
Eni ketawa sampai batuk-batuk.
"Nah, kan. Batuk. Kamu sih. Kualat tuh sama kucingnya," ucap Widya lagi.
"Udah Mbak, ah. Ngocol mulu. Aku jadi enggak bisa makan nih." Eni dari meminum air putih milik Tania.
Wajahnya memerah karena terbatuk hingga hampir tersedak.
"Ambil makanan lain kalau perut kalian masih muat," ucap Widya.
"Bibi mau salad buah?" tanya Tania.
Tania sangat perhatian pada Eni. Eni yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri. Yang mengasuh dan menyayanginya sejak kecil.
"Mau!" Eni mengangguk.
"Paman mau nambah apa?" tanya Tania pada Danu.
Dengan Danu pun Tania sangat sayang. Danu sudah seperti bapaknya sendiri. Bahkan Tania sendiri sudah lupa bagaimana kasih sayang bapaknya dulu terhadapnya.
Bagi Tania, bapaknya ya Danu. Wajah bapaknya sendiri Tania sudah tak ingat lagi. Kecuali kalau lihat di foto jaman dulu. Entah bagaimana wajah bapak dan ibunya sekarang.
Mereka masih hidup apa sudah matipun, Tania tak pernah tahu. Keduanya seperti hilang ditelan bumi.
"Nanti Paman cari sendiri aja deh," sahut Danu. Dia tidak tega kalau menyuruh Tania mengambilkannya. Meskipun Tania yang menawarinya.
"Ya udah. Bude mau sesuatu?" Tania juga tak melupakan Widya. Jangan sampai Widya merasa disepelekan.
"Enggak. Udah cukup. Bude udah kenyang banget," jawab Widya.
Tania mengambilkan salad untuk Eni dan beberapa buah potong untuk dirinya sendiri.
"Tania baik banget ya, Mbak," ucap Eni pada Widya sambil melihat Tania berjalan menjauhi mereka.
"Iya. Kasihan sekali nasib anak itu. Mulai sekarang, kalian berdua jangan lagi menyakitinya. Udah cukup apa yang kalian lakukan dulu," sahut Widya.
"Iya, Mbak. Aku sangat menyesal." Eni menunduk. Tak terasa matanya berkaca-kaca.
Danu pun terdiam. Dia merasa sangat berdosa pada Tania. Tania yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Hhh. Masalah Tania belum kelar, malah Lintang bermasalah," keluh Widya.
Eni menghapus genangan air di matanya. Lalu menyusut ingusnya yang nyaris keluar.
"Oh iya, Mbak. Tadi mbak Lintang berpesan, kita tunggu dia di kamar saja. Nanti mbak Lintang datang lagi sebelum jam dua belas siang," ucap Eni.
Tania yang baru datang, mendengar juga ucapan Eni.
"Mbak Lintang kemana, Bi?" tanya Tania.
__ADS_1
"Tadi katanya mau mengurus surat pengunduran diri dulu. Dan katanya juga, kalau kita mau nyari hotel lain, dia bisa mencarikan," jawab Eni.
"Kalau udah makan otakmu encer ya, Bu," ledek Danu.
"Ish. Emang otakku udah encer dari dulu kali, Pak," sahut Eni.
"Iya encer. Kaya es krim yang meleleh," ucap Widya. Mata Widya melihat es krim yang dibawa Tania sebagai toping di salad buah untuk Eni.
"Bude mau?" Tania menawarkannya pada Widya dulu.
Widya mengangguk. Padahal tadi dia bilang udah kenyang. Tapi begitu melihat es krim, perutnya seakan memberi tempat kosong.
Tania menyerahkannya pada Widya.
Eni langsung cemberut.
"Jangan khawatir. Tania ambilkan lagi, Bi," ucap Tania.
"Sama Bibi ambilnya. Bibi pingin lihat juga tempatnya." Eni langsung berdiri.
Sebenarnya Eni hanya tak tega kalau Tania kembali mengambilnya sendiri. Jadi Eni cari alasan.
Danu juga ikutan berdiri.
"Paman mau juga?" tanya Tania.
Danu mengangguk sambil nyengir.
"Lagu-laguan makan es krim. Biasanya juga makannya es lilin!" ledek Widya.
"Es campur, Mbak!" sahut Danu dengan kesal.
"Tania! GPL, ya!" seru Danu.
