HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 174 SARI MENEMUI TANIA


__ADS_3

Sari ternyata mendatangi rumah Danu. Dia sudah pernah mendapatkan alamatnya dari orangnya Tono.


Saat itu, Tania dan keluarganya baru selesai makan siang.


"Permisi...!" Sari mengetuk pintu yang tak ditutup.


Eni langsung keluar dari ruang makan yang merangkap dapur.


"Bu Sari...!" Eni langsung tercekat.


"Mana Tania?" tanya Sari dengan ketus.


"A...Ada, Bu. Silakan...duduk," jawab Eni gugup.


Sari melangkah masuk.


Hhmm. Rumah yang sangat kecil. Aku pikir Tono membelikan mereka rumah yang besar. Batin Sari.


Eni melangkah kembali ke dapur.


"Siapa, En?" tanya Widya yang sedang memberesi sisa makanan mereka.


Danu masih duduk di kursi makan sambil merokok. Sementara Tania masih asik video call dengan Rendi, di kamarnya.


"Bu Sari," jawab Eni pelan.


Widya dan Danu langsung terbelalak.


Widya sampai menutup mulutnya dengan tangan, saking terkejutnya.


"Ngapain?" tanya Widya sangat pelan.


"Nyari Tania." Eni juga menjawab dengan sangat pelan sambil menunjuk ke kamar Tania.


"Biar aku dulu yang menemuinya," ucap Widya.


Widya langsung membersihkan tangannya dengan lap. Lalu melangkah ke depan.


Danu tak berani keluar. Bukan takut menghadapi Sari, tapi Danu khawatir dia akan salah omong.


Dia cukup mendengarkan dulu sambil memantau keadaan.


Eni pun ikut keluar menemani Widya.


"Eh, Bu Sari. Apa kabar?" tanya Widya basa basi.


Sari hanya menatap wajah Widya.


"En. Buatkan minum buat bu Sari," ucap Widya pada Eni.


"Enggak usah! Aku ke sini bukan buat cari minum!" sahut Sari ketus.


Eni sampai terperangah melihat sikap angkuh Sari. Dia pikir Sari adalah orang yang ramah dan lemah lembut.


Danu pun terkesiap mendengarnya dari dalam. Lalu Danu beringsut ke kamar Tania.


"Sstt. Tania," panggil Danu pelan.

__ADS_1


Tania yang sedang video call dengan Rendi, menoleh.


"Ada apa, Paman?" tanya Tania masih sambil tiduran.


"Sstt. Di luar ada mamanya Rendi," jawab Danu pelan sambil memberi tanda pada Tania agar diam.


Tania membelalakan matanya.


Danu keluar lagi dari kamar Tania.


"Ada apa Tania?" tanya Rendi.


Tania tercenung sesaat. Dia tahu kalau suatu saat bakal menghadapi mamanya Rendi. Tapi tidak secepat ini juga.


"Mama kamu ke sini," jawab Tania pelan.


"Hah? Sama siapa?" tanya Rendi.


Tania mengangkat bahunya.


"Aku belum tahu. Aku keluar dulu, ya," pamit Tania.


"Jangan matikan telponnya, Tania," pinta Rendi.


"Terus gimana?" tanya Tania tak mengerti, sementara mereka dalam posisi video call.


"Ganti ke mode telpon. Tapi jangan dimatikan. Jangan aktifkan loudspeakernya. Kamu bawa hapenya ke depan. Aku pingin denger omongan mama," perintah Rendi.


Tania mengangguk. Lalu menuruti perintah Rendi dan keluar kamar sambil membawa ponselnya.


Eni masuk ke dalam mau memanggil Tania sesuai kemauan Sari.


Eni menatap wajah Tania, tanpa bisa bicara. Eni merasa tak tega mengatakannya.


Tania mengangguk, mengerti kecemasan Eni. Lalu melangkah keluar. Eni mengikutinya.


"Selamat siang, Bu Sari," sapa Tania dengan sopan.


Tania hanya mengangguk. Tanpa berniat menyalami Sari. Karena dia tahu bakalan ditolak.


Tania duduk di seberang Sari. Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi posisinya dia balik. Dan layarnya dia matikan agar tak ketahuan.


Sari mengamati penampilan Tania. Meski kemarin dia baru saja ketemu.


Dalam hati, Sari bertanya-tanya. Apa yang membuat Rendi begitu memggilai Tania. Sedangkan penampilan Tania biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Meski Tania dikaruniai wajah yang cantik alami.


