
Setelah menceritakan semuanya, Lintang merasa lebih lega. Segala masalah dan sesak di dadanya, serasa hilang.
"Terus, sekarang kamu tinggal di rumah kontrakan?" tanya Widya.
Tania dan Eni masih hanya diam menyimak.
"Iya, Bu. Karena Haryo sering datang berkunjung," jawab Lintang.
"Terus, apa dia punya niatan menikahi kamu?" tanya Widya lagi.
Lintang menatap wajah Widya.
"Dia kan masih punya istri, Bu," jawab Lintang.
"Iya, Ibu tau. Terus bagaimana dengan nasib anak kamu nantinya? Dia bakal lahir tanpa bapak? Kamu enggak kasihan?"
Widya tak bisa membayangkan bakal punya cucu yang lahir tanpa seorang bapak. Meskipun secara biologis, bapaknya jelas ada.
"Terus Lintang harus bagaimana, Bu?"
Lintang sendiri sudah tak bisa berpikir lagi. Dia hanya bisa pasrah. Dia tak pernah membayangkan bakal dapat masalah serumit ini.
"Bagaimanapun caranya, Haryo harus menikahi kamu!" jawab Widya dengan ketus.
"Tapi, Bu...."
"Enggak ada tapi-tapian! Sekarang kamu pulang ke kampung, dan jangan pernah menghubungi Haryo lagi. Kecuali dia mau menikahimu secara sah!" ucap Widya dengan emosi.
"Ingat Lintang! Anakmu butuh punya bapak secara hukum. Bukan cuma seorang bapak yang hanya menikmati tubuh ibunya! Jangan mau dibodohi oleh Haryo, Lintang!" Widya semakin emosi.
"Tapi, apa ibu enggak malu kalau Lintang pulang dalam keadaan hamil kayak gini?" Lintang menundukan wajahnya.
"Nasi sudah menjadi bubur. Mau diapain lagi. Besok, kamu pulang bersama kami. Tinggalkan Haryo. Tinggalkan pekerjaanmu!" sahut Widya.
Kalau bicara malu, pasti Widya bakal sangat malu. Tapi mau dikata apa? Semua sudah terjadi.
Lintang pun hanya bisa mengangguk. Dia sudah benar-benar pasrah dengan nasibnya.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat. Besok pagi, beresin barang-barang kamu. Kita pulang!" ucap Widya.
Eni terperangah mendengarnya.
Pulang? Secepat ini?
Kan baru sehari?
Kan belum jalan-jalan?
Hh! Sia-sia aja healingnya. Cuma capek di jalan doang. Eni terus saja menggerutu dalam hati.
Eni tak berani protes. Hanya wajahnya saja yang berubah sendu.
Tapi tak ada orang yang bisa menebak. Sebab suasananya memang lagi mengharu biru.
Lintang menatap ke arah Tania dan Eni bergantian. Mereka berdua mengangguk. Lalu menyingkir. Memberi tempat bagi Lintang untuk istirahat.
"Kita tidur bareng ya, Tania," ajak Lintang.
"Iya, Mbak. Kita tidur bertiga. Bibi mau tidur di sini juga?" tanya Tania pada Eni.
__ADS_1
"Enggaklah. Nanti pamanmu tidur sama siapa?" Eni balik bertanya.
"Biar sendirianlah. Sekali-kali biar dia nikmati tidur di hotel berbintang, sendirian!" ucap Widya.
Eni menggeram dengan kesal.
Lalu pergi meninggalkan kamar Tania.
"Eh, kamu bisa buka pintunya enggak?" tanya Widya meledek Eni.
Eni hanya mendengus dengan kesal.
Dalam hati Eni juga ragu, apa dia bisa membuka pintunya. Sedangkan Danu sepertinya masih asik di roof top.
Eni beruntung. Baru saja melangkah keluar, Danu udah nongol.
Eni pun menyambutnya dengan senyuman.
Senyuman kebahagiaan. Karena dia tak akan kesulitan membuka pintu kamarnya. Juga karena malam ini mereka bakal menikmati malam panjang di kamar hotel berbintang.
Eni tak akan menyia-nyiakan waktu yang cuma sehari ini. Bagi Eni, lumayanlah sehari. Dari pada enggak pernah sama sekali. Meskipun ada rasa kecewa di hatinya.
"Ayo kita masuk kamar, Pak," ajak Eni.
"Tapi aku lapar, Bu," ucap Danu.
"Waduh, mau beli makanan dimana, Pak?" tanya Eni kebingungan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri.
