
Tono tak kembali lagi ke kamar yang dipakai Tania. Dia tidur di kamar depannya. Rasa kesalnya pada Tania membuatnya enggan ketemu.
Rendi yang juga masih kesal pada Tania dan papanya tak kembali ke rumahnya. Dia akan menginap di kost-an Dito.
"Udah malam, lo gak pulang, Ren? Entar dicariin nyokap lo!"
"Elo ngusir gue?" tanya Rendi dengan sengit.
"Enggak...!Gue cuma ngingetin aja, Kampret! Kali aja nyokap lo nyariin!" sahut Dito tak kalah sengit.
"Gue bukan anak kecil lagi, Dodol!" Rendi merebahkan diri di atas tempat tidur Dito.
Dito membiarkannya.
"Eh, Ren. Tumben elo mau lagi nginep di sini? Lagi galau?" tanya Dito.
"Iya. Gue lagi galau. Gue kangen ama elo." Rendi langsung meraih Dito dan memeluknya erat.
"Ih! Najis deh. Emang gue homo?" Dito melepaskan diri dari pelukan Rendi.
"Kalau gue homo juga ogah ama elo?" sahut Rendi.
"Emang gue kenapa?" tanya Dito penasaran.
"Emang elo mau gue sleding dari belakang? Hahaha." Rendi terbahak-bahak.
"Najis deh! Mentang-mentang udah merawanin bini orang, terus elo mau merawanin gue juga?" Dito memukuli Rendi dengan bantal.
Yang dipukuli makin terbahak-bahak.
"Woy, berisik amat sih? Udah malem tau!" teriak teman kos Dito yang menghuni kamar sebelah.
"Nah, loh. Emak rempong ngomel tuh," ucap Dito pelan. Lalu mereka menahan tawanya.
"Udah tidur, lo! Gue mau ngerjain tugas pertama dari kampus nih!" ucap Dito.
Dito yang sudah mulai kuliah, lagi rajin-rajinnya ngerjain tugas kampus.
"Lagu lo! Mentang-mentang kuliah! Biasanya juga elo minta dikerjain ama Mike!"
"Eh, keliru. Malah gue yang ngerjain Mike. Hahaha." Dito malah berfikiran lain.
"Emang elo masih jalan ama Mike, Dit?" tanya Rendi.
"Masih lah. Gue kan setia ama dia!"
"Setia dari hongkong! Monika aja elo embat juga," sahut Rendi.
"Ngeri tuh cewek ternyata," ucap Dito.
"Ngeri kenapa?" Setahu Rendi, Monika gadis yang susah didekati.
"Ya gitu deh. Ngeri-ngeri sedap. Hahaha."
"Bisa pada diem enggak sih?" Teman sebelah kamar Dito berteriak lagi.
__ADS_1
"Iya! Iya! Bawel!" sahut Dito dari kamarnya.
"Untung aja elo kagak jadi deketin tuh anak, Ren. Dia ternyata pemain juga," lanjut Dito.
"Oh ya? Elo emang pernah diajak main ama dia?" tanya Rendi.
"Maunya dia gitu. Tapi gue ogah! Salome, Bro!"
Rendi mengernyitkan dahi.
"Maksud elo?"
"Satu lobang rame-rame. Hahaha."
Dito satu kampus dengan Monika, bekas kakak kelas mereka saat di SMA dulu.
Meski mereka tidak satu angkatan, tapi karena satu fakultas, Dito sering ketemu dengan Monika.
Awalnya Dito ngebet banget sama Monika, tapi setelah tahu sepak terjangnya, Dito memilih kembali pada Mike.
Saat jadi kakak kelasnya, Monika memang terkenal jutek. Tapi setelah kuliah, tabiatnya berubah seratus delapan puluh derajat.
"Gue nih, Dit. Biar kata disediain seratus bidadari, gue tetep setia sama Tania," tutur Rendi.
"Sayangnya Tania enggak setia ama elo." Dito menahan tawanya. Daripada teman sebelah kamarnya ngomel-ngomel lagi.
"Kampret lo, ah! Yang penting kan gue udah makan dia duluan."
Rendi jadi ingat lagi saat dia membawa kabur Tania. Dan mereka in the hoy di kamar hotel. Membuat Rendi senyum-senyum sendiri.
"Gue lagi ngebayangin waktu itu, Dodol! Lo malah gangguin aja." Rendi melemparkan bantal ke arah Dito yang lagi membuka laptopnya.
"Auk ah. Lo bikin gue jadi kepingin makan Mike aja," sahut Dito dengan kesal.
