HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 195 TANIA TAK MAU SEDIH LAGI


__ADS_3

Belum puas mereka bercinta dalam bath tub, ponsel Eni yang diletakan di sebelahnya, berdering.


Widya menelponnya.


"Pak. Mbak Widya!" Eni langsung menghentikan gerakannya.


"Ya udah diangkat. Entar ngomel lagi!" sahut Danu.


"Iya, Mbak. Ada apa?" tanya Eni dengan suara agak ngos-ngosan.


"Buruan ke sini. Lintang udah datang. Kamu abis lari-lari? Kok suaramu ngos-ngosan gitu," tebak Widya.


"Eng...Enggak, Mbak. Aku...Aku baru selesai mandi," sahut Eni salah tingkah.


Eni menahan tangan Danu yang akan menyentuhnya lagi.


"Danu udah mandi?" tanya Widya.


"Mas Danu lagi mandi, Mbak," jawab Eni.


"Ya udah. Kalian siap-siap. Terus ke kamar kami. Jangan telat. Tiga puluh menit! Lebih dari itu, kita tinggal!" ucap Widya dengan ketus.


Widya sengaja begitu, karena Danu biasanya lelet kalau mau diajak pergi.


"Iya, Mbak." Eni menutup telponnya.


"Ayo, Pak. Udahan. Nanti mbak Widya ngomel-ngomel lagi."


Danu dan Eni pun segera menyudahi acara mandi bersamanya di bath tub.


"Bilas lagi, Pak. Itu masih banyak busanya," ucap Eni.


Eni sudah menyalakan shower dan badannya langsung terguyur air.


Danu langsung manyun. Dia tadi masih belum tuntas.


"Udah ayo. Dilanjutin nanti malam kan bisa." Eni berusaha menghibur Danu.


"Benar, ya?"


Eni mengangguk.


Danu pun langsung sumringah.


Dan mereka pun mandi bersama lagi. Tapi kali ini tak ada adegan plus-plusnya.


"Ibu galak amat sama bibi?" tanya Lintang setelah Widya menutup panggilannya.


"Bibi sama paman kamu, kalau enggak digalakin suka lelet," jawab Widya.


"Iya. Apalagi paman. Ada aja dramanya kalau mau pergi. Jadilah kita sering terlambat," sahut Tania mengiyakan.


"Ya begitulah mereka. Pasangan yang unik. Tapi mereka malah langgeng sampai sekarang," ucap Widya.


Tania juga Lintang menunduk. Mereka seperti merasa sedang disindir oleh Widya.


Terutama Tania yang menikah hanya sebagai pembayar hutang saja.

__ADS_1


Widya menatap mereka dengan heran. Kenapa keduanya sama-sama menunduk? Kalau Tania bisa jadi masih teringat dengan pernikahannya. Tapi Lintang? Tanya Widya dalam hati.


Tania lebih dulu mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum. Dia hanya teringat sekilas saja.


"Mbak Lintang tinggal di mana?" tanya Tania memecahkan keheningan sesaat itu.


Lintang pun mengangkat wajahnya.


"Aku...ngekos. Cuma satu kamar. Makanya tadi aku sempat pesankan kamar buat kalian," jawab Lintang berbohong. Meskipun Widya juga tahunya Lintang masih ngekos.


Padahal sekarang Lintang sudah tidak ngekos lagi. Lintang menempati sebuah rumah kecil. Tapi Lintang belum berani berterus terang pada keluarganya.


"Iya, Tania. Kalau biasanya, Budekan cuma sendirian. Jadi bisa tidur di kamar kosnya mbakmu." Widya semakin memperkuat alasan Lintang.


Tania mengangguk. Meskipun dalam hatinya merasa ada yang enggak beres dengan kehidupan Lintang.


"Kita mau jalan-jalan kemana nanti, Tania?" tanya Widya.


"Lho, kok nanya Tania? Tania kan enggak tahu daerah sini, Bude," jawab Tania.


"Kan kamu yang ingin Bude ajak healing," sahut Widya.


"Tanya mbak Lintang aja, deh. Enaknya kemana, Mbak?" tanya Tania pada Lintang.


"Gimana kalau kita ke alun-alun. Yang paling deket," jawab Lintang.


"Jauh sedikit juga enggak apa-apa, Lintang. Kita kan bawa mobil sendiri," ucap Widya.


"Itu mobil siapa?" tanya Lintang.


Widya dan Tania berpandangan. Mereka belum siap mengatakannya pada Lintang. Karena Lintang memang belum tahu permasalahan Tania.


"Iya. Rental punya teman Danu." Widya ikut meyakinkan.


