
"Kenapa pada diam? Apa yang sedang kalian rencanakan?" tanya Sari. Masih dengan menatap ketiganya.
"Enggak...enggak ada rencana apa-apa, Ma. Tadi Rendi cuma minta....Mila memasakan Rendi masakan yang enak," jawab Rendi asal.
Rendi belum siap berbohong dengan jawaban yang aman dan masuk akal.
"Memangnya Mila bisa masak?" Sari meragukan kemampuan Mila.
Mila tak berani menjawab. Apalagi tadi dia melihat sendiri bagaimana Sari berdebat dengan Tono dan tak mau mengalah.
Suaminya sendiri saja dibantai habis-habisan. Apalagi dia yang hanya seorang pegawainya.
"Bisa lah, Ma. Masa perempuan enggak bisa masak." Rendi berusaha membela Mila.
"Paling juga masak mie instant. Iya kan, Mil?" tanya Sari pada Mila.
"Sedikit-sedikit saya bisa masak juga, Bu. Tapi mungkin rasanya kurang pas buat orang lain," jawab Mila merendah.
Padahal kenyataannya, Mila jago juga masak. Dulu di panti, dia sering membantu bu Hani menyiapkan masakan buat penghuni panti.
Bahkan kalau bu Hani sedang pergi atau kurang enak badan, Mila yang menggantikan memasak.
Tapi sekarang, Mila membiarkan saja Sari meremehkannya. Yang penting aman.
Sri pun mengakui kemampuan memasak Mila. Tak kalah dengan masakannya.
Memang selama ini Sri tak pernah bilang pada siapapun tentang kemampuan Mila itu.
Jadi majikan mereka menganggap Mila tak bisa memasak sama sekali.
Yang mereka tahu, Mila selalu payah dalam pekerjaan lain, selain merawat orang sakit.
"Tuh, kamu denger sendiri kan, pengakuan Mila?" Sari menatap wajah Rendi.
"Iya, Ma. Tapi Rendi pingin membuktikannya sendiri. Boleh, kan?" pinta Rendi.
Sengaja Rendi ngotot, biar Sari percaya kalau dia sedang menantang Mila untuk memasak.
"Boleh aja. Besok Mila yang masak buat makan malam. Mama juga akan membuktikan. Sri, kamu enggak usah bantuin. Biar Mila sendiri yang masak!" ucap Sari.
Sri mengangguk patuh.
"Gimana, Mila? Berani terima tantangan?" tanya Sari.
"Siap, Bu. Nanti saya masak yang spesial," jawab Mila.
Padahal dalam hati galau juga. Bukankah besok rencananya mereka mau piknik? Terus kapan masaknya?
Dan untungnya Rendi mengedipkan mata pada Mila. Memberikan rasa tenang pada Mila.
__ADS_1
"Ya udah. Sekarang siapkan makanan. Kita mau makan," ucap Sari.
"Sudah siap dari tadi, Bu," sahut Sri.
Sejak tadi Sri sudah menyiapkan makanan yang dimaui Sari, dengan dibantu Mila tentunya.
"Ayo, Ren. Kita makan," ajak Sari. Perutnya sudah keroncongan. Sejak siang tadi, dia belum makan. Jadi makan malam mereka lebih awal.
Demi misinya mengajak piknik pegawai di rumahnya tak gagal, Rendi menurut. Lalu berdiri dan menuju meja makan.
"Papa mana, Ma?" tanya Rendi.
"Papamu masuk kamar lagi. Biarin aja. Nanti kalau lapar juga keluar," jawab Sari.
"Jangan begitu, Ma. Papa kan lagi sakit," ucap Rendi.
Rendi kini lebih pro pada Tono daripada Sari. Karena sekarang Tono jauh lebih bijaksana. Sedangkan Sari masih pada mode egois tingkat tinggi.
"Siapa bilang sakit? Papamu baik-baik aja!" sahut Sari.
Tono memang selalu bersikap seolah dia baik-baik saja di depan Sari. Karena mengeluhpun malah akan membuat dirinya semakin direndahkan Sari.
"Ma. Tadi papa sempat down loh. Kondisinya memprihatinkan," ucap Rendi masih membela Tono.
"Udah deh, kamu enggak usah mikirin papamu. Bukankah dulu papamu juga begitu? Mana peduli dia dengan kamu? Dengan kita?" Sari masih saja menyimpan dendam pada Tono.
"Ma. Papa sekarang sudah sadar. Papa tidak jahat lagi kayak dulu!" sahut Rendi.
