HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 243 SALAH SANGKA


__ADS_3

Tania hanya geleng-geleng kepala melihat cara Mila menstater motor. Dia pikir kayak motor bebek biasa.


"Bukan gitu caranya, Mila. Turun dulu, kamu," ucap Tania.


Mila pun turun. Dia masih bingung kenapa motor enggak bisa nyala, padahal dia merasa sudah menstater dengan benar.


Tania pun naik ke atas motor. Dan mulai mengajari Mila.


Rendi menatap dari balik jendela. Pinginnya sih mendekat. Tapi apa daya kakinya belum bisa diajak kompromi.


Sementara Eni dan Danu sudah sampai di depan rumah sakit.


"Mobilnya dibawa masuk, Pak," ucap Eni.


"Kamu aja yang masuk, Bu. Aku nunggu di warung kopi itu." Danu menunjuk ke arah warung kopi di sebelah gedung rumah sakit.


"Loh, kok gitu sih?" tanya Eni.


"Aku kan tadi belum sempet ngopi, Bu. Udah sana. Jalan sebentar," ucap Danu.


"Hhmm. Masa udah cantik begini masih disuruh jalan sih?" Eni terlihat mulai kesal.


"Udah enggak apa-apa. Biar jalan juga, yang penting turunnya dari mobil mewah," hibur Danu.


"Kalau turunnya di tengah jalan gini, orang juga ngiranya mobil taksi online. Bukan mobil pribadi!" Eni semakin kesal.


"Lah, ini kan juga mobil dipinjemin. Bukan mobil pribadi kita, Bu," ucap Danu.


Danu benar-benar tidak paham keinginan Eni untuk pamer ke orang-orang, kalau dia turun dari mobil mewah.


"Orang enggak ada yang tau, Pak!" seru Eni yang sudah sangat kesal.


"Terus maunya kamu apa? Pamer ke orang-orang, kalau kamu turun dari mobil mewah? Percuma, Bu. Orang-orang enggak ada yang peduli. Mereka yang ada di sini itu lagi puyeng sendiri-sendiri!" sahut Danu tak kalah kesalnya.


Wajah Eni sudah memerah. Danu benar-benar tak mau memahami keinginannya.


"Orang juga enggak pada kenal kamu! Abis liat, bentar juga lupa!" Danu masih saja menggerutu.


Akhirnya dengan kesal, terpaksa Eni turun dari mobil. Dia berjalan sendiri menuju gedung rumah sakit.


Dan Danu pun membawa mobil Tono ke arah warung kopi. Dia bersyukur tadi Eni minta ikut dengannya. Kalau enggak, dia bakalan repot sendiri. Mengurus ini dan itu yang membuat pusing kepala.


"En! Ngapain kamu disini?"


Widya dan Lintang ternyata juga lagi ada di bagian farmasi. Hari ini Widya mengajak Lintang menemui dokter kandungan, untuk mengecek kembali kandungan Lintang lebih detail.


Meskipun Widya tak menginginkan kehamilan Lintang, tapi karena sudah terlanjur, mau tak mau Widya juga harus menerimanya.


"Mbak Widya. Lintang. Kalian juga di sini?" Eni malah balik bertanya.


"Kan aku udah bilang, hari ini memeriksakan kandungan Lintang. Kamu mau ngapain di sini?" Widya kembali bertanya.


"Aku mau ambil obatnya Tono. Dia sakit lagi. Sekarang ada di rumahku," jawab Eni.


Lalu Eni mengambil obat yang resepnya sudah diantrikan oleh Tono tadi.


"Di rumah kamu? Ngapain?" Widya lupa kalau hari ini Tono dan Rendi menemui Tania di rumah Eni.

__ADS_1


"Kan mereka...."


"Iya...Iya. Aku ingat. Mereka ketemuan di rumah kamu. Tono sakit apa lagi?" tanya Widya.


"Masih penyakit yang lama, Mbak," jawab Eni.


"Penyakit lama bersemi kembali," sahut Widya.


"Itu cinta, Mbak," protes Eni.


"Emangnya cinta aja yang bisa bersemi? Tuh penyakit juga bisa, kan?" Widya selalu saja tak pernah mau kalah.


"Hhmm. Iya, deh. Gimana hasil pemeriksaannya mbak Lintang?" tanya Eni mengalah.


"Baik-baik aja. Enggak ada masalah. Tinggal jaga kesehatan aja," jawab Widya.


"Ooh. Baguslah. Anaknya laki apa perempuan, Mbak?" tanya Eni penuh semangat.


