
Dengan gaya sok elegan, Linda naik ke dalam mobil. Meski dia sedikit kesal karena Tono tak membukakan pintu untuknya. Seperti pada Tania.
Tono melajukan mobilnya perlahan melewati pintu gerbang. Yahya menatap Linda dari luar penuh keinginan.
Ya. Yahya menginginkan Linda. Yahya merasa keinginannya wajar sebagai lelaki normal.
Istrinya, Asih sudah tak sehebat dulu permainannya. Sejak masalah hidup mendera mereka, Asih kehilangan hasratnya.
Dia hanya pasrah saja kalau Yahya meminta haknya sebagai suami. Tak ada serangan balik dari Asih.
Selama hampir enam tahun, Yahya seperti menaiki guling. Asih hanya diam saja tanpa berusaha membalas serangan Yahya.
Sebenarnya Yahya merasa jenuh. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Toh, sebagai kepala rumah tangga Yahya tak bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik.
Semua harta mereka yang merupakan warisan dari keluarga Asih, habis untuk biaya penyembuhan Tari, anak mereka yang akhirnya meninggal.
Bahkan mereka terjerat hutang yang tidak sedikit pada Tono. Yang akhirnya membuat mereka dijadikan budak oleh Tono.
Yahya yang sadar tak mampu menyelesaikan masalah itu, berusaha tetap setia menemani Asih.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya Yahya tergoda oleh wanita lain. Itu juga karena godaan Linda yang nakal.
Yahya menutup kembali pintu gerbang. Dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Tania sudah turun dan sedang berada di ruang makan, ditemani Asih.
Mereka sedang membicarakan Linda yang berkelakuan seperti wanita murahan.
"Iya, Bik. Tadi aku sempat melihat mereka bermain di kamar. Enggak tau malu banget itu orang. Main di ranjang, sementara pintunya terbuka," cerita Tania.
"Mungkin dia sengaja memanas-manasi Neng Tania," sahut Asih.
"Ih. Menjijikan sekali, Bik." Tania membayangkan kembali bagaimana Linda dan Tono tadi bermain panas di atas ranjang.
"Harusnya Neng Tania rekam pakai hape. Terus diviralkan." Asih tertawa terbahak-bahak.
Yahya yang ikut mendengarkan hanya menghela nafasnya.
Pantas saja Tono tergila-gila pada Linda, karena Linda sangat agresif. Batin Yahya.
Yahya jadi ingat remasan tangan Linda pada senjatanya. Yahya memejamkan matanya sebentar. Berusaha mengingat lagi rasanya.
"Kamu kenapa, Pak?" tanya Asih yang melihat Yahya merem.
"Eh, enggak, Bu. Aku ngantuk," jawab Yahya. Lalu pura-pura menguap.
"Kalau ngantuk, tidur sana. Mumpung juragan Tono pergi," suruh Asih.
"Iya, Bu." Yahya segera ke kamarnya. Kepalanya pusing meski tadi sudah sempat mengeluarkannya di kamar mandi.
"Neng Tania jadi mau kabur dari sini?" tanya Asih.
__ADS_1
"Jadi lah, Bik. Tinggal nunggu waktu aja," jawab Tania.
Wajah Asih berubah muram.
"Bibik akan sangat kehilangan Neng Tania. Selama ini, Bibik sudah menganggap Neng Tania seperti anak sendiri," ucap Asih.
Matanya berkaca-kaca. Air mata menggenang di sana.
"Terima kasih, Bik." Tania menggenggam tangan Asih. Dia juga sudah terlanjur dekat dengan Asih. Tapi Tania tak bisa selamanya tinggal di rumah Tono.
Tania juga ingin menikmati hidupnya sendiri. Meski benar-benar akan sendiri. Karena Rendi sudah meninggalkannya.
Paman dan bibinya entah sekarang tinggal di mana. Tak ada kabar sama sekali yang didapat Tania tentang mereka.
"Aku janji, Bik. Suatu saat nanti akan membawa Bik Asih dan mang Yahya keluar dari sini." Tania menepuk-nepuk tangan Asih.
Asih mengangguk. Air matanya tak bisa dibendung lagi.
"Jangan menangis, Bik. Aku jadi ikut sedih." Mata Tania pun berkaca-kaca.
Asih menghapus air matanya dengan tissue. Dia juga memberikan satu lembar tissue pada Tania.
"Terima kasih, Bik." Tania pun menghapus air matanya.
"Doakan aku ya, Bik. Biar nanti semuanya berjalan lancar," pinta Tania.
