
Sari kembali ke kamarnya. Sudah hampir jam delapan. Dia mesti ke pasar. Walaupun sudah ada karyawan yang mengurus tokonya, tapi bagi Sari, suasana pasar mampu menghibur hatinya.
Setelah siap, Sari kembali ke kamar Rendi. Dia juga akan mengajak Rendi. Biar Rendi bisa mengobati rasa sakit hatinya. Kalau perlu bisa segera move on dari Tania.
"Ren....udah jam delapan. Ayo ke pasar," ajak Sari perlahan.
Rendi lagi tiduran sambil memeluk gulingnya.
"Mama aja duluan," sahut Rendi. Dia lagi benar-benar mager.
Sari mendekati Rendi dan duduk di sisinya. Dibelainya punggung anak kesayangannya itu.
"Ren....sesakit-sakitnya perasaanmu, sehancur-hancurnya hatimu, tak boleh mempengaruhi pekerjaan kita. Kamu lihat Mama. Mama tak akan pernah terpuruk hanya karena disakiti papamu. Mama tetap kuat. Mama tetap bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi kita. Kamu bisa bayangkan, kalau Mama terus terpuruk. Hidup kita akan semakin hancur, Rendi," ucap Sari panjang lebar.
"Kamu paham kan, apa yang Mama maksud? Kita harus tetap terlihat kuat, meski hati hancur lebur. Kita fokuskan pikiran ke hal lain. Jangan terus berkutat di situ. Hanya akan semakin membuat kita terpuruk," lanjut Sari.
Rendi masih hanya diam saja. Rendi lagi mencoba memahami perkataan Sari.
"Oke, sekarang begini. Mama mau tanya sama kamu? Kalau kamu enggak suka dengan suasana di pasar, kamu sukanya apa? Untuk mengalihkan pikiran kamu dari semua masalah," tanya Sari.
Rendi menggeleng perlahan. Dia sama sekali tak menginginkan kesenangan apapun, selain bisa bersama dan memiliki Tania.
"Ren....Mama janji, tak akan lagi menghalangimu memperjuangkan cinta. Tapi ingat satu hal, perjuangan juga butuh biaya, Rendi. Kamu butuh makan. Kamu butuh bensin untuk jalan. Kamu butuh pulsa. Dari mana uangnya kalau kamu enggak mau gerak?"
Sari akhirnya mengalah, demi membuat Rendi semangat lagi menjalani hidup. Meskipun dalam hatinya masih tak rela kalau suatu saat nanti, anak lelakinya ini menikahi janda dari papanya.
"Mama janji akan mendukung Rendi?" tanya Rendi sambil menggenggam tangan Sari.
Sari menghela nafasnya. Dia baru saja mengucapkannya, tak mungkin mengingkari.
"Mama hanya bilang tak akan menghalangi, Ren. Asal kamu mau bangkit lagi. Semangat lagi," jawab Sari.
Dalam hati, Sari tetap berharap Rendi segera menemukan pengganti Tania.
Rendi langsung bangkit.
"Makasih, Mama. Rendi janji, akan semangat lagi. Semangat mencari nafkah, juga semangat memperjuangkan cinta Rendi. Karena suatu hari nanti, Rendi akan jadi tulang punggung bagi keluarga kecil Rendi bersama Tania," ucap Rendi.
Sari menelan ludahnya yang terasa kering. Perkataannya tadi malah seperti bumerang baginya.
Tapi demi anak satu-satunya ini, Sari tak mau menarik lagi ucapannya.
"Ya udah. Sekarang siap-siap. Kita ke pasar." Sari berdiri dan meninggalkan kamar Rendi dengan mata mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Siap, Ma! Rendi mandi dulu!" seru Rendi. Lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Sari tak menyahut. Dia terus berjalan sampai ruang tamu, sambil tangannya menghapus bulir bening di pipinya.
Sri yang sedang menyapu lantai, melihat kesedihan majikannya. Tak terasa air matanya juga mengalir perlahan.
Sri menyembunyikan wajahnya. Dia kembali fokus menyapu lantai. Tapi air matanya tak bisa dihentikan.
Kasihan sekali, bu Sari. Bisnisnya sukses, uangnya banyak, tapi hatinya hancur.
Ternyata hidup manusia, tak ada yang sempurna. Semua punya porsi kebahagiaan dan kesedihannya masing-masing. Batin Sri.
Sri menghapus air matanya. Lalu kembali menatap majikan perempuannya itu.
