HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 198 DANU DAN ENI YANG TERLUPAKAN


__ADS_3

"Kalau begitu, biar Tania saja yang masuk ya, Bude," ucap Tania.


Tania tidak tega membiarkan Lintang sendirian di dalam. Tapi Tania juga tak bisa memaksa Widya.


Widya hanya mengangguk. Air mata mengalir di pipinya.


Tania berjalan masuk ke dalam. Lintang masih terbaring lemah.


"Mbak Lintang," panggil Tania perlahan.


Lintang menatap Tania yang sudah hampir di dekatnya.


"Mbak Lintang sudah baikan?" tanya Tania.


Lintang hanya diam saja.


Tania meraba kening Lintang. Lalu beralih ke lehernya. Lintang tidak demam.


"Aku dimana?" tanya Lintang. Kepalanya masih terasa pusing.


"Di rumah sakit, Mbak. Tadi di alun-alun, Mbak Lintang pingsan. Aku sama bude membawa Mbak Lintang ke sini," jawab Tania.


"Ibu? Ibu sekarang dimana?" tanya Lintang. Matanya melihat ke sekeliling ruangan.


"Di luar, Mbak. Bude kayaknya masih syok melihat Mbak Lintang pingsan tadi," jawab Tania.


Lintang mengangguk pelan.


"Apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Lintang.


"Kata dokter, boleh. Tapi kalau Mbak Lintang udah enggak pusing lagi," jawab Tania.


Tania enggan bertanya tentang kehamilan Lintang. Dia tak mau ikut campur. Biar Widya saja yang menanyakannya nanti.


"Aku mau duduk," ucap Lintang. Dia mengulurkan tangannya, meminta Tania membantu.


Tania dengan sigap membantu Lintang duduk.


"Pelan-pelan aja, Mbak. Jangan dipaksakan," ucap Tania.


Tania menjaga punggung Lintang, biar tidak terjatuh.


"Enggak apa-apa. Aku udah kuat kok," sahut Lintang.


Setelah merasa lebih enak, Lintang menurunkan kakinya perlahan.


"Jam berapa ini?" tanya Lintang.


Tania melihat jam di pergelangan tangannya.


"Hampir jam sembilan, Mbak," jawab Tania.


Lintang mengangguk.


"Kita pulang ke hotel aja ya? Biar Mbak Lintang ada yang jagain sementara," ucap Tania.


Lintang kembali mengangguk.


"Mau pulang sekarang?" tanya Tania.


"Kalau boleh," jawab Lintang.


"Boleh. Mbak Lintang udah enggak pusing, kan?" tanya Tania lagi.


"Enggak. Udah lebih enak, kok. Ayo," ajak Lintang.

__ADS_1


Tania menggandeng tangan Lintang.


"Kita menemui dokter Dila dulu ya, Mbak. Biar Mbak Lintang dikasih vitamin," ucap Tania sambil melangkah keluar.


"Siapa dokter Dila?" tanya Lintang.


"Dokter yang tadi menangani Mbak Lintang," jawab Tania.


"Apa kata dokter tadi?" Lintang mulai gelisah.


"Eng...Enggak bilang apa-apa, Mbak." Tania terpaksa berbohong.


Sampai di luar, Widya masih duduk di bangku panjang.


"Bude, kita temuin dokter Dila dulu, yuk," ajak Tania pada Widya.


Widya menghela nafasnya yang masih sesenggukan. Lalu menghapus air matanya.


Lintang yang masih digandeng Tania, menundukan wajahnya. Dia merasa tak berani menatap Widya.


Tania yang tadi sudah tahu letak ruangan dokter Dila, menggandeng Lintang ke sana. Widya mengikutinya dari belakang.


Widya terlihat sangat sedih dan kecewa. Air mata terus saja mengaliri pipinya, meski sudah berkali-kali disekanya.


Sampai di depan ruangan dokter Dila, Tania mengetuk pintunya. Lalu membukanya perlahan.


"Mari silakan masuk," ucap dokter Dila dengan ramah.


Karena hanya ada dua kursi, Tania memilih berdiri di samping Lintang. Widya duduk di sebelah Lintang.


"Pasien tadi siapa namanya?" tanya dokter Dila.


Baik Tania maupun Widya belum sempat mengurus administrasinya.


"Lintang," jawab Lintang pelan.


"Nama suami?" tanya dokter Dila lagi.


Lintang terkejut mendengarnya. Widya dan Tania pun tak kalah terkejutnya.


Dokter Dila menatap mereka satu persatu. Dalam hatinya heran, kenapa mereka semua terkejut?


Tapi sesaat kemudian, dia tersenyum. Dalam dunia pekerjaannya, sudah sering kejadian dimana wanita hamil tapi tak punya suami.


