HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 216 NGIDAM CILOK


__ADS_3

Selepas maghrib Widya minta diantarkan pulang. Lintang juga sudah kangen dengan kamarnya sendiri.


Lintang sudah lama tidak pulang. Biasanya Widya yang datang ke kota tempatnya bekerja.


"Enggak menginap aja, Mbak?" tanya Eni.


"Enggaklah. Biar Lintang juga bisa istirahat dengan nyaman," jawab Widya.


Kamar di rumah Danu, hanya ada dua. Yang satu ditempati Danu dan Eni. Satunya lagi ditempati Tania.


Widya tidak mau kalau Tania kembali harus mengalah. Itu bisa dipastikan oleh Widya.


"Ya udah, aku anterin. Sekalian ngembaliin mobil," ucap Danu.


"Terus nanti kamu gimana pulangnya, Pak?" tanya Eni khawatir.


"Gampanglah. Di rumah Tono kan ada Yahya. Biar dia yang nganterin aku pulang," jawab Danu.


"Ya udah. Ati-ati, Pak." Eni menurut saja, asalkan Danu pulangnya tidak bingung.


"Lho, Bude sama mbak Lintang enggak nginap aja?" tanya Tania.


"Enggak Tania. Besok kamu yang main ke rumah Bude. Jangan di rumah terus," jawab Widya.


"Iya, Bude. Besok Tania main ke rumah Bude. Biar bisa nemenin mbak Lintang juga," sahut Tania.


Danu pun mengantarkan Widya dan Lintang pulang lebih dulu.


"Paman, ini mobil rentalan ya?" tanya Lintang pada Danu.


Danu terdiam. Dia bingung mesti menjawab apa. Karena Widya masih belum mengijinkan menceritakan soal Tania pada Lintang.


"Iya. Rental di tempat paman kamu." Widya langsung menyahut.


Danu menghela nafas lega. Karena dia tak perlu berbohong pada Lintang.


"Ooh. Pasti harga sewanya mahal ya, Bu. Mobilnya masih bagus. Dinaiki nyaman banget," ucap Lintang.


"Paman, kapan Tania akan menikah dengan Rendi? Pacarnya itu," tanya Lintang lagi.


Danu kembali terdiam. Dan pura-pura fokus dengan jalanan yang kebetulan cukup padat.


"Enggak lama lagi, Lintang. Kamu enggak usah mikirin Tania dulu ya. Fokus aja sama kandungan kamu." Widya melirik ke arah perut Lintang yang masih rata.


"Iya, Bu," jawab Lintang.


"Paman! Itu ada yang jual cilok. Berhenti dulu sebentar. Lintang mau beli cilok!" seru Lintang.


Danu pun menepikan mobilnya.


"Jangan makan begituan, Lintang. Itu enggak ada gizinya. Enggak higienis juga. Kasihan nanti anak kamu." Widya berusaha mencegah Lintang.

__ADS_1


"Sedikit kan enggak apa-apa, Bu. Cuma kepingin aja, kok," sahut Lintang.


Sejak kecil, Lintang hampir tak pernah jajan sembarangan. Widya selalu membekalinya makanan yang dibuat sendiri.


Kalau pun kepingin, Lintang selalu ngumpet-ngumpet belinya.


Beda dengan Tania. Tania bisa jajan apapun yang dimauinya. Paman dan bibinya tak pernah melarang. Apalagi marah.


"Biarinlah, Mbak. Namanya juga orang ngidam," ucap Danu.


"Kamu itu, tau apa tentang orang ngidam?" tanya Widya.


"Taulah. Dulu waktu Mbak Widya ngidam, memangnya siapa yang disuruh-suruh nyariin?" Danu mencoba mengingatkan kembali kenangan itu. Biar Widya tidak egois lagi.


Widya pun hanya bisa diam. Meskipun ada kekhawatiran tentang kualitas makanan itu.


Danu memundurkan mobil biar tak terlalu jauh dari tukang cilok yang lagi mangkal.


Setelah sudah dekat, Danu pun ikutan turun.


Danu menemani Lintang membeli cilok.


"Bang, ciloknya satu porsi. Yang pedes, ya," ucap Lintang pada penjual cilok.


"Iya, Neng. Sebentar, ya," sahut tukang cilok sambil terus melayani pembeli lain.


"Eh, jangan pedes-pedes. Kasihan dedek bayinya," sahut Danu. Dia bersikap seolah sebagai bapak dari anak yang sedang dikandung Lintang.


Tukang ciloknya mulai bercanda.


