
Rendi pulang bersama mamanya. Sepanjang perjalanan tak sedikitpun dia bicara. Dia hanya fokus pada jalanan di depannya yang lumayan macet.
"Kamu kenapa sih, Ren?" tanya Sari.
"Enggak apa-apa, Ma. Kan Rendi sudah bilang kalau capek," jawab Rendi. Ini adalah hari pertamanya membantu Sari di pasar.
Sari tak bisa komentar apa-apa lagi. Satu sisi hatinya kasihan melihat anaknya, yang mestinya masih bermain dengan teman-temannya. Walaupun ikut ke pasar adalah keinginannya sendiri.
Tapi di sisi lain hatinya, dia curiga, pasti anaknya ini sedang ada masalah. Dan Rendi belum mau mengatakan padanya.
"Ya sudah. Nanti sampai rumah, kamu langsung istirahat saja," ucap Sari mengalah.
Rendi hanya diam. Dia tidak menolak tapi juga tak mengiyakan. Hatinya sangat kecewa membayangkan perempuan yang sedang diperjuangkannya malah tidur bersama papanya.
Sampai di rumah, Rendi langsung masuk ke kamarnya, setelah memarkirkan mobil.
Sari hanya bisa menghela nafas. Lalu masuk ke kamarnya sendiri.
"Bu. Tadi bapak ke sini," ucap Sri sebelum Sari menutup pintu kamarnya.
"Mau ngapain?" tanya Sari.
"Saya tidak tahu, Bu. Bapak cuma masuk ke kamar Ibu sebentar terus pergi lagi," jawab Sri.
"Ya sudah. Aku mau istirahat." Sari menutup pintu kamarnya lalu ke kamar mandi.
Seperti biasanya, Sari selalu membersihkan diri setelah pulang dari pasar.
Sri yang sedang kesal pada majikan lelakinya langsung ke dapur. Dia akan menyiapkan makan malam buat majikan perempuan dan anaknya.
Bapak sekarang menyebalkan! Dia sudah tak mempedulikan aku lagi! sungut Sri dalam hati.
Tadi siang, Tono pulang ke rumah Sari. Dia akan mengambil beberapa berkas lamanya di kamar Sari.
Tono memang menyimpan semua berkas-berkas pentingnya di rumah Sari. Istri yang tak pernah mau diceraikannya, meski tak pernah lagi disentuhnya.
Sebenarnya salah satu alasan Tono tak menyentuh Sari lagi, karena dia kasihan padanya.
Sari selalu kesakitan bahkan mengeluarkan bercak darah, saat selesai berhubungan badan dengannya.
Alasan lain, karena Sari sering menolaknya dengan alasan capek. Entah memang benar-benar capek, atau karena Sari takut merasakan sakit lagi.
Sri yang melihat Tono datang, langsung tebar pesona. Dia sengaja melepas bra-nya agar dua gundukan besarnya terlihat lebih menantang.
Sri juga sengaja mendekati Tono sambil pura-pura menyapu lantai. Tapi Tono tak sedikitpun menoleh padanya.
Bahkan saat Sri dengan gaya menantang berdiri di pintu kamar Sari, saat Tono ada di dalam pun, Tono tetap tak menggubrisnya.
Malah Tono menyuruhnya kembali ke dapur. Padahal Sri sedang butuh uang tambahan karena uang gajinya bulan ini habis untuk biaya pengobatan ibunya di kampung.
__ADS_1
Sri hanya bisa menelan kekesalannya sendiri. Tidak mungkin juga dia menceritakannya pada Yadi. Karena ujung-ujungnya Yadi malah minta jatah padanya.
Selepas maghrib, Sari keluar dari kamarnya. Dia sudah siap untuk makan malam berdua anaknya.
"Sudah siap makanannya, Sri?" tanya Sari. Lalu Sari duduk dan mencicipi hasil masakan Sri.
"Sudah, Bu." Sri mengambilkan piring untuk majikannya ini.
"Panggilkan Rendi. Suruh makan!"
"Iya, Bu." Sri pun bergegas naik ke lantai dua.
Baru beberapa langkah menaiki anak tangga, Rendi sudah berjalan turun.
"Mas Rendi. Disuruh makan sama ibu," ucap Sri.
Rendi yang masih kesal, tak menghiraukan Sri. Dia terus saja berjalan menuruni anak tangga dan melewati Sri.
Sri hanya menghela nafasnya kesal. Kenapa semua orang mengacuhkannya? Sri berfikir lagi, apa dia berbuat kesalahan?
Lalu Sri pun ikut turun dan berjalan kembali ke dapur.