"Yaelah, En. Baru juga sebiji jagung. Mana keliatan!" jawab Widya.


Eni yang belum punya pengalaman pribadi tentang kehamilan, berpikir kalau periksa kehamilan ya pastinya dikasih tahu jenis kelaminnya.


"Terus kapan dong bisa tau jenis kelaminnya?" tanya Eni penasaran.


"Entar, Bi. Kalau udah lebih dari empat bulan katanya." Lintang ikutan menjawab.


"iya. Itupun tergantung posisi bayinya." Widya menambahkan.


"Posisi bayinya? Maksudnya gimana, Mbak?" tanya Eni.


"Bayinya madep depan apa belakang, gitu. Kalau madepnya belakang, gimana mau keliatan jenis kelaminnya." Widya berusaha menjelaskan pada Eni semudah mungkin, biar Eni paham.


"Lho...berarti kayak orang selfie, ya?" tanya Eni..Dia membayangkan dirinya sedang selfie sendiri.


"Ya gitu, kira-kira," sahut Widya. Syukurlah, dia paham.


"Coba dokternya suruh ganti kamera, Mbak," ucap Eni.


"Ganti?" Widya mulai keder.


"Iya. Pake kamera jahanam, biar wajah bayinya glowing," sahut Eni.


"Eni...ini bayi dalam kandungan. Bukan emak-emak lagi jalan ke mal. Haduuh...kamu tuh, ya." Widya geleng-geleng kepala.


Eni cuma nyengir aja.


Lintang sudah selesai mengambil obatnya.


"Udah?" tanya Widya pada Lintang.


Lintang mengangguk.


"En. Kita pulang duluan," pamit Widya.


"Bareng aja, Mbak. Kita bawa mobilnya Tono, kok," ajak Eni.


"Kamu sama Danu?" tanya Widya.

__ADS_1


"Iyalah. Masa aku bawa sendiri mobilnya Tono. Bisa langsung bablas," jawab Eni.


"Bablas kemana, En?" tanya Widya lagi.


"Bablas ke kuburan!" Eni pun langsung jalan.


"Kamu aja sana duluan. Aku belum mau ke kuburan!" sahut Widya.


"Kalau aku duluan, ntar adikmu siapa yang ngurus, Mbak?" tanya Eni.


"Masih ada Tania!" jawab Widya meledek Eni.


"Iih, emangnya Mbak Widya tega ya, kalau aku mati duluan?" Eni malah jadi kesal.


"Kan kamu yang minta," sahut Widya.


Eni langsung manyun.


"Mobilnya dimana, Bi?" tanya Lintang. Mereka sudah ada di dekat parkiran mobil, tapi Eni malah jalan keluar area rumah sakit.


"Di deket warung kopi. Kayak enggak tau paman kamu aja," jawab Eni.


"Biarin aja, En. Kan cuma ngopi." Widya membela Danu.


"Iya, Mbak. Tapi aku kan jalannya jadi jauh," sahut Eni.


"Seberapa jauhnya? Cuma sampai depan situ aja, kok." Widya tetap membela Danu.


"Capek, Mbak. Mana aku pake sandal ginian, lagi." Eni melihat ke kakinya sendiri.


"Siapa suruh kamu pake sandal gituan? Kayak orang mau kondangan aja!" ucap Widya.


Lintang mesam mesem melihat penampilan Eni yang persis orang mau pergi ke tempat hajatan.


"Aku kan enggak tau kalau mau diturunin di jalan raya. Kirain mah, diantar sampai depan lobi," sahut Eni dengan kesal.


"Uluh....uluh. Udah kayak baginda ratu aja," ledek Widya.


"Emang cuma baginda ratu aja yang mesti dianter sampai tempat?" Eni belum menyerah.


"Enggak sih. Sama pengerannya juga," jawab Widya.


"Pangeran kodok!" sahut Eni.


Tiba-tiba mata Eni menangkap sosok Danu sedang ngobrol dengan wanita cantik.


"Mbak...itu pangeran kodoknya..." Eni menunjuk ke arah Danu.


"Ooh, lagi nyari selir kali!" sahut Widya masih meledek Eni.


Eni bergegas menghampiri Danu.


Jedug!


Eni kesandung batu dan hampir jatuh. Hak tinggi sandalnya sampai patah.


Eni melihat ke kakinya. Lalu dengan geram, Eni melepas sandalnya.

__ADS_1


"Danu.....!"


Bugh!


__ADS_2