
Tania mengangguk. Menurut Tania, baju itu lumayan cocok untuk acara healing mereka.
"Tapi ini kan terlalu longgar? Dan ini baju lama." Eni memperhatikan baju yang masih dipegang Tania itu lebih seksama.
Baju yang sudah lama tak lagi dikenakan Eni, karena menurutnya sudah tak modis lagi.
Eni lagi menggemari baju-baju ketat yang menampilkan bentuk tubuhnya yang sintal. Meskipun bukan baju yang terlalu mengumbar aurat seperti yang selalu dikenakan oleh Monica.
"Bi. Di sana itu bakalan gerah. Cuaca sekarang kan sangat panas. Kalau Bibi pakai baju ketat kayak begitu, keringat Bibi bakalan kemana-mana," ucap Tania.
Eni masih ragu untuk mengenakannya. Lalu dia menatap Tania.
Hhmm. Tania juga hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Sangat bertolak belakang dengan bajuku ini. Eni melihat baju yang dikenakannya sendiri.
"Ya udah deh. Sini, Bibi ganti baju dulu." Eni meraih bajunya.
Dengan terpaksa Eni mengganti bajunya. Tania masih berdiri di tempatnya. Dia memperhatikan tubuh wanita yang telah mengasuhnya sejak kecil.
Eni sendiri tak merasa malu atau risi diperhatikan Tania. Toh mereka sama-sama wanita. Dan Eni pun sudah terbiasa berganti pakaian di depan Tania sejak dulu.
"Nih! Tolong lipat lagi!" Eni memberikan baju yang tadi dipakainya pada Tania.
"Digantung aja dulu, Bi. Biar bau ketingatnya ilang," ucap Tania. Dia mulai mencari hanger yang bisa buat menggantung baju Eni.
"Baru juga dipake. Belum kena keringat," ucap Eni.
"Kata siapa? Ini udah lembab." Tania memperlihatkan bekas keringat di beberapa bagiannya.
"Ya udah, sana dicantelin. Tuh, hangernya!" Eni menunjuk hanger yang tergeletak di meja. Lalu mencium keteknya sendiri.
"Enggak bau," gumam Eni.
"Bukan enggak bau. Tapi belum, Bi," sahut Tania.
Meski kadang bau badan Eni menyengat, tapi Tania betah-betah aja berdekatan. Mungkin karena sudah terbiasa dari kecil hidup bersama.
"Mana ada keringatku bau!" ucap Eni dengan percaya diri.
Tania terkekeh mendengarnya. Eni mendelik ke arah Tania.
"Buktinya paman kamu nempel terus ama Bibi. Kamu juga. Dari kecil hobinya ngusek aja di ketek, nih!" Eni memperlihatkan keteknya.
Tania pura-pura menahan bau dengan menekan hidungnya.
Dan spontan Eni mencium kembali kedua keteknya. Tania malah jadi terbahak-bahak.
"Ada apaan, sih?" tanya Danu yang kebetulan mendengar suara tawa Tania.
"Itu loh, Paman. Masa bibi nyiumin keteknya sendiri," jawab Tania.
"Kamu yang bilang kalau keteknya Bibi bau. Jadi Bibi buktiin deh," sahut Eni.
"Tania gak bilang gitu kok." Tania mengelak.
Tapi memang nyatanya dia tak bilang kalau keteknya Eni bau. Tania cuma bilangnya belum bau.
__ADS_1
"Apaan, kamu bilang tadi apa?" Eni tetap menuduh Tania.
"Ih, enggak. Kan Bibi yang mulai. Tania kan cuma ngelanjutin aja. Hehehe." Tania terkekeh, terus ngeloyor keluar kamar Eni.
"Awas, Paman." Tania meminta Danu menyingkir dari pintu.
"Bau juga aku masih betah, Bu," ucap Danu sambil menyingkir sedikit.
"Betahlah. Orang ketekmu lebih bau!" sahut Eni.
"Tapi enak kan, aromanya?" ledek Danu.
"Enak banget, Pak. Saking enaknya sampai mau pingsan!" sahut Eni asal.
"Pingsannya merem melek!" Danu pun tak kalah asalnya.
"Iyalah. Kalau melek terus mana tahan...!" Eni meledek Danu.
Danu jadi gemas dengan ucapan Eni. Lalu dia menghampiri Eni dan menariknya kedalam pelukan.
"Iih, apaan sih, Pak. Lepasin!" Eni berusaha melepaskan diri dari dekapan Danu.
Tapi Danu malah semakin mempererat pelukannya. Bahkan Danu memposisikan wajah Eni supaya berada di dekat keteknya.
