
"Kalau tak percaya, tanyakan saja pada orangnya!" Linda kembali menunjuk Tania dengan dagunya.
"Atau Asih yang juga ada di sana!" Linda juga membawa-bawa nama Asih.
Asih yang mendengar, langsung meletakan kain lap yang sedang dipegangnya. Dia siap melawan Linda.
"Benarkah itu, Tania!"
Brak!
Tono menggebrak meja makan.
Tania sampai terlonjak saking kagetnya.
"Aku nanya sama kamu, Tania! Jawab!" Tono kembali menggebrak meja. Emosinya kembali naik. Dia merasa sangat sakit hati pada Tania juga Rendi yang telah menghianatinya.
Tania mencoba tenang. Meski dadanya bergemuruh. Jantungnya berdetak dengan cepat. Nafasnya pun terdengar memburu.
Tapi Tania bertekad akan melawan, apapun yang akan terjadi.
"Kami tak sengaja ketemu," jawab Tania.
"Bohong! Mereka sudah janjian!" ucap Linda.
Tono semakin geram mendengarnya. Wajahnya sudah sangat merah padam.
Tania menatap ke arah Linda.
"Janjian katamu? Sedangkan aku tak punya hape untuk menghubunginya! Otakmu di mana, hah?" ucap Tania dengan geram pada Linda.
Linda diam sejenak. Dia mencari kalimat yang sekiranya tepat untuk mematahkan alasan Tania.
Lalu dia ingat kedekatan Tania dan Asih serta Yahya. Dan hape Yahya yang tadi dipegang Tania untuk merekamnya.
"Kamu memang cerdas, Tania. Tapi aku tidak bodoh! Kamu menggunakan hape Yahya untuk menghubungi Rendi, kan?" balas Linda.
Tania melengos. Cerita konyol darimana lagi yang didapat Linda?
"Yahya!" panggil Tono.
Yahya yang sedang menikmati kopi dan rokoknya di teras, segera berlari ke ruang makan.
"Iya, Juragan!" sahut Yahya sambil menundukan kepalanya. Dia tahu kalau di ruang makan lagi ada perdebatan. Dan Yahya memilih untuk tidak ikut campur.
"Mana hapemu?" Tono mengulurkan tangannya.
"Ada sama istriku, Juragan," jawab Yahya.
Asih mendekati Tono, lalu memberikan hapenya.
"Kita buktikan!" Tono menerima hape Yahya, lalu membuka semua chat juga daftar panggilannya. Termasuk phone book.
Tono tak menemukan nama Rendi di sana. Tono sampai membuka satu persatu foto profile nomor yang tersimpan di hape Yahya.
"Aku kan sudah bilang, Beib. Dia itu cerdas. Tapi kita jangan mau dibodohi. Dia pasti sudah menghapus semua jejal digitalnya," hasut Linda lagi.
__ADS_1
"Bajingan kalian!" teriak Tono.
Prang!
Tono membanting hape Yahya sampai hancur berantakan.
Linda tersenyum licik. Tapi dia belum puas.
Tania sangat geram, ingin rasanya menghajar Linda saat ini juga. Asih dan Yahya pun tak kalah geramnya pada Linda. Mereka masih menahan amarahnya.
"Tania! Katakan padaku, apa yang kamu lakukan lagi dengan Rendi?" tanya Tono.
Dadanya terasa sangat sakit. Hatinya hancur. Istri yang sebenarnya sangat dia sayangi, ketemu lagi dengan anaknya.
"Mereka berpelukan mesra di belakang mall. Memalukan sekali. Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri," sahut Linda.
Tania tak bisa mengelak. Karena memang itu yang terjadi. Meski keadaannya tak seperti yang Linda maksud.
"Tania!" Tono kembali berteriak.
Tania hanya bisa diam.
"Dan kamu tahu, Beib? Rendi berjanji akan datang kesini untuk menjemputnya!"
Skak mat buat Tania.
Seluruh persendiannya terasa lemas. Linda sudah mengatakan semua yang dilihatnya.
"Asih! Kamu membiarkan istriku dipeluk lelaki lain?" Kini giliran Asih yang kena semprot Tono.
"Kurang ajar kamu, Asih!" teriak Tono.
Asih mendekati Linda.
"Dan kamu? Kamu bermain dengan Tajab di mobil juragan Tono, kan? Sampai kamu bisa melihat semua yang dilakukan Neng Tania dan Rendi?" serang Asih.
