsung mengambil salah satunya.


"Ini hapeku."


"Huh! Dasar maling! Penipu!" maki cewek itu pada Robi.


"Sebaiknya kalian ikut kami ke kantor polisi. Kami mau melaporkan dia. Biar dia ditangkep dan enggak menipu lagi," ucap Dito.


"Tapi kami mau pulang," sahut cewek itu.


"Sebentar aja. Kalian enggak mau kan, kalau ada korban-korban lainnya?" pinta Dito.


Dua cewek itu berpandang-pandangan.


"Nanti di sana kami harus ngapain?" tanya yang satunya agak khawatir.


"Kalian laporkan kejahatan laki-laki ini. Bikin laporan aja," jawab Dito.


"Bareng sama saudaraku ini. Dia juga korban dari laki-laki ini." Dito menunjuk Mila.


Mila tersenyum. Tak disangkanya kalau Dito menyebutnya sebagai saudara.


Mila pikir selama ini dia hanya dianggap sebagai baby sitternya Rendi saja. Ternyata penerimaan orang-orang di sekitar Rendi padanya sangat baik.


Kedua cewek itu menatap ke arah Mila. Mila pun mengangguk.

__ADS_1


"Oke. Kita bawa laki-laki penipu ini ke kantor polisi!" ucap Dito.


Mereka pun menggiring Robi menuju pos polisi terdekat.


__ADS_2