HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 254 TERMAKAN OMONGAN


__ADS_3

"Permisi...! Every body home? Spada...!"


Suara teriakan orang yang terdengar sok gaul, membuat Eni yang sedang berada di kamar Tania terperanjat.


"Siapa itu, ya?" tanya Eni pelan pada Tania. Seolah takut kalau sampai orang yang teriak tadi mendengarnya.


"Enggak tau. Tamunya Bibi kali," jawab Tania, ikut-ikutan pelan.


"Mana ada tamunya Bibi pake bahasa begituan?" Biasanya tamu Eni hanya ibu-ibu yang kalau tidak menggunakan salam ya dengan bahasa daerah.


"Siapa tau ada pelanggan Bibi yang nyariin sampai kesini," sahut Tania.


"Iya. Tapi pelanggan Bibi itu cuma orang-orang kampung. Mana ada yang kenal istilah spada-spadaan. Gowes, kali!"


"Kamu yang keluar sana. Bibi tunggu di sini aja," ucap Eni.


"Kok Tania, sih? Bibi aja," tolak Tania.


"Kamu aja. Sana!" Eni tetap menyuruh Tania.


Tania yang baru saja mau ganti baju, akhirnya mengalah. Daripada lama-lama orang yang teriak makin mengganggu.


"Bibi ikutin dari belakang." Eni benar-benar persis anak kecil yang bisanya sembunyi dibalik badan temannya.


Tania melangkah dengan berusaha menenangkan diri. Sebenarnya tak sampai deg-degan juga, kalau saja Eni bisa bersikap biasa saja.


Tapi karena Eni tegang, Tania jadi ikutan tidak tenang.


Ceklek.


Tania membuka pintu perlahan-lahan. Dan matanya langsung melotot seperti mau lepas. Di depannya berdiri dengan angkuh, seorang wanita dengan pakaian minimalis.


Eni pun ternganga melihatnya.


Busyet. Ini orang baju udah kekecilan masih dipakai aja. Apa enggak bisa beli baju lagi ya? Eni malah merasa kasihan.


Dan reflek mata Eni melihat ke kanan dan ke kiri. Dia takut kalau tiba-tiba Danu ada di rumah dan melihatnya.


Ketakutan yang terlalu berlebihan. Karena jelas-jelas Danu belum pulang dari mengantar Rendi dan Tono.


"Ka....mu....!" ucap Tania tergagap.


"Iya!" Monica menjawab dengan singkat dan ketus. Matanya menelisik ke dalam rumah Eni.


Enipun menatap sinis ke arah Monica.


Tamu kok judes amat. Batin Eni.


Lalu Eni menyingkirkan tubuh Tania. Dia yang tadi agak takut-takut, kini merasa keberaniannya muncul.


"Mau cari siapa kamu?" tanya Eni tak kalah ketusnya. Matanya menelisik kembali penampilan Monica.


Gawat kalau sampai dia berlama-lama di sini. Bisa copot mata suamiku kalau liat yang beginian. Batin Eni.


Monica beralih menatap Eni dengan tatapan meremehkan.

__ADS_1


"Aku mau bicara dengan Tania!" jawab Monica.


Bicara denganku? Mau bicara soal apa? Kayaknya aku gak pernah ada urusan dengannya. Batin Tania.


"Bicara apa? Cepetan ngomong! Kami enggak punya banyak waktu!" ucap Eni dengan gaya sok sibuk.


"Apa kalian tidak punya sopan santun sebagai tuan rumah?" sindir Monica. Karena dia tak dipersilakan masuk dan duduk.


"Eeh. Berani-beraninya kamu ngatain kami enggak punya sopan santun. Kamu itu yang enggak punya malu! Baju udah kekecilan masih dipake aja!" Eni juga menyindir lebih pedas lagi. Kalau ini bukan sekedar sindiran, tapi cacian.


Monica melihat ke badannya sendiri. Lalu tersenyum sinis.


"Kenapa? Enggak pernah liat wanita seksi?" tanya Monica dengan pedenya.


"Cih!" Eni mendecih. Mau meludah tapi sayang lantainya, nanti malah kotor.


"Yang kayak gini sih bukan seksi! Tapi norak!" jawab Eni. Eni menatap bagian dada Monica yang berukuran jumbo dan hampir tersembul keluar.


Monica tak marah dengan komentar Eni. Dia masih saja merasa percaya diri.


"Silakan masuk," ucap Tania.