Linda terjengit.
"Bohong! Aku sudah masuk duluan ke mobil. Dan mereka beralasan mau ke toilet!" Linda dengan lancarnya membuat cerita palsu.
"Dan kesempatan itu kamu manfaatkan untuk membuka pakaianmu di dalam mobil, hah? Lalu Tajab menyusumu karena dia bilang padaku lagi haus?" Asih ikut-ikutan mengarang cerita palsu untuk memanas-manasi Tono.
Asih tertawa sumbang.
"Bagus sekali ibu Linda yang terhormat. Bahkan kalian menurunkan kami di depan mall. Dan memberikan kami waktu tiga jam untuk belanja. Kemana saja kamu sama Tajab?" serang Asih lagi.
"Jaga omonganmu, Asih!" bentak Linda.
Tapi Asih tak peduli. Asih sudah bosan hidup dijajah dan diperbudak terus.
"Dan setelah tiga jam, kalian kembali lagi ke mall, dan kalian melakukan lagi di mobil. Dan melakukan lagi di kamar juragan Tono. Sampai akhirnya, Tajab mati!" lanjut Asih.
Asih mengira Tajab sudah mati, karena kondisinya setelah jatuh sangat mengenaskan.
"Bohong! Itu semua bohong, Beib! Aku yang sudah capek memilih belanjaan dan Tania malah kencan dengan Rendi!" Linda terus saja berusaha menyalahkan Tania.
__ADS_1
Tania masih diam saja. Bukannya takut. Justru Tania lagi menyusun kekuatannya. Berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu dengannya.
Yahya pun hanya diam menyimak. Karena dia tak ada di lokasi.
"Kalian memang benar-benar biadab!" teriak Tono sambil menggebrak meja kembali.
Brak!
Lalu dia kembali ke kamarnya.
Blum!
Pintu kamar dihempaskan oleh Tono dengan keras. Suaranya terdengar sampai ke bawah.
Linda tersenyum puas penuh kemenangan. Meski besok pagi kemungkinan Tono akan memulangkannya, tapi setidaknya Tania juga akan mengalami hal yang sama. Bahkan mungkin lebih buruk lagi.
"Puas kamu?" tanya Tania sambil melipat kedua tangan di dada.
"Belum! Sebelum kamu juga dicampakan oleh si Tono itu!" jawab Linda.
"Heh! Aku bukan kamu yang tergila-gila padanya. Pada hartanya! Aku malah senang kalau Tono memulangkanku! Itu yang aku harapkan!" ucap Tania.
"Oh ya? Bagaimana kalau Tono menjebloskanmu ke penjara?" tanya Linda.
Tania mengernyitkan dahinya.
"Atas tuduhan apa?" Tania balik bertanya.
"Penipuan yang dilakukan pamanmu!" Linda yang hanya tahu persoalan paman Tania sekilas, mencoba mengungkitnya.
"Penipuan? Kami sudah bikin perjanjian. Bahwa semua hutang pamanku akan lunas, kalau aku menikah dengan Tono. Dan sekarang, lunaskan?" sahut Tania.
"Kasihan sekali hidupmu. Hanya sebagai pelunas hutang!" ejek Linda.
"Lebih kasihan lagi dirimu. Kamu jual tubuhmu demi uang. Dan kamu obral barangmu di luaran. Menjijikan sekali!" Tania tak mau kalah.
Linda mengongakan wajahnya dengan geram. Tania sangat menghinanya.
"Kenapa? Aku salah bicara? Apa perlu aku sebarkan video panasmu biar viral?" tanya Tania.
Linda tertawa terbahak-bahak.
"Mana videonya? Mana? Tuh, lihat! Hapenya sudah hancur!" Linda menunjuk hape Yahya yang hancur berserakan di lantai.
Tania ikut melihat. Lalu diambilnya bagian yang ada memori card dan juga sim card-nya.
"Ini! Kamu sendiri kan yang bilang kalau aku cerdas? Aku bisa membuka kembali video panasmu!" Tania menunjukan benda itu pada Linda.
"Bajingan! Bangsat kamu, Tania!" Linda berusaha merebutnya.
"Eit! Tak semudah itu mengambilnya dariku. Apa kamu mau mengejarku lagi? Sambil telanjang bulat?" ejek Tania sambil menyembunyikan benda itu di belakang punggungnya.
"Berikan padaku!" teriak Linda.
"Kejar aku lagi!"
__ADS_1