HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 121 TANGISAN UNTUK RENDI


__ADS_3

Yahya mendengus kasar mendengar suara tawa Wardi yang sumbang.


Lalu Wardi masuk ke dalam mobil, sambil tersenyum meledek pada Yahya.


Yahya menatapnya dengan kesal.


Andai saja aku yang disuruh mengantar Linda. Pasti aku yang akan dapat rejeki itu.


Tak apa barang rongsok, yang penting masih mulus. Batin Yahya.


Setelah mobil yang membawa Linda keluar, Yahya kembali menutup pintu gerbang.


Yahya kembali masuk ke dalam.


Dalam hatinya berkecamuk perasaan yang campur-campur.


Ada perasaan kesal, karena gagal mencicipi barang rongsokan. Tapi ada juga rasa syukur, karena dia terbebas dari dosa zina.


Yahya kembali ke halaman belakang. Seperti biasanya, dia akan menumpahkan semua rasa kecewanya dengan berkebun.


Dan kebun di belakang rumah Tono sangat subur. Semua tak lepas dari tangan Yahya yang merawatnya.


Asih kembali lagi ke kamar Tania.


Tania sudah duduk di tepi tempat tidur. Kini perutnya malah terasa lapar. Padahal dia sudah minum susu dan makan roti.


"Ada apa, Bik?" tanya Tania, saat Asih sudah kembali masuk ke kamarnya.


Tadi Asih pamit keluar sebentar saat mendengar suara gaduh di bawah.


"Linda udah diusir sama Tono!" jawab Asih.


"Oh ya? Dia diantar Tono?" tanya Tania lagi.


"Enggak, Neng. Wardi yang mengantarnya. Kelihatannya mereka naik taksi online," jawab Asih.


"Biarin aja, biar Linda dimakan sama Wardi di jalan!" lanjut Asih dengan ketus.


"Dimakan gimana, Bik?" tanya Tania.


"Neng Tania enggak tau sih, gimana baju yang dipakai Linda," sahut Asih.


Tania mengerutkan dahinya.


"Memang gimana bajunya?" tanya Tania.


"Dia pakai baju minimalis yang dadanya terbuka. Mana enggak pakai beha, lagi!" jawab Asih.


"Kok, Bibik tau kalau Linda enggak pakai beha?" tanya Tania lagi.


"Kan kelihatan, Neng. Putingnya tercetak dari dalam bajunya, kayak tombol tuning di radio!"


Tania tertawa pelan mendengar jawaban Asih yang sangat lucu.


"Pingin rasanya memelintir dan menariknya biar lepas!" lanjut Asih dengan kesal. Dia sudah terlanjur benci pada Linda.


Tania makin terbahak.


Asih senang mendengarnya. Wajah Tania pun sudah tak sepucat tadi.


"Bik. Aku lapar. Ada makan enggak?" tanya Tania sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Emm...Ada. Ayo kita turun. Nanti kalau Neng Tania enggak suka, Bibik bisa masak lagi. Soalnya itu kan...makanan sisa tadi pagi. Hehehe." Asih menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ya udah. Enggak apa-apa, Bik. Orang lapar, apapun pasti enak," jawab Tania. Dia turun dari tempat tidur.


Asih menggandeng tangan Tania. Dia khawatir Tania tak kuat jalan.


"Ati-ati, Neng. Pelan aja jalannya," ucap Asih saat mereka akan menuruni tangga.


Satu tangan Tania berpegangan pada tembok. Tangan satunya digandeng Asih.


Tono yang melihatnya dari bawah, merasa sangat kasihan pada Tania.


Tania yang telah merelakan darahnya untuk menolong Rendi.


Tono memperhatikan Tania dan Asih sampai di bawah.


"Sudah diminum vitaminnya?" tanya Tono.


Tania menatap wajah Tono sekilas. Lalu mengangguk.


"Susu dan rotinya?" tanya Tono lagi.


"Sudah semua, Pak. Sekarang malah Neng Tania minta makan. Katanya laper," sahut Asih.


"Ya sudah. Layani dia dengan baik. Aku mau kembali ke rumah sakit. Mau lihat kondisi Rendi. Semoga Hb-nya cepat naik," ucap Tono.


Tania kembali menatap wajah Tono. Dia teringat lagi dengan Rendi.


Wajahnya langsung muram. Matanya berkaca-kaca. Dan mulutnya menahan tangisan.


