HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 58 CURHAT


__ADS_3

Rendi datang ke kos-an Dito. Tempat kos Dito tergolong mewah. Letaknya juga strategis.


"Bangun woy! Molor mulu!" Rendi sudah berada di kamar Dito yang kebetulan tidak dikuncinya.


"Apaan sih lo, gangguin orang tidur aja!" Dito malah membalikan tubuhnya membelakangi Rendi.


Rendi yang memang capek karena dari pagi tadi udah jalan, ikut berbaring di belakang punggung Dito.


Rendi pun ikut tertidur sambil memeluk tubuh Dito dari belakang.


Hingga satu jam kemudian Dito yang merasa tubuhnya ada yang menindih terbangun.


"Eh, Kampret! Ngapain pake peluk-peluk gue?" Dito menyingkirkan kaki Rendi yang menindihnya.


"Apaan sih lo, gangguin orang tidur aja!" Rendi malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Eh! Singkirin kaki elo!" Dito berusaha melepaskan diri.


Saking kerasnya Dito menyingkirkan, Rendi sampai terguling ke lantai.


"Sakit dodol!" Rendi memegangi kepalanya yang kejedot lantai.


"Lagian elo tau-tau udah di belakang gue. Mo ngapain lo? Mau memperkosa gue?"


"Dih! Amit-amit!" Rendi langsung duduk sambil mengumpulkan nyawanya.


Dito bangkit dan mengambil minuman di kulkas kecilnya.


"Ada apaan, Lo? Dateng-dateng ikutan tidur!"


Rendi meminta minuman kaleng yang dipegang Dito. Setelah menenggaknya, barulah Rendi ngomong maksud kedatangannya.


"Gue mau minta tolong ama elo, Dit."


"Minta tolong apaan?" Dito duduk di depan sahabat koplaknya.


"Gue mau nyari rumah bokap gue."


"Lah, bukannya rumah bokap lo bareng ama elo? Atau bokap lo pindah terus elo ditinggal sendirian?"


Dito memang tidak pernah tahu kalau papanya Rendi punya rumah sendiri dan tidak tinggal serumah dengan Rendi dan mamanya.


"Jadi selama ini elo cuma tinggal sama mama elo doang?" tanya Dito setelah Rendi cerita.


"Iya, Bro. Papaku tidak pernah lagi tidur di rumah mama. Kadang-kadang aja pulang sebentar. Abis itu pergi lagi."


"Gue kira cuma rumah tangga orang tua gue aja yang berantakan." Dito nyengir.


"Terus ngapain elo nyariin rumah bokap lo, kalo bokap lo masih sering pulang ke rumah?" lanjut Dito.


Rendi menatap Dito.

__ADS_1


"Eh, Dodol! Gue nanya! Malah ngeliatin gue. Entar naksir lo!" Dito melempar wajah Rendi dengan bantal kecil yang ada di dekatnya.


"Gue sebenernya malu, Bro. Ini aib keluarga gue."


Dito serius menyimak sambil menopang wajahnya dan mencondongkannya ke arah Rendi.


"Gak usah gitu juga kali ngeliatinnya. Gue kan jadi makin malu!" Rendi menoyor dahi Dito agar menjauh.


"Lah, gue kan serius nyimak. Biar kuping gue kagak salah denger."


"Lo janji jangan ngember kemana-mana ya? Ini rahasia keluarga gue."


"Eh, sejak kapan gue jadi toak masjid yang suka kasih pengumuman ke masyarakat dan sekitarnya?"


"Udah cerita buruan! Perut gue laper nih," ucap Dito.


"Bokap gue bawa kabur Tania, Bro."


"What? Maksud lo?" tanya Dito dengan mata melotot.


"Jadi gini ceritanya, Bro." Lalu Rendi menceritakan semuanya pada Dito. Termasuk dia yang sudah mengambil kesucian Tania di hari pertama pernikahan papanya dan Tania.


"Gila lu! Bokap lu yang nikahin, elu yang merawanin!" komentar Dito.


"Ya abisnya gue enggak rela kalau bokap gue yang merawanin duluan," sahut Rendi.


"Terus sekarang mau lo apaan? Mereka sudah nikah. Elo malah udah dapet duluan. Bokap lo malah dapet sisanya. Anak durhaka lo emang!" Dito menoyor kepala Rendi.


"Ebusyet! Jangan nekat lu, itu bisa jadi kasus kriminal. Bawa kabur bini orang! Lagian elo tuh pengangguran, Bro. Elo mau kasih makan apa anak orang?" Dito malah ngomel-ngomel gak karuan.


"Gue mencintai Tania, Bro," sahut Rendi pelan.


