HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 92 ISTRI PEMBANGKANG


__ADS_3

Begitu sampai di depan pintu gerbang, Tono menyuruh kedua istrinya turun.


"Kalian turun di sini aja. Aku mau langsung pergi. Aku panggilkan Yahya biar bukain pintu gerbang." Tono membunyikan klakson mobilnya dengan keras, berkali-kali.


"Aku mau ikut aja. Ngapain juga aku di rumah," ucap Linda.


"Jangan jadi pembangkang! Turun!" bentak Tono pada Linda.


Tania hanya tersenyum, lalu keluar dari mobil tanpa harus disuruh lagi.


Yahya tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang. Tania segera masuk. Dia malas berlama-lama dengan Tono dan Linda.


"Ayo turun! Tunggu apa lagi?" bentak Tono lagi.


Dengan malas Linda turun dan masuk ke dalam. Nyalinya sudah ciut duluan. Dia merasa bakal tidak nyaman di rumah Tono.


Linda menoleh ke arah pintu gerbang yang akan ditutup Yahya. Dan setelah yakin mobil Tono pergi, dia menghampiri Yahya.


"Jangan ditutup dulu. Aku mau keluar!"


"Tapi nanti dimarahi juragan Tono. Saya yang kena," sahut Yahya.


"Aku yang tanggung jawab." Linda langsung menerobos keluar.


Yahya hanya menghela nafasnya.


Masa bodolah. Bukan urusanku. Batin Yahya.


Lalu Yahya mengunci kembali pintu gerbangnya dan masuk ke dalam.


"Belanja apa aja, Neng?" tanya Asih melihat paper bag yang dibawa Tania.


"Cuma beli baju, Bik. Iseng aja," jawab Tania.


"Nih kalau Bik Asih mau, buat Bibik aja." Tania memberikan paper bagnya pada Asih.


"Enggak usah, Neng. Nanti kalau juragan Tono tau, Bibik malah yang dimarahi," tolak Asih.


"Ya jangan sampai tau, Bik," sahut Tania.


"Lagian itu kan bajunya Neng Tania. Mana muat dipakai Bibik. Kan badannya si Eneng kecil."


Tania melihat isi tasnya sebentar.


"Oh iya, ya. Tadi kenapa aku enggak ambil yang seukuran badan Bik Asih, ya," ucap Tania.


"Udah, enggak usah dipikirin. Lagian baju mahal-mahal juga mau buat apa? Bibik kan enggak pernah pergi-pergi. Paling juga ke pasar." Asih merasa sayang kalau ke pasar memakai baju bagus dan mahal.


"Iya, Bik. Aku ke atas dulu, ya," pamit Tania.


Tania memang selalu sopan pada Asih dan Yahya. Meski statusnya di rumah ini sebagai nyonya rumah, tapi Tania tetap menghormati keduanya.

__ADS_1


Tania sudah menganggap Asih dan Yahya sebagai pengganti orang tuanya. Seperti paman dan bibinya.


"Iya, Neng."


"Eh, Pak. Si Lindanya mana?" tanya Asih melihat Yahya masuk sendirian.


"Pergi dia. Enggak tau kemana," jawab Yahya.


"Lho, Bapak gimana sih? Kalau juragan Tono tau, kita yang dimarahi lho," sahut Asih dengan khawatir.


"Aku udah melarangnya, Bu. Tapi dianya ngeyel. Malah nyelonong keluar. Masa iya, aku mesti kejar?"


Tania yang mendengar, tidak jadi naik ke atas.


"Tenang aja, Bik. Nanti aku yang bilang sama si Tono," ucap Tania. Dia tak akan membiarkan Tono memarahi kedua orang itu, karena ulah Linda.


Asih menatap Yahya.


"Iya, Neng. Terima kasih," sahut keduanya.


Tania pun kembali melanjutkan langkahnya, lalu masuk ke kamarnya.


Paper bagnya dia taruh begitu saja. Tania tak punya niatan sedikitpun untuk memakainya.


Tania membaringkan tubuhnya. Dia berpikir, sebenarnya sekarang ini dia bisa kabur. Tono dan Linda tidak ada.


Tapi kasihan Asih dan Yahya. Mereka pasti bakal menanggung akibatnya.


Aku harus bersabar, sesuai rencana. Yang penting aku sudah ada uang.


