
Monica langsung cemberut. Lalu dia menatap pada Tono. Dia ingin mencari pembelaan.
Tono yang tadi tak memberi reaksi apapun, bergegas pergi ke parkiran motor.
Melihat pakaian Monica yang minimalis, Tono tak mau kalau dia sampai khilaf lagi.
Tono benar-benar ingin sembuh. Dia tak ingin penyakit mata keranjangnya kumat lagi.
Tono ingin menjadi orang baik-baik dan kembali pada Sari. Menghabiskan masa tuanya bersama istri pertama yang tak akan pernah diceraikannya.
Monica menatap kepergian Tono dengan geram. Tak ada yang membelanya sama sekali.
Rendi segera memesan taksi online. Dan untungnya, di sekitar rumah sakit banyak taksi online yang mangkal. Jadi tak butuh waktu lama, mobil sudah datang.
Dengan dibantu Mila dan security, Rendi dinaikan ke mobil. Mila duduk di depan. Sari menemani Rendi di jok tengah.
Monica kembali geram karena dia diabaikan.
Hhmm. Aku enggak akan tinggal diam. Aku harus bisa memilikimu, Rendi. Batin Monica dengan percaya diri.
Terpaksa Monica naik ojek online lagi ke rumah Rendi. Dia tetap akan mengikuti kemanapun Rendi pergi.
Monica merasa dia adalah pacar Rendi. Dan masih berhak menemani Rendi.
"Monica itu pacarnya Rendi ya, Bu?" tanya Mila dalam mobil.
"Mantan. Aku enggak pernah menyukainya!" jawab Sari.
Mila tersenyum mendengarnya. Dalam hati, Mila merasa senang. Karena itu berarti akan ada peluang baginya mendapatkan hati Rendi.
Mila berjanji dalam hati, selama sebulan ini dia akan bersikap baik, untuk mendapatkan dukungan dari kedua orang tua Rendi.
Mobil pun melaju ke rumah Sari. Tak ada lagi pembicaraan apapun. Mereka asik dengan pikirannya masing-masing.
Terutama Rendi. Pikirannya hanya pada Tania yang tadi dia putuskan begitu saja telponnya.
Tania pasti menunggu kabar dariku. Tapi aku belum bisa menghubunginya, walaupun sekedar mengirimkan pesan.
Sari duduk di sebelah Rendi. Sangat tidak memungkinkan Rendi membuka ponselnya.
Dan untungnya, Tania begitu pengertian. Dia tak pernah menghubungi Rendi lebih dulu. Selalu hanya menunggu Rendi yang menghubunginya.
Sampai di depan rumah Sari, mobil berhenti.
"Pak. Bisa bantu kami menurunkan mas Rendi?" tanya Mila pada sopir dengan sopan.
"Bisa, Mbak," jawab sopir taksi dengan sopan juga. Dia sudah biasa mangkal di depan rumah sakit, jadi sudah biasa juga membantu penumpangnya yang rata-rata pasien rumah sakit.
"Nanti aku panggilkan orang rumah dulu," ucap Sari. Dia bergegas turun, memanggil Yadi dan Sri.
Sementara Tono sedang mampir ke toko alat kesehatan. Dia akan membelikan kursi roda untuk Rendi.
"Sri! Yadi!" panggil Sari dari teras rumahnya.
__ADS_1
Sri yang pertama kali mendengar, bergegas keluar.
"Iya, Bu," sahut Sri.
"Yadi mana?" tanya Sari.
Yadi keluar.
"Saya, Bu!" sahut Yadi.
"Bantu Rendi turun dari mobil!" perintah Sari.
"Iya, Bu. Mas Rendi sudah pulang?" tanya Yadi senang.
"Iya. Udah sana, bantuin dulu!" jawab Sari.
Yadi dan Sri pun menghampiri mobil dan membantu membopong Rendi.
"Biar aku sama pak sopir aja, Sri," ucap Yadi. Karena akan menyulitkan kalau terlalu banyak yang membantu.
Sri menurut. Lalu kembali ke teras.
"Kamu nanti bawakan tasnya Rendi aja, Sri. Di bagasi mobil," ucap Sari.
"Iya, Bu." Sri pun tetap menunggu di teras, sampai sopir kembali ke mobil.
Rendi didudukan di sofa ruang tamu. Rendi menghela nafas dengan lega. Akhirnya dia bisa kembali pulang ke rumahnya.
