
"Bibi....!" Tania langsung berlari ke arah Eni.
Eni pun berlari ke arah Tania. Dan mereka berpelukan dengan sangat erat.
"Tania...Kamu pulang, Sayang?" tanya Eni sambil menangis tersedu-sedu.
"Iya, Bi. Tania pulang." Tangis Tania pun pecah, membuat haru semua yang melihat.
Danu dan Widya berlari juga ke arah Tania. Mereka ikut memeluk Tania sambil menangis.
Dito langsung memeluk Mike yang ikutan terisak. Mata Dito pun berkaca-kaca.
Setelah puas menangis dan memeluk Tania, Danu membawa Tania masuk ke dalam rumahnya.
Tania duduk di sofa mewah impian Eni dari dulu. Eni membelinya dari uang hasil buka salon kecil-kecilan di kios yang dikasih Tono.
Dito dan Mike pun ikut masuk. Mereka masih berdiri di pintu. Tuan rumahnya belum sempat mempersilakan mereka masuk.
Mereka masih dalam suasana haru biru, saking bahagianya.
Danu bersimpuh di kaki Tania.
"Tania...Maafkan, Paman. Hukumlah Pamanmu yang kejam ini. Hu...hu...hu...!" Danu menangis tersedu-sedu.
Tania segera meraih tubuh Danu dan memeluknya dengan erat.
"Enggak ada yang perlu dimaafkan, Paman. Semua sudah takdir kita," ucap Tania, juga sambil menangis tersedu-sedu.
Eni dan Widya tak henti-hentinya menghapus air mata yang terus saja mengalir.
"Tapi kamu yang jadi korbannya, Tania," sahut Danu.
"Tania ikhlas, Paman. Tania ikhlas..! Huwa....!" Tangis Tania semakin menjadi.
Mike juga sesenggukan di pelukan Dito.
"Sudah...Sudah...Sekarang Tania sudah kembali. Jangan pergi lagi ya, Tania...! Hu...hu...hu...!" Widya bicara sambil menangis tergugu.
Tania melepaskan pelukan Danu, dan beralih memeluk Widya. Wanita subur yang juga sangat menyayangi Tania.
"Maafkan Bude yang tak bisa menjagamu, Tania...!" ucap Widya sambil memeluk erat keponakannya itu.
"Bude enggak salah. Semua udah takdir kita, Bude," sahut Tania.
"Ya, sekarang kamu sudah kembali. Bude janji, akan menjaga kamu sekuat Bude. Bude tak akan membiarkan si Tono sialan itu membawa kamu lagi!" Widya memaki Tono, mantan teman sekolahnya.
"Iya, Tania. Kalau perlu, kami akan kembalikan semua pemberian si Tono keparat itu. Bibi lebih baik kehilangan semuanya, asal kamu tetap di sini." Eni pun sangat geram pada Tono.
"Paman juga akan kembalikan angkot si Tono itu. Paman enggak mau kehilangan kamu lagi!" ucap Danu.
"Iya, Paman. Kembalikan semua pada Tono. Tania juga enggak mau lagi kalau harus tinggal di rumahnya itu!" sahut Tania.
__ADS_1
"Iya. Nanti akan Paman kembalikan padanya. Asal kamu tetap di sini!" Danu mengelus kepala Tania dengan lembut.
Eni menghapus air matanya. Lalu menoleh ke arah Mike dan Dito.
"Kalian....?" Eni tak bisa berkata apa-apa pada Mike dan Dito.
"Mereka yang menolong Tania, Bi. Tania sembunyi di rumah mereka," ucap Tania.
Mike dan Dito hanya mengangguk.
Widya pun ikut menatap ke arah Mike dan Dito dengan sinis.
"Tapi kenapa kalian bilang Tania tak ada di rumah kalian?" tanya Widya.
Dito menghela nafasnya. Dia juga menghapus air matanya.
"Waktu kalian pertama kali ke rumah kami, Tania memang belum ada di rumah kami. Bahkan kami pun belum tau kabar tentang Rendi yang jatuh," jawab Dito.
Widya masih menatap Mike dan Dito dengan sinis.
"Lalu semalam?" tanya Widya lagi.
"Semalam kami pergi ke luar kota. Tania ada di dalam rumah kami," jawab Dito.
