HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 228 PANIK


__ADS_3

Yadi terpaksa menambah kecepatannya. Biar Sari tak lagi ngomel.


"Iih, pada enggak percaya sama aku!" Mila langsung manyun.


"Lap dulu itu iler kamu!" ledek Yadi. Padahal Mila tidak ngiler.


Reflek Mila pun mengelap bibirnya. Dan tentu saja malah membuat Yadi dan Sari kembali tergelak.


"Orang enggak ngiler juga, ih!" Mila mencubit lengan Yadi.


"Eeh. Lepasin, aku lagi nyetir ini!" ucap Yadi.


Tadi di mal kek kamu nyubit-nyubit. Jangan disini. Malu kan ada bu Sari.


"Siapa suruh ngeledekin aku!" sahut Mila.


"Udah, Mila. Di jalan, jangan bercanda mulu. Bercanda kok enggak kenal tempat!" ucap Sari.


Kadang kesal melihat mereka suka bercanda dan saling membully. Tapi kadang juga seneng karena rumah jadi rame.


"Memangnya beneran kamu bisa nyetir?" tanya Sari.


Sari jadi penasaran dengan ucapan Mila tadi.


Dengan semangat Mila mengangguk. Dan dengan semangat juga, dia menceritakan pengalamannya.


"Jadi waktu itu, kita mau mengantar jenazah. Karena sopir mobil jenazahnya tidak ada yang nemenin, terpaksa saya yang nemenin. Nah, pas kita mau balik, sopirnya ngilang entah kemana." Mila mulai bercerita.


"Lha, emangnya kemana?" tanya Yadi.


"Aku enggak tau. Dicari enggak ketemu. Ditelpon, nomornya enggak aktif. Padahal ada panggilan dari rumah sakit kalau mobil mau dipakai lagi," jawab Mila.


"Terus?" Sari pun ikutan penasaran.


"Ya udah aja, saya yang bawa pulang mobil itu," jawab Mila.


"Memangnya kamu bisa?" Sari makin penasaran.


"Bisa. Nekat aja. Saya nyalain sirinenya. Jadi semua kendaraan minggir. Aman, kan!" Mila merasa bangga dengan pengalamannya.


"Itu mah bukannya bisa. Tapi nekat!" ucap Yadi.


"Untung-untungan. Untung kamu bisa selamat. Kalau enggak?" Sari ikut berkomentar.


"Dia yang dibawa sama mobil ambulannya. Hahaha." Yadi tertawa ngakak.


Sari pun tak bisa menahan tawanya lagi.


"Mati gitu?" tanya Mila dengan polosnya.


"Iya. Hahaha." Yadi kembali tergelak.


"Iih! Jahat banget!" Mila mencubit Yadi. Tapi kali ini bukan lengan. Melainkan pinggang.


Yadi yang gelian pun menggelinjang.


"Mila, geli!" teriak Yadi. Mobil sempat oleng sebentar.


Sari terkesiap.


"Mila! Hentikan!" Sari juga ikut berteriak.

__ADS_1


Spontan Mila pun menarik tangannya.


"Maaf, Bu. Enggak sengaja," ucap Mila sambil menundukan kepalanya.


"Maaf maaf. Tadi kamu udah bilang maaf. Sekarang kamu ulangi lagi. Punya kuping enggak sih, kamu?" tanya Sari.


Yadi berusaha menahan tawanya.


Sukurin. Diomelin lagi. Batin Yadi.


Bu Sari tuh, yang enggak punya mata. Masa kupingku ada dua, enggak liat, jawab Mila. Tapi hanya dalam hati saja.


Dan yang keluar dari mulut Mila hanya iya, iya dan iya.


Mila tak berani membantah. Bisa-bisa dia ditendang dari dalam mobil kalau Sari semakin marah.


Tapi dibalik kemarahan Sari, Mila seperti menemukan sosok orang tua. Orang tua yang nyaris dilupakannya. Karena mereka meninggalkannya di panti sejak kecil.


Mila seperti mendapatkan kasih seorang ibu. Meski sekarang dia sedang dimarahi oleh Sari.


Mila tak merasa sakit hati ataupun dendam. Mila hanya mengangguk menurut. Sambil terus menunduk seperti orang yang sedang mencari uang recehan yang jatuh.


Akhirnya mereka sampai juga di depan gerbang rumah Tono. Dan Mila yang baru pertama kali datang, seperti melihat rumah Sari.


"Ini rumahnya pak Tono?" tanya Mila dengan mimik yang masih mengagumi bangunan mewah di sampingnya.


