HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 267 ANAK KETEMU GEDE


__ADS_3

Dito dan Mike sampai di rumah Tania.


"Tania....!" Mike langsung berlari menghambur dan memeluk Tania.


Tania sendiri memang sudah menunggu mereka di teras. Sebab Rendi sudah ngasih tahu lebih dulu.


Tania pun balas memeluk Mike dengan erat dan penuh kerinduan.


"Busyet dah, gitu amat meluknya," ledek Dito.


Mike dan Tania tak peduli ledekan Dito.


Tak lama, mereka saling melepaskan.


"Gantian aku dong." Dito merentangkan tangannya.


Dito tidak serius, cuma bercanda saja. Tapi Mike menganggapnya serius. Dia melotot ke arah Dito.


Dito cuma nyengir, lalu menurunkan tangannya lagi.


Tania yang melihatnya jadi terkikik. Dia sendiri tak berpikir kalau Dito benar-benar minta dipeluknya.


Kalau ketahuan Rendi, bisa digetok kepalanya Dito.


"Masuk, yuk," ajak Tania.


"Gimana kabarmu, Tania?" tanya Mike setelah mereka ada di ruang tamu.


"Ya begini ini. Kamu sendiri gimana kabarmu, Mik?" Tania balik bertanya.


"Kita sih baik-baik aja. Kamu enggak pernah chat aku. Sibuk pacaran ama Rendi, ya?" ledek Mike.


"Apaan sih? Biasa aja." Wajah Tania langsung bersemu merah.


Itu salah satu hal yang sempat membuat Dito terpesona pada Tania, wajah merona saat diledekin.


Dan sekarang, wajah cantik menggemaskan itu telah dimiliki Rendi. Dito pun tak mungkin meraihnya lagi. Karena di sisinya kini ada Mike yang selalu menjaganya 24 jam nonstop.


"Ciee....malu, ya?" Mike kembali meledek Tania.


Tania mencubit pinggang Mike dengan gemas. Kebiasaan Tania yang tak pernah berubah. Kalau lagi salah tingkah, pasti mencubit pinggang orang yang membuatnya salah tingkah.


Dito melihatnya sambil tersenyum. Tania terlihat bahagia. Dan bagi Dito yang pernah mencintainya, cukuplah melihat Tania bahagia. Apalagi bahagianya dengan Rendi, sahabatnya sendiri.


Dito pun berjanji akan membantu mereka biar bisa bersatu. Apapun akan Dito lakukan asal Tania dan Rendi bahagia.


"Aduh...geli, Tania. Hahaha." Mike pun tergelak. Dia paling tak bisa kalau disentuh bagian perutnya.


"Lagian kamu, ngeledekin mulu." Tania melepaskan tangannya.


"Lagian kamu juga sombong. Enggak mau ngechat aku," balas Mike.


"Aku tuh takut mengganggu kalian. Kalian kan pasti sibuk kuliah," sahut Tania.


"iya bener, Tania. Sama sibuk bikin anak! Hahaha." Dito tergelak.


Sekarang giliran perut Dito yang kena cubit Mike.

__ADS_1


"Auwh...! Sakit, Sayang...!" Dito meringis sambil menahan tangan Mike.


Mike mencubit Dito cukup kencang. Jadi bukan geli, tapi sakit yang dirasakan Dito.


"Malu-maluin aja, ih!" ucap Mike.


"Tapi emang bener, kan? Kamu yang maunya tiap hari?" Dito malah semakin meledek Mike. Tapi perutnya sudah ditutupi dengan bantal.


"Dito....!" Mike menutup wajahnya karena malu.


Mike kalau sedang berduaan memanggil Dito dengan sebutan sayang. Tapi saat di depan orang, hanya dengan nama saja. Begitu juga Dito.


"Gak usah malu ama Tania. Bentar lagi Tania juga bakalan gitu ama Rendi. Iya enggak, Tan?" Dito menatap Tania sambil menaik turunkan alisnya.


Tania kembali tersipu malu. Dia tak bisa membayangkan kalau benar-benar sudah hidup berdua dengan Rendi. Seperti Dito dan Mike.


"Eh...Sebentar, aku bikinkan minum ya." Tania langsung beranjak dan melangkah ke dapur.


"Enggak usah repot-repot, Tania!" seru Mike.


"Telat! Orangnya udah ke dapur," ucap Dito.


Maklum saja rumah yang ditempati Tania dan paman juga bibinya, berukuran minimalis. Jadi jarak antara ruang tamu dan dapur, hanya beberapa langkah saja.