Mike tak berani bersuara. Dia sudah down duluan melihat tubuh subur Widya. Apalagi tangan Widya yang segede tales Bogor.
Mike tak bisa membayangkan kalau sampai tangan itu sampai di mukanya, karena salah paham.
Tania tak mau kalau keluarganya menuduh Mike dan Dito menyembunyikannya. Padahal justru merekalah yang menolongnya.
"Ya udah. Yang penting Tania sekarang sudah kembali. Mari masuk kalian," ucap Eni.
Mike menggeleng. Dia masih takut sama Widya. Dia pun tak mau mengganggu momen kebahagiaan mereka, bertemu lagi dengan Tania.
"Kami harus ke kampus, Bu. Lain kali saja kami main ke sini," sahut Mike.
"Bukannya sekarang hari minggu, Mik?" tanya Tania.
"Oh iya." Mike langsung menangkup mulutnya. Dia asal bikin alasan saja, sampai tak sadar sekarang hari apa.
Mike menyenggol lengan Dito. Berharap mendapatkan pembelaan. Tapi Ditonya malah cekikikan menahan tawanya.
Mike langsung mencubit perut Dito.
"Auwh! Sakit, Sayang. Sakit...!" seru Dito.
Tania pun jadi tertawa melihatnya.
"Ya udah, Tania. Kita pulang dulu, ya. Habis nanti perutku dicubitin," ucap Dito pada Tania.
Lalu Dito berpamitan pada Danu, Eni juga Widya yang tampangnya sudah mulai ramah.
__ADS_1
Mike tak berani bersuara lagi. Dia masih merasa malu pada mereka.
"Kamu gimana sih Sayang, bukannya tadi belain aku. Aku kan malu, salah ngomong," gumam Mike sambil berjalan.
"Ya kamu, tau-tau nyaut aja. Mana aku tau kalau kamu bakal ngomong kayak gitu," sahut Dito membela diri. Karena Mike seolah ingin menyalahkannya.
"Terus ngapain kamu malah ngetawain aku?" tanya Mike dengan kesal.
"Reflek, Sayang. Maaf, ya..." ucap Dito.
"Maaf, Maaf! Aku kan malu banget!" gumam Mike.
Dito kembali tertawa, tapi sambil berlari ke mobil mereka. Karena tak mau mendapatkan cubitan lagi dari Mike.
Sementara di rumah Danu, Eni tak henti-hentinya memeluk Tania. Dia sangat bahagia, karena akhirnya Tania kembali.
"Tono tau kamu pulang ke sini?" tanya Danu.
"Kata Rendi, Tono malah yang meminta Tania pulang, Paman," jawab Tania.
"Tono yang meminta kamu pulang ke sini?" tanya Eni tak percaya.
Tania mengangguk.
"Iya, Bi. Tapi kita juga jangan terlalu percaya pada Tono. Bisa saja ini jebakan," jawab Tania yang sudah paham akal bulus Tono selama ini.
"Iya. Bisa jadi. Tono meminta Tania pulang, biar Tania keluar dari persembunyainnya. Berarti mulai sekarang, jangan biarkan Tania sendirian. Aku yang akan menjaganya. Dua puluh empat jam!" ucap Danu dengan tegas.
"Bude juga akan nginap di sini untuk sementara. Tono tak akan berani kalau sama Bude!" ucap Widya dengan gagah berani.
Danu malah menahan tawanya.
"Kenapa, kamu? Mau ngeledek aku, hah?" Widya menarik anak rambut Danu di bagian pelipis ke atas.
"Aduh...! Aduh...! Sakit! Sakit! Mbak...Ampun...!" mohon Danu.
Widya lalu melepaskannya sambil menantang Danu.
"Kamu mau juga ini?" Widya mengangkat kepalan tangannya ke depan muka Danu.
"Enggak, Mbak. Ampun...!" Danu langsung lari keluar.
Eni mengejar Danu sampai keluar rumah.
"Pak! Mau kemana?" teriak Eni.
"Ngopi di luar!" sahut Danu sambil terus berlari, seolah Widya sedang mengejarnya.
Padahal boro-boro mengejar Danu yang larinya cepat, baru jalan sebentar aja udah kehabisan nafas.
Eni hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Lalu kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1