"Ma. Apa salahnya kita memaafkan orang yang sudah menyadari kesalahannya? Setiap orang kan pasti punya kesalahan!" Rendi pun tetap ngotot membela Tono.
"Kamu mau memaafkan papamu, karena dia mau mendukung hubungan kamu sama si Tania itu, kan?" Sari selalu saja menuduh seperti itu.
"Iya, pastinya. Papa sudah mau melepaskan Tania untuk Rendi. Bagi Rendi itu sudah lebih dari cukup buat memaafkan kesalahan papa!"
"Memberikan wanita yang sudah ditidurinya? Sudah gila apa, kamu? Memangnya di dunia ini tak ada wanita lain?" Sari selalu saja menganggap Tania sudah ditiduri Tono.
"Enggak, Ma. Mereka tak pernah melakukannya!" Rendi membela Tania. Dia percaya dan yakin kalau Tono tak pernah menyentuh Tania. Seperti yang dikatakan keduanya.
"Mana mungkin? Kamu tau sifat papamu itu? Dia itu maniak! Dan akan melepaskan wanita kalau sudah bosan. Lalu bakal mencari wanita lain!" Sari tetap tak percaya pada pengakuan Tono.
"Tapi tidak dengan Tania, Ma!" Rendi pun tetap mempercayai Tania.
"Apa buktinya kalau papamu tak meniduri Tania? Kamu bisa membuktikannya?" tantang Sari.
Rendi menghela nafasnya yang serasa menyesakan dada.
"Rendi memang tak bisa memberikan bukti apapun. Tapi setidaknya pengakuan dari pegawai di rumah papa, bisa meyakinkan Rendi. Mereka yang jadi saksi, kalau papa dan Tania pisah kamar. Karena papa....membawa wanita lain lagi," ucap Rendi. Lalu menghela nafasnya dalam-dalam.
"Hahaha....!" Sari tertawa tergelak.
__ADS_1
"Benarkan yang Mama bilang tadi? Papa kamu bosan dengan si Tania. Lalu membawa wanita lain lagi. Makanya Tania dikembalikan padamu. Kamu sadar enggak sih, Rendi?"
Sari merasa sangat gemas dengan Rendi yang masih saja membela Tania.
"Apapun yang telah terjadi dengan Tania, Rendi akan tetap mencintainya, Ma," ucap Rendi mengalah.
Percuma saja membela Tania di depan orang yang tak menyukainya. Pasti akan selalu dijatuhkan.
"Cinta? Kamu mencntai wanita yang kotor itu?" Sari semakin menghina Tania.
"Ma!"
Brak!
Pyar!
Rendi menggebrak meja makan dengan keras. Membuat beberapa sayur kuahnya tumpah. Bahkan gelas yang sudah berisi air putih, jatuh ke lantai dan berantakan.
Bukannya Rendi mau bersikap kurang ajar pada mamanya sendiri. Tapi ucapan Sari sangat menyakitkan.
Mila dan Sri juga Yadi yang ikut mendengarkan percekcokan itu saling berpandangan.
Sebenarnya Mila ingin sekali berlari menghampiri. Dia khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan.
Tapi Yadi menahannya. Sri pun ikut memegangi tangan Mila.
"Udah, diemin aja. Nanti juga baik lagi," bisik Sri di telinga Mila.
Tono yang mendengar suara keributan itu, bergegas turun dari kamar Rendi. Lalu menghampiri ke ruang makan.
"Ada apa, ini?" tanya Tono melihat meja makan yang sudah berantakan.
Sari menangis tergugu karena Rendi bersikap kasar padanya. Meski tak melukai fisik Sari.
"Ribut lagi? Soal Tania lagi?" tanya Tono.
Tak ada yang menjawab. Mereka sedang bergelut dengan perasaan masing-masing.
Rendi masih dikuasai emosi. Meskipun ada penyesalan di hatinya. Dia sudah membuat mamanya menangis.
Rendi terpaksa menggebrak meja, karena Sari bukannya mengalah, tapi malah semakin menjadi.
Rendi menghela nafasnya. Lalu berusaha berdiri dan menghampiri Sari.
"Ma. Maafkan Rendi," ucap Rendi sambil memeluk bahu Sari dari belakang.
Sari malah semakin tergugu.
"Tuh, kan. Aku bilang juga apa? Mereka baikan lagi," bisik Sri.
__ADS_1
Mila dan Yadi pun menghela nafas lega.