"Pasti, Neng. Bibik pasti akan mendoakan Neng Tania."
"Udah makan, Neng. Bibik mau cuci piring." Asih beranjak dari kursi.
Tania kembali makan. Makanan yang rasanya enak, jadi terasa hambar.
Tania tak bisa menikmati makanannya. Otaknya berkelana. Dia belum tahu, apa yang akan dilakukannya nanti setelah kabur.
Aku mau mencari paman dan bibi dulu. Tapi bagaimana kalau Tono menemukanku?
Paman tak bisa melawan Tono. Karena pasti menyerah oleh ancaman si Tono sialan itu. Batin Tania.
Aku ke rumah bude Widya saja. Bude pasti masih tinggal di sana. Dan Tono tak berani melawan bude.
Tania tersenyum sendiri. Ya, saat ini hanya bude yang bisa menolongku. Dan aku bakalan aman di rumahnya.
Tania kembali ke kamarnya setelah selesai makan. Dia akan mulai packing pakaian yang akan dibawanya nanti.
Tania merasa waktunya tak akan lama lagi. Meski Tania tak tega meninggalkan Asih. Tapi Tania juga tak mau setiap hari deg-degan, kalau sampai Tono menuntut haknya sebagai suami.
Tania tak bisa melayani Tono seperti Linda. Makanya, keberadaan Linda sebenarnya sangat menolong Tania.
Meskipun kadang Linda membuatnya kesal dan marah.
Sementara Asih yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, berniat tidur siang.
__ADS_1
Tak ada lagi yang bisa diajaknya ngobrol. Tania sudah masuk ke kamarnya.
Asih pun membuka pintu kamarnya perlahan. Dan mata Asih terbelalak lebar.
Di sana, di atas tempat tidurnya, Yahya sedang terbaring terlentang sambil memainkan senjatanya.
Tak hanya dipegang-pegang atau dielus, tapi Yahya mengocoknya dengan cepat.
Matanya terpejam. Mulutnya terbuka sambil komat kamit memanggil nama Linda.
Yahya tak sadar meracau sambil tangannya terus mengocok senjatanya.
"Aahhkk....Linda... Terus...Linda...aahhkk....enak banget, Linda....terus... Aahhkk...!"
Asih sangat geram melihatnya. Apalagi mendengar nama Linda disebutkan oleh Yahya.
Hhmm. Ada hubungan apa suamiku dengan si Linda sialan itu? Tanya Asih dalam hati.
Asih berjalan mengendap-endap ke arah Yahya. Yahya yang sedang asik meracau sambil membayangkan tubuh molek Linda, tak menyadari kehadiran istrinya. Apalagi matanya terpejam.
Ternyata Yahya saat pamit tidur, masih saja membayangkan tubuh polos Linda yang terlanjur dilihatnya.
Sampai di kamarnya, dia semakin tak bisa menghapus bayangan itu. Tubuh Linda seolah menari di depannya.
Dengan gerakan erotis dan mulut sedikit terbuka. Yahya yang jadi terobsesi pada Linda, langsung menarik celananya turun sedikit. Hingga memudahkan dia menggenggam senjata andalannya.
Dengan terus membayangkan tubuh Linda, Yahya kembali memuaskan dirinya dengan satu tangan.
Suasana kamar yang sepi, karena Asih masih asik ngobrol bersama Tania, membuat Yahya semakin menggila.
Dia ingin mencapai lagi klimaksnya, meski dengan cara self service.
Asih menarik pelan satu bantal, dan langsung memukulkan pada senjata Yahya.
"Pak...! Apa yang kamu lakukan, hah?" teriak Asih dengan histeris.
Yahya segera membuka matanya. Yahya terkesiap, dan langsung berusaha menaikan lagi celananya.
"Kamu bilang Linda? Kamu naksir wanita gatel itu juga, hah?" Asih masih saja berteriak.
"E....enggak, Bu. Aku hanya...."
Belum sempat Yahya meneruskan kalimatnya, Asih sudah kembali memukulnya menggunakan bantal.
"Hanya apa, hah?" Asih terus memukul Yahya dengan berang.
"Bu. Dengar dulu." Yahya berusaha menghindar.
"Dengar apa? Aku udah mendengarnya! Tega kamu, Pak!" Asih melemparkan bantalnya ke sembarang arah.
"Bu...!" Yahya berusaha memeluk Asih.
__ADS_1
"Jangan mendekat! Keluar kamu!"