
Yadi dan Mila jalan-jalan saja di mal. Rencana menonton gagal. Karena tidak ada bioskopnya.
"Aku jadi kepingin beli baju. Kita liat-liat yuk," ajak Mila.
Aduh! Males banget, masa liat-liat baju? Kayak anak muda aja. Batin Yadi.
Seumur hidupnya, Yadi tak pernah jalan-jalan seperti ini. Kalau soal bajunya dan baju anak-anaknya, istrinya yang mencarikan. Yadi cuma kasih uangnya saja.
Mila menarik tangan Yadi masuk ke toko pakaian paling populer di negeri ini. Dengan semangat Mila melihat-lihat koleksi terbaru.
Uang dari Tono, cukuplah untuk membeli satu potong. Dia juga punya uang sendiri, dari gajinya sebagai perawat di rumah sakit.
Yadi benar-benar mati gaya. Apalagi di dekatnya ada lelaki seumurannya jalan bersama cewek ABG.
Cewek itu memilih banyak baju. Dan lelakinya mengiyakan saja.
Wah, kayaknya lelaki hidung belang. Dari tampangnya kelihatan dia orang berduit. Enggak kayak aku. Batin Yadi.
Sekilas Yadi melihat penampilannya sendiri. Sangat sederhana. Bahkan kaos yang dipakainya sudah agak lusuh.
Sandalnya pun bekas punya Tono yang sudah tak dipakai lagi. Yadi benar-benar merasa minder. Tapi mau mengajak Mila keluar, tidak mungkin. Mila pasti menolak. Karena masih asik memilih.
Akhirnya Yadi pura-pura sibuk dengan ponselnya. Dia hanya membuka-buka saja.
Tak akan ada yang mengechatnya. Yadi bukan type lelaki yang punya banyak cewek. Apalagi yang suka berbalas chat.
"Mas Yadi enggak beli baju?" tanya Mila.
Yadi mendongak terkejut.
"Eh, enggak. Kamu aja," jawab Yadi.
Kalau aku juga beli, pastinya aku yang harus bayar. Uang dari mana? Gajiku sebagian udah aku berikan untuk istri dan anak-anakku. Bisa enggak ngerokok sebulan kalau buat beli baju. Batin Yadi.
"Ya udah, kalau enggak mau." Lalu Mila kembali memilih baju.
Yang dilihat-lihat Mila, baju digantungan. Tapi yang dipilihnya kaos discount di keranjang.
Mila mengambilnya tiga potong. Beli dua gratis satu.
"Banyak amat?" tanya Yadi pelan. Dia tak melihat tulisan promo di atas keranjang.
"Kan beli dua gratis satu, Mas. Yang satu ini buat mbak Sri. Siapa tau dia mau," jawab Mila.
Oww, baik juga dia. Masih ingat Sri juga. Padahal Sri kan jutek ama dia. Batin Yadi.
Yadi mengangguk. Lalu mengikuti Mila ke kasir. Mila membayar sendiri belanjaannya.
Yadi pura-pura tak memperhatikan. Dia sibuk melihat-lihat barang yang ada dekat kasir.
"Ayo, Mas. Kita cari makan ya. Udah lama aku enggak pernah makan di mal," ajak Mila.
Busyet. Ngajak makan juga.
__ADS_1
Mati aku!
Gimana kalau uangnya Mila kurang? Harga makanan di sini pasti mahal-mahal. Gumam Yadi dalam hati.
"Kayaknya kita harus pulang. Takutnya pak Tono sama mas Rendi udah pulang," alasan Yadi.
Mila melihat jam tangannya.
"Belum. Tadi kan bilangnya sebelum jam empat sore. Ini baru juga jam berapa," sahut Mila.
Mila merasa masih punya banyak waktu. Dia masih bisa makan dan melanjutkan jalan-jalannya. Tanpa berpikir kalau Yadi sudah tidak betah.
"Tapi...."
Belum sempat Yadi meneruskan omongannya, Mila kembali menarik tangan Yadi.
Terpaksa Yadi pun kembali menurut. Dia mengikuti Mila jalan mencari tempat makan.
"Wah, itu korean food. Mas Yadi suka makanan korea?" tanya Mila dengan mata berbinar.
Apaan tuh makanan korea? Film korea aja aku enggak paham. Aku kan bukan abege.
Hhh! Yadi melenguh. Tapi memgangguk juga. Pura-pura jadi orang tua yang gaul.