Tania mundur dan menarik lengan Eni untuk ikutan mundur juga. Memberikan ruang bagi Monica untuk masuk.


"Ngapain sih disuruh masuk?" bisik Eni pada Tania.


"Biar cepet selesai urusannya dan dia cepetan pulang, Bi," sahut Tania.


Monica pun melangkah masuk dengan berjalan angkuh. Tanpa mempedulikan bisik-bisik mereka.


Dasar tamu enggak sopan! Main masuk-masuk aja! Enggak lepas sepatu. Enggak tau apa, karpetku harganya mahal? Gumam Eni dalam hati.


"Heh! Lepas sepatu kamu! Nanti karpetku kotor!" seru Eni.


Monica tak mempedulikannya. Dia sudah terbiasa bersikap seperti itu dimanapun.


Menurut Monica, itu sebagai tanda dia punya kelas. Bukan seperti mau masuk ke masjid yang mesti melepas alas kaki.


Monica terlalu menyayangkan kakinya kotor kena debu. Dia terlalu gengsi untuk sekedar melepas sepatu.


Monica malah menyilangkan kakinya. Pandangannya lurus ke depan.


Tania duduk di depannya. Eni pun terpaksa ikut duduk di sebelah Tania.


"Mau ngomong apa?" tanya Tania.


Tania hanya ingin Monica segera ngomong dan pergi secepatnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Tania, Monica malah membuka tasnya. Dia mengambil sesuatu dari dalamnya.


Lalu meletakan benda kecil itu di atas meja. Tania dan Eni kompak melihatnya.


Kalau Eni, meskipun belum pernah hamil, dia sudah tau benda apa itu dan fungsinya.


Sedangkan Tania, dia sama sekali belum paham. Kalau melihatnya sudah pernah. Tapi dia tak ingat apa fungsi benda itu.

__ADS_1


"Kalian tau benda itu, kan?" tanya Monica sambil matanya menatap benda itu.


Eni yang mengangguk. Tania hanya diam saja.


"Benda ini, bergaris dua." Monica mengambil benda itu dan memperlihatkannya pada Tania dan Eni.


"Kamu hamil?" tanya Eni dengan polosnya.


Monica mengangguk. Dan langsung memasang wajah sedih. Biar Eni dan Tania percaya dengan ceritanya.


"Loh, hamil kok malah sedih?" tanya Eni lagi.


Menurut Eni, kalau orang hamil harusnya senang. Bahagia. Tapi ini malah sedih.


Monica semakin memasang mode sedihnya.


Eni tak habis pikir, kenapa harus bilang padanya. Apa hubungannya dia dan Tania dengan kehamilan Monica.


Kalau Tania sendiri, sudah bisa menebak kemana maksud dan tujuan Monica.


Pasti Monica akan mengaku-ngaku kalau dia hamil anaknya Rendi.


"Tante tau kenapa aku sedih?" tanya Monica. Dia mulai terisak.


Eni menggeleng dengan penuh tanda tanya.


"Aku...aku hamil anaknya Rendi, Tante. Hiks...hiks..." Monica sesenggukan.


"Apa?" Eni terbelalak.


Sementara Tania tenang-tenang saja. Sebab Rendi sudah sering menjelaskan padanya, kalau dia tak pernah melakukannya dengan Monica.


Tania lebih percaya pada Rendi, daripada omongan Monica.


"Iya, Tante. Hiks...hiks..."


Monica benar-benar berakting dengan bagus. Sampai membuat Eni terperangah.


Tapi sayangnya itu cerita paling memuakan bagi Tania.


"Tania! Gimana ini?" Eni menggoyang-goyangkan tangan Tania.


Tania hanya mengangkat bahunya saja.


"Kamu telpon Rendi dong. Bilang kalau Monica hamil. Terus juga tentang hubungan kalian. Bibi enggak mau ya, kamu merusak hubungan mereka," ucap Eni.


"Siapa yang merusak, Bi?" tanya Tania dengan tenang.


"Maaf, Tante. Aku yang mengambil Rendi dari Tania. Tapi sumpah demi apapun, aku tak tau kalau Rendi punya hubungan dengan Tania. Karena aku pikir, Tania itu kan ibu tirinya Rendi," ucap Monica.


Rupanya Monica sudah mendapatkan banyak informasi tentang Tania.


"Tuh, Bibi denger sendiri, kan?" tanya Tania lagi pada Eni.


Eni manggut-manggut. Tapi otaknya masih belum bisa konek. Dia sudah termakan omongan Monica.

__ADS_1


__ADS_2