HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 53 MEREKA TELAH MELAKUKANNYA


__ADS_3

Tania menggeliatkan tubuhnya. Lalu terbangun karena tangannya tak sengaja menyentuh badan budenya yang subur.


"Kamu sudah bangun?" Widya ikut terbangun karena kaget badannya tersentuh oleh Tania.


"Bude kenapa tidur di sini?" tanya Tania pelan.


"Bude menemani kamu, Sayang. Semalam badan kamu panas." Widya lalu menyentuh kening Tania dengan punggung telapak tangannya.


Sudah tidak demam lagi. Widya melihat jam dinding di kamar Tania. Hampir subuh. Widya beranjak bangun.


"Bude ke kamar mandi dulu, ya?"


Tania mengangguk. Dia merapatkan kembali selimutnya karena udara masih dingin.


Selesai mandi dan sholat subuh, Widya kembali ke kamar Tania.


Tania yang sebenarnya sudah bangun, hanya menatap budenya yang sudah terlihat segar.


"Bangun yuk. Mandi terus sholat subuh," ajak Widya.


"Dingin, Bude," sahut Tania. Selimut masih menutupi sekujur tubuhnya.


"Kalau begitu, gosok gigi saja lalu wudhu. Kamu sudah dewasa, Tania. Biasakan bangun lebih pagi. Dan jangan tinggalkan sholat subuh."


Dengan malas Tania menyingkap selimutnya. Lalu beranjak bangun.


Eni dan Danu masih meringkuk di dalam kamar mereka. Seharian kemarin mereka disibukan dengan pesta hajatan tanpa ada pengantinnya.


Saat Tania keluar dari kamar mandi, Widya sedang menyiapkan sarapan buat mereka.


"Eni! Danu! Bangun! Sholat subuh!" Widya berteriak dari dapur yang berada di depan kamar mereka.


Tak ada sahutan, kembali Widya berteriak. Lalu menggedor-gedor pintu kamar mereka.


Eni terbangun dan membuka pintu kamar dengan malas.


"Mana Danu? Suruh dia bangun! Kepala rumah tangga bukannya kasih contoh yang baik, malah molor terus!" oceh Widya.


Eni yang masih ngantuk malas membangunkan suaminya. Karena pasti akan banyak alasan biar bisa meneruskan tidurnya.


Eni langsung masuk kamar mandi. Air yang masih dingin membuat Eni malas untuk mandi.


Seperti Tania, dia hanya gosok gigi dan berwudhu.


"Sudah sholatnya?" tanya Widya melihat Tania sudah keluar lagi dari kamarnya.


"Sudah Bude. Tania lapar."


"Ini Bude sudah hangatkan masakan sisa hajatan kemarin. Sayang masih banyak. Bude ambilkan ya?"


Tania mengangguk dan menunggu budenya mengambilkan makan.


Widya yang sudah selesai menghangatkan makanan, menemani Tania makan di ruang tamu.


Tania makan dengan pelan. Dia kembali teringat dengan peristiwa kemarin.


"Makan jangan melamun, Tania. Habiskan biar badan kamu tidak lemas. Kamu pasti tidak makan dari kemarin."


Tania ingat dia baru makan sekali dengan Rendi.

__ADS_1


Eni ikut bergabung ke ruang tamu dengan membawa satu piring kue sisa hajatan kemarin juga.


"Mbak Wid mau aku bikinkan teh hangat?" tanya Eni.


"Boleh. Tania juga ya?" Widya menawari Tania. Tania mengangguk.


Sebenarnya dari tadi dia sudah kepingin minum teh hangat, cuma mau minta dibuatkan sama budenya enggak enak.


"Aku sekalian buatkan kopi, Bu." Danu rupanya juga sudah bangun. Lalu masuk ke kamar mandi.


Eni membawa minuman itu ke ruang tamu. Tak lama Danu ikut bergabung.


Tania masih pada mode diam. Hatinya belum baik-baik saja.


Eni memberi kode pada Widya agar memulai pembicaraan tentang Tono yang ingin memboyong Tania pagi ini. Sebelum Tono nanti datang.


"Tania. Nanti setelah mandi kamu siap-siap ya? Suami kamu akan memboyongmu ke rumahnya," ucap Widya perlahan.


Tania melongo mendengar perkataan budenya. Dia dihadapkan lagi pada masalah itu.


"Tania. Bagaimana pun Tono sekarang sudah jadi suami kamu. Dia berhak atas kamu," lanjut Widya.


"Tapi Bude...Tania takut."


"Apa yang perlu kamu takutkan? Dia tidak akan menyakitimu asal kamu mau menurut apa katanya. Seorang istri wajib menuruti apa kata suami. Jadilah istri yang berbakti, ya?"