Ada rasa rindu, beberapa hari meninggalkan rumah. Rendi memang hampir tak pernah meninggalkan rumah dalam waktu yang lama.
Sopir taksi merogoh kantong celananya. Dia mau mencari uang kembalian.
"Udah. Ambil aja kembaliannya," ucap Sari.
Sari sangat berterima kasih, karena sudah dibantu.
"Terima kasih banyak, Bu," ucap sopir taksi dengan sopan.
"Iya, Pak. Sama-sama. Tolong tas saya. Biar diambil sama pembantu saya," sahut Sari.
"Iya, Bu. Siap!"
Sopir taksi itu bergegas keluar. Dia mau mengambilkan tas di bagasi mobilnya.
Sejenak matanya menatap Sri.
"Sri?" tanya sopir itu.
"Mas Yusuf?"
Dari tadi Sri sudah melihat Yusuf si sopir taksi itu. Mau menyapa duluan, tapi takut mengganggu konsentrasinya yang sedang membopong Rendi bersama Yadi.
Sri dan Yusuf sama-sama mengangguk. Lalu sama-sama tersenyum.
__ADS_1
"Kamu bekerja di sini, Sri?" tanya Yusuf.
"Iya, Mas. Mas Yusuf udah punya mobil sendiri?" tanya Sri.
"Masih nyicil, Sri. Boleh aku minta nomor hape kamu?" tanya Yusuf.
Sri mengangguk. Dengan senang hati, Sri memberikan nomor hapenya pada Yusuf.
Yusuf adalah pacar pertama Sri, saat mereka masih SMP. Cinta monyet kata orang.
Mereka berpisah, saat selesai sekolah. Tak pernah ada kabar lagi dari masing-masing. Karena saat itu, mereka sama-sama tak punya hape.
"Oke. Udah aku simpan nomor kamu. Nanti malam aku hubungi, ya," ucap Yusuf, karena tak mau mengganggu pekerjaan Yusuf.
Sri kembali memgangguk dengan senang. Dan setelah mengambil tas majikannya, Sri melepas kepergian Yusuf dengan senyuman.
Sri masuk ke dalam rumah.
"Sri. Kenalkan, ini Mila. Dia yang akan merawat Rendi sebulan ini. Kamu bantu Mila kalau dia butuh. Mila, kalau ada perlu apa-apa, minta sama Sri. Dia asistenku di rumah ini," ucap Sari.
Sari sudah sangat percaya pada Sri. Diluar sikap ganjennya Sri, dia orang yang sangat baik dan jujur. Begitu juga dengan Yadi.
Sri mengulurkan tangannya. Mila menatap penampilan Sri yang menurutnya kurang pantas.
Sri hanya mengenakan daster pendek yang longgar. Hingga kalau sedikit membungkuk, bakal terlihat isi di dadanya.
Lalu Mila menjabat tangan Sri.
Meskipun Mila merasa kurang suka pada Sri, tapi juga harus bisa mengambil hatinya. Karena Sri adalah orang kepercayaan Sari. Begitu juga dengan Yadi.
Dari perkataan Sari tadi, jelas dia sangat mempercayai Yadi.
"Mila. Nanti malam kamu sudah mulai tidur di sini, kan?" tanya Sari.
Mila mengangguk.
"Iya, Bu," jawab Mila dengan sopan.
"Kamu nanti tidur di kamar tamu itu." Sari menunjuk sebuah kamar tamu.
"Iya, Bu." Mila mengangguk.
"Rendi sementara di kamar sebelahnya. Karena kalau di atas, akan sangat menyulitkan. Kamu mau kan, Sayang?" tanya Sari.
"Iya, Ma. Rendi juga belum bisa naik turun tangga," jawab Rendi.
Tak lama, Tono datang dengan seorang driver ojek online, yang membawa sebuah kursi roda.
"Ren. Ini Papa carikan kamu kursi roda. Juga tongkat untuk kamu belajar berjalan," ucap Tono pada Rendi.
"Iya, Pa. Terima kasih," ucap Rendi terharu.
Bukan cuma terharu karena perhatian Tono yang besar. Tapi juga terharu melihat alat-alat bantu itu.
__ADS_1
Dalam hati, Rendi bertanya, sampai kapan aku akan hidup dibantu alat-alat itu? Tak sadar, matanya berkaca-kaca.
Sari pun merasakan hal yang sama. Sampai kapan anakku akan berada di atas kursi roda itu?