
Tania mendekat dan mengulurkan tangannya keluar. Rendi langsung menyambutnya.
"Rendi...!"
"Tania...! Aku akan membawamu pergi, sekarang juga!" ucap Rendi.
"Tidak bisa! Tak akan ada yang bisa membawa Tania pergi dari sini!" seru Tono yang sudah ada di belakang Tania.
"Tania, masuk!"
"Enggak! Aku enggak akan masuk lagi ke rumah kamu!" sahut Tania.
Tono berusaha meraih tangan Tania. Lalu menariknya.
Dan tarik menarik pun terjadi lagi. Seperti saat di hotel dulu.
"Papa! Lepaskan Tania!" teriak Rendi dari balik pintu gerbang.
"Kamu yang harus lepasin Tania!" sahut Tono.
Karena tak tega melihat Tania yang kesakitan, Rendi terpaksa melepaskan tangan Tania.
Dan karena Tono menarik tangan Tania terlalu keras, membuat Tania mendarat mulus di pelukan Tono.
"Auwh!" seru Tania.
Tono langsung memeluk tubuh Tania dengan erat.
"Lepasin!" Tania memberontak, mencoba melepaskan diri.
"Lepasin Tania, Tua bangka!" ucap Rendi yang geram melihat Tono malah memeluk Tania.
"Enggak akan aku lepaskan! Dia istriku!" Dan dengan sengaja, Tono berusaha menciumi Tania.
Tania terus saja menghindar, hingga mereka berdua terjatuh dan berguling di bawah.
"Tania!" Rendi semakin emosi melihat Tono yang terus saja mau mencumbui Tania di depan matanya.
Lalu Rendi nekat menaiki pintu gerbang yang cukup tinggi itu.
Tania melihatnya, matanya terbelalak.
"Rendi ati-ati!" teriak Tania.
Tania segera berusaha berdiri untuk membantu Rendi.
Dengan susah payah, Tono pun ikut berdiri. Lalu kembali memanas-manasi Rendi.
Dia peluk Tania dari belakang. Tania meronta.
Rendi yang melihatnya, jadi hilang konsentrasi. Saat kakinya mulai masuk ke bagian dalam, kakinya itu terpeleset.
Hingga Rendi seperti tertarik ke bawah dan pegangan tangannya pun terlepas.
Bugh!
Rendi jatuh tepat di bawah kaki Tania. Darah mengucur dari kepala Rendi.
"Rendi...!" teriak Tania.
"Ta...nia...." Lalu Rendi tak sadarkan diri.
Tono terkesiap dan spontan melepaskan pelukannya.
Tania langsung bersimpuh dan memeluk tubuh Rendi yang berlumur darah.
"Rendi....!" Tania melolong sambil terus memeluk Rendi.
__ADS_1
Tono hanya terdiam menatap anak kesayangannya pingsan di pelukan istrinya.
Prok! Prok! Prok!
Linda bertepuk tangan dengan keras dari balkon. Lalu tertawa puas melihat adegan menegangkan sekaligus mengharukan itu.
"Rendi....!" Tania terus saja menangis.
Tono segera berbalik sambil memanggil Yahya.
"Yahya! Bukakan pintu gerbang!"
Yahya yang juga ada di dekat mereka, segera membuka pintu gerbang.
Tono berlari ke dalam mengambil kunci mobilnya.
"Bawa masuk Rendi ke dalam mobil!" Tono membuka pintu mobilnya bagian tengah.
Asih pun langsung ikut mendekat.
Dengan dibantu Yahya dan Asih, Tania menggotong tubuh Rendi masuk ke dalam mobil.
Tangis Tania tak berhenti. Dia terus saja menangis sambil mendekap erat kepala Rendi yang berdarah.
Tono masuk ke mobil dan segera memacunya menuju ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara. Hanya tangisan Tania yang menyayat hati.
Hati Tono pun terasa sangat sakit, melihat anaknya terluka parah. Dia takut Rendi mati.
Tono sampai di rumah sakit yang sama tempat Tajab dirawat dan akan segera dioperasi.
"Cepat selamatkan anakku!" seru Tono pada beberapa perawat yang dengan sigap membantu menurunkan Rendi.
Rendi dinaikan ke atas brankar dan Tania tetap berada di sisinya. Mengikuti brankar itu masuk ke ruang IGD.
"Maaf, Ibu, Bapak. Tunggu di luar dulu. Kami akan segera menolong korban," ucap seorang perawat pada Tania dan Tono.
