
Rendi menatap wajah papanya yang agak pucat. Rendi berfikir, apa papanya sakit? Meski Rendi kesal pada papanya, tapi dia sangat menyayangi papanya.
"Papa sakit? Muka Papa pucat."
"Tidak. Papa...baik-baik saja." Papa Rendi berusaha menahan sakitnya.
"Owh. Ya sudah. Kenalin nih, Pa. Dito, teman SMA Rendi."
Dito mengulurkan tangannya. Matanya menatap papanya Rendi tak berkedip.
Sepertinya aku pernah ketemu. Tapi dimana ya? Dito berusaha membuka ingatannya kembali.
"Oh. Iya. Papa pikir kamu akan mengenalkan calon istri kamu," ucap papa Rendi menerima uluran tangan Dito.
Dito terkejut mendengar ucapan papanya Rendi. Calon istri? Batin Dito.
"Nanti sore kalau mama sudah pulang, Pa. Rendi pasti akan membawa Tania ke sini."
Dito baru paham, ternyata yang dimaksud calon istri adalah Tania. Ada-ada saja. Pacaran baru seumur jagung, udah mengklaim jadi calon istri. Dito hanya tersenyum saja dengan kekonyolan sahabat tengilnya ini.
Rendi mengajak Dito ke kamarnya. Rencananya mereka akan main play station sambil menunggu ban motor Dito ditambal, di bengkel yang tak jauh dari rumah Rendi.
Dito berjalan mengikuti Rendi, sambil mengingat wajah papanya Rendi.
Kayaknya aku pernah liat, tapi dimana ya? Dito terus saja mengingat-ingat wajah papanya Rendi.
"Hey! Ngapain sih, lu ngelamun terus. Kesambet baru tau rasa lu!"
Rendi melemparkan sebuah stick PS-nya pada Dito.
"Ups!" Tangkapan yang tepat.
"Gue kayaknya pernah liat bokap lo, bro. Tapi dimana ya? Gue lupa," ucap Dito..
"Bokap gue kan emang publik figur. Jadi wajahnya banyak dikenal orang," sahut Rendi asal.
Dito melemparkan buku yang tergeletak di lantai kamar ke kepala Rendi.
"Eh, kampret lo!" Rendi menghindar. Dan lemparan Dito meleset.
"Bro, emang lo beneran mau ngenalin Tania ke bokap lo?"
"Yoi. Gue juga mau segera melamar Tania," sahut Rendi sambil menyalakan televisinya.
"Ebusyet. Kagak salah denger apa gue?" Dito terkejut mendengar ucapan sahabatnya.
"Kagaklah. Kuping elo kagak budeg kan?" tanya Rendi sambil terbahak.
"Dodol lu! Lu pikir kuping gue congekan?"
"Ya, kali."
"Bro, kenapa elo mau cepet-cepet nikah? Nikmati dulu masa muda lo, Bro," tanya Dito yang belum ingin kehilangan sahabatnya.
Sebab kalau orang sudah menikah kan biasanya lupa dengan sahabatnya. Dia akan asik dengan keluarga barunya. Begitu pikir Dito.
"Nikmatin masa muda sambil nikmatin istri kan lebih endes." Rendi tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Dasar dodol, lu!" Dito menoyor kepala sahabatnya.
"Gue bakalan kehilangan sahabat dong, Bro. Sedih gue." Dito berakting sedih. Rendi balas menoyor kepala Dito.
Lalu mereka tertawa bersama dan memainkan PS-nya sampai siang.
Dito sampai melupakan motornya yang di bengkel.
Sementara papa Rendi berlari masuk ke dalam kamar istrinya, setelah Rendi dan temannya masuk ke kamar Rendi.
"Ah, lega." Papa Rendi mengelus burungnya yang tadi sempat kejambak.
Dia sudah tidak punya keinginan menjamah pembantunya lagi. Masih trauma dengan rasa perihnya.
Sambil menunggu Yadi pulang dari mencuci mobilnya, papa Rendi tiduran di kamar istrinya.
Pikirannya menerawang ke masa-masa indahnya dulu bersama istrinya. Saat istrinya belum divonis kena penyakit aneh itu.
Hampir tiap hari mereka menghabiskan waktu di kamar ini, saat mereka pulang dari pekerjaan masing-masing.
Sari sangat pandai dalam permainannya. Selalu bisa memuaskannya.
"Ma, belum ada perempuan yang bisa menandingimu di ranjang," gumam papa Rendi pelan.
Seandainya saja istrinya tak mengidap penyakit itu, pasti rumah tangganya akan baik-baik saja.
Papa Rendi merasa beruntung, laki-laki macam dirinya bisa mempersunting Sari yang semok anak juragan batik.