Kebetulan dokter Dila adalah dokter spesialis kandungan. Dia sedang berada di rumah sakit, setelah melakukan operasi caesar seorang pasiennya.


"Begini Mbak Lintang. Dari pemeriksaan kami tadi, Mbak Lintang sedang mengandung delapan minggu. Maaf, apa Mbak Lintang tak menyadarinya?" tanya dokter Dila.


Lintang menundukan kepalanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras.


Widya pun kembali menangis. Lalu merengkuh bahu Lintang dan memeluknya erat.


Tania pun ikut mendekap Lintang, sambil berdiri.


"Oke. Saya paham. Sekarang, saya kasih resep saja. Vitamin biar Mbak Lintang enggak gampang pusing dan lemas."


Dokter Dila yang bisa memahami kondisi Lintang, menuliskan resep.


"Sering muntah-muntah? Mual atau pusing?" tanya dokter Dila.


Lintang mengangguk.


Dokter Dila kembali menuliskan resepnya.


"Ini. Ditebus di bagian farmasi. Diminum sampai habis. Jaga kesehatan ya, Mbak Lintang. Jangan terlalu capek, kasihan calon dedeknya. Kalau perlu, ijin dulu kerjanya beberapa hari. Mbak Lintang kecapekan itu," ucap dokter Dila sambil memberikan kertas resepnya.

__ADS_1


Tania yang mengambilnya.


"Terima kasih, Dokter," ucap Tania. Lalu memasukan resep ke tasnya.


"Kalau ada apa-apa, silakan hubungi saya. Atau bisa cari dokter kandungan lainnya. Usia di trimester pertama masih sangat rawan," ucap dokter Dila.


"Iya, Dokter," sahut Tania.


Widya dan Lintang belum ada yang bisa buka suara. Mereka masih larut dalam kesedihan.


"Ibu. Tolong jaga anak dan calon cucunya ya, Bu," ucap dokter Dila.


Widya hanya bisa mengangguk.


"Kami permisi, Dokter Dila," ucap Tania.


Dokter Dila memgangguk.


Tania membimbing Lintang untuk berdiri. Widya pun ikut berdiri.


Lalu mereka keluar dari ruangan dokter Dila, menuju ke ruang farmasi.


Tak ada yang membuka suara sedikitpun. Lintang tak berani buka mulut. Widya pun lidahnya terasa kelu.


Sedang Tania sendiri memilih diam. Dia tak mau memperkeruh suasana.


Sampai mereka selesai menebus obat dan membayar biaya perawatan Lintang, Danu dan Eni belum ada kabarnya.


"Paman sama bibi di mana ya, Bude?" Tania mulai merasa khawatir.


Dari tadi Tania dan Widya hanya fokus pada Lintang. Sekarang mereka sudah ada di lobby rumah sakit, baru kepikiran.


"Coba aja ditelpon," sahut Widya.


Tania mengambil ponselnya. Lintang melirik ponsel Tania sekilas.


"Hallo, Bibi di mana?" tanya Tania setelah Eni mengangkat telponnya.


"Kami masih di jalan. Di sebelah mana sih, rumah sakitnya?" tanya Eni.


Dari tadi Danu hanya berputar-putar saja. Karena banyak jalan yang satu arah dan membuat bingung Danu.


Danu, meskipun mahir menyetir, tapi kalau suruh mencari tempat, feelingnya payah. Yang Danu hafal hanya trayeknya saja.


"Sekarang Bibi ada di mana?" tanya Tania.


"Di jalanan. Enggak tau ini dimana." Eni menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Ya udah, sekarang Bibi sama paman pulang lagi aja ke hotel. Kami naik taksi online lagi aja," ucap Tania.


Karena kalau harus menunggu mereka, kasihan Lintang yang masih terlihat pucat.


"Ya udah, deh. Kami balik ke hotel," sahut Eni.


Tania pun mematikan panggilannya. Lalu memesan taksi online.


"Pak. Kita balik lagi ke hotel. Mereka mau naik taksi online aja kata Tania," ucap Eni.


"Waduh! Gimana sih ini? Aku kan mesti putar balik lagi. Mana udah jauh!" gerutu Danu.


Danu terpaksa putar balik. Mereka mau kembali ke hotel.


"Ini tadi kanan apa kiri, ya?" tanya Danu yang lupa jalan.


"Kiri!" jawab Eni asal.

__ADS_1


Danu pun berbelok ke kiri. Tak lama kemudian...


"Lah...itu rumah sakitnya!" Eni menunjuk sebuah bangunan besar, yang dari tadi mereka cari.


__ADS_2