
Tono yang sedari tadi menunggu, membuka ponsel untuk mengecek beberapa pesan masuk, mengangkat wajahnya.
Dia seperti mendengar suara yang tak asing di telinganya.
Tono mengedarkan pandangannya. Tak ada yang dikenalinya.
Tak jauh dari gerobak nasi goreng, Tania berdiri ikut mengantri. Tapi karena Tania bersembunyi di balik masker dan jaketnya, Tono tak bisa mengenali.
Apalagi Tono juga sudah sangat lelah. Dia jadi kurang fokus memperhatikan orang.
Tono kembali menunduk, melihat lagi ponselnya.
Tania masih berdiri, hingga seorang pelayan warung itu memberinya kursi.
Tania memilih duduk di luar. Karena di dalam dilihatnya penuh. Beberapa orang sedang makan, beberapa lagi menunggu pesanannya datang.
Tania tak memperhatikan kalau di antara orang-orang itu, ada Tono.
"Sendirian, Bu?" tanya Tono pada seorang wanita yang baru masuk dan duduk di sebelahnya. Wanita itu juga ikut mengantri.
Degh!
Jantung Tania serasa mau copot. Tania mendengar suara Tono.
Perlahan Tania melirik ke arah suara itu.
Sialan!
Itu Tono!
Tono sedang bicara dengan seorang wanita yang barusan masuk.
Tania mencoba tetap tenang. Dia berpikir kalau mencancel pesanannya, berarti Tania harus bicara pada penjualnya. Itu bisa saja mengundang perhatian Tono, karena mendengar suaranya.
Kalau mau kabur begitu saja, bisa-bisa dia diteriakin. Dan malah bisa lebih gampang ketahuan.
Akhirnya Tania memilih tetap duduk menunggu, sambil bersiap lari kalau ketahuan Tono.
Tania juga berusaha menajamkan pendengarannya. Dia harus tahu apa yang kira-kira akan dilakukan Tono. Dan memastikan dengan siapa saja Tono di dalam.
"Iya, Pak. Lagi nungguin suami saya dirawat," jawab wanita itu.
"Ooh. Suaminya sakit apa?" tanya Tono.
Tono sengaja mengajak wanita itu bicara, karena dia merasa sangat ngantuk.
Membuka ponsel dan membaca beberapa pesan masuk, membuat matanya malah semakin ngantuk.
"Tekanan darah tinggi, Pak. Tadi sore tensinya naik lagi," jawab wanita itu. Dia juga sepertinya butuh teman bicara.
Tono mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Bapak sendiri?" tanya wanita itu.
Tania terus saja berusaha menguping. Suasana malam yang sudah sepi membuat suara mereka cukup jelas, meski balapan dengan suara penggorengan.
"Saya menunggui anak. Dia tadi pagi...kecelakaan," jawab Tono.
"Oh, ya ampun. Kecelakaan motor, Pak?" tanya wanita itu.
"Iya," jawab Tono berbohong. Tak mungkin juga Tono mengatakan yang sebenarnya.
"Terus? Parah?" Suara wanita itu terdengar ikut khawatir.
"Iya. Kepalanya luka parah. Tangan dan kakinya patah." Suara Tono terdengar parau.
Degh!
Hati Tania teriris mendengarnya. Dia tak menyangka keadaan Rendi separah itu.
Yang Tania tahu hanya luka di kepala Rendi yang parah, dan banyak mengeluarkan darah.
"Ooh!" pekik wanita itu. Dia menangkup mulut dengan telapak tangannya.
"Tapi sudah dioperasi tadi. Dan Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Anak saya sempat kehilangan banyak darah. Untung darah istrinya cocok. Jadi bisa cepat ditolong," ucap Tono.
Istrinya? Dia menyebutku sebagai istri Rendi lagi. Bahkan pada orang yang baru ditemuinya. Batin Tania.
Tania merasa bahagia. Sepertinya Tono akan rela memberikan Tania pada Rendi. Tapi Tania belum yakin itu.
"Tapi kata dokter, proses penyembuhan anak saya akan lama. Terutama kakinya. Bisa jadi anak saya akan menghabiskan hidupnya di atas kursi roda." Suara Tono kembali terdengar parau.
Tania sangat terkejut mendengarnya. Ingin rasanya dia menghampiri Tono dan mengatakan kalau Rendi akan baik-baik saja.