"Ayo pilih, mau pesen yang mana." Mila memberikan selembar menu pada Yadi.
Aduh....apaan sih ini? Namanya aja aku baru baca.
Kayaknya ini enak. Kayak mie ayam. Cuma beda nama aja. Batin Yadi.
"Aku ini aja deh." Yadi menunjuk gambar itu.
Mila mengangguk. Lalu menuliskan menu pesanannya juga.
"Mas Yadi sering makan di mal?" tanya Mila.
Yaelah, Mila. Aku kan cuma jongos di rumah bu Sari. Bukan levelku lah makan di mal. Bisa habis gaji sebulan.
"Jarang," jawab Yadi berbohong. Kalau menjawab enggak pernah sama sekali, bakalan diketawain sama Mila.
"Aku juga jarang. Aku kan tinggal di mess, susah kalau mau keluar. Banyak aturannya," ucap Mila.
Tak lama, makanan pesanan mereka datang. Yadi menatapnya. Terlihat menggiurkan dan masih panas mengebul.
Yadi mulai menyendoknya. Meskipun disediakan sumpit, tapi Yadi lebih suka menggunakan sendok bebek.
Saat makan mie ayam dipinggir jalan, Yadi juga tak pernah menggunakan sumpit. Susah menurutnya.
"Hhmmpptt!" Yadi hampir saja tersedak. Rasa pedas dan asam yang sangat kuat, membuat Yadi jadi ingin muntah.
Jauh dari ekspektasinya. Dia pikir seperti mie ayam yang pedas manis.
"Kenapa, Mas? Kepedesan, ya?" tanya Mila.
__ADS_1
Mila yang penyuka pedas, memakannya dengan lahap. Meski wajahnya langsung memerah saking pedasnya.
"Enggak," jawab Yadi. Dia paksa memakannya. Biar enggak malu dan malu-maluin.
Kalau cuma pedas sih, Yadi jagonya. Tapi rasa asam yang membuat perut Yadi langsung melilit.
Aduh! Perut gue kenapa lagi, ini? Enggak bisa diajak kompromi amat! Yadi mengeluh dalam hati, sambil terus menahan rasa mulasnya.
Ditambah lagi hawa dingin dari AC yang seakan menembus kaosnya.
"Mil, kamar mandinya dimana, ya?" tanya Yadi pelann.
"Kenapa? Sakit perut?" tanya Mila sambil melihat makanan Yadi yang baru dimakan sedikit.
Yadi memgangguk. Dia sudah tak kuat banyak bicara lagi. Keringat dingin pun mulai membasahi bajunya.
"Tanya aja sama mbaknya itu. Aku juga enggak tau," jawab Mila, tanpa berniat menolong atau mengantarkan Yadi.
Yadi mendengus dengan kasar. Lalu berdiri.
Setelah mendapatkan informasi tentang letak toilet, Yadi pun buru-buru mencarinya.
Karena tak tahu jalan, berkali-kali Yadi memutar mencarinya.
Sampai akhirnya ketemu juga. Yadi bernafas lega. Lalu masuk.
Aduh! Toiletnya begini lagi! Nyusahin aja! Yadi kembali menggerutu.
Yadi terbiasa menggunakan toilet jongkok. Di rumah Sari, toilet di dekat dapur adalah toilet jongkok.
Dengan susah payah, Yadi mengeluarkan hajatnya. Sampai merasa seisi perutnya keluar semua.
Ah...lega.
Yadi kembali merapikan celananya. Lalu keluar dari toilet.
Sampai diluar, Yadi menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia lupa dimana letak tempat makannya dengan Mila tadi. Karena Yadi tadi muter-muter saat mencari toilet.
Yadi mencoba mencarinya. Tapi tak juga ketemu. Mau menelpon Mila, dia belum punya nomornya Mila.
Aduh! Gimana ini?
Yadi kebingungan kayak orang ilang. Dia terus saja memutari mal. Tapi tetap saja tak ketemu.
Mila sendiri menunggu cukup lama. Hingga dia kesal sendiri.
Akhirnya Mila keluar dari tempat makan dan mencari toilet. Dia terpaksa menyusul Yadi. Jelas saja Yadi sudah tak ada di sana.
Mila semakin kesal, dan memutuskan untuk pulang sendiri, naik angkot.
Yadi pun memutuskan pulang setelah capek mencari Mila. Yadi keluar mal dari pintu pertama. Sedangkan Mila dari pintu kedua.
Dan mereka ketemu lagi di angkot.
__ADS_1