"Mau kemana, Ren?" Sari menatap anaknya yang sudah rapi.
"Mau keluar sebentar, Ma." Rendi mendekati mamanya dan mengecup pipinya sekilas.
"Makan dulu," ucap Sari.
Sari menghela nafasnya. Dia sedih melihat sikap anaknya yang sejak tadi tak banyak bicara.
Dan lebih sedih lagi, karena dia harus makan malam sendirian.
Akhirnya dia memanggil Sri untuk menemaninya.
"Sri!"
"Iya, Bu!" Sri menyahut dari dapur dan bergegas mendekati majikannya.
"Temani aku makan!" ucap Sari.
"Saya, Bu?" tanya Sri tak percaya. Selama ini tak pernah sekali pun Sri makan di meja makan itu, apalagi bersama majikannya.
"Iya, kamu. Siapa lagi? Pakai piring itu!" perintah Sari.
"Tapi, Bu....Ini kan piring buat makan mas Rendi?"
"Anaknya pergi. Kamu pakai saja. Nanti kan kamu bisa mengambilkannya lagi," ucap Sari.
"I...Iya, Bu." Sepertinya Sri tak bisa menolak perintah majikannya. Dari suaranya, terdengar majikannya ini sedang sedih dan kesal.
__ADS_1
Sri mengambil beberapa lauk kesukaannya. Meski tak pernah makan di meja makan ini, tapi Sri selalu bisa memakan apapun yang ada di sini. Majikannya tak pernah melarang. Asal makanan untuknya dan Rendi cukup.
"Makanlah, jangan tegang Sri. Santai saja." Sari pun berusaha makan dengan santai. Karena sebenarnya dia sedang menasehati dirinya sendiri.
Sri mengangguk. Dan mulai menyuap makanannya.
"Sri. Kamu tidak mau menikah lagi?" tanya Sari.
Sri terkejut mendengar pertanyaan majikannya. Ada maksud apa majikannya bertanya seperti itu? Sri bertanya sendiri dalam hati.
"Belum ada yang cocok, Bu," jawab Sri sekenanya.
"Memang kamu nyarinya yang kayak apa?" tanya Sari.
Sri makin bingung menjawabnya.
"Jawab saja, Sri. Siapa tahu aku bisa mencarikannya untuk kamu. Kamu kan masih muda. Cantik juga," ucap Sari.
Sebenarnya Sari hanya ingin tahu kenapa Sri lebih memilih hidup menjanda. Apa karena memang belum menemukan yang cocok, atau ada alasan lain.
Sejak mengetahui suaminya menikahi Tania, Sari mulai memikirkan untuk bercerai. Tapi hatinya masih ragu.
Terutama kalau dia memikirkan Rendi. Jangan sampai anaknya itu makin terluka dengan perpisahan orang tuanya.
"Kalau saya maunya ya yang sudah mapan toh, Bu. Minimal punya penghasilan tetap biar saya ada yang menafkahi," jawab Sri dengan jujur.
"Memangnya kamu sudah tidak mau bekerja disini lagi?"
"Ya masih mau, Bu. Tapi kalau nantinya suami minta saya di rumah saja? Kan saya harus menurut, Bu. Asal dia bisa menafkahi saya," tutur Sri.
Buat perempuan seperti Sri, sebenarnya keinginannya sederhana. Dia hanya ingin hidup nyaman dan berkecukupan.
Selama ini Sri meladeni kemauan suami majikannya ini, karena dia sangat membutuhkan uang.
Gajinya sebagai ART sebagian dikirimkannya ke kampung, untuk menafkahi anak dan orang tuanya.
Dan ibunya yang sering sakit, membuat Sri harus berjuang mencari uang tambahan. Meski harus menjual tubuhnya.
Tapi Sri tak berani menjadikannya sebagai profesi. Sri tetap takut dengan azab seperti di sinetron-sinetron yang sering ditontonnya.
Walaupun apa yang dilakukan Sri sekarang dengan suami majikannya, sangat beresiko kalau sampai ketahuan.
Sri akan kehilangan pekerjaannya. Sementara susah jaman sekarang mencari majikan yang seperti di sini.
Kerjanya santai, karena majikannya cuma tinggal berdua saja.
"Kamu kok malah melamun, Sri?" tanya Sari.
"Eh, enggak, Bu. Saya sedang menikmati makanan ini. Enak sekali." Sri memuji masakannya sendiri.
__ADS_1
Sari hanya tersenyum saja. Senyum yang dipaksakan dari bibirnya, karena hatinya sedang merasakan kesepian.