HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 232 PREMAN PENSIUN


__ADS_3

Rendi dan Tania menatap Mila. Rencana itu memang sudah mereka buat kalau kondisi mendesak.


Tapi Mila menganggapnya lain. Dia pikir Tania dan Rendi kagum dengan ide gilanya.


Mila tersenyum bangga.


"Aku siap membantu kalian. Tenang aja!" Mila semakin merasa sangat dibutuhkan.


Rendi cuma mengangguk saja. Dia tak mau Mila jadi besar kepala.


Dan setelah Yahya kembali, Mila mulai memasang perban di tangan Rendi.


Tania memperhatikannya dengan serius. Dia jadi terpikir untuk menjadi seorang paramedis. Karena pada dasarnya, Tania adalah orang yang suka menolong.


Tania ingat kalau Tono pernah bilang akan membiayainya kuliah. Sesuai dengan perjanjian pra nikah mereka dulu.


Tapi apa Tono tetap akan memenuhi janjinya, ya? Dia kan mau menceraikan aku. Kalau harus biaya sendiri, uang darimana?


"Kok kamu melamun, Sayang?" tanya Rendi.


"Eh, enggak kok, Ren. Aku cuma, lagi liatin Mila aja. Kayaknya gampang banget," jawab Tania.


"Iyalah. Dia kan tenaga medis," ucap Rendi.


"Kamu dulu sekolah dimana, Mila?" tanya Rendi pada Mila.


"Aku cuma lulusan SMK keperawatan," jawab Mila.


Tadinya Mila hanya lulus SMP saja. Setelah itu dia bekerja di rumah sakit itu, sebagai cleaning service.


Beberapa saat kemudian, ada seorang bidan yang menyarankan dan membantu Mila untuk meneruskan sekolahnya.


Mila pun bisa sekolah di SMK Keperawatan sampai lulus. Dan Mila tetap bekerja di rumah sakit itu. Cuma profesinya udah berbeda. Tak lagi di bagian cleaning service.


"Kalau dari SMA, pingin jadi perawat bisa enggak?" tanya Tania.


Tania berpikir, siapa tahu ada kesempatan baginya tanpa harus kuliah.


"Kayaknya susah, Tania. Karena kita bekerja sesuai keahlian. Kalau yang dari SMA kan tidak dididik khusus seperti kita," jawab Mila.


Tania mengangguk. Ada sedikit kekecewaan di hatinya.


"Kamu kepingin jadi perawat juga?" tanya Rendi.


Tania mengangguk.


Ternyata dari tadi Tono menyimak pembicaraan mereka.


"Nanti aku yang akan membiayaimu, Tania. Dulu kamu pernah mengajukan persyaratan itu, kan?" Tono angkat bicara.


"Tapi....kita kan mau...." Tania sulit sekali meneruskan kalimatnya.


"Iya. Aku kan belum memenuhi permintaan kamu itu. Artinya aku masih punya hutang padamu. Aku tak mau, suatu saat meninggal masih punya hutang janji," ucap Tono.


"Papa! Kenapa Papa bilang begitu?" tanya Rendi. Meskipun dia pernah sangat membenci Tono, tapi sebagai anak yang baik, Rendi tak mau Tono meninggal dulu.

__ADS_1


"Manusia kan suatu saat pasti akan meninggal, Rendi. Apalagi Papa udah tua dan juga penyakitan." Tono malah jadi teringat dengan penyakitnya lagi.


"Iya. Tapi Papa harus tetap optimis. Biar bisa melihat Rendi dan Tania hidup bahagia," sahut Rendi. Lalu membelai rambut Tania.


"Iya, Rendi. Papa janji, akan membahagiakan kalian berdua. Kalian yang akan meneruskan generasi Papa. Cuma kalian harapan Papa," ucap Tono.


Tono sudah sadar kalau dia hanya memiliki seorang anak saja. Jadi dia tak mau lagi menyengsarakannya.


"Iya, Pa. Semoga mama segera sadar dan merestui kita," ucap Rendi.


Pembicaraan mereka, cukup membuat trenyuh yang mendengar. Dan kembali kesedihan menyelimuti rumah Tono.


"Udah, selesai," ucap Mila. Lalu dia beranjak dari posisinya berjongkok.


"Mila. Tuh, Tajab juga mau diganti pampersnya. Eh, salah! Maksudku perbannya. Hehehe," ucap Diman.


Mila menatap Tajab. Dan tatapan mereka beradu.


Busyet, sangar amat itu orang. Mana badannya penuh tattoo. Hiih. Mila bergidig ngeri melihat Tajab.


Mila berbisik pada Tania.


"Dia galak enggak?"


