
Tono melangkah dengan gagah, diapit dua istri yang lebih pantas jadi anaknya. Kesombongan jelas terpancar dari wajah tuanya.
Asih hanya melongo melihatnya. Tapi saat Tania menoleh dan mengerlingkan satu matanya, Asih mengacungkan jempolnya.
Meski dia tak paham apa maksud Tania melakukan itu semua.
Tanpa disuruh, Yahya berlari duluan membukakan pintu gerbang.
Sampai di dekat mobil, Tono menghentikan langkahnya. Tania dan Linda pun ikut berhenti.
"Linda! Kamu naik di belakang! Biar Tania di depan," ucap Tono.
"Enggak! Aku yang di depan. Biar dia di belakang!" tolak Linda.
"Kalau enggak nurut, kamu enggak usah ikut!" bentak Tono.
"Atau kami sama-sama di belakang?" Linda tak mau disaingi oleh Tania.
"Kamu pikir aku sopirmu? Naik atau masuk kamar lagi!"
Glek!
Linda tak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan kesal dia naik ke bagian belakang.
Linda makin kesal lagi saat melihat Tono membukakan pintu untuk Tania. Sebab Tania tak langsung masuk mobil seperti Linda.
Linda berdecak. Menyebalkan sekali. Awas kamu nanti. Ancam Linda dalam hati.
Tono segera melajukan mobilnya. Tak ada yang buka suara sama sekali. Terutama Tania yang sebenarnya tak berminat sama sekali.
Tania hanya menatap jalanan lewat jendela. Hingga mereka sampai di sebuah mall yang tak terlalu jauh dari rumah Tono.
Setelah turun dari mobil, Tono hanya menggandeng Tania. Linda langsung merangsek dan meraih satu tangan Tono yang lain. Dia tak mau dikalahkan oleh Tania.
Sebenarnya Tania sangat malu berjalan bergandengan seperti itu. Tapi Tania mencoba bersikap biasa saja. Toh, tak akan ada yang mengenalinya, begitu pikir Tania.
"Kamu mau beli apa?" tanya Tono pada Tania.
Tania hanya diam. Dia sedang berpikir, kalau uangnya dia pakai untuk beli barang di mall ini, yang harganya pasti tak murah, bakal habis uangnya.
Sementara Tania sudah berencana uang itu untuk bekal dia kabur.
Tono mengajak mereka masuk ke sebuah butik mahal.
"Tania, kamu pilihlah baju terbaik untukmu. Biar aku yang bayar. Dan kamu Linda, duduk di sini denganku. Semalam kamu sudah beli!" ucap Tono.
Linda membelalakan matanya. Tania mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi....!" belum sempat Linda protes, Tono sudah menarik tangan Linda untuk duduk menemaninya di sebuah kursi.
__ADS_1
Dengan langkah penuh kemenangan, Tania memilih baju untuknya.
Tania hanya mengambil satu baju saja. Dia berpikir, bajunya yang dibelikan Tono waktu itu masih banyak yang belum dipakainya.
Tono menghampiri Tania yang sedang memilih. Dia mendekap pinggang Tania. Tania terkesiap.
Apa-apaan si tua bangka ini? Sok romantis! Tapi demi kelancaran aksi usilnya, Tania membiarkan saja.
Tania bisa membayangkan bagaimana wajah Linda melihatnya. Pasti sudah merah padam.
"Jangan cuma satu. Ambil satu lagi. Nih." Tono mengambilkan satu lagi.
"Ini saja, Pak?" tanya karyawan butik yang juga terlihat cantik.
"Iya," jawab Tono.
Lalu dia menyuruh Tania mencoba baju-baju itu di kamar pas. Sementara dia kembali ke kursi yang tadi.
"Kenapa dia dibelikan baju di sini? Kan harganya mahal?" protes Linda. Sementara dia semalam hanya dibelikan baju di toko biasa.
"Dia tak seperti kamu. Dia tak pernah meminta apapun," sahut Tono.
"Tapi kan aku yang melayanimu di ranjang?" Linda kembali tak terima.
"Itu kan tugasmu! Atau kamu mau aku bebaskan dari tugas itu? Kamu bisa kembali pulang ke rumah kontrakan orang tuamu!" sahut Tono lagi.
