
Ponsel Tono berdering. Dia menggeliatkan badannya. Lalu mencari sumber suaranya.
Ternyata ponsel Tono ada di atas meja depan sofa. Karena malas beranjak, Tono membangunkan Linda.
"Linda...! Linda...! Bangun!" Tono mengguncang bahu Linda.
"Eehhmm...." Linda menggeliatkan juga badannya yang terasa lemas. Hari ini sudah dua kali dia dihajar oleh Tono.
"Bangun!" seru Tono di telinga Linda.
"Ngapain?" tanya Linda.
"Ambilkan hapeku. Di meja!" seru Tono.
Linda mendengus kesal. Lalu dengan malas merangkak turun dari tempat tidur.
Linda yang masih tanpa busana, berjalan mengambil ponsel Tono.
"Nih!" Linda mengulurkan tangannya. Dia sempat melihat nama pemanggilnya.
Tajab. Salah satu centeng kepercayaan Tono.
Linda pernah beberapa kali ketemu Tajab. Dan dia terpesona dengan tubuh tegap milik Tajab.
Tubuh yang dihiasi beberapa tatto di lengannya. Membuat Tajab terlihat makin macho di mata Linda.
Tono meraih ponselnya, lalu menerima panggilan dari Tajab.
"Iya, hallo. Ada apa?" tanya Tono.
"Maaf, Bos. Bukannya sekarang Bos harus ke rumah Toyib. Dia saya lihat sudah pulang," jawab Tajab dengan sopan.
Toyib adalah salah satu orang yang meminjam uang pada Tono yang bermasalah. Dan hari ini, Toyib janji akan membayar bunganya, setelah Tono berkali-kali menekannya.
"Oke. Aku siap-siap dulu. Kamu tetap di lokasi. Pastikan Toyibnya tidak kabur lagi," sahut Tono.
"Oke siap, Bos."
Tono langsung mematikan ponselnya. Dan bergegas ke kamar mandi.
Linda yang masih tanpa busana berjalan begitu saja tanpa rasa risi, meski pintu kamarnya terbuka.
Padahal di saat yang sama, Yahya akan mengambil alat pel. Dan tentu saja, Yahya melihat tubuh polos Linda.
Linda tak mempedulikannya. Dia tetap berjalan dengan santai ke kamar mandi juga.
Tono sedang membasuh badannya di bawah shower. Linda ikut bergabung.
"Minggirlah. Aku buru-buru." Tono menyingkirkan tubuh basah Linda.
"Aku ikut, Beib." Linda kembali mendekati Tono dan mendekapnya dengan erat.
Linda lagi ingin keluar rumah. Suasana rumah mewah Tono tak membuat Linda betah.
__ADS_1
"Aku mau menemui orang. Kamu di rumah aja!" sahut Tono.
"Tapi aku pingin keluar. Cari makan siang. Aku kan belum makan," rengek Linda.
"Makanlah di bawah. Jangan bisanya cuma menghabiskan uangku saja!" Tono segera menyelesaikan bilasannya. Lalu bersiap pergi.
"Heem...!" Linda cemberut sambil memanyunkan bibirnya.
Dia malas sekali kalau harus ketemu dengan Tania. Apalagi dua pembantu di rumah ini yang tak bersahabat dengannya.
Linda keluar lagi dari kamar mandi. Kali ini dia melilitkan handuk di badannya.
"Beib. Aku mau ikut. Aku janji enggak akan minta dibelikan makan. Aku akan bawa makan dari rumah dan memakannya di mobil." Linda terus saja memaksa.
Tono menoleh ke arah Linda. Lalu menghela nafasnya.
Dasar anak ingusan! Susah sekali melarangnya. Harus selalu dengan kekerasan.
Tapi sayangnya Tono tak punya banyak waktu. Dia tak mau kehilangan uang yang dijanjikan oleh Toyib.
"Ya sudah! Ganti pakaianmu! Aku tak punya banyak waktu!" sahut Tono.
Linda langsung tersenyum senang. Persis seperti anak kecil yang keinginannya terpenuhi.
Dengan semangat, Linda berganti pakaian. Lalu menyusul Tono yang sudah turun lebih dulu.
Linda menghiraukan tatapan mata Tania dari depan kamarnya. Linda terus saja berjalan. Dia tak mau ditinggal oleh Tono.
Linda menuruni tangga. Rok pendeknya beberapa kali tersingkap saat dia melangkah turun.