Lintang percaya saja. Karena orang yang tak punya mobil sendiri, biasanya begitu.


"Mbak Lintang nanti jadi menginap di sini, kan?" tanya Tania.


Lintang gelagapan. Dia tak punya alasan untuk menolak. Tapi kalau menerima tawaran Tania juga tidak mungkin.


Untungnya ada yang mengetuk pintu dari luar. Jadi Lintang tak perlu menjawab pertanyaan Tania.


Tania beranjak dan membukakan pintu.


Danu dan Eni berdiri di depan pintu dan sudah rapi.


"Masuk, Bi," ajak Tania.


Eni dan Danu pun masuk. Mereka berkumpul di dalam.


"Udah, mandi barengnya?" sindir Widya.


Eni langsung menunduk. Kalau Danu cuma nyengir saja.


"Kita jalan sekarang, yuk," ajak Lintang.


Ini kesempatan buat Lintang menghindari pertanyaan Tania tadi.

__ADS_1


"Sebentar. Ibu mau pipis dulu," ucap Widya. Lalu berjalan ke kamar mandi.


Hhh! Mau pipis aja susah banget. Mana ceboknya cuma pakai selang. Enakan juga pipis di rumah sendiri. Ada airnya di ember. Ada gayungnya. Widya menggumam dalam hati.


Setelah Widya keluar dari kamar mandi, mereka keluar dari kamar Tania dan berjalan keluar hotel.


"Kita jalan kaki aja, ya. Ke alun-alun deket kok," ucap Lintang.


"Iya. Enak juga jalan kaki. Bisa sambil lihat-lihat." Tania mengiyakan.


Tania melihat di sepanjang jalanan depan hotel, ramai orang lalu lalang. Para pedagang juga banyak.


Tania berjalan bersisihan dengan Lintang, di depan. Eni dengan Widya, dan paling belakang Danu berjalan sendirian.


Mereka sangat menikmati suasana malam di kota tempat Lintang bekerja. Kota yang jauh lebih besar dari kota tempat tinggal mereka.


Sejenak Tania bisa melupakan masalahnya. Rendi pun yang sudah tahu Tania sedang jalan-jalan, tak mengiriminya pesan.


Rendi membiarkan dulu Tania bersenang-senang. Rendi sadar, beban hidup Tania sangat berat.


Mereka berhenti di sebuah kedai makan. Karena mereka belum makan malam. Tania duduk di tempat yang terpisah bersama Lintang.


"Mbak Lintang sudah punya pacar?" tanya Tania tiba-tiba.


Usia Lintang empat tahun lebih tua dari Tania. Untuk seusia itu, biasanya sudah punya pacar. Bahkan mungkin calon suami. Begitu pikir Tania.


"Belum." Lintang lalu mengalihkan pandangannya pada deretan menu di kedai itu.


"Kirain malah udah punya calon suami," ucap Tania.


"Belum, Tan. Kamu sendiri gimana?" tanya Lintang.


"Udah, Kak. Namanya Rendi. Dia teman sekolah Tania di SMA dulu," jawab Tania.


"Ooh. Baguslah. Sekarang dianya kuliah atau kerja?" tanya Lintang lagi.


"Rendi....kerja, Kak. Membantu mamanya di pasar. Mamanya Rendi punya toko batik di sana," jawab Tania.


"Toko batik Sari? Yang terkenal itu?" tanya Lintang lagi.


Lintang dulu sering diajak Widya ke pasar. Jadi dia masih ingat, di sana ada sebuah toko batik besar.


Tania mengangguk.


"Wah, hebat dong. Pantesan uang kamu banyak di ATM. Dia pasti yang ngasih, ya?" tebak Lintang.


Lintang merasa Tania sangat beruntung, bisa memacari anak juragan batik terbesar di sana.


Tania kebingungan menjawabnya. Kalau dia bilang iya, berarti dia berbohong. Tapi kalau bilang enggak, Lintang bakalan nanya lagi uang itu darimana.


Tapi demi menghindari pertanyaan yang lebih jauh lagi, Tania memilih mengangguk.


Mereka memang sepakat untuk tidak menceritakan soal Tania pada Lintang. Itu kemauan Widya.


"Kamu beruntung, Tania," ucap Lintang dengan wajah sedih.


Beruntung? Lebih beruntung juga mbak Lintang. Udah punya pekerjaan. Bisa hidup sendiri. Enggak dipaksa menikah....

__ADS_1


Tania merasa lebih sedih dari Lintang. Tapi Tania berusaha tersenyum. Dia main ke sini, bukan untuk bersedih. Tapi justru untuk menghilangkan kesedihan.


__ADS_2