HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 276 LIHAT PEMANDANGAN


__ADS_3

Begitu Sari berangkat ke toko, Rendi langsung masuk ke dalam. Tapi kemudian berbalik lagi.


"Pa. Hari ini kita mau refreshing. Jalan-jalan ama Tania dan keluarganya. Dito dan Mike juga ikut. Pak Yadi, mbak Sri juga Mila," ucap Rendi pada Tono.


"Kemana?" tanya Tono.


"Jalan ke pantai aja, Pa," jawab Rendi.


"Papa mau ikut?" tanya Rendi. Tentunya Rendi bakal seneng banget kalau Tono mau ikut.


"Kayaknya Papa enggak bisa ikut. Hari ini Papa mau kontrol ke rumah sakit," jawab Tono.


Mila yang kebetulan baru mau lihat situasi di luar, mendengarnya.


Waduh, pak Tono mau kontrol. Bisa-bisa aku gak jadi diajak healing, nih. Batin Mila dengan cemas.


"Lho, memangnya jadwal kontrol sekarang, Pa? Bukannya baru kemarin Papa ke dokter?" tanya Rendi.


"Papa udah janji, hari ini mau ketemu lagi, Ren," jawab Tono.


Tono tak mengatakan pada Rendi, kalau hari ini dia janjiannya dengan dokter ahli penyakit jantung. Karena dikhawatirkan jantung Tono bermasalah.


"Tapi, Mila mau Rendi ajak jalan-jalan, Pa," ucap Rendi.


Mila yang mendengarnya sedikit lega. Ada pembelaan dari Rendi.


"Enggak apa-apa. Nanti biar Diman yang antar Papa. Sekalian mau ajak Tajab kontrol juga. Kamu ajak aja Mila. Biar dia juga bisa jagain kamu, Ren," ucap Tono.


Mila semakin merasa lega. Lalu kembali ke dapur, membantu Sri menyiapkan makanan yang bakal mereka bawa.


Diam-diam Sri dan Mila sudah menyiapkan makanan untuk mereka nanti makan di sana. Meskipun Rendi sudah bìlang akan mentraktir makan di restauran.


Menurut Sri, kalau makanan di restauran pasti mahal-mahal. Takutnya nanti kalau mereka makannya banyak, malah merepotkan Rendi.


"Udah beres, Mbak?" tanya Mila.


"Udah. Tinggal angkut aja ke mobil. Nanti biar pak Yadi bantu angkat," jawab Sri.


Sri sedang memberesi bekas makan keluarga Rendi. Semua harus rapi dan beres dulu, sebelum mereka pergi. Biar pulangnya nanti tak banyak pekerjaan lagi.


Mila pun membantu membawa piring-piring yang kotor. Lalu membantu Sri mencucinya. Biar cepat, Sri yang mencuci, Mila yang mengelapnya.


"Ya udah. Kalau begitu kita ganti baju. Paling bentar lagi kita berangkat," ucap Mila, setelah semua beres.


"Pak Tono ikut juga, kan?" tanya Sri.


"Tadi bilangnya sih, enggak. Katanya hari ini pak Tono mau ke rumah sakit," jawab Mila.


"Loh, terus kamu gimana?" tanya Sri khawatir.

__ADS_1


Bagaimanapun, Sri bakal merasa tak enak kalau Mila tidak ikut. Dia belum kenal dengan Tania juga keluarganya.


"Pak Tono mau berangkat sama mang Diman. Katanya sekalian mau bawa bang Tajab kontrol," jawab Mila.


"Oh. Kirain kamu yang disuruh nganter," sahut Sri.


"Ish! Aku batal healing dong," sahut Mila.


"Healingnya sama Tajab. Hahaha," goda Sri.


Mila pernah cerita tentang Tajab pada Sri. Dari cerita Mila, Sri menangkap ada rasa suka dari Mila.


"Males kalau healing ke rumah sakit. Udah bosen!" Mila melengos dan ngeloyor masuk ke kamarnya.


Sri terkekeh. Lalu dia pun masuk ke kamarnya sendiri.


"Papa mau berangkat jam berapa ke rumah sakitnya?" tanya Rendi pada Tono.


"Sekarang aja. Biar bisa cepet. Kalau kesiangan antrinya lama. Nanti kalau bisa pulang cepet, biar Papa nyusul ke sana," jawab Tono.


"Mang Yahya sama bik Asih diajak sekalian, Pa. Tania pasti seneng. Tania kan deket sama bik Asih," pinta Rendi.


