HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 155 MONICA HALU


__ADS_3

"Tania...!" seru Tono.


Tania langsung mengambil langkah seribu. Dia tak mempedulikan banyak mata yang menatapnya.


Juga panggilan Tono.


"Tania! Tania...! Berhenti!"


Tania terus saja berlari hingga sampai di depan rumah sakit dan menyetop angkot yang kebetulan melintas.


Mata Rendi terbelalak melihat Tono. Tapi sayangnya, dia tak bisa berbuat apa-apa.


Kakinya belum bisa digerakan. Tangannya pun masih terhubung dengan selang infus.


Monica dan Sari pun melihat kejadian itu. Jantung Sari terasa akan lepas.


Sari tahu kalau Tono sedang mencari Tania. Dan Tono akan menyerahkan Tania pada Rendi, kalau sudah ketemu.


Tono sendiri tak bisa mengejar Tania yang berlari dengan cepat. Selain kondisinya yang masih lemah, tenaganya pun tak memungkinkan.


Akhirnya Tono hanya bisa menatap kepergian Tania. Dia biarkan Tania berlari. Tapi ada keyakinan di hati Tono, bahwa dia akan berhasil menemukan Tania.


Apalagi Tono sudah melibatkan keluarga Tania untuk mencari. Tak mungkin Tania tidak mencari keluarganya.


Lalu Tono melangkah masuk ke kamar Rendi. Dia menghampiri Rendi.


"Sejak kapan Tania di sini, Ren?" tanya Tono.


Rendi menggeleng. Dia tak mau menjawab pertanyaan Tono. Dia pun takut kalau Tono mengingkari janjinya dan kembali mengurung Tania seperti dulu.


Tono menghela nafasnya. Lalu menatap Sari yang berdiri berdekatan dengan Monica.


Tono menatap Monica. Menelisik penampilan Monica yang menurutnya terlalu seksi. Bahkan cenderung kurang sopan.


Monica mengenakan rok mini dan blouse yang ketat. Menonjolkan isi dadanya yang padat.


"Siapa dia?" tanya Tono pada Sari.


Tono merasa kurang suka melihatnya. Meskipun Tono penikmat wanita seksi. Tapi itu sebelum Tono tahu kalau dia terserang penyakit kotor.


Setelah Tono tahu kondisinya, dia jadi merasa jijik melihat wanita-wanita seksi yang mengumbar auratnya.


"Ini Monica. Pacarnya Rendi. Calon istri!" jawab Sari.


Mata Tono terbelalak.


"Apa? Kamu juga menginginkannya?" tanya Sari penuh curiga.


"Selamat sore, Om," sapa Monica. Dia berjalan dengan gaya sangat menggoda mendekati Tono.


Sari mendengus jengah. Kalau saja bukan karena misinya ingin menyingkirkan Tania, tak akan mungkin Sari mau dekat-dekat dengan Monica.


Dada Tono berdegup kencang. Bukan lagi karena nafsu. Tapi emosi mendengar wanita seksi yang melenggok di depannya adalah calon istri anaknya.


Monica mengulurkan tangannya pada Tono. Matanya pun menatap menggoda pada Tono.

__ADS_1


Oh, ini papanya Rendi? Suaminya Tania? Tua sekali! Tapi kelihatannya banyak uang. Batin Monica.


Tono tak menyambut tangan Monica. Bukan dia takut tergoda oleh Monica, tapi dia merasa jijik.


"Benarkah itu, Rendi?" tanya Tono sambil berbalik menatap Rendi. Dia abaikan Monica.


"Tidak, Pa. Rendi maunya Tania!" jawab Rendi.


Tono mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati, Tono berjanji akan memberikan Tania pada Rendi.


"Rendi! Jangan ngaco, kamu!" seru Sari.


"Ngaco apa?" tanya Tono, dia berbalik menatap Sari.


"Calon istri Rendi ya Monica. Bukan Tania! Mama enggak akan setuju!" jawab Sari.


"Enggak, Ma. Rendi maunya Tania!" sahut Rendi dengan tegas. Apalagi dia merasa sudah di beri dukungan oleh Tono.


"Enggak akan! Mama tak akan pernah menyetujuinya!" sahut Sari.


Monica hanya diam dengan senyuman penuh kemenangan. Dia merasa berhasil mendapatkan dukungan dari Sari.


"Kenapa?" tanya Tono tak mengerti.


Menurut Tono, Tania jauh lebih baik daripada Monica. Lebih cantik. Hanya kalah seksi saja. Karena Tania selalu berpakaian sederhana. Tak pernah menonjolkan aset-aset pribadinya.


"Rendi sudah merenggut kesucian Monica!" jawab Sari dengan lantang. Padahal itu hanya akal-akalan Monica saja. Sari jelas tak tahu yang sebenarnya.


