HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 188 GANTI KAMAR YANG PALING MAHAL


__ADS_3

"Ada apa, Tania? Kok seneng banget," tanya Widya yang duduk di sebelah Tania.


"Rendi sebentar lagi udah boleh pulang, Bude," jawab Widya.


"Oh, ya syukur deh," ucap Widya.


"Memangnya udah sembuh?" tanya Danu.


"Kalau nunggu benar-benar sembuh, ya bakalan lama, Paman," jawab Tania.


"Iyalah. Kan bisa dirawat di rumah," sahut Widya.


"Rendi bilang, mamanya mau menyewa seorang perawat buat membantunya belajar berjalan," kata Tania seperti yang diketik Rendi tadi.


"Harusnya Tania aja yang membantunya," gumam Eni.


"Kamu tau sendiri kan, gimana sikap bu Sari, En?" tanya Widya yang mendengarnya.


"Iya, Mbak. Itu keluarga aneh. Dulu si Tono yang menghalangi. Giliran Tononya udah mengalah, malah mamanya. Kayaknya enggak pingin lihat anaknya bahagia," jawab Eni.


"Mungkin bu Sari punya pemikiran berbeda, En. Dia ingin membahagiakan Rendi dengan caranya," ucap Widya.


"Harusnya taulah, apa yang bisa bikin anaknya bahagia. Bukan malah bersikap egois seperti itu," sahut Eni.


"Udahlah, Bi. Nanti juga bakal ada waktunya. Yang penting Rendi sembuh dulu," sahut Tania.


Tania berusaha menenangkan perasaan Eni dan keluarganya. Padahal dalam hatinya juga ingin menangis, mengingat nasib percintaannya yang tak mujur.


Tapi Tania tak mau memperlihatkan kesedihannya di depan mereka. Biarlah mereka tahunya, Tania kuat dan bahagia.


"Bibi kepingin lho, bisa besuk Rendi. Tapi pasti bakal diusir sama bu Sari," ucap Eni.


Degh!


Hati Tania kembali teriris. Di mata Sari, keluarganya tak ada artinya. Bahkan dianggap sangat rendah. Matre dan culas.


"Kapan-kapan biar Rendi atur waktunya, Bi. Rendi juga ingin ketemu Bibi, paman sama bude," sahut Tania.


Padahal Tania sendiri tak yakin. Karena Sari pasti akan terus menjaga Rendi biar tak bisa keluar rumah, apalagi menemui Tania dan keluarganya.


"Udahlah, En. Jangan ngomongin itu dulu. Sekarang kita ajak Tania bersenang-senang sebentar. Biar bisa melupakan masalahnya!" ucap Widya.


Widya melihat ada kesedihan di wajah Tania. Widya pun merasa kalau Tania tak mau membebani pikiran mereka dengan permasalahannya.


Danu hanya menyimak obrolan mereka. Dalam hati, ada rasa sedih yang mendalam. Ada penyesalan atas sikap bodoh dan egoisnya waktu itu.


Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku akan memilih dijebloskan saja ke penjara. Daripada harus mengorbankan Tania. Batin Danu.


Setelah melewati perjalanan panjang dan lama, akhirnya mereka tiba juga di hotel tempat Lintang bekerja.


Widya menelpon Lintang lebih dahulu.

__ADS_1


"Hallo, Lintang. Kami udah ada di depan hotel," ucap Widya.


"Oh iya, Bu. Cari parkiran mobil aja dulu. Terus masuk ke dalam hotel. Lintang tunggu di lobby," sahut Lintang.


Lintang yang sudah selesai jam kerjanya, buru-buru berjalan ke arah lobby.


"Kok buru-buru, Lin? Mau kemana?" tanya Weni, teman kerja Lintang.


"Keluargaku datang. Mereka menungguku di lobby," jawab Lintang.


"Keluarga kamu? Maksudnya ibumu?" Weni tahunya Lintang hanya memiliki ibu saja.


"Iya. Ibu dan keluarga pamanku. Duluan ya, Wen." Lintang bergegas berjalan ke lobby.


Weni memperhatikan dari pantry.


Hhmm. Kasihan banget si Lintang, batin Weni. Lalu dia kembali melakukan tugasnya. Menyiapkan makan malam untuk restauran di hotel itu.


Lintang yang sudah tak lagi mememakai seragamnya, duduk di sofa dekat lobby.


Peraturan di hotel itu, siapapun boleh duduk di situ kecuali yang berseragam hotel. Karena dianggap masih dalam jam kerja.


Beberapa teman Lintang yang bekerja di hotel itu, memperhatikannya. Tapi karena mereka tak begitu kenal, akhirnya hanya saling tatap dan melempar senyuman.


Tak lama setelah Lintang duduk, rombongan Tania datang. Lintang langsung berdiri menyambut mereka.