Tania berjalan ke arah Tono. Dia memberikan nota yang harus dibayar.
Mata Linda kembali terbelalak melihat tulisan angka harga dua baju itu.
Gila! Ini benar-benar gila! Mahal banget harganya. Bisa buat beli bajuku yang semalam sepuluh.
Linda berdecak sebal. Lalu melengos.
Tania yang melihatnya, ingin sekali tertawa. Dalam hati Tania berkata, Linda belum tahu berapa harga gaun pengantinnya dulu. Bisa pingsan kalau sampai tahu.
Gaun pengantin pilihan bibinya. Gaun termahal di sebuah butik spsecial wedding termahal.
Tono memberikan kartu debitnya pada Tania.
"Pakai ini. Nomor pin-nya....tanggal lahir Rendi." Suara Tono langsung pelan begitu menyebut nama anaknya.
Tania terkesiap mendengar Tono menyebut nama Rendi. Anak Tono yang sangat dicintai Tania, dan telah merenggut kesuciannya. Dia tak menyangka kalau Tono menggunakan tanggal lahir Rendi untuk pin kartu debitnya.
Tania mengangguk. Lalu berjalan ke arah kasir. Dia masih sangat hafal tanggal lahir Rendi. Meskipun Rendi tak bisa lagi dimilikinya.
Kata Tono, Rendi sudah menikah dan bahagia bersama pasangan barunya.
Tiba-tiba mata Tania berembun. Dia sangat sedih mengingat nasib percintaannya dengan Rendi yang tragis. Cinta yang hanya bertahan satu minggu. Dan setelah itu, hancur berantakan.
__ADS_1
Sampai di depan kasir, Tania mengusap matanya. Lalu menyerahkan kartu debit Tono.
"Siapa Rendi?" tanya Linda yang tadi mendengar.
"Anakku!" jawab Tono singkat.
"Apa dia mengenal anakmu?" tanya Linda sambil menunjuk Tania dengan dagunya.
"Kamu enggak perlu tau. Itu bukan urusanmu!" jawab Tono ketus.
Dasar tua bangka sialan! Gara-gara Tania, dia jadi ketus padaku.
Hhh! Aku mesti bisa merebut kembali si tua bangka ini. Aku harus bisa pura-pura bersikap baik.
Linda meraih tangan Tono, lalu meremas jemari Tono. Dia akan mulai bersikap manis.
Tapi Tono tak begitu peduli. Matanya menatap gadis-gadis cantik yang jalan bersliweran keluar masuk butik.
Linda makin kesal saja pada Tono. Tapi tangannya tetap memainkan jemari Tono. Malah Linda menggelayut manja di lengan Tono. Sekalian juga memanas-manasi Tania.
Linda berpikir, Tania akan marah atau minimal bete padanya. Tapi sayangnya Tania tak peduli sama sekali.
"Ini." Tania menyerahkan kembali kartu debit Tono.
"Bawa aja. Kamu masih mau beli lainnya?" tanya Tono.
Linda menegakan kepalanya.
Enak bener si Tania sialan ini. Dipegangi kartu debit yang isinya pasti enggak sedikit. Gumam Linda dalam hati.
Tania menggeleng.
"Enggak usah. Ini sudah cukup," jawab Tania.
Tania memang tak membutuhkan baju mahal atau barang apapun. Yang diinginkannya adalah, bisa segera lepas dari Tono.
Meskipun Tania sadar, nantinya dia tak akan bisa kembali pada Rendi.
Bodoh sekali! Kalau aku, akan aku kuras semua isi kartu itu, batin Linda.
"Ya udah. Kalau begitu kita pulang. Siang ini aku ada urusan penting," sahut Tono tanpa meminta kembali kartu debitnya.
Tania mengangguk. Lalu memasukan kartu itu ke tasnya. Sebuah tas mahal juga, yang diberi Tono di barang seserahan perkawinannya.
Linda hanya bisa menelan ludahnya. Dia tahu kalau tas yang dibawa Tania, bukan tas murahan.
Dan kartu itu....Awas aja, kapan-kapan aku akan ambil. Dan akan aku kuras habis isinya.
Tapi nomor pin-nya?
__ADS_1