Tono terbelalak mendengarnya. Tak disangkanya, Rendi menuruninya yang hobi memerawani wanita.


Monica terbelalak mendengar ucapan Rendi. Tapi dia tak kehabisan akal.


"Kamu mengingkarinya, Rendi?" tanya Monica dengan suara dibuat serak. Dia upayakan matanya berkaca-kaca.


"Mengingkari apa? Aku tak mengingkari apapun. Kita belum pernah melakukannya, Monica!" sahut Rendi.


"Tega sekali kamu, Rendi....Hiks...! Kita pernah melakukannya di hotel, Rendi. Dan itu yang pertama buatku. Hiks..." ucap Monica sambil terisak.


Tono bingung mendengarnya.


Rendi mengingkarinya, tapi Monica malah menangis terisak memilukan.


Sari menepuk bahu Monica. Dia juga sebenarnya bingung.


Dulu waktu Rendi mengambil kesucian Tania, mengakuinya pada Sari. Dan itu membuat Rendi down, saat Tono tak mau juga menyerahkan Tania padanya.


Tapi sekarang, kenapa Rendi malah mengingkarinya? Atau karena dipengaruhi Tania?


Tania menghasut Rendi, agar Rendi mau menerimanya yang bekas Tono?


Lalu Sari berjalan mendekati Rendi.


"Rendi. Akui saja, Sayang. Mama enggak akan marah, kok," ucap Sari berusaha sabar.


"Akui apa, Ma?" tanya Rendi tak mengerti. Kenapa mamanya menuntut dia untuk mengakui hal yang tak pernah dilakukannya?

__ADS_1


"Kamu telah melakukannya pada Monica, kan? Kalau memang benar, Mama akan segera menikahkan kalian. Mama juga tak mau kalau Monica sampai hamil," jawab Sari.


Tono semakin bingung mendengarnya.


Monica sendiri semakin tersenyum licik penuh kemenangan.


"Enggak, Ma! Demi Allah! Rendi tak pernah melakukannya!"


Duer...!


Jantung Sari seakan mencelos mendengarnya. Rendi sudah mengucapkan sebuah kata sakral. Tak mungkin tak mempercayainya.


"Benarkah?" tanya Sari.


Dalam hati, Sari berharap yang diucapkan Rendi benar. Karena Sari memang tak sudi bermenantikan Monica.


"Bohong, Tante...! Hiks...! Kami telah melakukannya. Hiks..." Monica menangis tersedu-sedu.


"Jangan bersandiwara kamu, Monica! Kita tak pernah melakukannya sejauh itu!" ucap Rendi.


Rendi masih ingat, saat itu Monica menjebaknya hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kamar hotel.


Di sana Monica terus berusaha menahan Rendi. Dengan alasan menunggu saudaranya yang akan datang dari luar kota.


Monica menolak menunggu di loby. Alasannya, dia capek kalau duduk menunggu di sana.


Dan di dalam kamar hotel, Monica malah melepaskan pakaian luarnya. Hanya menyisakan lingerie.


Rendi yang saat itu sedang mencoba menjalin hubungan serius dengan Monica, dan juga ingin melupakan Tania dari hidupnya, tak menolak ajakan Monica untuk bercumbu.


Mereka bercumbu sampai akhirnya lingerie yang dikenakan Monica pun terlepas. Dan tak ada sehelai benangpun melekat di tubuh seksinya.


Sebagai lelaki normal, tentu saja Rendi tergoda. Diapun mulai melepaskan satu persatu pakaiannya, dengan dibantu Monica tentunya.


Tapi saat senjatanya akan dikeluarkan dari sarangnya, Rendi tersadar. Bahwa apa yang akan dilakukannya adalah sebuah kesalahan.


Rendi teringat lagi saat dia melakukannya pada Tania. Dia merasa sangat berdosa pada Tania. Karena telah merenggut kesuciannya.


Dan di saat itulah, Rendi menepiskan tangan Monica. Monica tetap berusaha memaksanya.


Kesadaran Rendi malah semakin besar. Dia bahkan menghempaskan tubuh Monica ke atas tempat tidur.


Lalu bergegas memakai pakaiannya lagi dan keluar dari kamar.


Rendi masih ingat itu. Mereka tak melakukannya.


Semua hanya karangan Monica. Hanya daya halusinasi Monica saja.


"Baik! Kalau kamu tak mau mengakuinya, enggak apa-apa. Dan seandainya aku sampai hamil, jangan pernah mengakui anak ini sebagai anakmu!" Monica mengelus perutnya yang rata.


Kepala Sari langsung berkunang-kunang. Dunia terasa berputar.


Lalu Sari ambruk di dekat ranjang Rendi.


"Mama...!"

__ADS_1


__ADS_2