Lalu dia melihat ke arah Danu sekilas. Dalam hati berpikir, ini orang udah tua bininya cakep amat?


Penjual cilok itu juga melirik mobil yang tadi dikendarai Danu.


Oh, pantesan bininya cakep dan masih muda. Mobilnya aja bagus. Pasti orang kaya. Batin tukang cilok sambil mulai menjuali Lintang.


Cewek jaman sekarang, enggak bisa liat mobil mewah. Langsung klepek-klepek. Tukang cilok itu terus saja membatin.


"Ini ciloknya, Neng. Cukup segini?" tanya tukang cilok sambil memberikannya pada Lintang.


"Cukup, Bang." Lintang menerimanya. Lalu tangannya merogoh saku celana, mencari uang kecil.


Ternyata Danu sudah menyiapkannya lebih dahulu.


"Nih, Bang." Danu yang membayarnya.


Lintang hanya mengangguk saja. Baginya tak masalah, toh Danu pamannya sendiri. Jadi wajar kalau membayarnya.


"Ayo, udah. Makannya nanti di mobil aja." Danu merangkul bahu Lintang dan mengajaknya kembali ke mobil.


Lintang pun menurut.

__ADS_1


Tukang cilok itu memperhatikan mereka sambil geleng-geleng kepala. Dia membayangkan kalau saja dirinya kaya raya, pasti bakal dapetin istri secantik dan semuda itu.


"Lintang duduk di depan aja ya, Paman," ucap Lintang. Dia malas duduk di sebelah Widya. Karena pasti bakal diocehin saat makan ciloknya.


Danu mengangguk. Dan dengan sabar membukakan pintu depan buat Lintang.


Tukang cilok itu masih saja memperhatikan sampai mobil yang dikendarai Danu pergi.


"Laki-laki itu sayang juga sama ceweknya. Kirain kalau kayak begitu, ceweknya aja yang nyosor," gumam tukang cilok.


"Enak. Paman mau?" Seperti anak kecil, Lintang mengulurkan bungkus ciloknya pada Danu.


"Enggak. Buat kamu aja," tolak Danu.


Seumur-umur Danu juga belum pernah makan jajanan cilok. Karena bagi Danu, itu adalah jajanan anak-anak.


"Ibu kamu tuh tawarin. Siapa tau mau," ledek Danu. Lalu dia terkekeh.


"Enggak doyan!" sahut Widya dengan ketus.


Dia kesal melihat Lintang yang makannya lahap banget. Sepertinya makanan itu rasanya sangat enak.


"Ya udah kalau pada enggak mau. Enak tau!" Lintang menghabiskannya sendiri.


"Paman ada minum?" tanya Lintang sambil mencari-cari botol air mineral.


"Kenapa? Kepedesan?" tanya Widya dengan kesal.


"Enggak pedes kok, Bu. Tanya aja sama paman. Cuma kalau abis makan enggak minum, kan enggak enak banget," jawab Lintang.


Tadi Eni sudah membersihkan mobil Tono, dan mengeluarkan semua isi di dalamnya.


Danu membelokan mobil ke sebuah minimarket.


"Mau apa lagi, Dan?" tanya Widya.


"Beli minum buat Lintang, Mbak." Danu langsung turun tanpa menunggu reaksi Widya juga Lintang.


"Paman baik banget," ucap Lintang.


"Paman kamu itu memang baik banget. Apalagi tau kamu lagi hamil. Maklum, dia tidak punya anak sendiri," sahut Widya.


"Kenapa bibi Eni enggak bisa hamil ya, Bu? Apa dia mandul?" tanya Lintang pelan.


"Enggak tau siapa yang mandul. Bisa jadi paman kamu yang mandul," jawab Widya.


Widya tak mau menghakimi dan membuat spekulasi sendiri. Kasihan Eni kalau dituduh mandul. Karena belum tentu juga begitu.


"Haryo sudah dua tahun menikah, istrinya tak juga hamil. Tapi Lintang, baru sekali aja langsung hamil. Apa itu berarti istrinya Haryo mandul?" gumam Lintang.


"Bisa jadi. Udah, enggak usah pikirin dia lagi. Sekarang kamu fokus sama kehamilanmu aja dulu. Biar enggak stress. Kalau memang dia jodoh kamu, nanti akan ada jalannya. Jangan jadi pelakor, Lintang," sahut Widya.

__ADS_1


Meskipun yang terjadi pada Lintang sangat menyakitkan, tapi akan lebih sakit lagi istrinya Haryo saat tau suaminya direbut wanita lain. Begitu pikir Widya.


__ADS_2