Tapi sayang, kebahagiaannya tak bertahan lama. Papa Rendi diperbudak oleh nafsu syahwatnya. Hingga selalu berganti istri simpanan.
Sari yang menyadari kekurangannya, tak pernah menuntut cerai lagi meski tahu suaminya sering berganti-ganti istri simpanan.
Walaupun hati Sari sebagai perempuan pastinya sakit oleh ulah suaminya. Sari lebih suka mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja.
Sari meneruskan usaha batik orang tuanya. Karena ketekunan Sari, toko batik peninggalan orang tuanya semakin maju.
Papa Rendi memandang foto pernikahannya yang masih dipajang oleh istrinya.
Tak terasa air mata menetes dari sudut mata tuanya.
Papa Rendi segera menghapus air matanya saat mendengar suara Yadi memanggilnya.
"Sudah?" tanyanya setelah keluar dari kamar istrinya.
"Sudah, Pak. Ini kuncinya."
Papa Rendi meraih kunci itu dan meninggalkan rumah yang ditempati istri dan anak semata wayangnya.
Sebelum pergi dia sempat berpesan pada Yadi, agar Sri menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk Rendi dan temannya.
Bagaimana pun kelakuanya, dia sangat menyayangi Rendi.
Sri masuk membawakan makanan kecil dan minuman dingin ke kamar Rendi, sesuai pesan majikannya.
Mata Dito melotot melihat pakaian Sri yang tipis dan pendek.
"Mata kondisikan, Bro!" seru Rendi. Dito hanya nyengir kayak kuda.
__ADS_1
"Pembantu lo itu bro?" tanya Dito setelah Sri keluar lagi.
"Iya, kenapa? Naksir lo?" tanya Rendi asal.
"Gila! Seksi amat!" Dito menelan ludahnya. Pikirannya masih membayangkan baju tipis yang dikenakan Sri.
"Elo tuh yang gila! Selera lo ternyata sama pembantu. Kasian Mike dong, Bro. Saingannya pembantu!" Rendi tertawa terbahak-bahak.
"Dodol lo! Gue cuma komentar doang. Gue tetep milih Mike lah," sahut Dito mengelak.
"Milih Mike tapi mata lo melotot lihat pembantu gue!"
Dito menoyor kepala Rendi.
"Kampret lo!" Rendi mencoba mengelak toyoran Dito, tapi kalah cepat dengan tangan Dito.
"Bro, gue mau ke rumah Tania. Elo mau disini aja nemenin pembantu gue?" ledek Rendi lagi.
"Ogah! Mending gue juga ke rumah Mike. Mumpung nyokap bokapnya lagi keluar kota." Dito lalu menyudahi permainannya.
Rendi mengantarkan Dito ke bengkel tempat tambal ban. Lalu pergi ke rumah Tania.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Eni keluar dari kamarnya. Dia terkejut melihat Rendi sudah berada di pintu rumahnya.
"Tanianya ada, Tante?" tanya Rendi.
"Tania...e... lagi pergi ke...rumah saudaranya," jawab Eni tergagap.
"Owh. Sudah lama, Tante?"
"I..iya. Eh, maksud tante...baru saja." Eni semakin kebingungan.
"Kok Tania tidak bilang ya, Tante?"
"Oh. Mm...mungkin dia lupa."
Aduuh...Eni semakin bingung. Eni berharap Rendi tidak menunggu Tania di rumahnya.
"Kira-kira pulangnya jam berapa, Tante?" tanya Rendi lagi.
Mati aku. Jangan sampai Rendi melihat Tania bersama Tono.
"Mungkin...nanti malam." Eni sengaja berbohong agar Rendi segera pulang. Karena Tono bilang hanya mengajak Tania pergi sebentar mencari cincin untuk pernikahan mereka nanti.
"Owh. Ya sudah, saya pulang dulu Tante. Nanti malam saya ke sini lagi mau menjemput Tania," pamit Rendi.
"Menjemput kemana?" Eni ingat pesan kakak iparnya, kalau Tania harus mulai dipingit.
Mestinya hari ini Tania tidak pergi bersama Tono. Tapi karena Tono bilang mau membeli cincin pernikahan, akhirnya Eni dan Danu mengijinkan.
"Mama saya pingin kenal dengan Tania. Bolehkan, Tante?"
Mati aku!
"Bo..boleh saja." Eni serasa mau pingsan mendengarnya.
__ADS_1
Ternyata Rendi sangat serius dengan Tania. Dikira Eni hanya sekedar cinta monyet saja. Makanya Eni mengijinkan Tania bersenang-senang dulu bersama Rendi sebelum hari pernikahannya tiba.