HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 209 TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Tania hanya bisa menghela nafasnya. Pasti mamanya Rendi sudah kembali ke kamar Rendi.


Tania pun kembali ke tempat keluarganya berkumpul.


"Ada berita apa dari Rendi?" tanya Eni. Danu dan Widya pun ikut mendengarkan.


"Hari ini Rendi mau pulang, Bi," jawab Tania.


"Alhamdulillah. Semoga ini awal yang baik buat hubungan kalian berdua, Tania," ucap Widya.


"Iya, Bude," jawab Tania.


Lalu Tania menunduk. Dia tak yakin bisa menaklukan hati Sari. Meskipun sekarang Tono sudah mendukungnya.


"Udah yuk, kita ke kamar. Bude capek," ajak Widya.


Widya sengaja mengalihkan perhatian Tania.


"Kalian duluan, deh. Aku masih mau di sini," ucap Danu.


"Awas aja kalau di sini matanya melirik-lirik cewek!" ancam Eni.


"Yaelah, Bu. Jam segini mana ada cewek. Bisa gosong kulitnya kebakar matahari," sahut Danu.


"Kamu cemburuan amat sih, En? Paling juga Danu cuma berani melirik doang. Anggap aja bonus! Masa iya, bonusnya mau dibawa pulang? Bisa habis dicakar-cakar kamu!" ucap Widya.


Eni melirik dengan kesal ke arah Widya. Widya dengan santai masuk kembali ke dalam hotel.


Tania menarik tangan Eni, mengajaknya masuk. Matanya menatap tajam ke arah Danu. Dia sangat kasihan pada Eni kalau sudah dibully oleh Widya.


Tapi Tania juga tak bisa menegur apalagi memarahi Widya. Tania hanya bisa menghibur Eni biar enggak kecil hati.


Danu pun mematikan rokoknya, dan segera menyusul. Dia paling takut kalau sudah ditatap seperti itu oleh Tania.


Karena sekarang baginya, Tania adalah segalanya. Bukan berarti Eni dinomorduakan. Tapi Danu tak mau lagi berpisah dengan anak asuhnya itu.


Tania berjalan sambil merangkul Eni. Danu mengikutinya dari belakang. Danu senang, Tania sangat menyayangi Eni.


Sampai di depan kamar Tania, mereka berhenti.


"Bibi mau ke kamar Tania, apa ke kamar sendiri?" tanya Tania.


Sebelum Eni menjawab, Danu menarik tangan Eni.


"Kita main lagi, yuk. Mumpung masih ada waktu!" ajak Danu.


Tania terkesiap mendengarnya. Lalu menghela nafasnya.


Biarin deh. Yang penting bibi enggak sedih lagi. Batin Tania.


Lalu Tania membuka pintu kamarnya. Saat akan masuk, Tania mundur lagi.


"Bi! Mainnya jangan lama-lama. Jam dua belas kita check out!" Lalu Tania kembali masuk ke kamarnya.


Eni menunduk malu-malu.


"Kamu ngapain sih Pak, ngomong begitu di depan Tania. Aku kan jadi malu!" gerutu Eni.

__ADS_1


"Daripada nanti kamu keburu masuk ke kamar Tania? Kalau udah ketemu mbak Widya, dijamin gagal!" sahut Danu.


Lalu Danu meminta kartu akses pada Eni. Dan segera membuka pintunya. Kali ini Danu sudah lancar.


Begitu Eni masuk, Danu langsung mengunci pintunya dan menarik tangan Eni ke tempat tidur.


"Pak. Ingat, waktu kita terbatas," ucap Eni yang sudah terlentang di atas tempat tidur.


Danu melihat jam tangannya.


"Masih dua jam. Cukuplah buat ngasah pedang!"


Tanpa buang-buang waktu lagi, Danu langsung melucuti pakaiannya dan pakaian Eni.


Dan permaiananpun di mulai. Danu berharap dalam hati, semoga Widya tak lagi mengganggu. Kalau Tania jelas sudah tahu apa yang sedang mereka lakukan.


Di dalam kamar, Tania segera mengemasi pakaiannya sambil menunggu pesan chat dari Rendi.


Di kamar rumah sakit, Rendi sedang bersiap untuk pulang.


Tadi saat sedang menelpon Tania, tiba-tiba Sari masuk. Dengan cepat, Rendi mematikan panggilannya.


Dan setelah itu, Sari memintanya bersiap-siap. Sementara Sari memgemasi barang-barang Rendi.


Tono menghampiri Rendi dan membantunya bangun.


"Pelan-pelan aja, Ren. Kalau belum kuat, jangan dipaksakan," ucap Tono.


