
"Ayo, Ren. Kita pulang. Mama sudah tidak sabar ketemu Tania," ucap Sari dengan suara keras.
Sengaja biar si ulet keket Rani mendengar.
"Lho kok buru-buru sih, Sar. Baru saja ketemu." Isma berusaha menahan Sari agar tidak pulang dulu.
"Ah, iya. Sorry Is, sore ini aku ada janji ketemu calon mantu," sahut Sari sambil matanya melirik ke arah Rani.
"Lho katanya anakmu baru lulus SMA. Memangnya mau kamu nikahkan?" tanya Isma sambil menatap wajah ganteng Rendi.
"Anaknya yang mau. Udah biarin saja. Yang penting mereka saling cinta dan bahagia. Soal kuliah dan kerja sih gampang, bisa menyusul," ucap Sari lalu menggandeng tangan anaknya.
Sari juga cukup gerah di rumah temannya itu. Tidak keponakan, tidak bibi, matanya sama-sama ijo melihat Rendi.
"Oh, sayang sekali ya. Padahal kan masih sangat muda. Masih banyak waktu buat main." Isma menekan kata main. Entah apa maksudnya. Tapi Sari jadi jijik mendengarnya.
Rendi yang melihat wajah mamanya kesal, jadi menahan senyumnya. Tadi aja, ngotot minta ke sini. Sekarang narik-narik minta pulang.
"Aku pulang dulu ya, Is. Lain kali aku kesini lagi," ucap Sari dan menarik tangan Rendi.
Sari sampai lupa bersalaman lagi pada temannya. Bahkan lupa kalau dia kesini kepingin minta oleh-oleh dari luar negeri.
Sari segera naik ke mobilnya. Rendi terkekeh setelah naik juga.
"Perempuan-perempuan gatel!" sungut Sari.
"Teman Mama, kan?" Rendi tergelak. Sari mencubit perut anaknya.
"Sakit, Ma!" teriak Rendi.
"Bodo!" sahut Sari sambil manyun.
Rendi kembali tertawa sambil melajukan mobilnya dengan cepat. Dia sudah kangen dengan Tania.
Sementara di rumah Tania, dua orang anak buah Tono datang membawa segepok uang.
"Ini dari juragan Tono. Uang untuk biaya pernikahan. Jumlahnya kamu bisa baca sendiri di amplopnya."
Seorang anak buah Tono menyerahkan uang dalam amplop itu kepada Eni.
Eni hanya diam tak percaya kalau Tono benar-benar memberikan uang seperti yang dia minta.
"Segera urus semuanya. Waktunya tinggal tiga hari lagi!" ucap salah satunya. Lalu mereka pamit.
Tania tercenung. Tiga hari. Itu artinya waktunya bersenang-senang dengan Rendi juga tinggal tiga hari lagi.
Sekarang malah Rendi tidak datang, bahkan pesannya tak dibaca sama sekali.
Tania bengong saja. Sedangkan bibinya asik menghitung uang pemberian Tono.
"Kita jadi bikin acara yang meriah, Tania!" ucap Eni dengan mata berbinar.
"Kenapa kamu bengong Tania? Kamu tidak senang dapat uang sebanyak ini?"
Tania menggeleng. Danu yang juga ada di situ menatap wajah keponakannya dengan sedih. Ya, bagaimanapun Danu sedih. Dia merasa bersalah karena menjual kebahagiaan keponakannya sendiri.
Maafkan Paman, Tania. Ucap Danu dalam hati. Lalu dia pergi meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
"Itu pamanmu malah pergi. Bukannya bantuin ngitung uang!" gerutu Eni.
"Tania. Coba kamu bantu hitung ini. Ada yang kurang tidak?"
"Bibi saja yang ngitung! Tania ngantuk!"
Lalu Tania masuk ke kamarnya.
Paman sama keponakan sama saja. Sok tidak peduli sama uang. Padahal butuh. Eni terus saja menggerutu.
"Assalamualaikum." Rendi mengucap salam saat sudah berada di depan pintu rumah Tania.
"Waalaikumsalam..." Eni tergagap melihat Rendi tiba-tiba datang.
Sementara dia masih bermandi uang dari Tono. Eni buru-buru meraup uang-uang itu dan memasukannya ke dalam kantong kresek bekas dia membeli gorengan.
"Wah, uang Tante banyak sekali," ucap Rendi.
"Ah, enggak kok. Ini uang Tania. Eh, bukan. Uang... Tante." Eni yang gugup langsung masuk ke dalam.
Tania mendengar suara Rendi langsung membuka pintu kamarnya.