Tania tak bisa membayangkan kondisi Rendi nantinya. Rendi pasti akan sangat terpuruk.
Tak terasa air mata membanjiri pipi Tania. Tania ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi dia berusaha menahannya. Bahkan Tania menahan isakannya.
"Kasihan sekali. Anak Bapak sudah punya anak?" tanya wanita itu.
"Belum. Dia...baru saja menikah," jawab Tono.
Tania semakin merasa terharu.
"Semoga istrinya mau menerima keadaan anak Bapak, ya?" ucap wanita itu berusaha menguatkan Tono.
"Iya. Semoga." Hanya itu yang bisa Tono katakan. Karena kenyataannya Tania pergi entah kemana.
Tono sangat mengkhawatirkan kondisi Rendi nantinya, seandainya dia tak bisa menemukan Tania lagi.
Dia juga mengkhawatirkan Tania. Di rumah Danu tak ada. Semoga saja Tania ada di rumah Widya.
Tono tahu kalau Tania tak punya keluarga lain selain paman dan budenya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Tono berdering. Tono beranjak dari duduknya.
"Saya keluar dulu, mau terima telpon," pamit Tono pada wanita itu dengan sopan.
"Iya, Pak. Silakan," sahut wanita itu dengan sopan juga.
Tono berjalan keluar warung. Dia berdiri di dekat Tania duduk.
Tania terkesiap melihatnya. Tapi dia berusaha tetap tenang. Dan Tania perlahan menghapus air matanya. Juga menekan suara isakannya. Agar tak tersengar Tono.
Tania sedikit menundukan wajahnya. Pura-pura tak peduli dengan keberadaan Tono.
"Ya hallo. Gimana Danu?" tanya Tono.
Paman Danu yang menelpon? Mata Tania terbelalak. Dadanya semakin bergemuruh.
Tania kembali menajamkan pendengarannya.
"Kamu gimana sih? Begitu aja enggak bisa ketemu. Coba kamu cari ke rumah Widya!" ucap Tono.
Paman Danu juga ikut mencariku? Pasti paman dan bibi sangat khawatir. Batin Tania.
"Enggak ada juga? Kamu sudah geledah rumahnya?" tanya Tono.
"Ah! Itu cuma akting saja. Pake pura-pura nangis. Aku tau, Tania pasti ada di dalam rumahnya. Memangnya Tania mau kemana lagi, malam-malam begini?" tanya Tono penuh rasa khawatir.
"Ya sudah. Coba kamu cek semua hotel di kota ini. Enggak mungkin kan, kalau Tania tidur di kolong jembatan?"
"Ya sudah. Nanti aku telpon lagi. Pastikan Tania ketemu malam ini. Kondisi Rendi semakin kacau. Dia tadi mengamuk. Dokter sudah memberinya obat penenang. Tapi masalahnya, bagaimana kalau Rendi sadar dan menanyakan Tania lagi? Cari Tania sampai ketemu! Atau aku akan mengusir kamu dan istrimu dari rumah pemberianku!" ancam Tono.
Lalu Tono menutup telponnya, sambil terus menggerutu.
"Begitu saja enggak pada becus!"
Tono mengantongi ponselnya.
"Tania, kamu dimana?" tanya Tono pelan. Pelan banget. Tapi posisi Tania yang tak jauh darinya, membuat Tania mendengar dengan jelas.
Sebenarnya Tania ingin mengatakan kalau dia ada di sini, dan masuk ke rumah sakit menemui Rendi.
Tapi Tania tak yakin dengan omongan Tono. Karena dia sering sekali ingkar janji.
Belum lagi sikap mamanya Rendi yang dirasakan Tania kurang baik padanya. Tania takut nanti malah dia diusir atau akan kembali dikurung oleh Tono.
Besok aku akan ke rumah sakit lagi diam-diam. Tanpa sepengetahuan mereka. Batin Tania.
"Pak, nasi gorengnya sudah jadi!" Penjual nasi goreng memberikan pesanan Tono.
Dan setelah Tono membayarnya, dia kembali ke rumah sakit. Tono berjalan dengan langkah lunglay.
Tania bisa melihat wajah lelah Tono. Dia sebenarnya merasa kasihan. Tapi siapa yang akan menolongnya nanti kalau Tono kembali mengurungnya?
__ADS_1
Tania pun hanya menatap Tono yang terus berjalan menuju rumah sakit.