HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 245 BIARKAN MEREKA BERCINTA


__ADS_3

"Kalian pulangnya kemana?" tanya Liona setelah puas tertawa.


Widya menyebutkan daerah tempat tinggal mereka. Kalau Danu tak berani menjawab. Dia khawatir Eni kembali cemburu.


Eni sendiri, jelas tak menjawab karena masih merasa malu. Tadi dia sudah menuduh yang bukan-bukan pada Liona.


"Kapan-kapan boleh aku main ke rumah kalian?" tanya Liona.


"Boleh banget. Mainlah ke rumah kami. Iya kan, En?" Widya menoleh ke arah Eni.


Eni mengangguk malu.


"Kalian tinggal satu rumah?" tanya Liona.


"Enggak. Kami tinggal sendiri-sendiri. Cuma tidak terlalu jauh," jawab Widya.


"Oke. Kalau begitu, kapan-kapan aku main ke rumah kalian. Dan kalian pun harus main ke rumahku, ya," ucap Liona.


"Iya. Nanti kita bisa gantian," sahut Widya.


"Kalau begitu, aku pamit dulu."


Liona pun melangkah pergi dengan anggun. Widya menatapnya sampai Liona masuk ke sebuah mobil mewah. Lebih mewah dari mobil milik Tono.


Orang secantik itu dicemburui sama Eni. Buat Liona, Danu bukanlah levelnya.


Seorang wanita cantik dan terlihat sangat elegan. Hhh! Dasar Eni cemburuan. Yang kayak gitu dicemburui.


"Udah yuk, pulang. Kalian jadi nganter kami enggak?" Widya menatap ke arah Danu dan Eni.


"Loh, Mbak Widya udah selesai urusannya?" tanya Danu.


"Udah beres semua. Tinggal pulang," jawab Widya.


"Ya udah. Kalau begitu, pulang bareng kami aja," ucap Danu.


Widya menepok jidatnya.


"Tadi aku yang minta mbak Widya sama Lintang pulang bareng, Pak," ucap Eni.


"Ooh. Ya udah. Ayo. Ntar keburu Tono pingsan, nungguin obatnya." Danu berjalan duluan menuju mobilnya.


Eni, Widya dan Lintang pun mengikuti.


"Kalian mau ke rumah kita apa gimana?" tanya Danu, setelah semua masuk ke mobil.


"Pulang aja. Kasihan Lintang. Kita udah pergi dari pagi tadi," jawab Widya.


"Loh, kok dari pagi, Mbak?" tanya Eni.


"Kita kan ngantri dulu, En. Emangnya kamu, cuma ambilin obatnya Tono aja," jawab Widya.


"Ya udah. Aku anter pulang dulu." Danu pun melajukan mobilnya ke rumah Widya dulu.


"Kandungan Lintang baik-baik aja kan, Mbak?" tanya Danu pada Widya.


"Baik-baik aja. Cuma Lintangnya aja yang perlu jaga kondisi. Banyak makan juga biar berat badannya bisa naik," jawab Widya.


"Berat badannya siapa, Mbak?" tanya Eni tak mengerti.


"Berat badannya Lintang lah. Nantinya kan juga pengaruh ke berat badan bayinya," jawab Widya.

__ADS_1


"Pak. Kata mba Widya, bayinya mbak Lintang masih sebiji jagung. Kalau segitu, terus gimana bentuknya ya?"


Eni menghayal sendiri. Dia bayangkan biji jagung dengan mata, hidung dan lain-lainnya.


"Ya belum ada bentuknya, Eni...! Kamu gimana sih? Masa bayi sekecil itu. Emangnya bayi nying-nying!" Widya sering merasa kesulitan menjelaskan sesuatu pada Eni.


Apalagi pada Danu. Mereka itu sebelas duabelas. Makanya Widya senang sekali kalau meledek mereka berdua.


Sementara di rumah Tania, Mila yang baru diajari mengendarai motor matic oleh Tania, lagi melajukannya pelan-pelan.


Lalu tiba-tiba Mila mengerem.


"Kenapa, Mil?" tanya Tania.


"Aku masih grogi," jawab Mila.


"Katanya bisa naik motor?" tanya Tania lagi.


"Iya. Tapi bukan motor ginian," jawab Mila.


"Terus motor apaan? Motor laki?"


"Bukan. Motor bebek yang pake gigi." Mila pun kembali melajukannya pelan-pelan.


Setelah Mila pergi, Tania pun masuk ke dalam rumahnya.


"Mila jadinya mau kemana?" tanya Rendi.


"Beli es katanya. Enggak tau es apaan," jawab Tania. Lalu duduk di sebelah Rendi.


