
Tania kembali masuk ke kamar. Dan merebahkan diri di atas sofa. Dan karena kekenyangan, Tania tertidur hingga jam tujuh malam.
Bangun tidur, Tania merasa lapar lagi. Maklum, dia tidur terlalu lama.
Tania menyalakan lampu kamarnya. Lalu meraih stoples yang diberikan Asih tadi.
Lumayan, bisa untuk mengganjal perutku. Tania memakannya sambil minum air putih.
Setelah memakan hampir setengahnya, Tania menyimpan stoples itu di lemari pakaiannya.
Tono tak mungkin membuka lemari pakaiannya. Begitu pikir Tania.
Baru saja Tania menutup pintu lemarinya, pintu kamar dibuka dari luar.
Tania tersenyum. Itu pasti bik Asih yang mau mengajaknya makan malam.
Tania bersiap di depan pintu.
Dan benar saja, bik Asih yang membuka pintu kamarnya.
Asih langsung menunduk begitu melihat wajah Tania.
"Ada apa, Bik?" tanya Tania.
"Neng Tania dipanggil juragan Tono. Di suruh ke bawah, Neng," jawab Asih pelan.
"Ooh. Dia sudah pulang? Katanya mau mengurungku sampai besok pagi, kenapa sekarang malah nyuruh aku turun?" tanya Tania.
"Neng Tania turun dulu aja. Bapak nunggu di ruang tamu," jawab Asih. Lalu melangkah pergi duluan.
Tania mengikuti Asih turun dan menuju ruang tamu.
Sampai di ruang tamu, Tania langsung disuguhi pemandangan yang sangat menjijikan.
Tono sedang bercumbu dengan seorang wanita yang berpakaian seksi. Bahkan menurut Tania lebih tepatnya kurang bahan. Mirip yang dipakai Mike tadi pagi.
Tania terdiam di tempatnya sambil melengos.
"Ada apa?" tanya Tania.
Tania tak marah apalagi cemburu. Karena Tania tak punya perasaan cinta sedikitpun pada Tono.
Tono menghentikan cumbuannya. Lalu merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
Demikian juga wanita itu. Dia langsung memasang kembali kancing kemejanya yang terbuka beberapa. Dan menurunkan rok pendeknya yang tersingkap.
Busyet, itu wajah udah kayak pemain lenong. Bedaknya tebal, lipstiknya pun kayak habis makan orang.
Tania sampai kepingin ketawa melihatnya. Apalagi melihat bulu mata wanita itu yang kayak talang air.
__ADS_1
"Bereskan semua pakaianmu! Pindahkan ke kamar depannya. Kamarku mau aku pakai tidur berdua dengan Linda," ucap Tono ketus.
Tania menatap tak suka pada wanita itu yang malah melendot di bahu Tono.
"Kenapa diam? Kamu masih bisa dengar perintahku, kan?" bentak Tono.
"Enggak usah bentak-bentak! Aku enggak budek!" Tania langsung berjalan cepat naik lagi ke kamarnya.
Dengan cepat Tania mengemasi pakaiannya. Dia malah senang bisa keluar dari kamar Tono yang lebih mirip penjara baginya.
Tak lupa Tania membawa serta stoples makanannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Neng?" tanya Asih. Dia merasa sangat kasihan pada Tania.
Pasti hatinya sangat terluka. Melihat suaminya pulang membawa wanita lain dan menyuruh istrinya pindah kamar. Karena kamar mereka mau dipakai bercinta dengan wanita lain.
"Bawakan ini aja, Bik. Sekalian handukku. Juga perlengkapan mandiku," jawab Tania.
"Iya, Neng." Dengan cepat Asih membereskan perlengkapan mandi milik Tania.
Tadi di bawah, Tono memerintahnya untuk membantu Tania berkemas. Karena wanita yang dibawanya sudah kepingin tidur.
Asih membukakan pintu kamar yang berada di depan kamar Tono.
"Neng Tania yang sabar, ya? Ini enggak akan lama kok, Neng," ucap Asih berusaha menguatkan Tania.
"Memangnya dia udah sering begitu?" tanya Tania.
Tania mengangguk. Dalam hati merutuki Tono. Dasar buaya darat. Tua bangka tak tahu diri.