"Galak banget! Kalau kamu dekat-dekat, bakal dimakan sama bang Tajab!" ucap Rendi yang mendengar bisikan Mila.


Hiih...! Mila semakin ketakutan.


"Ya...Jab. Milanya takut ama elu! Elu sih, badan pake ditattoo banyak-banyak. Kayak gue dong. Badan gue bersih dari tattoo!" Diman memperlihatkan lengannya yang tak bergambar apapun.


Lintang hanya melihat sekilas saja. Lintang tak punya perasaan apapun pada Diman. Dia masih fokus memikirkan anak dalam kandungannya.


Wajah Tajab langsung berubah mendung.


"Eh, senyum napa? Biar Milanya kagak takut!" ucap Wardi.


Dengan menurut, Tajab pun tersenyum.


"Tuh, Mil. Tajab udah senyum. Udah jinak dia. Tapi jangan disenggol, ya? Entar dimakan kamu! Hahaha." Diman kembali menakut-nakuti Mila.


Meskipun sebagai perawat yang harus kerja secara profesional, Mila yang pernah punya pengalaman menakutkan dengan orang seperti Tajab, masih merasa trauma.


"Enggak apa-apa, Mil. Bang Tajab baik kok orangnya. Mereka cuma menggoda kamu," ucap Tania.


Padahal Tania sendiri, dulu pernah merasa benci juga takut pada Tajab. Karena Tajab yang selalu membantu Tono untuk memaksanya menikah.


Tapi sejak Tania menjadi istri Tono, Tajab mulai baik.


Akhirnya dengan mengumpulkan keberaniannya, Mila mendekati Tajab yang masih tersenyum.


"Cie...seneng tuh!" Diman terus saja meledek. Kapan lagi dia bisa meledek Tajab.


Dulu saat Tajab masih sehat, tak ada satupun yang berani padanya.


Wajah Mila malah merona karena malu. Tajab melotot ke arah Diman.

__ADS_1


"Jangan melotot begitu! Lepas tuh nanti bola mata kamu!" Wardi menepuk bahu Tajab.


Sayangnya Wardi lupa. Dia malah menepuk bahu Tajab yang masih sakit.


Spontan Tajab berteriak.


"Auwh!"


Padahal bertepatan dengan Mila yang baru akan menyentuh lengan Tajab.


Spontan Mila menarik lagi tangannya. Dia pikir, Tajab merasa kesakitan. Meskipun Mila belum menyentuhnya.


"Ooh! Maaf, maaf,Jab. Aku lupa kalau lengan kamu masih sakit," ucap Wardi.


"Maaf, Maaf! Minggir kamu!" usir Tajab.


Meski bibirnya masih sakit kalau buat bicara, tapi karena reflek, Tajab bisa menjerit dan mengusir Wardi.


Yang diusir cuma terkekeh saja. Dia tak perlu takut lagi pada Tajab. Sebab yang ada di diri Tajab, hanya bacotnya doang.


Mila pun merasa lega. Karena bukan dia penyebab Tajab teriak. Dan Mila mulai mengganti perban Tajab.


Setelah menjelang sore, Tania pamit pulang pada Rendi. Sebenarnya Tania masih sangat betah bersama Rendi.


Tapi Tania juga mesti memikirkan Lintang yang sedang hamil. Dia pasti sudah capek. Dan seorang ibu hamil, setahu Tania tidak boleh kecapean.


"Besok kita ketemuan lagi di sini, ya," pinta Rendi pada Tania.


Tania mengangguk.


"Atur aja waktunya, Rendi. Aku siap kapanpun," sahut Tania.


"Boleh kan, Pa?" Rendi meminta ijin pada Tono.


"Boleh banget. Silakan. Papa malah seneng, kalian bisa terus ketemu. Besok Papa antar lagi kamu kesini," sahut Tono.


"Ya udah. Aku pulang dulu," pamit Tania. Dia juga berpamitan pada Tono.


Keluarga Tania semua ikut pulang.


"Lintang mau aku anterin?" Diman mencoba menawarkan diri.


Tanpa suara, Widya melotot ke arah Diman. Diman yang hampir sekekar Tajab pun, mlehoy dipelototin oleh Widya.


Danu terkikik melihatnya.


"Kasihan deh, lu!" ucap Danu sambil memainkan jarinya.


Diman cuma bisa melotot ke arah Danu.


"Katanya preman? Mana nyalinya?" Danu masih saja meledek Diman.


"Premannya udah pensiun!" sahut Eni.


Diman makin geram mendengarnya. Tapi demi menjaga image di depan Lintang, dia hanya bisa menyimpan kekesalan di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2