Paha putih dan mulus milik Linda sangat jelas terlihat saat roknya tersingkap.
Linda tahu kalau Yahya sedang menatapnya. Linda malah dengan sengaja membuat roknya naik ke atas.
Bahkan saat sudah sampai di bawah, Linda sengaja membungkuk di depan Yahya.
Baju Linda yang longgar di bagian lehernya, membuat dua asetnya terpampang malu-malu di depan Yahya.
Yahya menelan ludahnya. Jakunnya naik turun. Matanya melotot seakan mau lepas.
Linda sengaja menggoda Yahya. Salah satu tujuannya, agar hubungan Yahya dengan Asih goyah. Dan dia akan puas membuat Asih yang tak disukainya sakit hati.
Linda kembali menegakan badannya. Lalu menatap Yahya sambil memainkan lidahnya.
Yahya benar-benar ingin menyergap Linda yang terus menggodanya. Senjatanya di bawah, sudah menggeliat.
Linda melirik ke bagian bawah celana pendek Yahya. Dia melihat tonjolan itu semakin membesar.
Linda terus memperhatikannya sambil memainkan lidahnya.
Jantung Yahya berdegup sangat kencang. Dadanya naik turun. Dia membayangkan kembali bentuk tubuh indah milik Linda, saat tadi dilihatnya tanpa sehelai benangpun.
Linda berjalan mendekat ke arah Yahya. Dadanya sengaja dia busungkan.
__ADS_1
Linda berhenti tepat di samping Yahya. Dan tangannya langsung mencengkeram senjata Yahya.
Hap!
Senjata yang terasa sangat besar di tangan Linda. Linda meremasnya sesaat, sebelum dia kembali berjalan.
Dadanya sengaja dia senggolkan ke lengan Yahya.
Yahya semakin menegang. Hasratnya naik ke ubun-ubun.
Linda yang menyadari itu, menoleh ke belakang. Linda memejamkan matanya sesaat sambil membuka mulutnya.
"Aakkh....!" Linda mendesah pelan. Dadanya dia busungkan lagi.
Lalu berbalik dan berjalan lagi beberapa langkah.
Tak puas dengan itu, Linda kembali membungkuk lagi. Tapi menghadap ke depan. Dan bokongnya yang besar dia arahkan ke Yahya.
Linda sengaja membuat roknya tersingkap. Hingga Yahya bisa dengan jelas melihatnya.
Bokong yang putih mulus. Dan bergoyang pelan di depannya.
Yahya benar-benar tak bisa menahannya. Andai saja tak ada orang lain di rumah ini, pasti Yahya akan ikut menikmati tubuh seksi Linda.
Yahya langsung berlari ke kamar mandi dan menguncinya. Lalu Yahya menuntaskan sendiri hasratnya. Sambil membayangkan Linda.
"Aakkhh....!"
Yahya mencapai klimaksnya dengan cepat. Karena memang dia mempercepatnya. Jangan sampai di tengah jalan terhenti karena dipanggil Tono.
Yahya mengedikan kepalanya. Dia merasa lega, bisa mengeluarkan cairan yang dari tadi mengganjal di bagian bawahnya.
"Yahya....!" Suara Tono sudah melengking memanggilnya.
Buru-buru Yahya mencuci senjata dan tangannya. Jangan sampai aroma langunya tercium oleh orang lain.
Setelah bersih, Yahya segera berlari ke arah Tono.
"Iya, Pak," sahut Yahya.
"Lama sekali kamu? Dari mana aja?" tanya Tono.
"Mm...dari...kamar mandi, Pak," jawab Yahya. Dia melirik ke arah Linda yang sedang tersenyum jahil ke arahnya.
Linda tahu apa yang telah dilakukan Yahya di kamar mandi. Linda menatap lagi ke bagian bawah Yahya.
Tonjolan itu sudah mengecil.
Yahya yang merasa malu, menutupi dengan kedua tangannya.
"Bukakan pintu gerbang!" perintah Tono. Lalu dia beranjak berdiri. Linda mengikuti dan melangkah bareng Tono sambil menggandeng erat.
"Siap, Pak." Yahya langsung berlari ke luar.
__ADS_1
Yahya malu pada Linda. Linda seperti meledeknya.
Dalam hati Yahya bersumpah, akan berusaha mencari cara untuk bisa mencicipi Linda. Yang pasti rasanya akan sangat jauh berbeda dengan Asih.