
Setelah puas melihat-lihat kamar Tania, mereka pun turun lagi.
"Kamu beruntung, Tania. Bisa dapetin lelaki seperti Rendi. Udah ganteng, baik, anak orang kaya juga," ucap Lintang sambil menuruni tangga.
Tania hanya tersenyum saja. Dalam hati berkata, kamu belum tahu persoalan yang sebenarnya, mbak. Apa yang aku jalani tak seindah kelihatannya.
Dan sekarangpun, perjuangan kami belum selesai. Masih banyak yang harus kami lalui.
"Aku kok enggak lihat mamanya Rendi? Apa dia sibuk banget, sampai enggak sempat bergabung?" tanya Lintang.
Tania tercekat.
Aduh! Bagaimana aku menjawabnya?
Untung saja mereka sudah sampai di lantai bawah. Dan Diman menarik tangan Lintang untuk berdansa.
Musik sudah diganti Dito dengan musik klasik. Yahya pun sedang memeluk Asih dengan erat. Begitu juga Danu dan Eni. Meski musik itu asing di telinga mereka.
Dito memeluk Mike, tentu saja. Widya keluar dari arena, karena tak punya pasangan.
Lintang kebingungan harus bagaimana. Tapi begitu Diman membawanya bergabung, secara otomatis mereka berpegangan tangan. Tak sampai berpelukan.
Diman belum berani, karena ada Widya. Dan dia belum minta ijin.
Tania mendekati Rendi. Tania hanya memeluk Rendi dari belakang. Kaki Rendi belum memungkinkan untuk melangkah. Jadi mereka hanya menggoyangkan badan mengikuti irama syahdu musik klasik.
Tangan Rendi menggenggam erat tangan Tania. Sambil sesekali mengecupinya.
Yang tidak berdansa kembali menikmati hidangan sambil sesekali bercengkerama. Widya yang dulunya antipati dengan Tono pun, kini terlihat akrab ngobrol.
Mereka bernostalgia, mengenang masa-masa sekolah mereka yang konyol. Dimana mereka selalu bermusuhan.
Sementara Sari tiba-tiba ingin pulang ke rumahnya. Dia ingin mengecek kondisi Rendi.
Sampai di rumah, suasana sepi. Pintu terkunci. Sari menekan bel beberapa kali.
Dan tak lama, Sri membukakan pintu. Sri hanya menggunakan daster longgar dan tanpa dalaman. Entah apa yang barusan dilakukan oleh Sri. Hanya dia dan hapenya yang tahu.
"Kok sepi. Pada kemana?" tanya Sari.
"Mm...Pergi, Bu," jawab Sri.
"Pergi? Rendi?" tanya Sari.
"Mm...Mas Rendi...diajak...jalan sama bapak," jawab Sri gelagapan.
"Kemana?" Sari mulai curiga.
"Saya...saya enggak tau, Bu. Tadi...mereka enggak bilang," sahut Sri.
__ADS_1
Tono memang hanya bilang mau mengajak Rendi jalan-jalan. Dia tak mengatakan mau kemana.
"Mila ikut?" tanya Sari lagi.
"Mm...Mila...keluar sama Yadi, Bu." Sri makin kelimpungan. Karena bisa dipastikan Sari akan marah-marah. Meskipun bukan marah padanya.
"Sama Yadi? Kemana?"
Sri menggeleng. Ini juga Sri tak tahu menahu.
"Terus ngapain kamu pakai mengunci pintu? Dan ini...!" Sari memegang sedikit bagian atas daster Sri. Daster batik pemberiannya dulu.
Sari menariknya sedikit, hingga terlihat onderdir Sri bagian atas.
"Kamu habis ngapain, Sri?" tanya Sari dengan gemas.
Sari gemas melihat Sri. Kalau enggak pakai baju minimalis, pakai daster longgar. Tanpa dalaman pula.
"Saya....saya baru selesai mandi, Bu," jawab Sri.
Untung saja tadi Sri bermain-main di kamar mandi. Dan rambutnya yang masih basah cukup untuk membenarkan alasannya.
"Hhh! Lain kali kalau mau bukain pintu, kamu pakai pakaian yang lengkap dan sopan dulu. Enggak kayak begini!" ucap Sari.
Bagaimana pun Sari tak mau ada sesuatu di rumahnya. Apalagi sekarang Tono sering di rumahnya. Sari tak mau ada permainan di antara mereka.
"Iya, Bu. Tadi saya buru-buru," jawab Sri.
