HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 44 PERASAAN TAK ENAK


__ADS_3

Tukang rias yang dipesan Eni datang tepat jam lima pagi. Rupanya mereka sangat profesional.


"Permisi, kami team dari sanggar rias Kartika. Bisa ketemu dengan ibu Eni?"


Seorang perempuan cantik bertanya pada Widya.


"Oh. Bisa. Silakan duduk dulu. Adik saya sedang keluar sebentar."


Eni yang tadi pamit mau mencari tukang sampah, malah tidak pulang-pulang.


Widya membuatkan minuman untuk dua orang perempuan cantik itu.


Danu yang baru keluar dari kamar mandi, langsung melotot pagi-pagi sudah melihat pemandangan indah.


"Apa kamu lihat-lihat?" tangan Widya menoyor kepala adiknya.


"Eni kemana, Mbak?" Danu malah menanyakan keberadaan istrinya.


"Lagi nyari tukang sampah buat membersihkan depan. Akibat ulahmu dan teman-temanmu!" sahut Widya.


Danu bukannya masuk ke kamarnya, dia malah duduk menemui kedua tamu cantik itu.


"Mbak-mbak ini dari mana ya?" tanya Danu. Entah sadar apa tidak kalau dia belum mengenakan atasan. Masih bertelanjang dada.


"Eh, ngapain kamu disini? Pakai baju dulu sana! Gak sopan!" hardik Widya yang tak suka kalau adiknya caper di depan perempuan lain.


"Gerah, Mbak." Danu mencari alasan.


"Habis mandi kok gerah. Ketahuan istrimu bisa dicincang kamu!" sahut Widya yang disambut senyuman oleh dua perempuan cantik itu.


Danu meninggalkan tamu-tamu itu sambil menggerutu.


"Maafkan adik saya, ya? Maklum laki-laki, gak bisa lihat yang bening-bening."


Widya menaruh dua gelas teh hangat di meja, yang sudah disediakan berbagai makanan kering oleh Eni.


"Silakan diminum, Mbak. Seadanya ya?"


"Terima kasih, Bu," sahut mereka bersamaan.


"Nanti siapa yang akan merias mempelai wanitanya?" tanya Widya.


"Bu Kartika sendiri, Bu. Sebentar lagi datang."


Dan benar saja, tak lama seorang perempuan cantik bertubuh sintal, datang sendirian.


"Selamat pagi. Saya Kartika yang akan merias pengantinnya."


"Oh, iya. Saya Widya, budenya calon mempelai wanita." Widya pun ikut memperkenalkan diri.


"Silakan duduk, Bu. Saya buatkan minum dulu," lanjut Widya.


"Tidak usah repot-repot, Bu. Langsung saja. Di mana calon pengantin putrinya?" tolak Kartika.


"Oh, baiklah. Tania di kamarnya. Mari, Bu." Widya membuka pintu kamar Tania yang ada di sebelah ruang tamu.


"Wealah. Kok malah tidur lagi. Tania. Bangun, Nak." Widya mengguncang lengan Tania yang baru saja terlelap.


"Bangun. Ini Bu Kartika yang akan meriasmu sudah datang," ucap Widya saat Tania sudah membuka matanya.


Tania beranjak dengan malas. Kartika hanya tersenyum melihat Tania yang masih bermalas-malasan.

__ADS_1


"Saya bisa minta kursi, Bu?" pinta Kartika pada Widya.


"Iya, Bu. Sebentar saya ambilkan."


Widya keluar kamar mencarikan kursi untuk duduk Tania.


Di depan meja riasnya, Tania duduk. Tania menatap wajah polosnya yang akan dirias.


"Cantik sekali kamu, Sayang," ucap Kartika memuji kecantikan alami Tania.


Kulit bersih, hidung mancung dengan sepasang mata indah. Perpaduan yang sempurna.


Tania hanya diam mendengar pujian itu. Matanya tetap menatap wajahnya di cermin.


Hatinya hancur lebur. Cintanya pada Rendi kandas hari ini. Semua angannya tentang hidup bahagia dengan Rendi melayang.


"Kenapa sedih? Senyum dong. Masa mau jadi pengantin sedih sih?" Kartika melihat kesedihan yang mendalam dalam wajah Tania.


Tania masih saja diam. Mulutnya seolah tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata.


Dua orang asisten Kartika ikut masuk ke dalam kamar sempit Tania.


"Put, kamu nanti merias keluarga ya?" perintah Kartika pada salah satu asistennya.


"Mereka belum ada yang siap, Bu," sahut asisten yang bernama Putri.


"Ya sudah. Kamu bantu merangkai hiasan kepala saja dulu."


Mereka mulai bekerja me-make over wajah Tania yang memang sudah cantik.


Tak lama Eni datang tergopoh-gopoh.


"Kamu dari mana sih, En? Sudah tau Tania mau dirias, malah gak pulang-pulang." Widya mulai mengoceh.


"Mestinya dari kemarin-kemarin udah kamu pikirkan. Bukan hari ini kamu baru sibuk nyari orang."


Eni hanya menelan ludahnya mendengar ocehan kakak iparnya, yang kalau sudah keluar bawelnya bisa ngoceh tak henti-henti.


