HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 118 OTAK KOTOR YAHYA


__ADS_3

Sari belum sempat membuka hape Tono lagi. Dia baru melihat wallpapernya saja. Tono sudah kembali.


Sari kembali mematikan hape Tono, dan menghapus air matanya.


"Kenapa menangis?" tanya Tono.


"Aku menangisi Rendi. Yang terlalu bodoh mengorbankan dirinya buat Tania," jawab Sari berbohong.


Tono hanya diam. Dia tak mau berdebat lagi dengan Sari. Apalagi ujung-ujungnya, hanya menyalahkan Tania.


Bagaimana pun Tania tak bersalah. Yang salah adalah dirinya. Tono menyadari itu.


Tania hanyalah korban dari keegoisannya. Dan pada akhirnya, Rendi juga jadi korbannya. Tono menyesali perbuatannya.


Tono mengambil ponselnya. Dia tak berpikir kalau Sari telah membukanya. Karena dari dulu, Sari tak pernah mau ikut campur urusannya.


Sari adalah istrinya yang paling menurut. Tak pernah membuat masalah. Tak pernah menentangnya. Persis seperti Tania, seandainya Tono bisa memperlakukannya dengan baik.


Hhmm....! Tono menghela nafasnya.


Dokter yang memeriksa darah Tania, keluar dari ruangan lab.


Tono dan Sari langsung menghampiri.


"Bagaimana, Dok?" tanya Tono dan Sari berbarengan.


Mereka sangat berharap, darah Tania cocok dengan darah Rendi.


"Cocok. Kami akan segera mentransfusikannya," ucap dokter.


Tono dan Sari bernafas lega.


"Kami baru akan melakukan tindakan operasi setelah Hb pasien normal. Semoga satu kantung ini cukup untuk pasien. Kalau tidak, kita harus menunggu dua hari lagi untuk transfusi berikutnya," lanjut dokter, sambil menunjukan kantong darah yang diambil dari tubuh Tania langsung.


Sari mengikuti dokter yang mau ke ruangan Rendi. Sementara Tono masuk ke dalam ruangan lab.


Tono ingin melihat kondisi Tania. Dia tidak mungkin mengabaikan Tania begitu saja.


Tania masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Di tangannya ada bekas pengambilan darah tadi.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Tono.


Tania hanya mengangguk. Meskipun kepalanya sedikit pusing.


Tania berusaha bangkit. Tono langsung membantunya duduk.


"Kamu mau keluar?" tanya Tono lagi.


Tak ada suara membentak lagi dari mulut Tono. Dia memperlakukan Tania dengan baik.


Tania mengangguk. Lalu Tono membantu Tania berdiri dan memapahnya berjalan, keluar dari ruangan lab.


"Pak. Nanti anaknya diberi makanan yang bergizi, ya? Minum susu yang banyak. Ini saya kasih vitamin, biar cepat pulih," ucap seorang perawat sambil memberikan satu bungkus vitamin untuk Tania.


"Iya, Suster. Terima kasih," jawab Tono. Lalu menerima vitamin itu dan kembali menggandeng Tania yang masih lemas.


"Aku antar kamu pulang dulu, ya? Kamu istirahat dulu di rumah," ucap Tono..


Tania kembali hanya mengangguk. Dia sedang tak ingin bicara. Badannya masih terasa lemas.


Tadi Tania sudah banyak bicara dengan dokter tentang kondisi Rendi. Juga tindakan selanjutnya untuk Rendi. Jadi Tania sudah tak khawatir lagi.

__ADS_1


Tono membawa Tania ke depan ruang ICU dulu. Tempat di mana Rendi masih dirawat.


Dia akan pamit pada Sari dulu.


"Ma, aku antar Tania pulang dulu," ucap Tono.


Sari menoleh, dia melihat Tono masih menggandeng Tania yang tampak pucat.


Sebenarnya Sari kasihan melihat Tania. Tapi dia takut kalau nantinya Tania malah menuntut minta dinikahi Rendi.


"Iya. Terima kasih, sudah mendonorkan darahnya buat Rendi!" ucap Sari dengan ketus.


Tania tak menjawab. Dia hanya mengangguk dengan lemah.


Tono yang tak mau terjadi perdebatan, kembali menggandeng Tania untuk pulang.


Tono kasihan pada Tania, kalau Sari malah terus menyudutkannya. Sementara Tania sudah menolong Rendi.


Tono membawa Tania pulang ke rumahnya. Dengan sabar, Tono membawa Tania ke kamarnya.


"Aku di kamar itu saja." Tania menunjuk ke kamar yang akhir-akhir ini ditempatinya.