"Tania. Aku kangen sama kamu." Rendi meraih tangan Tania dan mengecupnya dengan lembut.


"Boleh aku cium kamu, sayang?" tanya Rendi.


Rendi tak bisa lagi nyosor kayak biasanya. Kondisinya yang membuat tak bisa bergerak dengan bebas.


Tania mengangguk.


"Sini dong, mendekat lagi," pinta Rendi.


Tania pun menurut. Dia dekatkan wajahnya pada Rendi. Dan perlahan Rendi pun mendekatkan wajahnya pada Tania.


Baru saja bibir mereka mau menyatu, suara rintihan Tono membuyarkannya.


"Papa...!" Rendi menjauhkan kembali wajahnya.


Tania pun ikut menjauhkan wajahnya.


"Aku lihat dulu, ya," ucap Tania.


"Ya. Lihat coba. Aku jadi khawatir," sahut Rendi.


Tania pun beranjak dan berjalan ke kamarnya. Rendi hanya bisa menatap dengan sedih.


Rendi berusaha berdiri. Dia meraih tongkatnya. Lalu dengan tertatih dia berjalan mengikuti Tania.


Tania hanya berdiri di depan pintu kamarnya. Dia tidak berani masuk.


"Masuk aja, Tania," ucap Rendi.


Tania menoleh.

__ADS_1


"Rendi...!" Tania berlari menghampiri Rendi. Lalu memegangi lengannya.


"Enggak apa-apa, Tania. Aku bisa, kok," ucap Rendi.


Rendi merasa terharu atas perhatian Tania yang besar padanya.


Tania tak mempedulikan ucapan Rendi. Dia tetap memegangi lengan Rendi. Dan menuntun sampai ke depan kamarnya.


Tono masih terpejam. Sepertinya tadi dia hanya mengigau saja.


"Papa masih tidur," ucap Rendi.


"Ya udah, biarin aja. Yuk, ke depan lagi," ajak Tania.


"Mau nyium aku, ya?" ledek Rendi.


"Iih, apaan sih." Tania tersipu malu.


"Ya udah, ayo. Jangan di sini. Nanti ganggu papa," ucap Rendi.


Tania makin tersipu malu. Tania masih merasa deg-deg ser kalau berdekatan dengan Rendi.


Dan hatinya masih berbunga-bunga kalau mendengar ucapan cinta dari Rendi. Bak anak abege yang baru mengenal cinta.


Padahal mereka pernah melakukannya. Melakukan hal yang seharusnya terlarang buat mereka.


Tania menuntun Rendi dengan sabar sampai ke ruang tamu.


"Duduklah dekat aku, Tania. Aku masih ingin...." Rendi sengaja menggantung kalimatnya.


"Ingin apa?" tanya Tania tak tahu.


"Ingin manjain kamu, Tania." Rendi pun merengkuh tubuh Tania dengan satu tangannya yang tidak sakit.


Tono membuka matanya. Tadi dia pura-pura tertidur saat Tania datang melihatnya.


Tono sengaja memejamkan matanya. Karena tak ingin Tania takut melihatnya.


Tono sadar, Tania masih kikuk kalau berhadapan dengannya. Karena sebenarnya Tania tak pernah mengenal Tono dengan baik, sebelum dia memaksa Tania menikah dengannya.


Dari kamar Tania, samar-samar Tono mendengar ******* nafas keduanya yang sedang bercinta.


Tono tersenyum mendengarnya. Dia biarkan saja dua insan yang dilanda cinta itu menikmati keindahan dunia.


Tono yakin kalau mereka hanya sekedar bercumbu saja. Tak mungkin melakukan hubungan terlarang.


Sebab kondisi Rendi belum memungkinkan untuk itu. Lagi pula di rumah Danu yang kecil ini, tak ada ruang untuk mereka melakukannya.


Sebenarnya Tono merasa sangat haus. Tapi dia sendiri tak berani beranjak. Takut kalau pergerakannya mengganggu mereka.


Akhirnya Tono hanya bisa pasrah. Nanti saja kalau Mila terdengar suaranya. Tono tak tahu, dimana Mila kini.


Dia hanya menebak kalau Mila mungkin lagi pergi keluar. Dan Tono memilih memejamkan matanya kembali.


Mila kembali datang. Dan saking asiknya Tania dan Rendi bercumbu, sampai tak mendengar suara motor yang berhenti.


Mila berjalan dengan santai, masuk ke dalam rumah. Dan langkahnya terhenti saat melihat adegan itu.


"Ups!" Mila terbengong di tempatnya.


Spontan Tania dan Rendi pun saling melepaskan diri.

__ADS_1


__ADS_2