"Ren, cinta saja gak cukup buat modal elu hidup berdua sama Tania. Lagian di luar sana masih banyak cewek lain yang lebih cantik dari Tania. Ah, elu kayak baru kenal cewek aja!"


Track record Rendi tentang cewek-cewek memang tidak perlu diragukan lagi. Hampir semua cewek cantik di sekolahnya pernah diajaknya kencan.


"Yang ini beda, Bro!"


"Beda apanya? Karena masih perawan? Jangan kuatir, entar gue cariin elu perawan lagi. Mau berapa biji?"


"Elu pikir salak, ada bijinya?" Rendi menoyor kepala Dito.


"Lagian elu, baperan amat jadi orang. Sia-sia dong elu punya julukan play boy. Huu...mana ada play boy baperan. Itu namanya play boy kepentok perawan. Hahaha." Dito tergelak.


"Dah, gue mau makan. Elu mau ikut kagak?" tanya Dito.


Dito meraih kunci motornya. Bagaikan anak ayam yang baru netes, Rendi mengikuti Dito di belakangnya.


"Mau makan apaan, Bro?" tanya Rendi di belakang Dito.


"Ish! Ngagetin aja lu. Gue pikir elu kagak laper. Noh, di ujung jalan sono ada warung makan baru. Yang deket kampus biru. Biasanya jam segini banyak mahasiswi yang pada makan. Lumayan, buat cuci mata."

__ADS_1


"Cuci mata pake air, Bro," sahut Rendi.


"Udah tobat beneran, Lo?"


"Udah jalan. Berisik!" Rendi mendorong tubuh Dito dari belakang. Dito hanya terbahak-bahak.


Dito memang sahabat sejati. Dia bisa membuat Rendi yang lagi frustasi melupakan masalahnya sejenak.


Rendi langsung naik ke belakang motor Dito.


"Ngapain lo naik motor gue? Elo kan bawa motor sendiri!" Protes Dito.


"Ngirit bensin!" jawab Rendi asal.


"Beli bensin aja kagak mampu, mau bawa kabur bini orang. Ah, capek deh."


Rendi menoyor punggung Dito.


Dito langsung tancap gas. Tubuh Rendi sampai maju menubruk tubuh Dito. Spontan tangan Rendi memeluk erat pinggang Dito. Lalu mereka sama-sama ngakak.


Sampai di sebuah warung makan dekat kampus biru, Dito segera memarkirkan motornya.


Benar saja, di dalam warung makan yang cukup luas itu sudah banyak mahasiswi yang sedang makan siang.


"Noh lihat, Bro. Di sono banyak mahasiswi cantik. Lebih cantik dari Tania. Berpendidikan. Anak orang tajir. Yang masih perawan juga pasti masih banyak. Lo tinggal pilih aja. Dunia ini indah, Bro."


Dito ngoceh sambil berjalan menuju tempat ambil makanan. Rendi mengikuti Dito dan mengambil lebih banyak.


"Gila lu ambilnya, abis segitu? Kira-kira dong, Bro. Laper apa baper?" Dito terkejut karena biasanya Rendi makannya lebih sedikit dari dia.


"Gue laper banget, Bro. Dari pagi belum makan!"


Dito cuma geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang lagi jadi orang bego.


Mereka ambil tempat duduk agak mojok. Kata Dito biar bisa memantau cewek-cewek cantik.


"Mike gimana kabarnya?" tanya Rendi sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Tau deh. Mike tuh sama ama elu, baperan." Dito juga menyuapkan makanannya sambil matanya ke sana ke sini menatap cewek-cewek sliweran.


"Baperan gimana?" tanya Rendi lagi.


"Dia maunya tiap pagi gue bales chatnya. Siang, malam juga. Lah emang gue operator apa, yang selalu on terus?" Dito mengambil minumannya sebelum melanjutkan omongannya.


"Gue juga punya dunia sendiri. Kalau cuma mikirin dia terus, yang ada otak gue buntu. Mata gue burem kagak pernah dicuci."


"Sekarang tuh ya, nikmati aja hidup elo dulu. Biarkan Tania juga menikmati hidupnya. Susah apa seneng itu sudah takdirnya. Dia punya laki. Biar lakinya yang tanggung jawab." Dito bicara panjang lebar sampe nasinya muncrat kemana-mana.


"Lakinya bokap gue, dodol!"


"Nah itu lho tau. Berarti Tania itu sekarang jadi nyokap elo. Hormati dong kayak elo menghormati nyokap elo sendiri. Bukan malah elo naikin!" Rendi langsung melotot ke arah Dito yang ngomongnya enggak disaring dulu.

__ADS_1


__ADS_2