Sari mendengus dengan kesal. Selalu saja banyak alasan! Gerutu Sari dalam hati.
Mila dan Yadi sampai di depan rumah Sari. Mereka terkesiap melihat motor Sari sudah parkir di halaman.
"Itu motor bu Sari. Waduh, gawat nih," ucap Yadi dengan cemas.
Bakalan kena semprot nih. Hhh! Enak enggak, apes iya. Batin Yadi.
"Aduh, gimana dong kalau bu Sari nanya? Mau jawab apaan?" Mila pun ikutan cemas dan panik.
"Ya mau enggak mau, jawab seadanya," jawab Yadi.
"Seadanya gimana? Terus urusan kita sama pak Tono?" Mila semakin tegang.
Baru saja sebentar bekerja, sudah bikin masalah. Mila juga tak mau, kalau tiba-tiba dia dipecat.
"Itu urusan nanti. Yang penting kita ngadepin bu Sari dulu," sahut Yadi.
Sari melihat kedatangan mereka dari dalam. Lalu berdiri dengan angkuhnya di tengah pintu.
Mila semakin panik. Kalau Yadi jauh lebih tenang. Bagi Yadi, sudah biasa menghadapi Sari sedang emosi. Cukup iya iya saja. Dan masalah selesai.
__ADS_1
Yadi menarik tangan Mila untuk berjalan masuk ke rumah.
"Dari mana kalian?" tanya Sari dengan ketus.
Mila menelan ludahnya. Dia merasa seperti menghadapi bom yang sebentar lagi meledak.
"Keluar, Bu. Mengantar Mila beli baju," jawab Yadi. Bagaimanapun di tangan Mila ada kantong plastik bertuliskan toko pakaian terkenal.
Mila terkesiap, lalu menoleh ke arah Yadi.
Kenapa jadi aku? Sialan nih. Kayaknya mau cuci tangan. Batin Mila.
"Cari baju? Ini bukan hari libur kamu, Mila! Kamu bisa kan bersabar sampai hari minggu?" bentak Sari pada Mila.
Nah, kan. Aku deh yang kena. Huh! Dasar Yadi tak tau diri! Sungut Mila dalam hati.
"Iya, Bu. Saya tau. Mm...tadi cuma...mumpung mas Rendi...dibawa bapak jalan-jalan," sahut Mila.
Untungnya tadi Sri juga memberikan jawaban yang sama, bahwa Tono membawa Rendi jalan-jalan. Jadi Sari tak begitu marah pada mereka.
"Kenapa kamu tidak ikut mereka? Tugas kamu kan menjaga dan mengawasi Rendi. Kalau terjadi apa-apa dengan Rendi, bagaimana? Kamu tau sendiri, bagaimana kondisi papanya Rendi itu!" Sari ngoceh panjang lebar.
Mila menghela nafasnya.
"Tapi bapak bilang, ingin pergi berdua saja sama mas Rendi. Tadi kami membantunya naik ke mobil," sahut Mila.
"Iya, naiknya. Bagaimana turunnya?" Sari merasa sangat khawatir.
"Bapak bilang, cuma muter-muter kota saja, Bu. Biar mas Rendi enggak jenuh," sahut Yadi.
Sari diam sejenak. Lalu menghela nafasnya.
"Ya udah. Sekarang kalian masuk. Dan ingat, kamu Mila! Jangan pernah kelayapan di hari kerja. Apapun alasannya! Dan kamu Yadi! Kamu udah tua! Kasih contoh yang baik pada Mila!" ucap Sari menyudahi ocehannya.
"Iya, Bu. Permisi." Yadi berusaha meninggalkan arena.
Sari yang masih berdiri di tengah pintu, menyingkir. Mila pun ikut masuk sambil menundukan kepalanya.
Setelah tiga pekerjanya masuk, Sari mencoba menelpon Tono. Sayangnya Tono meletakan ponselnya di meja ruang tamu.
Tak ada yang mendengar panggilan dari Sari. Karena rumah Tono sedang dijadikan tempat pesta dadakan.
Dan semua orang sedang menikmati suasana sambil menghibur diri. Tono pun sedang asik bernostalgia dengan Widya.
Sari juga menelpon nomor Rendi. Tapi hasilnya sama saja.
Kekesalan Sari yang baru saja reda, kembali naik lagi. Karena dia tak bisa menghubungi nomor Tono dan Rendi.
"Kemana mereka?" gumam Sari dengan cemas.
__ADS_1