HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 179 PERMINTAAN MAAF TONO


__ADS_3

Tono terbangun dari tidurnya menjelang isya. Dia tidur sendirian di kamarnya. Tak ada Tania atau istrinya yang lain.


Tono memang sudah memutuskan untuk menceraikan semua istri-istrinya, kecuali Sari.


Tono berharap Sari mau menemani di hari tuanya nanti. Walaupun sebenarnya sekarangpun Tono sudah tua.


Tono keluar dari kamarnya sambil membawa segepok uang.


"Asih. Buatkan aku kopi sama makan. Aku lapar," ucap Tono.


"Kalau makan, saya udah siapin, Pak. Nanti kopinya saya buatkan," sahut Asih.


Tono duduk di kursi makan. Dia letakan uangnya di atas meja.


Asih cuma meliriknya sekilas. Dalam hatinya berkata, enak sekali jadi anak buahnya Tono. Dapet bayaran gede semua.


Sedangkan dia dan Yahya, persis seperti kerja rodhi di jaman penjajahan Belanda. Udah enggak dibayar, masih sering dimaki-maki juga.


Asih mengambilkan piring buat Tono. Tak lupa gelas berisi air putih juga.


"Kopinya mau sekarang apa nanti?" tanya Asih.


"Nanti aja. Aku makan dulu," jawab Tono. Dia pun makan dengan lahap.


Kemarin-kemarin di rumah sakit, dia tak bisa merasakan nikmatnya makanan. Apalagi saat statusnya jadi pasien, semua makanan terasa hambar.


"Di mana Yahya?" tanya Tono.


"Ada di depan. Mau saya panggilkan?" tanya Asih.


"Ya. Panggil suruh kesini," jawab Tono. Lalu dia kembali makan.


"Pak. Dipanggil Tono, tuh," ucap Asih.


Yahya lagi asik ngopi sambil merokok, di teras rumah Tono.


Yahya segera mematikan rokoknya, lalu masuk diikuti Asih.


"Mau ngapain dia manggil, Bu?" tanya Yahya.


"Mana aku tau. Orangnya lagi makan," jawab Asih.


Yahya pun berjalan menuju ruang makan.


"Ada apa, Juragan?" tanya Yahya dengan sopan.


"Duduk sini. Kamu juga, Asih," ucap Tono sambil menunjuk kursi di depannya.


Yahya dan Asih mengangguk dengan sopan.


"Yahya, Asih. Aku mau minta maaf sama kalian." Tono meneguk air putihnya dulu.


Yahya dan Asih berpandang-pandangan. Ada kecemasan dalam hati mereka. Pasalnya, Tono jarang sekali menyuruh mereka berkumpul, kecuali saat dia marah atau menginginkan sesuatu.


"Maafkan aku, karena aku tak pernah mempedulikan kesejahteraan kalian. Aku selama ini terlalu egois. Bahkan terlalu menekan kalian." Tono menatap wajah Yahya dan Asih bergantian.

__ADS_1


Yahya dan Asih hanya diam saja. Mereka masih belum paham arah omongan Tono.


Asih hanya membatin, apa Tono udah mau mati? Sampai minta maaf segala.


"Mulai sekarang, aku akan menggaji kalian berdua setiap bulannya. Seperti aku menggaji anak buahku yang lain," ucap Tono.


Yahya dan Asih membelalakan matanya. Mereka terkejut bukan main dengan omongan Tono.


"Dan ini, uang kompensasi buat kalian. Karena kalian udah bekerja untukku selama ini." Tono menyorongkan uang yang tadi dibawanya, ke depan Yahya dan Asih.


Yahya dan Asih kembali berpandang-pandangan.


Abis kepentok di mana kepala Tono? Tiba-tiba jadi baik begini? Asih kembali membatin.


"Ambil. Itu hak kalian. Hak yang selama ini tak pernah aku berikan," ucap Tono lagi.


Yahya menghela nafasnya. Lalu mengangsurkan kembali uang Tono.


Tono mengernyitkan dahinya.


"Maaf, Juragan. Bukannya saya menolak, tapi saya tidak bisa menerima uang ini," ucap Yahya.


Asih menoleh. Dia menatap wajah Yahya dengan tajam.


Bodoh sekali sih, ini orang. Ambil aja. Kan bisa buat bekal, kalau suatu saat mereka selesai menjalani perjanjian. Atau kepepetnya kalau mereka harus kabur.


Batin Asih.


"Kenapa?" tanya Tono dengan heran.


