
"Udah, Bik. Jangan marah-marah begitu. Mang Yahya kan juga enggak sengaja jatuh," ucap Tania.
"Enggak sengaja kok pegang-pegang bokong. Memangnya Bibik enggak liat?" Asih masih saja kesal.
"Itu namanya bonus, Bik. Hahaha." Tania tergelak.
Sebenarnya Tania menertawakan kelakuan Tono dan Linda yang menurutnya sangat lucu. Manusia-manusia tak tahu diri.
Yahya mendekat ke Asih yang masih duduk di kursi makan. Wajah Asih masih cemberut.
"Maafin aku, Bu. Kan enggak sengaja." Yahya mengecup kening Asih dengan lembut.
Asih langsung memeluk pinggang Yahya dengan erat. Seakan takut ditinggalkan.
"Tapi Bapak janji jangan begitu lagi, ya?"
"Pastilah, Bu. Bisa dibunuh juragan Tono kalau aku begitu lagi," sahut Yahya.
Tania menatap mereka dengan mata berembun. Sangat mengharukan.
Pasangan yang tak lagi muda, tapi masih saling menyayangi dan takut kehilangan.
Tania membalikan badannya. Dia hapus air matanya yang hampir menetes. Lalu membuka kulkas dan mengambil sebotol air putih.
Tanpa bicara, Tania naik ke lantai dua. Asih dan Yahya masih saja berpelukan erat.
Sementara di kamarnya, Linda sedang mencumbui Tono. Dia melakukan itu karena Tono ngambek, menuduhnya sengaja jatuh ke atas tubuh Yahya.
Yahya berumur di bawah Tono. Wajahnya juga enggak jelek-jelek amat, kalau dibandingkan dengan wajah Tono.
Badannya masih tegap, meski kulitnya kurang terawat. Maklum, pekerjaannya hanya bersih-bersih rumah Tono.
Tono takut, kalau Linda berminat pada Yahya dan akan mencari kesempatan.
"Kamu benar-benar tidak sengaja, kan?" tanya Tono.
"Enggak, Beib. Masa aku mau sama pembantu, sih?" Linda yang masih mengenakan dalaman saja, terus mencumbui Tono.
Tono yang masih dibakar rasa cemburu, menyerang Linda dengan membabi buta.
Tania berjalan melewati kamar Tono. Dan seperti biasa, Tania kembali mendengar suara-suara aneh.
"Ampun....Ampuun....Sakit....huu....huu....!"
Linda kenapa mesti menangis dan menjerit-jerit ya? Apa Tono menyiksanya?
Tania mendekatkan telinganya. Bukan ingin mengintip. Tapi penasaran kenapa Linda selalu menangis.
"Tahan...! Ini enak banget! Tahan....Sebentar lagi!"
Itu suara Tono. Hiih! Tania bergidig ngeri, lalu segera masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Meskipun Tania belum begitu paham, tapi Tania bisa membayangkan apa yang dilakukan Tono pada Linda.
Di kamarnya, Tono terkapar setelah mendapatkan kepuasan dari istri barunya.
Linda hanya meringkuk di sebelahnya menahan rasa sakit. Sakit di bagian mananya, hanya Linda yang tahu. Karena Tono tak pernah mau tahu.
Bagi Tono, apapun sah-sah saja dia lakukan karena dia sudah membayar mahal untuk itu semua.
Dia tak peduli meski pasangannya merintih bahkan menjerit kesakitan. Yang penting dia bisa melampiaskan nafsu bejadnya tanpa ada penolakan.
Tono sangat membenci penolakan. Makanya dia selalu bersikap kasar pada Tania, karena Tania berkali-kali menolaknya.
Tono juga merasa benci pada Tania. Karena malah menyerahkan kesuciannya pada orang lain. Meskipun orang lain itu adalah anak Tono sendiri.
Hingga sore Tono dan Linda tak keluar kamar. Sedangkan Tania yang sudah bisa bebas, memilih menghabiskan sorenya di taman dekat kolam renang. Atau sekedar memberi makan pada ikan-ikan di akuarium.
Tania sedang menunggu kesempatan bisa masuk ke kamar Tono dan mendapatkan kembali charger hapenya.
Sebenarnya Tania bisa saja meminjam milik Yahya, tapi Tania takut Yahya keceplosan pada Tono. Bisa-bisa bakal disita kembali hapenya.
"Neng Tania lagi ngapain?" tanya Asih yang melihat Tania hanya melamun saja.
"Duduk aja, Bik. Mau ngapain lagi?" sahut Tania.