Lintang mendekati Widya dan memeluknya.


"Ibu....apa kabar?"


Lintang terdiam sejenak dan menghela nafasnya.


"Lintang juga baik, Bu," jawab Lintang, menyembunyikan permasalahan hidupnya di rantau.


Setelah puas memeluk Widya dengan menahan air matanya agar tak tumpah, Lintang beralih memeluk Eni.


"Bibi, apa kabar?" tanya Lintang.


"Bibi baik, Mbak Lintang. Mbak juga baik, kan?" tanya Eni yang biasa memanggil Lintang dengan sebutan mbak.


"Lintang baik, Bi," jawab Lintang.


Tania dari tadi memperhatikan perubahan wajah Lintang. Dari saat melihatnya di dekat lobby sampai saat memeluk Widya.


Tapi Tania tak mau memberikan penilaian sendiri. Takutnya apa yang Tania rasakan, keliru.


Lintang pun melepaskan pelukan Eni, lalu menyalami Danu dengan sopan.


Danu juga melihat kesedihan di wajah Lintang. Dan tanpa sadar, Danu meraih tubuh keponakannya itu. Danu memeluk Lintang erat-erat.


Danu yang biasanya bersikap cuek dan tak peka pada orang lain, entah mengapa bisa merasakan ada kesedihan di wajah Lintang.

__ADS_1


Lintang sangat terharu dengan pelukan Danu yang tak disangkanya. Hampir saja tangis Lintang pecah. Tapi Lintang kembali menahannya sekuat mungkin.


Lintang tak bisa berkata apa-apa. Bahkan untuk sekedar menanyakan kabar Danu pun, Lintang merasa tak mampu.


Setelah Lintang melepaskan pelukan Danu, Lintang pun memeluk Tania yang dari tadi hanya mengamatinya.


Lintang semakin tak bisa berkata apa-apa lagi. Dadanya sudah makin terasa sesak.


Selama ini Lintang tak pernah tahu persoalan kehidupan Tania. Yang ada di pikiran Lintang, Tania hidup berbahagia dengan paman dan bibinya.


Yang Lintang tahu, Danu dan Eni sangat menyayangi dan memanjakan Tania sejak kecil.


Lintang masih ingat, dulu saat Lintang dan Tania berebut mainan, Danu dan Eni selalu memenangkan Tania. Alasannya karena Tania lebih kecil darinya, jadi Lintang harus mengalah.


Itu juga alasannya kenapa Lintang tak begitu suka dekat dengan Tania. Bukan karena tak suka dengan Tania, tapi Lintang merasa dinomorduakan oleh paman dan bibinya.


"Mbak Lintang baik-baik aja?" tanya Tania.


"Iya, Tania. Kamu juga baik, kan?" Lintang balik bertanya.


Tania yang memang sedang banyak masalah, hanya bisa mengangguk. Taniapun sekuat mungkin berusaha menyimpan kesedihannya.


"Kangen-kangenannya udah dulu, sekarang kita mau istirahat di mana nih?" tanya Widya.


Perjalanan yang jauh dan lama, membuat badan Widya yang gemuk terasa pegal semua.


"Lintang udah membooking dua kamar untuk kalian. Tapi maaf, cuma kamar biasa," jawab Lintang.


Lintang tak tahu kalau Tania yang akan membayar sewa kamarnya. Makanya dia memilihkan dua kamar yang paling murah. Itupun Lintang meminta discount pada manager hotel, yang kebetulan dikenalnya.


Di hotel itu memang menyediakan berbagai pilihan kamar, dari yang harga merakyat sampai harga pejabat.


"Memangnya ada kamar yang enggak biasa?" tanya Eni penasaran, seperti biasanya.


"Ada, Bi. Kamarnya lebih luas, fasilitasnya juga lebih lengkap," jawab Lintang.


"Kalau yang biasa?" tanya Eni lagi.


"Ukuran kamarnya lebih kecil, Bi. Tapi tetap ada kamar mandinya di dalam kok. Meskipun tak terlalu mewah," jawab Lintang.


Eni mengangguk kecewa. Dia sudah berkhayal bakal menempati kamar mewah seperti yang ada di foto-foto di medsosnya.


Tania menatap tak tega pada Eni.


"Mbak Lintang, kalau kamarnya dicancel aja gimana?" tanya Tania pada Lintang.


"Dicancel? Maksudnya?" tanya Lintang tak mengerti.


"Ganti kamar yang paling mahal," jawab Tania.


Hah...!

__ADS_1


Semua mata menatap ke arah Tania. Tania mengangguk. Lalu mengambil sesuatu dari dompet di dalam tasnya.


"Tania yang akan bayar." Tania memperlihatkan kartu ATM-nya.


__ADS_2