Mila datang membawakan kursi roda untuk Rendi. Rencananya, nanti Tono juga akan membelikan kursi roda buat Rendi. Sekalian pulang.


Tono dan Mila membantu Rendi naik ke kursi roda.


"Iya, Bu. Saya sudah ijin keluar sebentar. Nanti siang, saya kembali lagi ke sini," jawab Mila.


"Lho, terus siapa yang mau mengurus Rendi?" tanya Tono.


"Sore nanti saya ke rumah, Pak. Sekarang kan saya masih jam kerja. Ini cuma ijin dulu sebentar," jawab Mila.


"Kamu tidur di rumah, kan?" tanya Tono lagi.


Tono masih khawatir kalau malam-malam Rendi butuh bantuan. Mereka belum terbiasa dengan kondisi Rendi.


Tono dan Sari juga sepakat untuk mempekerjakan Mila selama satu bulan saja. Setelah itu, Tono dan Sari akan bergantian mengurus Rendi. Nanti juga bisa dibantu Sri juga Yadi.


Tono dan Sari berpikir, sebulan lagi kondisi Rendi sudah membaik. Jadi tak perlu khawatir lagi.


Pihak rumah sakit juga mengijinkan. Bahkan Mila diberi kompensasi selama sebulan merawat Rendi.


Mila dibebaskan dari pekerjaan di rumah sakit, selama satu bulan itu. Untuk merawat Rendi.


Tono dan Sari sudah menandatangani surat kesepakatannya.


Mila mendorong kursi roda sampai ke lobby. Tono dan Sari memgikutinya sambil membawa tas berisi barang-barang Rendi.


"Mobilmu siapkan dulu, Pa," ucap Sari.


"Papa enggak bawa mobil, Ma. Kita cari taksi online aja," sahut Tono.

__ADS_1


Tono tak mengatakan kalau mobilnya sedang dipinjamkan ke Tania untuk berlibur. Kalau Sari sampai tahu, bisa ngoceh panjang lebar.


"Lho, gimana sih? Udah tau hari ini kita mau bawa pulang Rendi, malah enggak bawa mobil!" ucap Sari dengan kesal.


"Mobil Papa masuk bengkel, Ma," sahut Tono. Itu alasan yang tak bakalan bisa ditawar lagi.


Tapi dasarnya Sari yang selalu mau menang sendiri, tetap saja menyalahkan Tono.


"Makanya, punya mobil tuh dirawat yang bener! Jadi enggak rusak-rusak mulu!" oceh Sari.


Rusak-rusak mulu? Enak aja! Mobilku kan keluaran terbaru.


Tono hanya bisa menggumam dalam hati. Karena kalau sampai dia keceplosan membela diri, bakal ketahuan di mana mobil itu sekarang berada.


"Udah, Ma. Naik taksi online juga gampang, kok," ucap Rendi menengahi.


Mila hanya diam melihat perdebatan dua calon majikannya itu.


"Ya udah, kamu pesenin," sahut Sari.


Lalu Sari merogoh tasnya.


"Nih! Kamu pulang bawa motorku!" Sari memberikan kunci motornya pada Tono.


Lha, kan. Malah aku yang disuruh bawa motor. Coba kalau aku bawa mobil sendiri? Siapa yang akan membawa pulang motornya?


Tono kembali menggerutu dalam hati. Tapi kembali Tono tak bisa menjawab. Karena bakalan panjang masalahnya.


"Ya udah. Aku duluan!" ucap Tono dengan kesal.


Baru saja Tono mau melangkah, Monica muncul.


Aduh! Ngapain sih dia datang ke sini? Rendi merasa tak suka.


Sari pun menggerutu dalam hati. Dasar manusia tak punya malu! Kemarin udah diusir, masih berani datang lagi!


Mila juga bete melihat Monica lagi. Apalagi melihat pakaian super ketat yang dipakai Monica.


Monica dianggap tamu tak diundang bagi mereka.


"Hay, Ren. Kamu udah boleh pulang?" tanya Monica dengan mata berbinar.


Rendi mengangguk dengan malas.


"Oke. Sekarang, aku yang akan mendorong kursi rodamu." Dengan kasar Monica menyingkirkan tangan Mila.


"Rendi mau kamu bawa kemana?" tanya Sari.


"Pulang, Tante," jawab Monica dengan pede.


"Naik apa?" tanya Sari lagi.


"Naik...mobil," jawab Monica.


"Kamu bawa mobil?" Sari sengaja menanyakan itu, dia tahu kalau Monica tak punya kendaraan apapun. Cuma gayanya saja yang selangit.


"Eng...gak." Monica menggeleng.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu silakan cari kendaraan sendiri! Kami mau pulang!" Kini giliran Sari yang menyingkirkan tangan Monica dengan kasar.


__ADS_2