Setelah selesai memasukan pakaian Tania ke lemari, Asih bergegas keluar. Dia tak berani menawari makan untuk Tania. Meskipun dia tahu kalau Tania pasti sudah lapar lagi.
Tania pun tak protes. Dia sudah cukup kenyang makan kue kering tadi. Dan dia masih punya setengah lagi.
Tania naik ke tempat tidur yang tak sebesar di kamar Tono. Karena kamar ini pun tak terlalu besar.
Tania pun menyalakan AC dan televisi yang juga tak terlalu besar. Tapi bagi Tania, ini lebih nyaman daripada harus tidur satu kamar dengan Tono.
Saat akan menyalakan televisi, Tania mendengar suara tawa wanita tadi. Sepertinya mereka mau masuk ke kamar dan bercinta.
Tania tak peduli. Dia nyalakan televisi dan mulai menikmati acara di televisi yang sebenarnya tak begitu disukainya.
Menjijikan sekali sikap tua bangka itu. Pulang membawa wanita lain. Apa Rendi dan mamanya tahu kelakuan Tono selama ini?
Atau ini alasan kenapa Tono memilih tinggal di rumah lain, biar lebih bebas? Tanya Tania dalam hati.
Semalaman Tania tak bisa tidur. Karena tadi siang dia tidur terlalu lama.
Dan sialnya, perut Tania berbunyi. Rasa lapar mulai menyerangnya.
__ADS_1
Aku mau turun aja. Nyari makanan di dapur. Toh, Tono tak mengurungnya lagi. Dan pasti sekarang dia lagi asik bercinta di dalam kamarnya.
Perlahan Tania membuka pintu kamar, dan menutupnya perlahan pula.
Lalu melangkah sambil berjinjit. Persis seperti maling yang sedang memasuki rumah targetnya.
Baru beberapa langkah, Tania mendengar suara teriakan dan ******* yang sangat menjijikan.
Suara ******* laki-laki. Pasti itu suara Tono. Batin Tania. Karena Tania belum pernah membuat Tono mendesah.
Dan suara teriakan itu? Itu suara wanita. Tapi bukan seperti suara teriakan orang yang sedang bercinta. Meski Tania belum pernah bercinta sampai berteriak seperti itu.
Itu lebih mirip suara teriakan orang yang kesakitan. Apa yang sedang terjadi di dalam sana? Tanya Tania dalam hati.
Ah, aku enggak peduli. Lebih baik aku turun, mencari makanan.
Tania pun turun dan langsung menuju ke dapur. Beruntung Asih masih sibuk mencuci piring.
"Bik Asih!" Tania menepuk bahu Asih pelan. Tapi membuat Asih terlonjak.
"Astaghfirullah!" Asih menoleh.
"Ya ampun. Neng Tania. Ngagetin aja!" Asih mengelus dadanya. Jantungnya berasa mau copot.
"Sstt...!" Tania memberi kode pada Asih agar diam.
Asih mengangguk mengerti.
"Ada makanan, Bik? Aku laper," tanya Tania perlahan.
Asih kembali mengangguk. Lalu menghentikan cuci piringnya dan mengambilkan makan buat Tania.
"Neng Tania makannya cepetan, ya? Biar enggak ketahuan juragan Tono. Apa mau dibawa ke kamar aja?" tanya Asih.
"Enggak usah, Bik. Aku makan disini aja. Juraganmu lagi asik bercinta dengan selingkuhannya," sahut Tania tanpa perasaan marah sedikitpun.
Asih menatap wajah Tania yang datar-datar saja. Tak ada kemarahan ataupun rasa cemburu.
Karena penasaran, Asih nekat bertanya.
"Neng Tania enggak marah, bapak membawa wanita lain?" tanya Asih. Dia membayangkan, kalau sampai suaminya begitu, bisa perang dunia.
"Enggak. Biarin aja, Bik. Aku malah seneng karena bisa tidur di kamar lain," jawab Tania dengan tenang.
"Enggak cemburu juga?" tanya Asih.
"Bik. Cemburu itu tanda cinta. Aku kan....enggak pernah mencintainya," jawab Tania.
Bagaimana mau mencintai, kalau sikapnya tak pernah baik. Ditambah kelakuannya sangat menjijikan. Batin Tania.
__ADS_1
Tania terus menikmati makan malamnya. Bik Asih pun yang merasa lega karena Tania tak sakit hati, melanjutkan kembali cuci piringnya.