"Udah buruan. Entar keburu diembat orang, tau rasa lo!"
"Eh, Mike enggak kayak Tania. Dia gak bakalan dipaksa menikah ama orang tuanya!" sahut Dito.
Rendi jadi sedih mendengar omongan Dito. Rendi kesal dengan papanya sendiri yang justru menikahi calon istrinya.
"Ye..malah baper. Udah tidur sana!" Dito melemparkan kembali bantalnya ke arah Rendi.
Karena tak mau mengganggu Dito, Rendi akhirnya tertidur juga.
Pagi harinya, Tono sudah siap di meja makan. Tania menghampiri dan duduk di depannya.
Tania datang bukan untuk ikut makan. Tapi mau meminta ponselnya.
"Mana ponselku?"
"Selama seminggu ini, aku akan menyita ponselmu. Sebagai hukuman karena kamu berani-beraninya menghubungi Rendi lagi," jawab Tono.
"Dan mulai hari ini, kamu akan aku kurung lagi di kamar!" lanjut Tono.
"Enggak! Aku enggak mau!" tolak Tania.
__ADS_1
"Terus maumu apa? Biar Rendi datang kesini dan membawamu kabur lagi? Jangan harap!"
Tono melanjutkan sarapannya.
"Makan! Setelah ini kamu masuk kamar!"
"Kamu pikir aku tawananmu? Aku enggak mau!" Tania tetap menolak.
Tapi Tono tak menghiraukan penolakan Tania. Dia tetap makan dengan santai.
Tania yang kesal karena ponselnya tak dikembalikan, tak mau makan sedikitpun.
Dia kembali ke kamarnya. Tak peduli Tono akan mengurungnya sekalipun. Toh, kabur pun tidak akan menyelesaikan masalah. Tono akan dengan mudah menemukannya.
"Bik. Antarkan sarapan buat Tania. Kalau sudah, kunci pintu kamarnya dari luar!" perintah Tono pada Asih.
"Baik, Pak." Asih segera menyiapkan sarapan untuk Tania dan membawanya dengan nampan.
"Ini sarapannya, Neng. Maaf, setelah ini Bibik akan mengunci pintunya dari luar. Ini perintah juragan," ucap Asih.
Tania hanya menoleh sekilas lalu membuang pandangannya lagi ke luar balkon.
Asih pun bergegas keluar dan mengunci pintu kamar sesuai perintah Tono. Dia tak mau kena marah Tono kalau terlalu lama di kamar Tania.
"Sudah, Pak. Pintunya sudah saya kunci," ucap Asih.
"Aku mau pergi. Jangan bukakan pintu kamar apapun alasannya, kecuali siang nanti saat jam makan."
"Iya, Pak." Asih mengangguk patuh.
"Dan ingat satu hal lagi, jangan terima tamu siapapun. Termasuk tamu yang bernama Rendi kemarin itu. Jangan kasih kesempatan dia bertemu Tania. Mengerti?"
"Iya, Pak." Asih mengangguk kembali.
Lalu Tono berjalan keluar rumah. Hari ini banyak sekali tagihan yang harus dia selesaikan.
"Rendi. Jangan harap kamu bisa membawa Tania lagi," gerutu Tono dengan kesal di dalam mobilnya.
Meski Rendi anak kandungnya sendiri, Tono tak sedikitpun mengalah untuk urusan perempuan.
Setelah pintu kamarnya dikunci dari luar, Tania hanya bisa merenung di kamar. Tak ada yang bisa dikerjakannya.
Tania menatap ke luar balkon. Dia melihat mobil Tono pergi. Dalam hati dia menyumpahi Tono semoga kecelakaan dan mati di tempat.
"Astaghgirullahaladzim. Kenapa buruk sekali pikiranku," batin Tania.
Tania naik ke tempat tidurnya lalu menyalakan televisi. Hanya itu satu-satunya hiburan yang ada.
Sementara Rendi pamit pada Dito. Pagi ini dia akan kembali beraktifitas membantu mamanya seperti biasa.
Rendi sengaja melewati jalan depan rumah papanya, meski hatinya masih terbakar rasa cemburu.
Di dekat rumah papanya, dia melihat mobilnya keluar dari pintu gerbang.
Dan Tono pun melihat Rendi. Tono langsung memundurkan mobilnya dan masuk kembali ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Dia tak jadi pergi. Berjaga-jaga jangan sampai anaknya itu datang kembali ke rumahnya dan membawa kabur Tania.