Tono diam sejenak. Lalu mengangguk setuju.


Tadinya Tono tak ada niat untuk mengajak Yahya dengan Asih. Tapi kalau itu permintaan Rendi, apalagi demi Tania, Tono menyetujuinya.


"Iya, Pa. Nanti kalau Papa udah selesai dan mau nyusul, berkabar aja. Biar Rendi bisa share lokasi."


Rendi pun menyalami Tono dan menunggu sampai mobil Tono pergi.


"Mila! Mbak Sri!" teriak Rendi.


Tak ada jawaban, karena mereka lagi berada di kamar masing-masing.


"Ada apa, Mas Rendi." Yadi yang datang dan menyahut. Yadi sudah terlihat rapi.


"Mila sama mbak Sri mana?" tanya Rendi.


"Mungkin di kamar, Mas. Di dapur enggak ada siapa-siapa," jawab Yadi.


"Oh, ya udah. Suruh mereka siap-siap. Aku juga mau siap-siap. Pak Yadi siapkan mobilnya," ucap Rendi. Lalu berjalan perlahan menuju kamarnya.


"Iya, Mas. Siap," sahut Yadi.


Tapi Yadi tidak langsung melaksanakan perintah Rendi. Dia memperhatikan dulu Rendi berjalan ke kamarnya. Sambil berjaga-jaga kalau Rendi butuh bantuan.


Meski selama ini, jarang sekali Rendi minta bantuan. Yadi saja sampai heran pada semangat dan kemandirian Rendi.


Meski anak orang kaya, tapi Rendi tak pernah bersikap manja. Padahal ada alasan untuk itu. Karena kondisinya yang belum sembuh benar.

__ADS_1


Setelah yakin Rendi baik-baik saja dan sudah masuk ke kamarnya, baru Yadi mengambil kunci mobil.


Mobil milik Sari, hadiah ulang tahun dari Tono waktu itu. Yadi sudah sering membawanya kalau Rendi lagi tak ada waktu. Sekedar mengantar Sari pergi setelah pulang dari toko.


Karena kalau ke toko, Sari tak pernah mau naik mobil kecuali diantar Rendi.


Yadi memanaskan mobil dulu sekalian membersihkan bagian dalamnya. Dia ingin juga Rendi merasa nyaman dengan kondisi mobil yang bersih.


Kalau bagian luarnya, Yadi sudah mencucinya beberapa hari yang lalu. Karena mobil jarang dipakai jadi tak gampang kotor.


Yadi masuk ke dapur mencari Sri dan Mila.


"Pada kemana sih, ini orang? Katanya mau pada ikut, tapi malah pada ilang," gumam Yadi yang tak melihat Sri maupun Mila.


"Mila! Sri!" teriak Yadi.


Tak ada jawaban. Mereka masih asik bersiap di kamar masing-masing.


Yadi yang suka iseng, menuju ke kamar Mila. Dan tanpa permisi dulu, dia buka pintu kamar Mila yang kebetulan tak ditutup rapat.


"Aakkhh....!" teriak Mila yang masih hanya memakai dalaman saja.


Dengan serta merta Mila menutup bagian-bagian sensitifnya dengan kedua tangan.


Yadi melihatnya melotot tanpa berkedip. Pemandangan indah terpampang di depan matanya.


"Pak Yadi, ih! Keluar!" hardik Mila.


Mila menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya.


Yadi cuma terkekeh lalu keluar dan menutup pintu kamar Mila, sambil bergumam, "Siapa suruh pintunya enggak ditutup."


"Abis ngapain kamu di situ?" tanya Sri yang sudah selesai bersiap dan melihat Yadi menutup pintu kamar Mila.


"Abis liat pemandangan!" jawab Yadi tanpa merasa bersalah, lalu kembali ke depan.


Sri bengong mendengarnya.


Pemandangan? Emang di kamar Mila ada gunung apa? Batin Sri.


Lalu karena penasaran, Sri pun membuka pintu kamar Mila.


Dan Sri pun ternganga melihat Mila masih dengan dalaman saja.


Oh, pantes aja si Yadi seneng banget. Abis liat pemandangan gunung dan lembah. Batin Sri.


"Mbak Sri! Ih, sama aja ama pak Yadi! Ngapain sih?" teriak Mila.


"Liat pemandangan!" jawab Sri sambil nyengir.

__ADS_1


__ADS_2