Hhmm. Moga-moga kartu ini nantinya akan menolongku. Dan semoga si tua bangka itu lupa kalau kartunya ada padaku.


Tania menatap kartu itu. Dia ingat pin-nya. Tanggal lahir Rendi.


Ah, Rendi. Benarkah kamu sudah menikah dan bahagia bersama istrimu? Pasti istrimu sekarang sedang hamil. Lalu kalian punya anak dan bahagia selamanya.


Tania menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya.


Kenapa kamu tidak mencariku, Ren? Bukankah kamu sudah tau tempat tinggalku?


Kemudian Tania ingat pada Mike. Kenapa Mike kesini dan menyamar sebagai sales? Maksudnya apa? Apa dia disuruh Rendi?


Tapi kenapa tak ada lagi yang mencariku di sini? Kemana mereka?


Atau Tono yang melarang mereka ke sini? Atau mang Yahya tak membukakan pintu gerbang untuk mereka?


Tania segera beranjak dari tempat tidurnya. Dia akan menanyakan pada Yahya.


Tania buru-buru turun ke lantai satu.


"Apa kamu bilang? Kemana dia?" tanya Tono pada Yahya dengan marah.

__ADS_1


Kenapa Tono sudah pulang? Katanya tadi mau ada urusan penting. Atau Tono sengaja menjebak?


Dan dia marah-marah, pasti karena Linda yang pergi lagi.


"Dia pergi! Udah aku larang, tapi maksa dan langsung kabur!" ucap Tania.


Sengaja Tania mengatakan begitu, biar Tono tak memarahi Yahya ataupun Asih.


Dan kalau Tono memarahinya, Tania sudah siap.


"Oh. Jadi kamu yang menyuruhnya pergi?" Tono malah memutar balikan omongan Tania.


"Kamu enggak paham omonganku tadi? Dia maksa pergi, dan langsung nyelonong. Cari aja sana! Centengmu kan banyak!" ucap Tania.


Tono menatap Tania dengan geram. Entah kenapa Tono kembali berkata ketus pada Tania. Padahal tadi saat mereka jalan ke mall, Tono begitu perhatian dan lembut.


Dasar tua bangka tak punya pendirian! Gumam Tania dalam hati.


"Sekarang kamu masuk ke kamar! Jangan sampai aku marah dan mengurungmu lagi! Aku mau cari itu wanita enggak tau diuntung!"


Tono langsung keluar. Yahya mengikuti, pastinya Yahya akan membukakan pintu gerbang.


"Pak. Kenapa Neng Lindanya enggak ditelpon saja?" tanya Yahya setelah Tono sampai di depan mobilnya.


"Oh, iya. Kenapa aku jadi bodoh, ya?" gumam Tono pelan.


Yahya hanya tersenyum. Dalam hati memaki Tono yang selalu mengutamakan emosinya dulu.


Belum apa-apa sudah marah. Akhirnya otak jadi bebal! Batin Yahya dengan gemas.


Tono mengambil ponselnya. Lalu menelpon nomor hape Linda.


"Heh! Siapa kamu? Mana istriku?" tanya Tono dengan marah.


Tania mengintipnya dari pintu yang sedikit terbuka.


"Ada apa, Neng?" tanya Asih pelan, melihat Tania sedang mengintip.


Tania menoleh.


"Sstt....!" Tania menyuruh Asih diam dengan jari telunjuknya yang dia tempelkan di bibir.


Asih mengangguk mengerti, lalu ikut mengintip di belakang Tania.


Yahya pun mencoba mendengarkan pembicaraan Tono lewat telpon itu.


"Hallo, Beib. Maaf tadi penjaga counter. Aku lagi beli pulsa di counter. Kuotaku udah mau abis," jawab Linda berbohong.


"Alasan saja kamu. Sekarang, cepet kamu pulang! Atau anak buahku akan mencarimu dan menyeretmu pulang?" ancam Tono.


"Iya, Beib. Aku segera pulang. Tunggu selesai isi pulsanya dulu." Linda segera mematikan panggilan dari Tono dan bersiap pulang.

__ADS_1


"Baru juga sampai," protes seorang lelaki yang bersama Linda.


"Nanti aku cari waktu lagi buat nemuin kamu. Aku pulang dulu. Si tua bangka itu kayaknya enggak jadi pergi."


__ADS_2