"Kami masih punya banyak hutang dengan Juragan. Kami tak mau kalau suatu saat nanti kami meninggal, masih membawa hutang yang belum terbayarkan," jawab Yahya.


Sementara Asih hanya bisa menghela nafasnya.


Urusan mati, dibawa-bawa. Hutang sama rentenir macam Tono sih, enggak bakalan dihisab! Batin Asih dengan kesal.


"Yahya. Asih. Mulai sekarang, aku anggap hutang kalian lunas. Tak ada lagi hutang piutang diantara kita," ucap Tono.


"Hah...!" Yahya dan Asih sama-sama kembali terkejut.


Wah, di rumah sakit dokter kasih suntikan apa ya, pada Tono? Sampai segini baiknya. Tanya Asih dalam hati.


"Iya. Mana surat perjanjian yang kalian bawa?" pinta Tono.


"Ada. Saya simpan di kamar," jawab Asih.


Asih menyimpannya baik-baik. Karena dia mau ada bukti, kalau suatu saat waktu yang diberikan Tono selesai.


"Bawa ke sini. Sekalian sama pulpen," pinta Tono.


Dengan ragu, Asih berdiri dan mengambil di kamarnya.


Lalu dia memberikannya pada Tono beserta pulpen.


"Ini, Pak." Asih mengangsurkannya pada Tono.

__ADS_1


Tono membacanya sekilas. Memastikan kalau itu benar surat perjanjian yang dibuatnya dulu dengan Yahya dan Asih.


Lalu Tono menandatangani surat itu dan menuliskan kata lunas di bawahnya.


Yahya dan Asih kembali tercengang.


"Nih!" Tono memberikan kembali surat itu, beserta uang yang tadi.


"Ini serius, Juragan?" tanya Yahya tak percaya.


"Apa kamu pikir, aku cuma main-main?" Tono balik bertanya.


"Mm. Maksud saya, apa Juragan sadar melakukan ini semua?" Yahya melirik surat dan uang itu.


Meski dalam hatinya, Yahya senang sekali menerimanya, tapi masih ada keraguan dalam hatinya.


"Aku sadar sesadar-sadarnya. Tapi aku minta syarat pada kalian," ucap Tono.


Aduh! Pake syarat juga. Jangan sampai lebih parah lagi syaratnya. Batin Asih.


"Apa syaratnya, Juragan?" tanya Yahya.


"Aku cuma minta satu. Kalian tetap ikut aku, sampai aku mati nanti," jawab Tono.


Wah, beneran udah mau mati ini orang. Sikapnya tiba-tiba berubah. Asih kembali membatin.


"Jangan bilang begitu, Juragan. Pamali," ucap Yahya.


"Enggak apa-apa, Yahya. Namanya manusia hidup kan bakalan mati," sahut Tono.


Baru sadar apa dia, kalau semua orang bakal mati? Dari kemarin kemana aja? Asih menggumam dalam hati.


"Oh, iya. Aku juga mau menceraikan Tania. Lalu akan menikahkan Tania dengan anakku, Rendi," ucap Tono.


Yahya dan Asih lagi-lagi tercengang.


"Kini aku sadar, kalau Rendi sangat mencintai Tania. Begitu juga sebaliknya. Dan aku tak akan menghalanginya lagi."


Tono berhenti bicara, lalu meneguk minumnya yang tinggal sedikit.


"Mau saya ambilkan lagi, Pak?" tanya Asih.


"Boleh. Yang hangat, ya," jawab Tono.


Asih mengangguk. Lalu mengambilkan lagi air putih untuk Tono.


"Tadinya aku berharap, Sari istriku, mau menerimaku kembali ke rumahnya. Tapi kelihatannya dia masih menutup pintu hatinya untukku," ucap Tono.


Iyalah, ditutup. Siapa suruh kamu kerjaannya kawin mulu! Asih nyukurin Tono dalam hati.


"Kalau saja dia masih mau menerimaku, aku akan kembali ke sana. Menghabiskan masa tuaku dengannya. Dan kalian, tetap di sini menemani Tania juga Rendi."


Tono yang kelihatan masih kecapekan, menyudahi omongannya. Lalu pergi meninggalkan Yahya dan Asih.


Tono melupakan keinginannya dibuatkan kopi. Dia kembali masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa dengan Tono ya, Pak? Kenapa tiba-tiba jadi baik begitu?" tanya Asih pada Yahya.


"Enggak tau. Mau mati, kali!" jawab Yahya sambil mengambil uang dari Tono dan menyerahkan semuanya pada Asih.


__ADS_2