
Tono berjalan ke ruangan dokter yang akan memeriksanya. Lalu duduk menunggu namanya dipanggil.
Dia lebih baik menunggu di bangku sendirian daripada di ruangan Rendi dan harus berdebat dengan Sari.
Dalam hati Tono merasa sedih. Hidupnya terasa sepi. Tak ada yang menemani.
Sementara beberapa orang yang juga sedang mengantri, mereka ditemani pasangan atau anaknya.
Ya walaupun Tono sadar anaknya sedang sakit dan tak mungkin menungguinya. Meskipun kalau sehat, belum tentu juga mau menemaninya.
Tono jadi berpikir, kenapa dia dulu tak punya anak yang banyak biar bisa menemaninya di hari tua.
Memang Sari tak bisa punya anak lagi setelah melahirkan Rendi. Tapi mestinya Tono bisa punya anak dari istri-istrinya yang lain, kalau saja tak melarang mereka untuk hamil.
Tapi ya sudahlah. Tono harus menerima takdirnya. Hidup sendiri di usia senjanya.
Tono menatap wajah beberapa lelaki tua yang hampir seusianya.
Apa mereka juga punya penyakit yang sama denganku? Tanya Tono dalam hati.
Kalau iya, alangkah bahagianya mereka masih diterima dengan baik oleh keluarganya. Batin Tono.
"Bapak Martono!" panggil perawat.
Tono beranjak dari tempatnya duduk. Lalu mengangguk pada perawat itu.
"Silakan masuk, Pak. Bisa saya minta kertas pendaftarannya?" pinta perawat.
Tono mengulungkannya. Lalu dipersilakan masuk ke ruangan dokter.
Di sana Tono bertemu dengan seorang wanita setengah baya, yang wajahnya masih diingatnya. Tapi Tono lupa di mana.
Dokter wanita itu tersenyum pada Tono. Dia masih ingat wajah yang tadi ditemuinya di dalam angkot.
"Selamat pagi, Pak," ucap dokter yang bernama Rania. Tono tadi sempat membacanya di pintu ruangan.
Dokter Rania membuka berkas milik Tono yang diberikan perawat yang membantunya.
"Pagi, Dokter," sahut Tono dengan ramah. Dia masih berusaha mengingat, di mana bertemu dengan wanita itu.
"Perkenalkan, saya dokter Rania yang akan menangani penyakit Bapak. Dokter Rudi menyerahkannya pada saya, karena beliau sedang cuti," ucap dokter setengah baya itu.
__ADS_1
"Bisa saya periksa dulu, Pak?" tanya dokter Rania.
Tono mengangguk. Lalu mengikuti dokter itu menuju tempat tidur kecil tempat periksa pasien.
"Maaf, saya buka sedikit ya, Pak," ucap dokter Rania dengan sopan. Lalu memeriksa beberapa bagian tubuh Tono dengan teliti.
"Apa saya bisa sembuh, Dokter?" tanya Tono.
"Bisa, Pak. Asal Bapak mengikuti anjuran saya dan rajin mengikuti jadwal teraphi. Karena nanti Bapak akan melakukan beberapa kali penyuntikan. Bisa kan, Pak?" tanya dokter Rania.
"Bisa, Dok. Saya ingin sembuh," jawab Tono.
"Baiklah kalau begitu. Saya mulai saja penyuntikan yang pertama. Ini nanti akan menimbulkan reaksi ya, Pak. Tapi tenang saja, saya akan resepkan obat juga untuk mengurangi efek sampingnya," ucap dokter Rania dengan sabar.
Tono mengangguk saja. Dia akan menuruti apapun perintah dokter. Baginya yang penting bisa sembuh.
Setelah pengobatannya selesai dan menerima resep, Tono berpamitan.
Sambil berjalan keluar, Tono masih saja memikirkan dimana dia ketemu dengan dokter itu.
Ah! Tono menepuk jidatnya sendiri, setelah sampai di luar ruangan dokter Rania. Wanita yang ditemuinya di dalam angkot. Tono berhasil mengingatnya.
Tono tidak mengira kalau dia seorang dokter. Di angkot tadi, dokter Rania bersikap seperti orang-orang pada umumnya.
Setelah menebus obatnya, Tono mampir sebentar ke kamar Rendi. Sari tak ada di sana.
"Mama lagi menemui dokter, Pa. Rendi pingin cepet-cepet pulang. Bosan di sini terus," ucap Rendi.
