HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 21 MAKAN SIANG YANG BIKIN DEG DEGAN


__ADS_3

Selesai memilih gaun pengantin di butik yang cukup mewah dan harga yang sangat mahal, Eni membisiki keponakannya.


"Tania, ajak si tua bangka itu makan di restauran yang mahal. Kalau kamu yang ngajak, dia pasti mau." Tania mengerucutkan bibirnya.


Sebenarnya dia sangat malas pergi dengan calon suaminya. Tapi karena bibinya mau menemani, Tania menurut saja.


Walau pun dia tahu kalau maksud bibinya menemani hanya ingin mengerjai calon suaminya itu.


"Ayo naik. Kita langsung pulang. Aku ada urusan mendadak," ajak Tono pada kedua perempuan beda generasi itu.


Sebenarnya Tono cukup kesal, karena harus membayar harga gaun pengantin yang sangat mahal.


Tania menatap wajah bibinya. Seakan ingin mengatakan kalau keinginan bibinya makan di restauran mewah gagal. Karena Tono mengajak langsung pulang.


Tapi dasarnya Eni punya jiwa licik, dia tidak kehabisan akal.


"Tania! Kenapa wajahmu pucat? Oh iya, Bibi ingat. Kamu tadi di rumah gak sempat makan kan?" ucap Eni saat Tono sudah melajukan mobilnya.


Tania terkejut mendengar omongan bibinya. Karena dia merasa tadi pagi sudah makan bareng paman dan bibinya.


Malah bibinya yang membuatkan telor mata sapi kesukaan Tania.


Tapi Tania enggan memprotes omongan bibinya. Dia yakin, bibinya pasti punya rencana lain.


Tania hanya mengangguk saja. Matanya terus menatap jalanan.


"Bagaimana kalau kita makan dulu?" ajak Eni pada keponakannya.


Tono masih diam. Dia masih kesal, karena ATM nya terkuras hanya untuk sebuah gaun pengantin.


"Eh, Tono! Calon istrimu kelaparan tuh. Wajahnya sampai pucat begitu. Ajak makan kek."


Tono langsung menatap wajah Tania. Tania yang memang tak bersemangat pergi dengan Tono, menampakan wajah lesunya.


"Iya. Wajahmu pucat. Kamu lapar, Cantik?" Tangan Tono meraba wajah mulus alami milik Tania.


Tania memalingkan muka menjauhi tangan Tono. Dia merasa sangat jijik wajahnya dijamah tangan calon suaminya.


"Eit! Jangan sentuh dulu. Belum sah!" Suara Eni cukup keras di dekat telinga Tono.


Tono menarik tangannya, lalu kembali ke setir.


"Mau makan di mana, Cantik?" tanya Tono pada Tania.


"Kita makan di restauran saja. Tuh di depan ada restauran yang lagi viral." Eni langsung menyambar.


"Kamu mau kan, Tania?" tanya Eni pada Tania yang hanya diam saja.


"Terserah Bibi saja. Tania nurut," sahut Tania. Tono melirik sekilas ke arah Tania.


Eni kegirangan karena Tono pasti akan menurutinya. Demi calon istrinya.


Tono membelokan mobilnya ke restauran yang dimaksud oleh Eni.


Huh! Dasar matre. Kalau bukan karena Tania, aku tak akan menuruti permintaannya. Gerutu Tono dalam hati.


Restauran itu cukup penuh. Kebanyakan mejanya sudah terisi. Dan memang tempatnya yang instagramable membuat banyak orang ingin selfie di sini.


Tono menghampiri seorang pelayan yang melintas tak jauh darinya.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pelayan itu ďengan sopan.


"Carikan kami meja kosong!" ucap Tono.


"Baik, Pak. Silakan tunggu sebentar." Lalu pelayan tersebut mencarikan tempat duduk untuk mereka bertiga.


"Silakan ikuti saya, Pak. Di ujung sana masih ada meja kosong." Pelayan itu berjalan dan diikuti oleh Tono, Eni dan Tania.


Tono menarik satu kursi untuk duduk Tania, lalu dia menarik lagi satu kursi di sebelahnya.


Eni duduk di depan mereka. Wajah Tania masih saja di tekuk. Beda dengan Eni yang terus berfoto selfie.


"Silakan menunya." Seorang pelayan lain menghampiri dan memberikan daftar menu.


"Mau makan apa, Cantik?" tanya Tono pada Tania yang hanya membolak balikan daftar menu.


"Sini Bibi yang menulis pesanannya." Lalu Eni dengan cepat memilih menu andalan di restauran itu.


Pokoknya semua harus yang paling mahal. Kata Eni dalam hati. Kapan lagi bisa makan makanan mahal.


"Kamu pesan apa, calon mantu?" tanya Eni pada Tono yang sedang membuka ponselnya.


"Terserah kamu!" sahut Tono dengan ketus.


Eni dengan semangat empat lima menulis apa saja yang diinginkannya. Lalu memberikan pada pelayan yang dari tadi berdiri di dekat meja mereka.