Tapi kalau dibandingkan Monica, jelas kalah. Meskipun Sari tak begitu menyukai Monica karena penampilannya yang kelewat seksi.


"Maaf, ada apa Bu Sari mencari saya?" tanya Tania tetap dengan sopan.


Sari menghela nafasnya.


"Aku minta mulai sekarang, kamu jauhi Rendi. Aku tak mau kamu dekat-dekat lagi sama anakku. Jangan pernah menghubungi Rendi lagi. Paham?" ucap Sari dengan ketus.


Tania hanya diam saja. Begitu juga Widya dan Eni. Tak ada yang berani menjawab omongan Sari.


"Rendi sebentar lagi mau menikah. Kamu tau Monica, kan? Dia lagi hamil anak Rendi. Dan mereka akan segera menikah, setelah Rendi pulang dari rumah sakit!" lanjut Sari.

__ADS_1


Widya dan Eni terkesiap. Mereka bersamaan menatap Tania yang hanya diam saja.


Tania tak bereaksi apapun, karena dia tahu yang dikatakan Sari itu bohong.


Tania percaya pada omongan Rendi, kalau dia belum pernah melakukannya dengan Monica.


Dari cerita Dito dan Mike juga semakin membuat Tania yakin pada Rendi.


Sari tanpa malu dan berpikir panjang mengatakan soal kehamilan Monica. Padahal dia hanya mengira-ngira saja.


Dan seandainya hal itu benar pun, itu artinya Sari membuka aibnya sendiri. Orang tua yang tak bisa mendidik anaknya, sampai menghamili anak orang.


"Dan ada hal lain lagi yang mau aku bicarakan!" ucap Sari.


Tania hanya mengangguk.


"Ini soal Tono yang akan menceraikan kamu!" lanjut Sari.


Tania langsung mengangkat wajahnya. Menurut Tania, Sari tak berhak ikut campur urusan perceraiannya dengan Tono.


Tapi Tania kembali hanya diam. Dia ingin tahu dulu, sampai sejauh mana ikut campur Sari dalam hal ini.


"Kelihatannya Tono sudah banyak memberikan hartanya pada kamu." Sari mengedarkan pandangannya ke ruang tamu yang tak terlalu luas itu.


Terlihat penampilan ruang tamu Eni yang cukup mewah, untuk kalangan menengah ke bawah.


Sari juga memperhatikan sofa yang didudukinya. Sari yang biasa hidup di pasar, tahu kalau harga sofa itu tidak murah.


Juga karpet tebal yang diinjaknya. Tak luput dari pengamatan Sari.


Sari tak tahu, kalau semua itu dibeli dari hasil salon kecil Eni. Kecuali rumah yang memang dibelikan oleh Tono.


Tania masih diam. Karena dia sendiri belum tahu asal usul rumah pamannya ini. Tania belum sempat bertanya-tanya.


"Rumah ini. Walaupun kecil, tapi aku yakin kalian tak akan mampu membelinya sendiri!" ucap Sari.


Widya langsung menegakan badannya. Dia sudah mulai emosi.


Eni juga sudah berkali-kali menelan ludahnya. Rasanya emosinya sudah akan meledak.


Danu di dalam juga langsung mematikan rokoknya di asbak dengan kasar.


Kalimat Sari sangat menghina keluarga Tania. Tapi Tania masih berusaha tenang.


"Gimana salon ecek-ecek kamu? Jalan?" tanya Sari pada Eni dengan nada mengejek.


Eni hanya bisa mengangguk.


"Syukurlah kalau jalan. Jadi enggak sia-sia Tono meminjami kiosnya," ucap Sari.


Nafas Eni semakin tak beraturan. Meskipun memang benar kios itu dipinjami Tono, tapi kalau diungkit-ungkit rasanya bikin emosi juga.


"Lumayan ya, udah dibeliin angkot juga? Suami kamu jadi enggak perlu lagi menyewa mobil butut, buat narik." Sari masih saja mengoceh.


"Maaf. Maksud Bu Sari ke sini apa? Mau mengambil semuanya? Silakan," ucap Tania dengan tenang.


Sari menatap wajah Tania dengan tajam.

__ADS_1


Berani sekali anak ini bicara. Sepertinya dia mau menantangku. Batin Sari.


Tania pun membalas tatapan Sari dengan lebih tajam.


__ADS_2