HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 165 RENCANA KEPULANGAN TANIA


__ADS_3

"Pokoknya Mama tetap enggak setuju kamu menikah dengan Tania! Dengar itu, Rendi!" ucap Sari dengan tegas.


Rendi tak mau menjawab omongan mamanya. Sudah malam juga, dia tak mau berdebat lagi dengan Sari.


Lebih baik aku menyiapkan diri buat kabur bersama Tania, daripada berdebat terus dengan mama. Batin Rendi.


Rendi melihat aplikasi chatnya. Tania sudah tak aktif lagi. Mungkin dia sudah tidur.


Rendi mengirimkan pesan ucapan selamat tidur, ala orang yang sedang kasmaran.


Lalu Rendi mematikan ponselnya. Dan menyimpannya di bawah bantal.


Rendi yang sudah capek, memilih tidur. Dia malas meladeni Sari yang bakal ngoceh sampai pagi, kalau membahas soal Tania.


Dito dan Mike sampai di rumah menjelang tengah malam. Meskipun mereka tadi langsung keluar dari tempat pesta, tapi tempatnya memang sangat jauh.


Tania sudah tertidur di ruang tamu sambil memeluk bantal kecil.


Mike yang membawa kunci sendiri, tak perlu membangunkan Tania.


"Sayang, Tania bangunin aja. Kasihan dia tidur di situ. Nanti badannya sakit semua," ucap Dito.


"Iya, Sayang." Mike pun membangunkan Tania.


"Tan. Tania. Bangun. Pindah di kamar sana, tidurnya." Mike mengguncang bahu Tania.


Tania membuka matanya sedikit. Melihat siapa yang membangunkannya.


"Oh, Mike. Kamu udah pulang?" tanya Tania.


"Iya. Pindah di dalam sana," jawab Mike.


Tania mengangguk, lalu pindah ke kamarnya.


Sebelum kembali tidur, Tania mengecek ponselnya. Ada pesan selamat tidur dari Rendi. Tania hanya membacanya. Dia tak berani membalasnya. Karena melihat Rendi sudah tak aktif satu jam yang lalu.


Tania tak mau ceroboh. Dia takut kalau sampai ponsel Rendi dipegang orang lain. Jadi dia memilih menunggu disapa duluan oleh Rendi.


Keesokan harinya, Rendi menelpon Tania. Tania lagi di dapur menyiapkan sarapan.


Mike dan Dito belum bangun. Semalam mereka begadang di kamarnya. Dan suara-suara aneh jelas terdengar oleh Tania.


Tania hanya bisa menutup kepalanya dengan bantal.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Rendi dengan ceria. Dia sedang dibersihkan badannya oleh perawat laki-laki. Sari barusan pamit pulang sebentar.


"Selamat pagi juga, Rendi. Gimana keadaanmu?" tanya Tania.


"Semakin baik, Sayang. Kamu sendiri baik-baik aja kan, di rumah Mike?" Rendi balik bertanya.


"Iya. Mike sama Dito belum bangun. Semalam mereka begadang," jawab Tania.


"Begadang di kasur. Hehehe." Rendi terkekeh.

__ADS_1


"Ih, kamu sok tau," sahut Tania.


Lalu Rendi menceritakan tentang omongan Tono semalam.


"Apa papa kamu bisa dipercaya, Ren?" tanya Tania.


"Percaya aja dulu, Sayang. Soal nanti kalau dia ingkar janji, aku yang akan turun tangan," jawab Rendi.


"Nanti Mike sama Dito aku suruh nganterin kamu pulang ke rumah pamanmu, ya?" tanya Rendi.


"Aku bisa pulang sendiri, Rendi. Kasihan mereka, direpotin terus," jawab Tania.


"Enggak apa-apa, Sayang. Mereka pasti mau, kok. Lagi pula, aku belum bisa yakin kamu aman di jalan kalau pulang sendiri," sahut Rendi.


"Memangnya kenapa? Aku bisa menutupi mukaku lagi pakai masker," tanya Tania.


"Tania. Keadaan belum benar-benar aman buat kamu. Jadi nurut aja deh sama aku, ya?" pinta Rendi.


"Ya udah. Asal enggak merepotkan Mike dan Dito aja," sahut Tania menurut.


"Oh iya. Kata papa, paman kamu sudah menempati rumah baru. Yang dibelikan papa. Katanya dulu kamu yang minta?" tanya Rendi.


"Iya, Ren. Maaf, itu sebagai penukar diriku." Tiba-tiba Tania terisak. Dia ingat kembali kebodohannya yang rela dirinya ditukar dengan harta. Hingga Sari menganggapnya wanita matre.


Padahal bukan karena harta yang jadi tujuan Tania. Tapi ancaman Tono yang akhirnya memaksanya.