"Kamu di rumah dulu aja. Istirahat, biar kondisimu pulih. Banyakin makan. Siapa tau Rendi masih membutuhkan darahmu. Kamu mau memberikannya lagi, kan?" tanya Tono dengan nada memohon.


"Apapun akan aku berikan pada Rendi," jawab Tania sambil mulai terisak.


Ingin rasanya Tono merengkuh tubuh Tania. Bukan karena nafsu, tapi karena terharu dengan pengorbanan Tania.


Tapi Tono takut Tania salah mengira, dan Tania akan menjauhinya lagi.


Tono pun ikut berkaca-kaca. Lalu dia menghapus air bening di matanya itu dengan lengannya.


"Terima kasih, Tania. Jaga diri baik-baik," ucap Tono.


"Asih. Jaga Tania."


Tono langsung membalikan badannya. Dia tak kuasa lagi berlama-lama menatap wajah Tania.


Lalu Tono berjalan keluar, masuk ke dalam mobilnya.


"Sebentar, Neng. Bibik nyariin mang Yahya dulu. Biar membukakan pintu gerbang."


Asih meninggalkan Tania sendirian, lalu ke belakang mencari Yahya.


Yahya sedang asik dengan tanaman-tanamannya.


"Pak! Juragan Tono mau pergi!" seru Asih.


Yahya menoleh. Lalu segera membersihkan tangannya yang kotor.


"Iya."


Yahya berjalan masuk ke dalam. Sampai di ruang makan, dia melihat Tania sedang berusaha menarik kursi makan.

__ADS_1


Yahya langsung membantunya. Dia tahu kondisi Tania sedang tak baik-baik saja.


Meskipun Yahya belum tahu cerita lengkapnya.


"Makasih, Mang," ucap Tania dengan sopan.


"Iya, Neng. Sama-sama."


Yahya melanjutkan jalan ke luar rumah. Dia mau membukakan pintu gerbang.


Di dekat mobil, Yahya melihat Tono sedang menangkupkan wajahnya dia atas setir.


Juragan menangis? Kenapa? Pasti ini tentang kondisi anaknya. Selamatkah anaknya?


Yahya teringat kembali, bagaimana perasaannya dulu saat kehilangan anak semata wayangnya. Hidupnya terasa hancur lebur.


Berhari-hari Yahya hanya bisa menangis. Meskipun dia tahu, air matanya tak akan membuat anaknya hidup kembali.


Pasti perasaan juragan Tono sangat hancur. Rendi kan juga anaknya semata wayang. Batin Yahya.


Yahya mengetuk jendela mobil perlahan.


Tono mengangkat wajahnya. Terlihat air mata membasahi wajah Tono. Matanya juga sangat merah.


Tono membuka jendela mobil.


"Juragan baik-baik, saja?" tanya Yahya.


"Iya." Tono mengambil tissue dan mengeringkan air matanya. Juga mengelap cairan yang keluar dari hidungnya.


"Bukakan pintu gerbangnya. Aku mau ke rumah sakit," ucap Tono.


"Iya, Juragan. Apa perlu saya temani ke rumah sakit?" tanya Yahya. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Tono di jalan.


"Enggak usah. Kamu tunggu di rumah aja. Jaga Tania. Kasihan dia," jawab Tono, lalu menyalakan mesin mobilnya.


Yahya mengangguk, lalu berlari membukakan pintu gerbang.


Tono melajukan mobilnya pelan. Sampai di depan pintu gerbang, Tono menghentikan mobilnya.


Ditatapnya pintu gerbang itu. Tiba-tiba Tono jadi membencinya. Ingin rasanya menabrak pintu gerbang yang telah membuat anaknya celaka.


Padahal jelas yang membuat Rendi celaka adalah keegoisan Tono sendiri.


Tono berjanji akan menggantinya kalau Rendi sudah sembuh.


Lalu Tono kembali melajukan mobil, meninggalkan Yahya yang masih termangu.


Dari tempatnya berdiri, Yahya melihat Tania berjalan perlahan mendekat ke arah pintu gerbang.


Yahya bergegas menutupnya. Dia pikir Tania akan kabur. Dan dia tetap berjaga di sana.


Tania terus berjalan perlahan. Dan langkahnya terhenti tepat di tempat Rendi jatuh.


Tania duduk bersimpuh, matanya menatap darah Rendi yang hampir mengering di lantai.


Tania meraih bekas darah Rendi itu dengan kedua tangannya.


Dengan tangisan yang menyayat hati, Tania meraupkan ke wajahnya.


"Rendi....!"

__ADS_1


__ADS_2