HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 168 MASIH KANGEN TANIA


__ADS_3

"En, kamu ke pasar sana!" perintah Widya.


"Mau ngapain, Mbak?" tanya Eni. Dia malas pergi-pergi, rasanya masih kangen sama Tania.


"Ya belanja lah. Masa mau loncat-loncat di sana!" jawab Widya.


"Iya tau! Maksudku, mau belanja apaan?" tanya Eni.


Eni sudah terlanjur tidak memasak hari ini, jadi dia berpikir mau makan siang di luar saja buat merayakan kepulangan Tania.


"Hari ini kita bikin selamatan. Buat merayakan kepulangan Tania. Nanti kita bagi-bagi ke tetangga," jawab Widya.


"Enggak usah masak sendiri lah, Mbak. Kita beli aja nasi box. Terus kita bagiin ke tetangga deh," sahut Eni.


"Kan lebih irit kalau masak sendiri, En? Nanti aku yang masakin," ucap Widya. Dia memang jago masak. Widya juga sering masak dalam jumlah banyak. Karena tiap pagi jualan nasi buat sarapan.


"Iya. Tapi ini kan udah siang. Mau selesai jam berapa nanti, masaknya?" tanya Eni yang sudah terlanjur malas memasak. Apalagi kalau harus belanja ke pasar yang panas dan kumuh.


"Ah, kamu itu banyak alasan. Kayak banyak duit aja!" sahut Widya dengan kesal. Karena pasti ujung-ujungnya, dia juga yang mesti keluar duit.


Tania membuka tasnya. Dia masih menyimpan banyak uang dari Tono. Belum lagi yang di kartu ATM Tono. Jumlahnya pasti tidak sedikit. Kalau belum diblokir oleh Tono.


Tania mengambil semuanya.


"Pakai ini, Bi. Buat keperluan Bibi. Itu uang Tania sendiri. Ya, dikasih Tono sih," ucap Tania sambil menyerahkan semua uangnya pada Eni.


"Jangan Tania. Ini uang kamu. Simpan saja buat keperluanmu," tolak Eni dengan terharu.


Dari dulu Tania selalu seperti itu. Kalau punya uang, pasti akan diberikan semua pada Eni. Walaupun Eni selalu menolak, tapi tetap saja Tania memaksa menerimanya.


"Enggak apa-apa, Bi. Pakai aja. Kalau Tania, gampanglah nanti," sahut Tania.


Widya mengambil semua uang Tania. Eni sampai melongo melihatnya. Dia pikir Widya benar-benar akan mengambil semuanya.


"Ini uang kamu. Pakai buat keperluan kamu. Kamu udah pergi dari Tono, dia enggak mungkin kasih uang kamu lagi. Simpan!" Widya memaksa memasukan uang itu ke dalam tas Tania lagi.


Widya tak mau kalau Tania selalu mengorbankan kepentingannya untuk orang lain.


"Tapi Bude..."


"Enggak ada tapi-tapian! Nurut sama Bude!" Widya langsung memotong omongan Tania.


Tania hanya bisa mengangguk, menurut.


Widya mengambil uang di dompetnya sendiri.

__ADS_1


"Nih. Belanjakan untuk keperluan selamatan. Enggak usah banyak-banyak. Buat tetangga kanan kiri aja. Kalau kurang, kamu tombokin!" ucap Widya dengan ketus, sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Eni.


Eni hanya bisa menurut, tapi sambil berdecak sebal. Kalau sudah begini, mana mungkin Eni menolak perintah Widya. Bisa habis dia dimarah-marahi.


Eni pergi ke pasar naik motor maticnya.


"Bibi sekarang udah punya motor, Bude?" tanya Tania.


"Iya. Dia juga sekarang buka salon kecil-kecilan di dekat terminal. Di kiosnya Tono."


Widya selalu menyebut itu milik Tono. Sebab tak ada bukti kepemilikan atas nama Eni atau Danu. Yang artinya, sewaktu-waktu bisa saja diambil lagi oleh Tono.


"Salon kecantikan?" tanya Tania.


"Iyalah. Masa salonp*s. Itu mah buat ditempel di jidatnya bibi kamu, kalau lagi puyeng!" jawab Widya.


"Ih, Bude. Tania kan nanya baik-baik." Tania langsung cemberut.


"Iya...Iya. Maaf, Bude becanda. Biar kamu ketawa. Eh, malah cemberut. Ayo ketawa dong. Kan jawaban Bude lucu! Hahaha."


