
Tono mengajak Tania ke sebuah toko perhiasan. Tono akan membelikan mas kawin buat Tania.
"Kamu pilih sesukamu. Abang nunggu di sana," ucap Tono sambil menunjuk sebuah kursi.
Dengan malas Tania memilih perhiasan. Mestinya bibinya ikut, biar dia yang memilihkan.
"Mbak, tolong pilihkan perhiasan yang terbaik untuk saya. Mau buat mas kawin. Kalau perlu yang paling mahal!" ucap Tania pada salah satu pelayan di toko itu.
"Mbaknya yang mau menikah?" tanya pelayan itu.
Tania kesal mendengarnya. Dia hanya mengangguk dengan wajah cemberut.
"Ini Mbak. Ini koleksi terbaru kami. Satu set perhiasan. Kalau mau buat mas kawin, nanti akan kita hias kotaknya. Mbaknya cobain dulu, ya? Kalau tidak pas, kami masih punya ukuran yang lain," ucap pelayan toko.
Dengan malas, Tania mencoba perhiasan itu.
"Kok cemberut terus sih, Mbak. Mestinya tadi diantar sama calon suaminya, jadi Mbaknya bisa enjoy," ucap pelayan itu lagi.
Tania bersyukur pelayan itu tidak tahu kalau aki-aki yang bersamanya adalah calon suaminya.
"Udah ini dibungkus saja. Saya malas milih-milih lagi." Tania langsung menyerahkan satu set perhiasan itu.
"Sudah pas semua ukurannya ya, Mbak?" pelayan itu masih terus saja bertanya.
Tania hanya menganggukan kepalanya.
"Saya buatkan kuitansinya sekalian ya, Mbak."
Tania hanya diam saja.
"Atas nama siapa?"
Tania menatap pelayan itu. Kenapa harus atas nama juga?
"Mbak. Nama Mbak siapa?" tanya pelayan itu.
"Tania," jawab Tania.
"Ini kuitansinya. Silakan bayar di kasir dulu, nanti ambil barangnya di sini lagi."
Tania mengambil kuitansi itu dan menyerahkan kepada Tono yang sedang duduk sambil ngobrol dengan seorang gadis muda seusia Tania.
"Ini kuitansinya."
"Sudah selesai?" tanya Tono.
Tania hanya mengangguk.
Lalu duduk di kursi lain. Tono menuju ke kasir.
"Kamu keponakannya Bang Tono?" tanya gadis yang tadi ngobrol sama Tono.
Tania menatap gadis itu.
"Memangnya dia bilang apa?" tanya Tania.
"Bang Tono bilang, sedang mengantar keponakannya membeli perhiasan," sahut gadis itu.
Tania manggut-manggut. Oh, dasar buaya darat. Calon istri dibilang keponakannya.
__ADS_1
Tak lama, Tono kembali dengan membawa kotak perhiasan yang dipilih Tania.
"Ayo pulang," ajak Tono. Tak ada sikap sok mesra seperti biasanya.
Tania beranjak dan berdiri. Saat hendak melangkah, Tania sempat memperhatikan mata Tono yang mengedip satu pada gadis tadi.
Ingin rasanya Tania mencolok mata Tono. Gak bisa lihat yang bening-bening.
Tania berjalan agak menjauh dari Tono. Kesempatan sekali Tono lagi tebar pesona pada gadis itu dan mungkin juga pada pelayan-pelayan di toko ini yang cantik-cantik.
"Kamu mau makan dulu, Cantik?" Tono mulai menggombali Tania lagi. Maklum di mobil hanya ada mereka berdua.
"Enggak. Udah kenyang!" sahut Tania ketus.
"Tapi Abang laper," ucap Tono.
Dan tanpa persetujuan dari Tania, Tono membelokan mobilnya ke sebuah restauran.
Tania hanya bisa menahan rasa kesalnya. Sebab siang ini dia ada janji dengan Rendi.
"Jangan lama-lama. Aku kan lagi dipingit." ujar Tania memberi alasan.
"Tenang saja, Cantik. Paman dan bibimu tak akan marah."
Tania terpaksa mengikuti Tono masuk ke restauran itu.
Tono memesan banyak makanan. Tania sampai heran, untuk apa makanan sebanyak itu?
"Makanlah. Biar badan kamu tidak terlalu kerempeng. Tidak enak kalau tidur dengan perempuan kerempeng," ucap Tono menawari Tania.
Tania bergidig ngeri. Tidur dengan aki-aki? Tak pernah dibayangkan oleh Tania.
Kenapa aku begitu ceroboh sih. Aku tak pernah berfikir sejauh itu. Aku tak pernah berfikir kalau aku menerima lamaran Tono, itu artinya aku akan hidup dan tidur bareng dengannya.