Sama ukurannya dengan rumah kontrakan terakhir yang disewa Danu. Cuma bangunan rumah yang sekarang lebih bagus.


"Sayang, nanti kita ajakin Tania hang out, yuk," pinta Mike.


"Jangan sekarang. Kapan-kapan aja," tolak Dito.


"Memangnya kenapa?" tanya Mike tak suka.


"Oh, iya. Aku lupa." Mike yang benar-benar lupa, cuma bisa nyengir.


"Ini makanannya dibawa keluar sekalian," ucap Eni pelan.


Eni yang dikasih tahu Tania kalau Mike dan Dito mau pada main, langsung beli makanan kecil di warung.


"Iya, Bi." Tania pun menaruh piring berisi kue-kue, di atas baki. Lalu segera kembali ke ruang tamu.


"Ini, Mik. Seadanya, ya," ucap Tania.


Mike melihat ke piring. Matanya langsung terbelalak.


Kue-kue basah yang terlihat biasa, tapi sangat menggugah perasaan Mike.


"Iih. Enak banget," ucap Mike dengan mata berbinar.


"Apaan? Dimakan aja belum udah bilang enak," sahut Dito. Dia pun tiba-tiba jadi tertarik dengan kue-kue jajanan pasar itu.


"Iya. Ayo dimakan dulu." Tania menyodorkan piringnya ke Mike.


Dengan penuh semangat, Mike mencomotnya. Dua macam yang diambil Mike.


Dito pun melakukan hal yang sama. Tania hanya bisa tersenyum.


Baginya kue-kue macam itu, bukan makanan istimewa. Hampir tiap hari, Eni membelinya. Kadang sampai tak kemakan kalau pada bosan.

__ADS_1


"Enak beneran, Tan. Beli dimana sih?" tanya Mike sambil mengunyah.


"Tuh. Di warung depan," jawab Tania sambil menunjuk ke arah warung tak jauh dari rumahnya.


"Iya, ini enak banget," ucap Dito.


Sejak sekolah dan jauh dari keluarga, Dito jarang sekali makan kue-kue macam ini. Paling banter beli yang ada di bakery.


"Sayang, nanti pulangnya kita beli, ya?" pinta Mike pada Dito.


Dito mengangguk bersemangat.


Mike kalau menginginkan sesuatu, pasti minta pertimbangan Dito dulu. Meskipun dia bayar sendiri.


Hal itu yang membuat Dito merasa sangat dihargai oleh Mike. Padahal juga, banyak kebutuhan hidup Dito yang ditanggung oleh Mike.


"Kalian suka?" tanya Eni yang tau-tau sudah ada di dekat mereka.


Jelas saja Mike dan Dito merasa malu. Mereka merasa, sikap mereka malu-maluin.


"Eh, Tante." Mike meletakan kuenya di atas piring, lalu menyalami Eni dengan sopan.


Begitu juga Dito.


"Apa kabarnya, Tante?" tanya Dito.


"Baik-baik aja. Kalian gimana kabarnya, nih?" Eni balik bertanya.


"Baik juga, Tante. Kalau enggak baik, enggak bakalan sampai di sini. Hehehe." Dito terkekeh.


"Ya syukurlah. Abisin itu kuenya. Tante beliin lagi buat dibawa pulang, ya," ucap Eni.


"Eh, biar kita aja nanti yang beli, Tante," ucap Mike, merasa tak enak.


"Kalau nanti-nanti, bakalan kehabisan. Apa Mike mau ikut belinya?" tanya Eni.


Mike menoleh ke arah Dito. Meminta persetujuan. Dito pun mengangguk.


Mike tersenyum senang, lalu menyaut sisa kuenya tadi dan bergegas berdiri.


"Ayo, Tante," ajak Mike.


"Dia yang diajak, malah dia yang ngajakin pergi!" ucap Dito.


"Biarin. Week...!" Mike menjulurkan lidahnya. Tapi wajahnya nampak berseri-seri.


Eni pun menarik tangan Mike. Lalu keluar dari rumah.


Sepanjang jalan, Eni mengajak Mike ngobrol. Eni merasa senang sekali. Dia serasa punya anak lagi, selain Tania.


Sikap manja Mike juga malah membuat Eni semakin bangga. Bisa memberikan kasih sayang pada gadis secantik Mike.


"Siapa itu, Mbak En?" tanya seorang tetangga Eni, yang juga mau beli kue.


"Anakku!" jawab Eni dengan percaya diri. Tangannya menggenggam erat tangan Mike.


Mike pun malah menggelayut manja di lengan Eni.

__ADS_1


Anak ketemu gede. Batin Eni.


__ADS_2