"Hhh! Cium nih. Biar kamu merem melek lagi!" Danu terus menahan wajah Eni tenggelam di pelukannya.
"Pak...! Iih...lepasin!" Eni meronta berusaha melepaskan diri.
"Enggak bisa. Mesti merem melek dulu, baru aku lepasin," ucap Danu.
Dan sessi selanjutnya bukan lagi sekedar mencium aroma ketek, tapi lanjut ke atas tempat tidur.
Pakaian longgar Eni membuat Danu lebih leluasa tanpa harus melepaskannya.
Cukup dengan gerakan sat set, Danu pun bisa menikmati tempat-tempat favoritnya.
Tania tak lagi mendegar. Karena dia sudah kembali ke teras. Sambil menunggu kedatangan Widya dan Lintang, Tania berkirim kabar dengan Mike lewat chat.
Juga dengan Rendi yang masih menunggu Sari berangkat ke toko.
Sabar ya, sayang. Mamaku belum berangkat. Ketik Rendi di pesan chatnya.
Iya. Bude sama mbak Lintang juga belum datang. Malah sekarang hape mereka enggak bisa dihubungi. Balas Tania.
Lho, kok enggak bisa? Kamu udah telpon? Tanya Rendi.
Udah berkali-kali. Nomornya mbak Lintang non aktif. Nomornya bude aktif, tapi enggak diangkat. Jawab Tania.
Ya udah. Mungkin mereka lagi siap-siap. Sahut Rendi.
Iya. Soalnya bude katanya mau masak buat makan kita disana. Ketik Tania.
Kenapa harus masak? Di sana kan banyak restauran yang keren. Balas Rendi.
Itu maunya bude sendiri. Aku juga udah bilang gitu, kemarin. Ketik Tania.
__ADS_1
Ya udah. Nanti kita tetep ke restauran itu. Sekedar pesan minuman sama makanan kecil juga enggak apa-apa. Nanti makannya cari tempat di luar aja. Balas Rendi.
Memangnya enggak boleh makan di restauran itu? Tanya Tania.
Enggak boleh dong, sayang. Pengunjung enggak diperbolehkan bawa makanan dari luar. Jawab Rendi.
Oh, ya udah. Nanti bibi biar bawa tikar aja. Buat makan bareng. Ucap Tania.
Enggak usah, sayang. Nanti kita sewa tikar di sana. Biar sekalian dicarikan tempat yang enak buat duduk. Sahut Rendi.
Rendi tak mau membuat keluarga Tania malah ribet dengan segala urusan di sana.
Maunya Rendi, healing itu ya benar-benar refreshing. Bukan melakukan hal-hal yang bikin pusing.
Ya udah. Aku nurut aja. Balas Tania.
Nah gitu, dong. Kan jadi makin cantik. Coba foto sebentar, pingin liat wajah calon istriku. Pinta Rendi.
Enggak, ah. Bentar lagi juga ketemu. Balas Tania.
Aku maunya sekarang, sayang. Kalau entar kan tinggal nyiumnya aja. Rendi tetap meminta.
Tania pun berselfie sebentar. Lalu mengirimkannya kepada Rendi.
Rendi langsung menyambutnya dengan emoji love sebanyak-banyaknya. Membuat hati Tania berbunga-bunga.
Ren. Sebentar ya, bude sama mbak Lintang udah dateng. Ketik Tania.
Tapi sayang pesan yang dikirim Tania tidak langsung dibaca oleh Rendi. Karena Sari juga sudah mau berangkat.
"Bude. Mbak Lintang," sambut Tania. Lalu Tania menyalaminya satu persatu.
Meski usia Tania dan Lintang hanya selisih beberapa tahun, tapi Tania tetap menyalami tangan Lintang sebagai tanda hormat.
"Mana bibimu?" tanya Widya setelah meletakan beberapa rantang bawaannya.
"Di kamar. Sama paman juga, Bude," jawab Tania.
"Jam segini mereka masih di kamar?" tanya Widya keheranan.
Tania mengangguk. Karena memang kenyataannya tadi Danu masuk ke kamar. Tapi apa yang mereka lakukan, Tania tak mengerti.
"Hadeh...bisa molor ini waktunya." Widya bergegas masuk.
Tok! Tok! Tok!
Widya mengetuk kamar Eni dengan keras.
"Eni! Danu! Keluar enggak kalian?" teriak Widya.
Danu yang sedang on fire langsung menghentikan aksinya.
"Gawat! Mbak Widya, Bu!"
Blegh!
__ADS_1
Eni pun langsung terkapar. Hasrat yang sudah di puncaknya, langsung down.