"Kok kamu nangis, kenapa?" tanya Rendi yang mendengar isakan Tania.


"Ah, enggak apa....apa, Ren." Tania segera menghapus air matanya.


"Maaf, Tania. Aku jadi mengingatkan kamu pada peristiwa itu lagi. Maafkan aku ya, Sayang," ucap Rendi. Dia menyesal telah mengingatkan Tania kembali, pada peristiwa yang akhirnya memisahkan mereka itu.


"Iya. Enggak apa-apa, Rendi," sahut Tania.


"Mas Rendi, bajunya diganti ya?" ucap perawat lelaki yang nantinya akan disewa Sari untuk melayani Rendi sampai sembuh, di rumahnya.


Rendi mengangguk.


"Tania. Aku tutup dulu telponnya, ya. Aku mau ganti baju dulu. Nanti kamu lihat, lagi." Goda Rendi.


"Iih, apaan sih, Rendi." Tania tersipu malu. Padahal di dapur rumah Mike tak ada siapapun yang melihat.


Rendi pun menutup panggilannya. Dia diganti pakaiannya oleh perawat yang bernama Yanto dengan telaten.


Tania kembali menyiapkan makanan untuk Mike dan Dito saat mereka bangun nanti.


Tania sangat bahagia, karena sebentar lagi bakal ketemu paman dan bibinya lagi. Setelah sekian lama mereka terpisah.


Bahkan saking senengnya, Tania bersenandung sambil menyiapkan makanan di meja.


"Kayaknya ada yang lagi happy, nih!" ucap Mike tiba-tiba.


"Eh, Mik. Udah bangun?" tanya Tania terkejut.

__ADS_1


"Udah dong. Udah mandi juga. Masak apa, kamu?" Mike melihat aneka masakan yang dibuat Tania.


"Ini cuma nasi goreng. Telur ceplok. Bakwan jagung sama goreng kerupuk," jawab Tania.


"Kamu dapat bahan-bahannya dari mana?" tanya Mike. Dia tak merasa belanja bahan-bahan makanan itu.


Di kulkas Mike, hanya ada bahan makanan yang cepat saji. Karena Mike malas masak yang ribet-ribet.


"Tadi aku beli di tukang sayur yang lewat. Kamu tau enggak, aku belinya lewat teralis pagar. Udah kayak tahanan aja. Hahaha." Tania tertawa ngakak.


Mike pun ikut tertawa.


"Kenapa kamu enggak buka pintu gerbangnya aja? Kuncinya kan bareng sama kunci pintu," tanya Mike.


"Enggak ah. Aku masih takut kalau ada yang mengintai rumah kamu lagi. Aku juga tadi pakai masker," jawab Tania.


"Ah, aneh-aneh aja kamu, Tan." Mike menyomot bakwan jagung yang terlihat menggoda.


Dito keluar dari kamar dan mencari mereka.


"Eh, dicari-cari, ternyata di sini. Wah, ada bakwan jagung, nih." Dito pun ikut mencomotnya.


"Ini makannya pakai sambal kecap, biar makin enak." Tania memberikan mangkok kecil berisi sambal kecap.


"Ih, Tania curang. Tadi aku enggak dikasih. Giliran Dito yang makan dikasih." Mike mulai merajuk.


"Sorry, lupa. Lagian kayaknya kamu enggak doyan pedes, Mik?" sahut Tania.


"Iya sih. Tapi kalau cuma sedikit aja, berani. Begini, nih." Mike mencocol sedikit sekali sambal kecap itu.


Tania dan Dito tertawa ngakak. Tadi aja udah cemberut. Giliran dikasih, ambilnya cuma sedikit banget.


Itu aja dia sudah kepedesan sampai memerah mukanya. Tania buru-buru mengambilkan air putih hangat.


"Ah, payah! Gini nih." Dito mencocolkan bakwannya sampai basah semua.


"Hiiih...!" Mike mengedikan bahunya.


"Eh, Tan. Tadi Rendi menelponku. Dia bilang, kita disuruh mengantarkan kamu ke rumah pamanmu," ucap Dito sambil terus mengunyah bakwan.


"Iya. Tadi Rendi udah menelponku juga," sahut Tania.


Wajah Mike langsung berubah muram.


"Kenapa, Mik?" tanya Tania.


"Nanti enggak ada yang bikinin aku bakwan lagi dong, kalau kamu pulang," jawab Mike.


"Aku bakal sering ke sini, Mike. Tapi aku enggak mau nginep," ucap Tania.


"Kenapa enggak nginep? Seru tau, kalau ada kamu," tanya Mike.


"Malas aku denger suara-suara aneh!"

__ADS_1


Wajah Mike langsung memerah.


__ADS_2