"Bi... Bukankah Bibi janji akan selalu menemani Tania?" Eni gelagapan mendengarnya.


"Tania...itu rumah tangga kamu. Bibimu tidak berhak ikut campur. Kamu hanya boleh minta saran pada kami. Tapi kami tidak akan ikut campur. Kamu mengerti?" Widya berusaha menjelaskannya dengan hati-hati.


Danu menyeruput kopinya lalu menyalakan rokok yang dari tadi hanya dipeganginya.


Danu menghembuskan asap rokoknya. Pasti ruwet, karena Tono akan kembali mengancamnya. Batin Danu.


Bukan hanya tuntutan hutang dan harus mengembalikan semua biaya pernikahan. Tapi juga tuntutan penjara yang ada di hadapan Danu.


Tania menatap pamannya. Dia merasakan ketakutan Danu atas ancaman Tono, jika Tania menolak untuk diboyong.


"Bibi siap membantu kamu, kalau kamu membutuhkan," ucap Eni.


"Ya. Paman juga tak akan tinggal diam kalau Tono berbuat kasar padamu." Danu menambahkan.


"Jangan takut, Tania. Kami semua siap membantu kamu. Jadi kamu harus berani." Widya menambahkan lagi.


"Mandilah. Nanti keburu Tono datang," ucap Eni sambil memandangi Widya.


Eni khawatir Tania melakukan hal seperti kemarin lagi. Widya mengangguk, memahami kekhawatiran Eni.


Tania beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar mandi. Hatinya galau.


Ini benar-benar bagai makan buah simalakama. Jika dia menolak ajakan Tono, maka keluarganya, terutama pamannya akan menanggung semua akibatnya.


Tapi jika dia menerima ajakan Tono, dia akan melukai perasaan Rendi. Dan juga perasaannya sendiri.


Tania mandi tanpa semangat. Dia berfikir keras, bagaimana caranya keluar dari masalah itu.


Tak terasa air matanya mengalir seiring dengan guyuran air dari gayung.


Setelah selesai mandi, di depan kamar mandi berdiri Eni dan Widya. Mereka berjaga-jaga. Takut Tania melakukannya lagi.

__ADS_1


Tania berjalan saja melewati mereka. Eni dan Widya mengikuti Tania ke dalam kamarnya.


Eni mengambil sebuah tas besar untuk tempat barang-barang Tania yang akan dibawa.


Sementara Widya membantu menyisir rambut keponakannya itu.


"Jangan menangis, Tania. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Kamu juga jangan terlalu memikirkan Rendi. Dia anak lelaki. Dia pasti akan lebih kuat. Sebentar juga dia akan melupakan kamu," ucap Widya sambil merapikan rambut Tania.


Tania memandang wajah budenya. Rendi akan melupakannya? Lalu bagaimana dengan apa yang mereka lakukan kemarin di hotel?


"Kenapa?" tanya Widya.


"Rendi tidak akan melupakan Tania, Bude!" seru Tania.


Widya menghela nafasnya.


"Iya, Tania. Bukan sekarang, tapi nanti perlahan‐lahan dia akan melupakan kamu. Semua juga kan ada prosesnya," sahut Widya.


"Tidak! Rendi tidak boleh melupakan Tania! Rendi harus bertanggung jawab!"


Widya berpandangan dengan Eni.


"Bertanggung jawab apa?" tanya keduanya bersamaan.


Tania belum mau menjawab. Dia hanya menangis.


Eni menghampiri dan memeluk Tania yang duduk di tepi tempat tidurnya.


Widya pun ikut duduk. Lalu mengelus punggung Tania.


"Apa yang telah kalian lakukan, Tania?" tanya Widya perlahan.


Tania masih sesenggukan.


"Ke...marin....Kami melakukannya...di hotel."


Terbata-bata Tania menjawabnya. Lalu kembali menangis.


"Apa?" Eni melepaskan pelukannya. Matanya melotot menatap keponakannya yang terus saja menangis.


Widya menutup wajah dengan kedua tangannya. Bakal terjadi masalah yang lebih besar kalau Tono tahu istrinya sudah tak perawan lagi.


Eni melangkah lesu keluar dari kamar Tania. Terbayang kemarahan Tono pada mereka.


"Kenapa, Bu?" tanya Danu yang baru selesai dari kamar mandi.


Eni tak menjawab. Dia terus berjalan masuk ke kamarnya.


Danu segera menyusulnya.


"Ada apa?" tanya Danu mengguncang bahu Eni yang duduk terdiam di tepi tempat tidurnya.


"Tania dan Rendi, Pak."


"Kenapa dengan mereka?" Danu semakin mengguncang bahu Eni.


"Mereka...mereka telah melakukannya kemarin di hotel," jawab Eni lirih.


"Akh!" Danu menepuk keningnya dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2