Asih mengangguk, lalu duduk di sebelah Tania. Dia pun sudah tak punya kerjaan lagi.
"Udah baikan sama mang Yahya, Bik?" tanya Tania.
"Kesel apa cemburu?" ledek Tania.
"Ih, si Eneng bisa aja. Masa udah tua cemburu sih," sahut Asih malu-malu.
"Lha itu tadi apa namanya kalau bukan cemburu?"
Asih tersipu malu. Dia memang merasa cemburu.
"Bik. Orang macam Linda itu tak pantas dicemburui. Dia sangat menjijikan. Masih muda mau-maunya sama aki-aki," ucap Tania.
"Neng Tania enggak cemburu?" tanya Asih.
Tania menggeleng.
"Aku malah berharap mereka bisa terus bersama. Biar Tono mau melepaskan aku, Bik," jawab Tania.
"Iya, Neng. Bibik paham. Neng Tania pasti udah enggak betah tinggal di sini," sahut Asih.
"Nasib kita sama, Bik. Sama-sama dikurung oleh lintah darat itu," ucap Tania. Dia juga kasihan pada Asih dan Yahya yang terpaksa kerja tanpa dibayar, demi membayar hutangnya pada Tono.
Tania pun sama. Dia tak pernah dikasih uang sepeserpun oleh Tono. Meskipun semua kebutuhannya sudah dipenuhi.
"Apa yang akan Neng Tania lakukan selanjutnya?" tanya Asih.
__ADS_1
"Entahlah, Bik. Tapi pastinya pingin pergi jauh, biar Tono tak bisa menemukanku lagi," jawab Tania.
"Neng Tania pingin Tono tak bisa menemukan?" tanya Asih.
Tania mengangguk. Pasti Tania tak mau Tono menemukannya dan mengurungnya lagi.
"Neng Tania mau kerja di luar negeri? Jadi TKW? Tono pasti tak bisa menemukan Neng Tania lagi," tanya Asih.
"Bibik bisa bantu?" Tania balik bertanya.
"Bisa. Ada saudara Bibik yang punya agency penyalur TKW. Neng Tania mau?" Asih merasa tak tega melihat Tania setiap hari hanya melamun dan tersiksa batinnya.
"Tapi pasti mahal biayanya, Bik. Aku kan enggak punya uang," sahut Tania.
"Kalau masalah uang, gampang itu. Nanti Bibik yang bilang. Neng Tania bisa membayarnya setelah bekerja. Potong gaji," ucap Asih.
"Ooh. Tapi bagaimana caranya aku keluar dari sini, Bik?" tanya Tania. Sedangkan Asih dan Yahya pernah bilang, tak mau membantunya kabur.
"Neng Tania kaburnya saat Bibik dan mang Yahya disuruh belanja sama Tono. Nanti kita ketemu di luar. Bibik dan mang Yahya akan antarkan Neng Tania ke agency-nya," jawab Asih.
"Bibik yakin mau menolongku?" tanya Tania tak yakin.
"Iya, Neng. Semalam Bibik sudah membicarakannya dengan mang Yahya. Dia mau, asal jangan sampai Tono mencurigai kami."
Tania mengangguk setuju.
"Makanya Neng Tania kaburnya kalau kita lagi belanja. Jadi Tono tak menyalahkan kami. Dan usahakan saat ada Tono di rumah ini," lanjut Asih.
"Nanti mang Yahya akan menunjukan jalan buat Neng Tania keluar dari pintu gerbang."
Tania mengangguk-angguk paham.
"Sekarang kita santai saja dulu, Neng. Jangan melakukan sesuatu yang mencurigakan. Biar Tono tak memperhatikan kita," ucap Asih.
"Terima kasih, Bik. Semoga rencana kita bisa berjalan lancar." Tania menggenggam tangan Asih.
"Terus, Bibik dan mang Yahya sendiri, sampai kapan berada di sini?" tanya Tania.
"Kontrak perjanjian kami, sampai lima tahun ke depan. Setelah itu, urusan kami dengan Tono selesai," jawab Asih.
Tania tak bisa membayangkan, lima tahun lagi terpenjara di sini.
"Suatu saat nanti, aku pasti akan menolong Bibik dan mang Yahya," ucap Tania.
"Enggak usah mikirin kami, Neng. Kami udah tua. Bisa makan dan berteduh aja, udah bersyukur," sahut Asih.
Tak terasa air mata Tania menetes. Tania merasa trenyuh dengan kebaikan Asih.
Tania memeluk Asih dengan erat.
"Heh! Ngapain kalian pelukan di situ? Kalian lesbi ya?"
__ADS_1