"Rendi...!" seru Tania.
Tania langsung menubruk tubuh Rendi. Tubuh Rendi agak oleng, karena tak siap menerima pelukan mendadak dari Tania.
"Rendi..! Bawa aku pergi sekarang, Ren. Bawa aku pergi yang jauh!" ucap Tania lalu menangis di dada Rendi.
Rendi bingung dengan sikap Tania yang tiba-tiba memeluknya, menangis dan meminta Rendi membawanya pergi jauh.
"Ada apa, Tania?" tanya Rendi.
Rendi semakin bingung.
"Apanya yang kacau, Tante?" tanya Rendi masih sambil memeluk Tania.
"Itu lepasin dulu pelukannya! Tania, kamu jangan pergi! Kamu harus tetap di sini. Waktunya tinggal tiga hari lagi."
Eni semakin kacau. Dia tidak bisa membayangkan kalau Tania benar-benar pergi. Bisa digantung dia dan suaminya oleh Tono.
Rendi melepaskan pelukan Tania.
"Apa yang tinggal tiga hari lagi?" tanya Rendi. Entah pada Tania. Entah pada Eni.
"Ren, tolong aku! Tolong bawa aku pergi, Ren!" pinta Tania lagi. Air matanya berderai-derai.
"Tidak Tania! Kamu tidak boleh pergi!" teriak Eni histeris.
Rendi bingung mesti bagaimana.
"Pamanmu juga kemana sih? Saat dibutuhkan seperti ini malah ngelayap saja!"
"Tante, tenang dulu. Jelasin pada Rendi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rendi dengan sabar pada Eni yang seperti orang kebingungan.
"Jadi begini...Tania tiga hari lagi akan..."
"Stop, Bi. Jangan diteruskan! Atau Tania akan benar-benar pergi!" teriak Tania.
__ADS_1
Eni langsung mengunci rapat-rapat mulutnya.
"Ren, kita bicara di luar. Bi, Tania pergi dulu sama Rendi. Jangan khawatir, nanti Tania pulang," ucap Tania pada bibinya. Tangisnya sudah mulai reda.
Lalu Tania menarik tangan Rendi agar segera mengajaknya pergi. Rendi yang masih kebingungan, hanya menurut saja.
Eni pun hanya bisa bengong menatap kepergian Tania dan Rendi.
"Ayo kita pergi, Ren. Naik motormu," ucap Tania.
Rendi pun menurut. Dia naik ke motornya. Tania langsung naik di belakangnya.
"Kemana?" tanya Rendi masih bingung.
"Terserah kamu," sahut Tania.
Rendi menyalakan motornya dan melajukannya perlahan.
Rendi malah jadi bingung mau mengajak Tania kemana. Rencananya jadi berantakan. Otaknya tak bisa buat berfikir.
Dia masih ingat perkataan bibinya Tania tentang waktu yang tinggal tiga hari lagi. Tentang uang yang katanya milik Tania.
Dan Tania yang meminta membawanya pergi jauh.
Tania memeluk tubuh Rendi dengan erat. Biasanya Rendi akan sangat senang. Tapi sekarang malah jadi bingung dengan sikap Tania.
"Ren. Aku cinta kamu," ucap Tania di punggung Rendi.
"Aku juga, Sayang. Tapi jelaskan dulu padaku, ada apa ini?" pinta Rendi.
"Nanti aku jelaskan semuanya padamu, Ren."
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Nanti saja. Setelah...setelah kita..." Tania tak mampu meneruskan kalimatnya.
"Setelah apa, Tania?" tanya Rendi dengan lembut.
Tania tak mampu menjawabnya. Dia malah berfikir kemana sebaiknya dia akan menghabiskan waktunya bersama Rendi.
"Ren, maukah kamu membawaku ke...hotel?"
Akhirnya Tania menemukan ide juga.
"Ke hotel?" tanya Rendi tak mengerti.
Senakal-nakalnya Rendi, dia tak pernah membawa cewek ke hotel. Paling banter ke tempat karaoke.
"Iya," sahut Tania.
"Mau apa kita di hotel?" tanya Rendi lagi. Dia juga sangat penasaran kenapa tiba-tiba Tania mengajaknya ke hotel.
"Nanti kamu akan tau kalau sudah di sana," sahut Tania.
"Oke. Tapi kamu janji akan menjelaskan semuanya padaku?"
"Iya, aku janji," jawab Tania.
__ADS_1
Dia sudah siap kehilangan Rendi. Sekarang atau tiga hari lagi buatnya tak akan ada bedanya. Sama-sama akan kehilangan. Sama-sama akan sakit.