Eni sadar kalau memang dia yang salah. Banyak hal-hal kecil yang disepelekannya. Dirinya hanya sibuk belanja untuk keperluan acara saja.


"Tania mana, Mbak?" tanya Eni mengalihkan pembicaraan.


"Tuh! Sudah mulai dirias di kamarnya." Widya menunjuk kamar Tania dengan mulutnya.


Eni mengintip dengan membuka sedikit pintu kamar Tania.


"Bu, mana keluarga yang lain? Biar saya mulai meriasnya," tanya Putri yang melihat Eni berdiri di pintu kamar.


"Cuma saya, suami dan kakak ipar saya, Mbak."


Putri lalu keluar. Dan mempersiapkan alat-alat make-upnya.


"Mari kita mulai saja, Bu. Siapa duluan?" tanya Putri lagi.


"Kamu duluan saja, En. Aku nanti belakangan," sahut Widya yang malas kalau terlalu lama bermake-up tebal.


Eni lalu mengambil posisi duduk yang nyaman untuk dirias oleh asisten Kartika.


Sementara di rumahnya, Rendi sudah dibangunkan oleh Sari, mamanya.


"Jangan lupa nanti selesai sarapan, antar Mama ke tempat hajatan teman barunya Mama," ucap Sari sambil menyiapkan sarapan untuk anaknya.

__ADS_1


"Kenapa tidak minta papa saja sih Ma, yang nemenin?" tawar Rendi. Karena sejak Tania susah dihubungi, Rendi jadi malas pergi ke mana-mana, kecuali mencari Tania.


"Papamu dari kemarin susah dihubungi. Enggak tau deh, mungkin dia sudah kawin lagi!" sahut Sari kesal pada suaminya yang akan kawin lagi.


Rendi jadi tak tega kalau sudah melihat mamanya cemberut karena ulah papanya.


"Ya sudah. Nanti Rendi antar. Tapi jangan lama-lama ya?"


"Mama diminta menyaksikan ijab qobulnya. Gak tau kok itu orang kepingin Mama menyaksikannya. Padahal baru saja kenal, lho," sahut Sari sambil memakan roti coklatnya.


Pagi ini memang Sari tidak makan yang berat-berat. Karena di acara nanti pasti akan disuruh makan.


Apalagi dia sendiri yang memilih menunya. Hampir semua yang dipilihnya adalah menu kesukaan Sari dan suaminya kalau sedang di acara hajatan.


"Memang Mama kenal di mana sih?" tanya Rendi. Lalu Sari menceritakan perkenalannya di sebuah catering langganannya.


"Ternyata dia orang yang pernah membeli baju batik mahal di toko Mama." Sari menyudahi ceritanya.


"Ayo siap-siap. Acaranya jam delapan lho."


"Rendi mandi dulu, Ma."


Selesai mandi dan memakai baju batik, Rendi keluar dari kamarnya.


"Wah, anak Mama ganteng bener," puji Sari pada anak semata wayangnya. Dirinya juga mengenakan rok terusan batik.


Sari memang selalu memakai batik untuk menghadiri acara-acara formal. Selain karena hobi, juga sekalian mempromosikan dagangannya.


"Mama juga cantik," sahut Rendi.


Rendi membayangkan seandainya Tania tidak menghilang, pasti akan diajaknya sekarang. Dan mereka bisa memakai baju batik couple-an.


"Ayo cepat, Ren. Biar kita tidak terlambat."


"Iya, Ma. Ini baru juga jam tujuh. Rumahnya gak jauh kok. Rendi hafal daerah situ."


Jelas saja Rendi hafal, hampir tiap hari dia menyambangi rumah Tania. Bahkan kemarin malam memutarinya berkali-kali.


"Sebentar, Ren. Amplopnya malah ketinggalan." Sari menghentikan mobilnya yang sudah keluar dari pelataran rumah.


"Mama gimana, sih?" Rendi menghentikan juga mobilnya.


Sari turun dari mobilnya, lalu berjalan mengambil amplop yang ditinggalkannya di meja tamu.


Sari buru-buru kembali ke mobil.


"Ada yang ketinggalan lagi tidak?" tanya Rendi.


"Gak ada. Ren...kenapa tiba-tiba perasaan Mama gak enak ya?"


"Gak enak kenapa? Perut Mama mules?"


"Bukan. Tapi...gak tau deh. Perasaan Mama gak enak banget. Ada apa ya?"


"Gak ada apa-apa, Ma. Tenang aja, ada Rendi." Rendi menggenggam tangan mamanya dengan satu tangannya. Tangan satunya tetap di atas setir.


Tak berapa lama jalan, Rendi merasa ada yang tidak nyaman dengan mobilnya. Lalu menepi.


Rendi keluar dan mengecek mobilnya. Ternyata dua ban mobilnya kempes.


"Kenapa, Ren?" tanya Sari dari dalam mobil.

__ADS_1


"Kempes ban, Ma. Dua!" sahut Rendi.


Sari yang memang dari tadi merasa tidak enak perasaannya hanya menghela nafas dalam-dalam.


__ADS_2