Widya yang ingin agar Tania ketawa, malah dia sendiri yang ketawa ngakak.


"Memangnya bibi bisa motong rambut, make up-in orang atau lainnya, gitu?" tanya Tania.


"Dia kemarin sempet kursus kecantikan. Terus mantan majikannya juga ikut bantu modal katanya," jawab Widya.


"Oh, hebat dong. Kalau enggak salah, mantan majikan bibi yang rumahnya dekat rumah Rendi?" tanya Tania.


"Iya mungkin. Bude juga enggak paham. Kamu kalau mau, coba ikutin bibi kamu itu. Kursus kecantikan. Nanti Bude yang bayari, deh," ucap Widya.


"Tania enggak punya bakat, Bude," sahut Tania.


"Memangnya bibi kamu itu punya bakat? Dia itu cuma modal nekat sama kemauan yang kuat. Kamu juga harus seperti itu, biar bisa jadi orang sukses," ucap Widya.


"Iya, Bude. Nanti Tania pikirin, yang kira-kira cocok dengan Tania," sahut Tania.


"Iya. Sekarang kamu tenangin diri kamu dulu. Jangan kemana-mana sendiri. Takutnya anak buah Tono nyulik kamu lagi," ucap Widya.


"Iya, Bude. Tania juga enggak mau kembali ke rumah Tono lagi. Kayak dipenjara di sana. Enggak bisa ngapa-ngapain," sahut Tania.


"Lalu bagaimana hubungan kamu sama Rendi?" tanya Widya.


Widya sudah dapat cerita dari Asih tentang Rendi yang masih saja mencari Tania. Sampai dibela-belain jatuh dari pintu gerbang yang tinggi.


Bahkan Asih cerita juga tentang pertemuan Tania dengan Rendi di mal.

__ADS_1


"Untuk sementara begini dulu, Bude. Mamanya Rendi belum kasih lampu ijo. Malah cenderung kepingin memisahkan kami," jawab Tania sedih.


"Ya udah. Kamu sabar aja dulu. Toh, kamu juga masih jadi istrinya Tono. Maksud Bude, kamu harus bisa ngurus perceraian dengan Tono dulu. Satu persatu diselesaikan, ya," ucap Widya.


"Tapi kalau Tono tak mau menceraikan Tania, gimana?" tanya Tania khawatir.


"Kalian kan nikah resmi. Kamu bisa mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Nanti kasusnya akan diproses di sana. Tenang aja. Bude udah punya pengalaman. Bude akan bantu kamu," jawab Widya.


Widya bertekad akan berada di baris terdepan buat membela keponakannya ini.


Bagi Widya, Tania ya anaknya juga. Yang harus dibela dan dijaganya sekuat tenaga.


"Iya, Bude. Terima kasih." Tania memeluk lengan Widya yang duduk di sebelahnya.


"Kalau mamanya Rendi tetap tak setuju, gimana Bude?" Tania ingin tahu pendapat Widya.


"Kamu jangan pikirin itu dulu. Kan Bude udah bilang tadi. Selesaikan satu persatu. Kalau Rendi masih mau menjalin hubungan dengan kamu, ya jalanin aja dulu. Kalau kalian memang berjodoh, akan ada jalannya Tania," jawab Widya.


Tania mengangguk.


"Jangan paksakan keadaan yang sulit. Nanti malah hidup kamu semakin sulit," lanjut Widya.


Tania kembali mengangguk.


Danu kembali dari warung kopi. Dia tak mau lama-lama di sana. Rasanya masih kangen sama Tania.


"Udah ngopinya?" tanya Widya.


"Udah, Mbak," jawab Danu.


"Ngopi aja mesti jauh-jauh. Kayak di rumah enggak ada kopi aja," gumam Widya.


"Sekalian cuci mata, Mbak. Hehehe." Danu nyengir. Tapi matanya melihat ke sekelilingnya. Jangan sampai kedengeran Eni.


"En...! Nih, Danu ambilin air! Matanya kelilipan kayaknya!" teriak Widya. Padahal jelas-jelas dia tahu kalau Eni lagi disuruhnya ke pasar.


"Enggak...Enggak...! Bohong, Bu. Mbak Widya becanda!" seru Danu.


Tania dan Widya tertawa ngakak.


Danu menatap mereka kebingungan.


"Bibi aja lagi ke pasar, belum pulang," ucap Tania setelah puas ketawa.


Danu mendengus kesal, karena berhasil dikerjai kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2