"Tunggu sebentar ya, Bu." Si pelayan berlalu dari tempatnya berdiri.


Tak lama, satu per satu makanan pesanan Eni datang. Mulai dari minuman dan makanan berat serta beberapa desert.


Tono melotot melihat banyaknya makanan yang dihidangkan di meja. Sementara Eni memfoto dulu makanan yang belum tersentuh.


"Kalau tidak habis kan bisa dibungkus," sahut Eni dengan tenang. Lalu mulai mencicipi satu per satu. Dan tak lupa mengambilkan buat keponakannya yang masih asem saja mukanya.


"Makanlah. Biar wajahmu tidak pucat lagi," ucap Tono, lalu mengambil makanan untuknya sendiri.


Selesai makan, Tania pamit ke toilet.


"Mau Abang antar?" Dengan pedenya Tono menyebut dirinya abang kepada Tania.


Eni menahan tawanya. Tania melotot ke arah Tono yang merasa tak berdosa.


"Enggak!" sahut Tania ketus, lalu segera meninggalkan mejanya sebelum Tono mengikutinya.


"Judes banget keponakanmu?" tanya Tono pada Eni setelah Tania pergi.


"Namanya juga masih bocah. Kamu yang tua mesti sabar menghadapinya," sahut Eni sambil menyuap desertnya.


"Sembarangan saja kamu menyebutku tua!" Tono melotot ke arah Eni.


Eni malah terbahak-bahak.


"Terus apa kalau tidak tua. Umurmu saja dengan umurku jauh!"


"Menyebalkan!" Tono kembali asik dengan ponselnya.


Tania keluar dari toilet. Tiba-tiba dia melihat Mike, sahabatnya di SMA dulu.


"Hey, Tania! Kamu di sini juga? Sama siapa?" tanya Mike.

__ADS_1


Tania gelagapan. Dia bingung mesti menjawab apa.


"A ... Aku sama ... Bibiku," sahut Tania.


Semoga saja Mike nanti tidak menghampiri mejaku. Habis aku kalau Mike sampai tahu siapa laki-laki yang bersama bibinya.


"Owh. Kirain sama Rendi."


Degh!


Tania semakin pucat mengingat Rendi. Semoga saja Rendi tak ada di sini.


"Aku sama Dito. Tuh, kita di ujung sana." Mike menunjuk sebuah meja. Di sana duduk Dito sendirian.


Mike memang sudah lama naksir Dito. Sedangkan Dito sendiri pernah nembak Tania tapi ditolak.


"Owh. Hanya berdua?" tanya Tania. Tania berharap mereka hanya berdua saja.


"Iyalah. Dito kan abis nembak gue. Masa mau rame-rame." Mike tertawa bangga karena akhirnya cowok yang ditaksirnya, nembak juga.


"Gue duluan ya, Tan. Gue mau lanjut kencan ama Dito. Dia mau ngajakin gue ke tempat karaokean."


Tania hanya mengangguk. Lalu dia pun kembali ke mejanya.


"Kok lama di toiletnya?" tanya Tono.


Belum sempat Tania menjawab, Eni sudah menyerobot.


"Eh, kalau orang cantik itu mesti lama kalau ke toilet. Bersihin dulu anunya sampai kinclong. Biar kagak bau!" Eni yang kelepasan ngomong langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka, dengan tatapan aneh.


"Ngomong kagak disaring. Malu-maluin aja!" Tono bergumam pelan.


Tania kembali duduk di kursinya. Dan sialnya, kursi Tania tepat segaris dengan kursi yang diduduki Dito di ujung sana.


Mata mereka bertemu. Dito menatap tajam ke arah Tania. Tapi Tania pura-pura tidak melihat. Jantungnya berdetak sangat cepat.


"Kalau sudah selesai, kita pulang yuk. Abang ada urusan lagi hari ini." Tono meraih tangan Tania. Tania langsung mengibaskannya.


Jangan sampai Dito melihatnya. Bisa laporan nanti sama Rendi.


Tania langsung berdiri diikuti oleh Tono yang hendak merangkulnya. Tapi Tania dengan sigap menghindar.


"Itu bukannya Tania?" tanya Dito pada Mike yang duduk membelakangi Tania.


Tanpa menoleh, Mike mengiyakan. Karena tadi dia sudah ketemu di toilet.


"Sama siapa dia?" tanya Dito lagi.


"Bibinya, katanya," jawab Mike.


"Tapi yang lelaki tua itu seperti bukan pamannya Tania?"


Dito memang pernah sekali main ke rumah Tania dan bertemu dengan paman dan bibinya Tania.


"Mana aku tau," sahut Mike mengangkat bahunya.


Tania yang berjalan bersisihan dengan Tono menoleh lagi ke meja Dito. Dan Dito pun sedang menatap Tania tanpa sepengetahuan Mike.

__ADS_1


__ADS_2