"Ibu mau saya buatkan teh hangat?"
"Ya...." jawab Sari sambil menyusut hidungnya. Matanya berair dan memerah.
Sri bergegas ke dapur. Dia tak tahan melihat air mata Sari.
Di dapur Sri terisak sambil membuatkan teh.
"Kamu kenapa, Sri? Kelilipan?" tanya Yadi yang baru selesai membersihkan kamar mandi belakang.
Sri menggeleng.
Sri tak menjawab. Hanya menunjuk ke arah ruang tamu dengan dagunya.
"Ibu? Ibu kenapa lagi?"
Sri malah jadi kesal dengan Yadi. Ingin rasanya dia lempar pakai cangkir berisi teh hangat.
Tanpa menjawab, Sri membawa cangkir itu ke ruang tamu.
"Yee...ditanya bukannya jawab, malah pergi," gumam Yadi. Lalu dia mencari makanan untuk sarapan.
Biasanya Sri menyimpan makanan sisa dari meja makan, di lemari dapur. Yadi pun tak perlu minta ijin dulu kalau mau makan. Karena majikan mereka tak mungkin memakannya lagi.
"Tehnya, Bu." Sri memberikan cangkir teh yang dibawanya.
"Makasih, Sri." Sari menerimanya dan mulai menyeruput perlahan.
Ada sedikit ketenangan dalam hatinya saat air teh mulai membasahi tenggorokannya. Mungkin karena Sri membuatnya dengan segenap perasaan.
__ADS_1
Meskipun kelakuan Sri bejat di belakang Sari, tapi pada dasarnya Sri punya hati yang tulus dan lembut.
Dia akan ikut bersedih saat Sari sedih. Dan Sri siap menemani majikannya ini kalau butuh teman curhat.
"Ibu mau ke pasar?" tanya Sri perlahan. Seandainya diminta, Sri pun siap menemani Sari ke pasar.
"Iya. Nunggu Rendi," jawab Sari.
"Iya, Bu. Mas Rendi sudah sarapan?" Setahu Sri, Rendi semalam tidak pulang. Dan tadi Sari makan pagi sendirian.
"Entahlah, Sri. Biar nanti makan di pasar aja."
"Apa mau saya bawakan makanan, Bu? Siapa tau mas Rendi mau." Sri berusaha menawari. Karena makanan tadi pagi masih banyak. Sari hanya mengambilnya sedikit.
"Enggak usah, Sri. Tuh, Rendinya sudah siap." Sari menunjuk Rendi yang sedang berjalan dengan dagunya.
Sri menoleh. Matanya menatap tak berkedip. Melihat anak majikannya yang ganteng maksimal.
Celana jeans, t-shirt warna putih, topi juga sepatu dengan warna senada. Rendi seakan tak ada cacatnya di mata Sri.
Sri terpesona dengan penampilan Rendi. Mulutnya sampai komat kamit.
Bukannya naksir, Sri hanya sedang membandingkannya dengan Tono. Bagai langit dan bumi.
Hhh. Untung mas Rendi enggak nurun wajah papanya. Wajah ancur tapi sukanya menyakiti perasaan keluarganya. Enggak bersyukur punya anak ganteng dan istri cantik. Batin Sri merutuki kelakuan Tono.
"Ayo, Ma. Rendi udah siap," ajak Rendi.
"Kamu mau sarapan dulu, Ren?" tanya Sari.
"Enggak usah, Ma. Rendi tadi udah makan roti di kosan Dito," jawab Rendi.
"Kamu makan jatah sarapan temanmu itu?" tanya Sari. Dia kasihan karena setahunya Dito anak kos yang bisa jadi isi kantongnya pas-pasan.
"Sedikit, Ma. Dito punya stock banyak, kok," jawab Rendi.
"Ya udah. Ini kunci mobilnya." Sari menyerahkan kunci mobil yang dari tadi dibawanya.
"Sri, kita berangkat dulu," pamit Sari.
"Iya, Bu. Hati-hati," sahut Sri.
"Kamu udah siap beraktifitas lagi kan, Ren?" Sari mencoba meyakinkan Rendi lagi.
__ADS_1
"Iya, Ma. Rendi sudah siap. Siap beraktifitas lagi dan siap memperjuangkan cinta. Doakan biar perjuangan Rendi tak sia-sia, Ma."
Sari tercekat. Senjata makan tuan ini namanya. Batin Sari.