Tania mengangguk. Lalu pergi berdua dengan Eni.
"Kenapa? Udah ngiler, ya?" Widya meledek dengan pura-pura menyuapi Danu. Padahal masuk ke mulutnya sendiri.
"Aak....Aem...!" Lalu Widya tertawa ngakak.
Danu dibuat bete oleh kakaknya yang suka rese itu.
Hhmm. Kalau enggak di hotel, aku bawa kabur es krimnya itu. Batin Danu.
Danu jadi ingat dengan masa kecilnya dulu. Dia suka menggoda Widya dan Santi, ibunya Tania.
Kalau mereka punya makanan, sering diumpetin dari Danu. Tapi Danu yang usil, tak kehabisan akal.
Danu pura-pura cuek. Begitu mereka lengah, Danu bawa lari makanan mereka.
__ADS_1
Biasanya Widya yang akan mengejarnya. Badan Widya yang besar, kadang bisa menangkap Danu. Dan setelah ketangkap, biasanya Widya bakal ngelitikin Danu yang gelian, sampai ngompol.
"Heh! Malah melamun!" Widya menoyor kepala Danu yang duduk di depannya.
"Aku jadi ingat sama Santi, Mbak. Di mana dia sekarang ya?" tanya Danu.
"Hhh! Enggak taulah, Dan. Kalau dia masih hidup, suatu saat dia pasti akan kembali. Rumahku kan dari dulu juga belum pindah," jawab Widya.
"Santi pasti enggak akan nyangka kalau Tania sudah dewasa dan secantik itu ya, Mbak." Danu melihat Tania dari kejauhan.
"Iya. Kasihan sekali dia. Tania bukan cuma cantik wajahnya, tapi juga cantik hatinya," sahut Widya.
Tak lama, Tania dan Eni datang. Mereka membawa salad buah dengan toping es krim.
Sebenarnya itu cuma keisengan Tania saja. Dua makanan itu harusnya dimakan terpisah. Cuma karena tadi Tania ingin juga mengambilkan es krim buat Eni, dia jadikan satu saja.
Kalau harus sendiri-sendiri, tangannya enggak bisa membawanya.
"Nih, Pak. Abisin." Eni memberikan satu cup untuk Danu dan satu cup lagi untuknya sendiri.
"Mbak. Kalau nanti anaknya Lintang lahir, biar aku dan Eni aja yang merawatnya. Kan Lintang bisa kerja lagi," ucap Danu setelah semua kembali duduk.
"Kalian serius?" tanya Widya.
"Iya, Mbak. Enggak tau kenapa, aku kepingin banget momong anak bayi," jawab Eni.
"Ya kita liat aja nanti. Kalau cuma momong bayi, aku juga mau kok," ucap Widya.
"Tapi Mbak Widya kan harus jualan." Eni sepertinya keberatan dengan ucapan Widya.
"Kalau aku yang momong, kan nanti Lintang bantu keuanganku. Karena aku enggak bakal bisa jualan lagi," ucap Widya.
Eni langsung cemberut. Lalu melampiaskannya dengan mengacak-acak saladnya.
Widya melihatnya dengan kasihan.
Eni orangnya sangat tulus. Dia sangat sayang pada anak-anak. Tapi sayangnya malah dia tidak dikaruniai anak sendiri.
Dulu saat Tania kecil dan baru ditinggal pergi kedua orang tuanya, Widya sempat meragukan Eni. Pasalnya Eni orangnya selengekan. Kadang juga lemot.
Tapi ternyata Eni memberikan keyakinan pada Widya. Dia bisa merawat dan menyayangi Tania seperti anak sendiri.
"Udah, jangan pikirin itu dulu, En. Yang sekarang harus kita pikirin, gimana caranya biar Lintang kuat menghadapi cobaan hidupnya," ucap Widya.
Widya sebenarnya sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Lintang. Tapi dukungan dari Tania, Danu juga Eni, mampu membuat Widya tegar.
"Iya, Mbak. Aku siap siaga buat Lintang," ucap Danu.
"Tania juga akan selalu menemani mbak Lintang, Bude." Tania pun tam mau kalah.
__ADS_1
"Bisa enggak sih, perut Lintang dipindahin ke perutku? Biar aku aja yang hamil," ucap Eni tiba-tiba.
Tania, Widya dan Danu melongo mendengar ucapan Eni. Lalu sesaat kemudian mereka terbahak-bahak.