Tania hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Kenapa tidak dimakan? Abang pesanin lagi yang lain?" Tania menggeleng.
"Ya sudah. Kalau kamu tidak mau makan, nanti dibungkus saja buat paman dan bibimu," ucap Tono.
Tono pun hanya makan sedikit. Sisanya dia suruh pelayan untuk membungkusnya.
"Perhiasan tadi sudah kamu coba?" tanya Tono. Karena dia tadi asik ngobrol dengan gadis imut-imut yang bikin Tono melupakan Tania sejenak.
Tania hanya mengangguk. Makanya jangan kegatelan sama cewek. Jadi lupa sama calon istri. Gerutu Tania dalam hati.
"Ya sudah. Semua persiapan untuk pernikahan kita sudah lengkap?" tanya Tono lagi.
Pernikahan kita? Kamu aja kali! Tania bersungut-sungut dalam hati.
"Entahlah. Aku kan belum pernah menikah!" Tania sengaja menyindir Tono yang kata orang sering berganti istri seperti orang ganti baju.
"Bibimu nanti suruh nyari tukang rias yang bagus. Aku lagi banyak urusan. Gak sempat."
"Iya." Tania menjawab singkat.
Seorang pelayan datang membawakan makanan yang tadi di bungkus.
"Terima kasih." Tania beranjak berdiri.
__ADS_1
Tono pun ikut berdiri. Sampai di parkiran, Tono membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.
Tania hanya diam saja selama perjalanan. Mau ngobrol apa dengan aki-aki? pikir Tania.
Hingga sampai di rumah, Danu dan Eni menyambut dengan sumringah.
"Aku langsung pulang. Oh iya, tolong carikan perias pengantinnya yang bagus. Biar istriku mangklingi," ucap Tono dengan percaya diri.
"Beres. Aku sudah mencarikannya tadi. Yang penting dananya saja," sahut Eni.
Tono merogoh dompetnya. Lalu memberikan sejumlah lembaran berwarna merah pada Eni.
"Itu untuk DP-nya. Sisanya nanti sore anak buahku akan mengantarkan. Sekalian buat sewa tenda dan pelaminan. Juga buat cateringnya," ucap Tono lalu pergi meninggalkan rumah Danu.
Eni memasukan uang itu ke kantung celananya.
"Bagi aku, Bu. Aku mau ke pangkalan," pinta Danu setelah Tono pergi.
Eni memberikan dua lembar untuk Danu. Dan Danu pun pergi.
Eni membuka makanan yang tadi dibeli Tania di restauran.
"Wow. Ini makanan mahal. Bibi belum pernah memakannya." Lalu Eni membawa masuk makanannya untuk makan nanti kalau suaminya pulang dari pangkalan.
"Tadi kamu beli perhiasan apa saja?" tanya Eni.
Tania menyerahkan paper bag berisi kotak perhiasan.
"Kotaknya cantik banget. Boleh Bibi buka?"
Tania mengangguk saja. Dia lagi sibuk membuka ponsel yang tadi ditinggalnya.
Dia memang tak mau membawa ponsel saat pergi dengan Tono. Khawatir Rendi menghubunginya.
Eni membuka kotak perhiasan yang telah dibungkus rapi oleh pelayan toko.
"Tania, ini bagus sekali. Pasti mahal harganya." Eni terus saja menatap perhiasan-perhiasan itu dengan kagum.
"Itu kuitansinya ada kan, Bi?" sahut Tania.
Eni ternganga melihat harga satu kotak perhiasan itu.
Eni mencoba perhiasan Tania ke tubuhnya.
"Andai aku punya banyak uang, pasti aku akan membelinya," gumam Eni pelan.
"Kalau Bibi mau, pakai saja," sahut Tania yang mendengar gumaman Eni.
Eni tersenyum malu.
"Itu kan punya kamu, Tania."
"Nanti buat Bibi saja semua. Tania tidak butuh itu," sahut Tania.
Mata Eni berbinar. Membayangkan dia mengenakan perhiasan mahal itu untuk pamer ke tetangga-tetangga.
Pasti mereka akan iri melihatnya. Eni sudah tak sabar untuk memakainya.
Biarlah aku tunggu sampai hari pernikahan Tania tiba. Setelah itu aku bisa memakainya. Tania mana mau pakai banyak perhiasan begini kayak toko emas berjalan.
__ADS_1
"Bibi yang simpan ya. Tania mau ganti baju dulu. sebentar lagi Rendi akan ke sini," ucap Tania.
Dengan senang hati Eni menyimpan perhiasan untuk mas kawin keponakannya itu.