Jelas saja yang ada cuma pintu-pintu yang tertutup rapat.
"Ngapain noleh-noleh? Mau nyari warteg?" tanya Danu.
Dalam pikiran Eni, di dalam hotel berbintang itu fasilitasnya lengkap. Termasuk makanan yang tersedia di semua tempat.
Bisa ambil semaunya. Bisa makan sekenyang-kenyangnya.
Hh! Emangnya di surga? Batin Eni.
"Ayo kita cari makan di luar," ajak Danu.
"Ini udah jam berapa, Pak?" tanya Eni.
Danu melihat ke jam tangannya. Jam tangan yang dikasih Tono.
Waktu itu Danu mengeluh kepingin punya jam tangan yang bagus. Lalu Tono yang menurut Danu lagi kesambet, melepas jam tangannya. Dan memberikannya pada Danu.
Danu merasa seperti ketiban pulung. Tanpa babibu lagi, langsung diterimanya jam tangan itu.
Di pangkalan angkot, banyak teman-temannya yang memuji jam tangan Danu yang baru tapi tidak baru itu.
Bahkan ada juga yang berniat membayarinya.
"Jam sebelas lebih," jawab Danu.
"Nah, kan. Udah mau tengah malam. Apa pintu depan sana masih buka?" tanya Eni.
"Masihlah. Kamu pikir kos-kosan, yang ada jam malamnya? Ayo." Danu menarik tangan Eni.
Eni pun menurut. Lalu mengikuti langkah Danu.
__ADS_1
Dan benar saja. Sampai di lantai bawah, suasana masih seperti tadi. Tidak menunjukan kalau sekarang sudah hampir tengah malam.
Tapi Eni tak mau kalau nanti dia pulang tak dibukakan pintu. Eni pun menghampiri meja resepsionis.
"Maaf, Mbak. Hotel ini tutup jam berapa, ya?" tanya Eni dengan polosnya.
"Kami buka dua puluh empat jam, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis.
"Enggak. Cuma, kami mau keluar. Cari warteg. Takutnya kalau nanti kami pulang, pintunya dikunci," jawab Eni semakin terlihat polosnya.
Eh, bukan polos tapi bego.
"Bu! Ngapain sih, kamu?" Danu menarik tangan Eni.
"Eh, Pak. Aku kan nanya sama mbaknya. Biar kita bisa tenang makannya. Enggak apa-apa nanya kan ya, Mbak?" Eni menoleh ke arah resepsionis yang masih senyum-senyum ke arah mereka.
"Iya, Bu. Silakan. Kami selalu menunggu bapak dan ibu kembali ke hotel kami," sahut resepsionis itu dengan ramah.
"Ya udah, yuk Pak. Kita jalan. Mau jalan kaki apa naik mobil?" tanya Eni pada Danu.
"Jalan ajalah. Ribet muter-muternya kalau naik mobil. Belum kalau nyasar," jawab Danu.
Mereka pun berjalan kaki menyusuri kota yang sudah mulai sepi. Hanya lampu-lampu di sepanjang jalanan saja yang masih terang benderang.
"Pak. Aku mau foto di sana!" Eni menunjuk sebuah spot foto yang tak jauh dari tempat mereka.
"Cari makan dulu aja, Bu. Aku laper," ucap Danu.
"Entar keburu lampunya dimatiin!" Eni menarik tangan Danu menuju ke sana.
"Udah siniin hape kamu!" Danu meminta hape Eni yang katanya kalau buat foto, bisa bikin wajah terlihat kinclong.
"Nih!" Eni buru-buru memberikan ponselnya.
Lalu dengan bergaya ala selebgram, Eni mulai action.
Danu pun mengerahkan semua kemampuannya, agar bisa menghasilkan gambar yang bagus.
Sebab kalau gambarnya jelek, bisa dipastikan Eni bakal ngoceh sampai pagi.
Cekrek.
Cekrek.
Ce.... Pet! Ponsel Eni mati kehabisan daya.
"Mati Bu, hapenya." Danu mengulurkan kembali ponsel Eni.
"Ya...kamu gimana sih Pak, makenya? Bisa mati begini?" Eni melihat ponselnya dengan kecewa.
"Batrenya abis, Bu! Enak aja nyalahin aku!" sahut Danu tak mau disalahkan.
Eni nyengir seperti tanpa dosa.
"Ya udah, pake hape kamu, Pak," ucap Eni.
"Hapeku udah mati dari tadi!" sahut Danu.
"Ya....terus aku foto pake apaan dong?"
__ADS_1