"Kalau dokter mengijinkan, enggak masalah," sahut Tono.
"Papa sendiri juga bisa pulang, meskipun dokter tak mengijinkan," ucap Rendi.
"Kondisi kita beda, Rendi. Papa kan masih bisa bolak balik check up. Sedangkan kamu, kaki dan tangan kamu belum sembuh. Perlu waktu sampai benar-benar sembuh," sahut Tono.
"Enggak, Pa. Rendi tetap mau pulang. Kan bisa sewa perawat untuk mengurus Rendi nantinya," tolak Rendi.
Tono menghela nafasnya.
"Ya udah. Gimana nanti dokternya aja. Soalnya akan berbahaya kalau salah merawat Rendi. Resikonya besar," ucap Tono.
Bagi Rendi, dia tak mempedulikan resiko apapun. Yang penting dia bisa segera pulang dan menemui Tania.
__ADS_1
"Kalau saja Mama mengijinkan, Rendi pinginnya tinggal di rumah Papa. Biar Tania bisa merawat Rendi. Tania kan juga bisa tinggal di rumah Papa lagi, kan," ucap Rendi.
"Kamu beneran mau tinggal di rumah Papa?" tanya Tono dengan mata berbinar.
Tono sangat bahagia meski tujuan utama Rendi hanya untuk Tania. Tapi setidaknya Tono akan punya banyak waktu bersama Rendi.
"Iya, Pa. Tapi Mama pasti enggak ngijinin," jawab Rendi dengan sedih.
"Enggak ngijinin apa?" tanya Sari tiba-tiba.
Tono lupa menutup pintu, jadi Sari bisa langsung masuk.
Rendi dan Tono terkesiap. Lalu hanya saling diam saja.
"Papa pulang dulu, Rendi. Papa harus istirahat, sebelum suntikan tadi bereaksi. Efek sampingnya, bisa mual, kepala pusing dan demam tinggi. Jadi mungkin Papa belum bisa kesini lagi dulu," pamit Tono pada Rendi.
Sari menatap Tono dengan tajam. Dalam hatinya ada rasa kasihan juga. Tapi sifat ego Sari lebih berkuasa.
Saat rasa kasihan itu muncul, bayangan saat Tono menyakitinya dulu menari-nari di kepalanya. Membuat perasaan Sari kembali seperti diiris-iris.
Tono keluar dari ruangan Rendi, tanpa berpamitan pada Sari. Dia ingin segera istirahat. Badannya sudah terasa panas dingin. Mungkin suntikan tadi sudah mulai bereaksi.
"Kasihan Papa, Ma. Papa pasti akan merasa kesakitan nanti. Enggak ada yang mengurusnya," pancing Rendi pada Sari.
"Biarin aja. Biar dia merasakan akibat dari perbuatannya. Dulu waktu Mama sakit, dia juga enggak pernah mau peduli. Malah pergi sama wanita lain!" sahut Sari dengan ketus.
Sari masih saja menyimpan dendamnya pada Tono. Padahal kenyataannya waktu itu, Sari yang menolak Tono yang berniat merawatnya. Sari sudah terlanjur sakit hati mengetahui Tono menikah lagi.
"Enggak boleh menyimpan dendam seperti itu, Ma. Bagaimanapun Papa masih suami Mama, kan? Kata para ulama, itu akan jadi jalan Mama masuk surga," ucap Rendi mengikuti ucapan para ulama yang sering didengarnya.
"Ah! Mama mau ke surga lewat jalan lain aja! Masih banyak jalan menuju surga!" sahut Sari dengan ketus.
Rendi hanya menghela nafasnya. Dia paham kalau Sari memang sangat keras kepala.
"Tadi gimana kata dokter, Ma?" tanya Rendi.
"Nanti nunggu hasil pemeriksaan selanjutnya. Kamu enggak usah maksain kayak papa kamu, Rendi. Nanti kamu yang repot sendiri kalau harus bolak balik kontrol," jawab Sari.
"Tapi kalau Rendi tetap di sini, Mama juga kan yang repot bolak balik nungguin," sahut Rendi.
Sari berpikir, benar juga kata Rendi. Sepertinya akan memudahkannya kalau Rendi bisa dirawat di rumah.
__ADS_1
"Ya udah. Nanti kalau dokter sudah memeriksamu, Mama akan bicara lagi," ucap Sari mengalah.
Rendi tersenyum senang. Meski baru sebatas itu, paling tidak sudah ada jalan baginya untuk bisa menemui Tania.