Tono baru ingat, kalau di kamarnya masih ada Linda.


Akhirnya Tono membawa Tania ke kamarnya sendiri.


"Kamu istirahat. Nanti Asih biar membuatkanmu susu dan merawatmu," ucap Tono.


Tania tak menjawabnya. Dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Tono menyalakan AC kamar Tania lalu menyelimuti tubuh Tania.


Saat ini Tania hanya ingin istirahat dulu, biar badannya sehat kembali.


Tono keluar dari kamar Tania dan menutup pintunya lagi. Tono berjalan ke arah kamarnya. Dia berhenti sejenak.


Ditatapnya kamar yang penuh kemaksiatan. Entah kenapa, Tono jadi merasa benci dengan kamarnya sendiri.


Dia malas untuk masuk. Apalagi di dalam ada Linda. Wanita yang rasanya ingin sekali Tono buang.


Tono turun ke lantai satu. Dia akan mencari kunci kamarnya. Dia ingin segera menyelesaikan soal Linda. Sebelum nanti kembali ke rumah sakit.


"Yahya! Mana Asih?" tanya Tono.


Yahya sedang membersihkan lantai dekat kolam renang.


"Ada di dapur, Juragan. Sebentar saya panggilkan." Yahya segera memanggilkan Asih.


Sebenarnya sejak tadi membukakan pintu gerbang, Yahya ingin bertanya pada Tono tentang kondisi Rendi.


Tapi melihat wajah Tono yang kusut dan wajah Tania yang pucat, Yahya mengurungkan niatnya.


Lalu dia kembali membersihkan lantai dekat kolam renang.


Asih pun yang tadi ikut menyambut kedatangan Tono, kembali lagi ke dapur. Dia mau menyiapkan makanan, siapa tahu Tono dan Tania minta makan.


"Bu! Dipanggil juragan Tono," ucap Yahya.


"Ya. Ini diterusin sebentar. Kalau airnya udah tinggal sedikit, matikan kompornya."


Asih lagi menghangatkan lauk untuk makan majikannya.

__ADS_1


"Iya." Yahya menggantikan pekerjaan Asih.


Asih bergegas mencari Tono.


"Ada apa, Pak?" tanya Asih.


"Buatkan Tania susu hangat dan roti. Bawa ke atas. Sama kasih vitamin ini. Pastikan Tania meminumnya." Tono memberikan bungkusan vitamin buat Tania.


"Iya, Pak. Ada lagi?" tanya Asih.


"Panggilkan Yahya!" jawab Tono.


"Iya, Pak." Asih kembali ke dapur.


"Pak. Tuh, dipanggil Tono," ucap Asih.


"Nagapain?" tanya Yahya.


"Udah sana. Jangan bikin masalah dulu."


Yahya mengangguk, lalu menghampiri Tono.


"Saya, Juragan," ucap Yahya dengan sopan.


"Kamu ke kamarku. Suruh keluar si Linda dan pastikan dia membawa semua pakaiannya. Dia mau aku suruh pulang sekarang!" sahut Tono dengan lantang.


"Juragan mau memulangkannya?" tanya Yahya.


"Enggak! Dia biar pulang sendiri. Urusanku banyak. Tak ada waktu untuk pelacur seperti dia!" jawab Tono.


"Iya, Juragan," sahut Yahya.


Tono memberikan kunci pintu kamarnya pada Yahya.


Yahya segera mengambil kuncinya dan bergegas naik ke atas.


Ceklek!


Dilihatnya Linda sedang tidur terlentang. Tanpa pakaian. Hanya mengenakan bra dan ****** ***** saja.


Yahya menelan ludahnya.


Dia bingung bagaimana caranya membangunkan Linda. Yahya hanya menatap pemandangan indah, yang di matanya jadi tidak lagi indah.


Dia tak suka dengan kelakuan Linda. Bahkan kini malah membencinya.


Yahya masih diam sambil terus menatap Linda yang terlentang. Bahkan kemudian Linda mengangkat satu kakinya, hingga gundukan dibalik ****** ******** makin tercetak jelas.


Yahya kembali menelan ludahnya.


Sebagai laki-laki normal, hasratnya pun langsung naik. Meskipun dia tak menyukai manusianya.


Yahya mendekat. Linda tak bergerak lagi.


Setan dalam diri Yahya muncul. Menuntun tangan Yahya untuk menyentuh gundukan itu. Lalu meremasnya perlahan.


Yahya merasakan gundukan itu sangat lembut dan empuk.


Yahya meremas-remasnya lagi karena Linda masih tak bergerak.


"Pak! Ngapain kamu!"

__ADS_1


__ADS_2