Bangunan yang nyaris sama dengan rumah yang ditempati Sari dan Rendi. Hanya beberapa bagiannya saja yang berbeda.


"Iya!" jawab Yadi.


Lalu Yadi pun turun dari mobil. Dia akan menekan bel, agar Yahya, penjaga rumah Tono, keluar.


"Ya iyalah, Mila! Kami kan suami istri. Kamu gimana, sih!" sahut Sari.


Sari spontan saja mengucapkan kalimat itu. Padahal biasanya Sari tak pernah mau mengakui Tono sebagai suaminya.


Yadi berkali-kali menekan bel, tapi tak ada yang membukakannya. Dari luar pintu gerbang, Yadi melihat ada mobil lain juga angkot milik Danu.


"Waduh. Benar-benar bakal ada perang dunia, ini. Mereka masih ada di sini," gumam Yadi.


Sari tak bisa melihat angkot Danu, karena terhalang mobil Tono. Hanya melihat ada mobilnya Tono dan satu mobil lainnya.


Yadi menelpon Diman. Berkali-kali Yadi mendial nomor Diman, tapi tak diangkatnya.


Jelas saja, di dalam Diman sedang berdansa dengan Lintang. Diman mengabaikan ponselnya yang bergetar di saku celananya.


Baginya, tak ada yang lebih penting daripada bisa berdansa bersama Lintang.


Akhirnya Yadi menelpon Danu.


Seperti halnya Diman, Danu pun tengah asik berdansa dengan Eni. Danu merasa dirinya bak pangeran di film-film barat jaman dulu.


Danu meletakan ponselnya di atas meja kecil. Dekat Tania yang sedang memeluk Rendi dari belakang.


Tania mendengar ponsel Danu berdering, di antara alunan musik klasik yang syahdu.


Tania melepaskan tangannya dari bahu Rendi, lalu meraih ponsel Danu.


Tania melihat nama pemanggilnya. Yadi. Tania tak mengenalnya. Lalu Tania meletakan kembali ponsel Danu.


"Ada yang menelpon paman?" tanya Rendi.

__ADS_1


"Iya," jawab Tania.


"Siapa?" tanya Rendi lagi.


"Enggak tau. Namanya Yadi. Aku enggak kenal," jawab Tania.


"Yadi?"


Tania mengangguk.


"Seperti nama pembantu di rumahku. Coba bawa sini hapenya paman. Biar aku yang angkat," ucap Rendi.


Rendi khawatir, ada sesuatu yang penting, yang ingin disampaikan Yadi.


Tania pun mengambilnya.


"Hallo, ini Rendi." Rendi langsung menyebutkan namanya.


"Oh, Mas Rendi. Saya Yadi. Maaf, Mas. Saya sekarang ada di depan pintu gerbang rumah bapak. Saya....mengantarkan mamanya Mas Rendi," ucap Yadi.


Yadi merasa serba salah. Tapi dia harus mengatakannya juga.


"Hah...! Sebentar....sebentar." Rendi langsung memanggil Tono.


"Ada apa, Ren?" tanya Tono.


Tania pun masih terdiam tak mengerti.


"Pak Yadi mengantarkan mama ke sini. Mereka sudah ada di depan pintu gerbang," jawab Rendi.


"Apa?" Mata Tono seperti mau loncat. Tania pun terkesiap dan langsung gemetaran.


"Bagaimana ini, Pa?" tanya Rendi.


Tono langsung merebut ponsel Danu yang dipegang oleh Rendi.


"Kenapa kamu bawa ibu kesini?" tanya Tono pada Yadi dengan geram.


"I...Ibu yang memintanya, Pak," jawab Yadi tergagap. Keringat dingin pun seakan membasahi tubuhnya.


"Bodoh, kamu! Kenapa enggak kamu cegah?" Tono seperti tak mau tahu alasan Yadi.


"Mana saya berani, Pak," jawab Yadi lagi.


"Dasar tolol, kamu!" Tono pun mematikan ponselnya.


Sifat kasar Tono kembali keluar. Tania sampai ketakutan dan menggengam tangan Rendi. Tania masih trauma dengan sifat kasar Tono.


"Diman...! Matikan musiknya!" teriak Tono dengan kencang.


Spontan semua yang sedang berdansa, melepaskan pasangannya dan menatap ke arah Tono.


Wajah mereka penuh dengan pertanyaan. Ada apa dengan Tono?


Widya yang tadi sedang ngobrol dengan Tono pun, mendekat.


"Ada apa?" tanya Widya.


"Sari datang. Dia udah ada di luar gerbang!" jawab Tono.


Semua yang mendengarpun langsung panik.

__ADS_1


__ADS_2