"Tapi Rendi....!" Suara Tania tercekat.
"Tunggu di luar saja ya, Bu." Perawat itu segera menutup pintu.
Tania merosot ke lantai. Tangisnya masih saja terdengar meski hanya sesenggukan.
Tono tak tega melihat Tania. Dia memapah tubuh Tania menuju bangku panjang.
Entah sadar atau tidak, Tania tak menolaknya. Dia didudukan oleh Tono.
Lalu Tono mencari perawat untuk meminta tissue.
"Ini. Bersihkan tangan dan wajah kamu," ucap Tono sambil memberikan tissue pada Tania.
Tania menerimanya. Lalu mulai membersihkan tangannya.
"Ibu. Di sana ada wastafel. Bersihkan pakai air saja dulu," ucap seorang perawat.
Tania pun menurut. Dia berjalan menuju wastafel. Tono hanya menatap punggung Tania yang berjalan dengan langkah lesu.
Dalam hatinya, ada rasa penyesalan yang mendalam.
Seandainya saja dia tak menuruti egonya.
Seandainya saja dia membukakan pintu gerbang itu, Rendi tak akan sampai jatuh.
Tono hanya bisa menyesali dirinya sendiri. Tono tertunduk sambil menangis tanpa suara.
Dia sangat takut kehilangan anak satu-satunya.
__ADS_1
Tono mulai menyadari, kalau Rendi sangat mencintai Tania. Dia tak pernah menyerah untuk mendapatkan Tania kembali.
Dan Tania pun juga sangat mencintai Rendi. Hingga Tania tak pernah mau disentuhnya.
Kenapa aku begitu egois? Memaksa mengambil Tania dari anakku? Dan nyatanya Tania tak pernah bisa menerimaku.
Aku memang jahat! Sangat jahat!
Aku memang serakah! Seorang lelaki yang tak tau diri. Hanya mementingkan diri sendiri. Hanya mementingkan nafsuku saja.
Tono terus menangisi kebodohannya.
Bahkan dia sampai tak menyadari kalau Tania sudah ada di depannya.
Tania pun trenyuh melihat air mata Tono yang mengalir deras meski tanpa suara.
"Ini." Tania memberikan tissue yang tadi diberikan Tono untuknya.
Tono mengangkat kepalanya. Dia menatap wajah Tania.
Seorang gadis yang mestinya jadi istri anaknya. Bukan dirinya.
Mestinya Tono bisa menyayangi Tania sebagai anaknya, bukan bernafsu untuk menidurinya.
Tono meraih tissue itu dan menghapus air mata yang keluar dari mata tuanya.
"Duduklah," ucap Tono setelah dia merasa lebih tenang.
Tania pun duduk di sebelah Tono.
"Maafkan aku," ucap Tono. Lalu menundukan kepalanya lagi.
Tono tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dan air matanya kembali mengalir.
Tania mengambilkan tissue lagi.
"Terima kasih."
Tono sangat malu pada Tania. Tania gadis yang sangat baik. Penurut. Tapi Tono telah menghancurkannya hanya karena ego dan nafsu.
"Maafkan aku. Aku...sangat menyesal," ucap Tono.
"Semua sudah terjadi. Menyesalpun tak akan ada gunanya. Sekarang, doakan saja semoga Rendi tertolong," sahut Tania.
Meskipun Tania sangat mencintai Rendi, tapi Tania tak bisa banyak berharap.
Luka di kepala Rendi terlihat sangat serius. Darah yang keluar pun luar biasa banyaknya.
Kepala Rendi membentur lantai cor yang memang dibuat Tono sangat keras.
Tono tak bisa berkata apa-apa lagi. Tania seolah menyalahkannya. Dan tak mau memaafkan dirinya.
Ya, memang kesalahannya teramat fatal.
"Panggil mamanya Rendi. Biar dia tau keadaan Rendi," pinta Tania.
Tania benar-benar tak bisa lagi berharap Rendi bisa hidup lagi. Tania ingin mamanya Rendi bisa melihat anaknya sebelum terlambat.
"Aku....takut," sahut Tono.
"Kenapa?" tanya Tania. Dia tak percaya kalau seorang yang bengis seperti Tono punya juga rasa takut.
"Dia pasti akan menyalahkanku," jawab Tono.
"Apa kamu merasa dirimu benar?"
Tono menatap wajah Tania. Bahkan Tania pun sepertinya tak bisa memaafkan aku. Batin Tono.
__ADS_1