
Tono pulang kembali ke rumahnya, setelah sehari dirawat di rumah sakit.
Semestinya dia belum diperbolehkan pulang. Karena kondisinya yang masih belum stabil.
Tapi namanya juga Tono, kalau sudah ada maunya tak ada yang bisa mencegah. Dia tetap ngeyel.
Dokterpun hanya bisa mengangkat bahu, karena tak bisa lagi melawan sikap keras kepala Tono.
Dan Tono bersedia menandatangai surat pernyataan, bahwa dia pulang atas keinginan sendiri. Dan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu.
Sebelum pulang, Tono mampir dulu ke kamar Rendi.
"Ren. Hari ini Papa sudah diperbolehkan pulang," ucap Tono berbohong. Karena sebenarnya dia belum boleh pulang.
"Memangnya Papa sudah sehat?" tanya Rendi. Bagaimanapun, dia tetap mengkhawatirkan Tono.
Rendi sadar kalau Tono hanya hidup dengan pembantu-pembantunya. Karena kini tak ada lagi Tania di sana.
Pastinya tak ada yang akan memperhatikan kesehatan Tono.
"Sudah. Nih, liat. Papa udah sehat, kan?" jawab Tono. Dia tak sadar kalau wajahnya masih terlihat pucat dan lemah.
"Kalau dokter belum ngijinin pulang, jangan ngeyel! Entar kalau ada apa-apa, siapa yang bisa nolongin kamu?" sahut Sari yang lagi duduk di sofa menunggui Rendi.
Tono menoleh sambil menghela nafasnya.
"Papa udah sehat, Ma. Kalau Mama mengkhawatirkan Papa, boleh kan untuk sementara Papa tinggal dulu di rumah kalian?" tanya Tono berharap.
"Ah, enak aja! Entar kalau kamu kawin lagi, kamu bawa istrimu ke rumahku juga. Enggak...! Enggak!" tolak Sari.
"Enggak, Ma. Papa janji enggak akan kawin lagi. Mama kan tahu sendiri kondisi Papa sekarang," sahut Tono.
"Iya. Sekarang kamu bisa bilang begitu. Tapi nanti kalau udah sembuh, bakal lain lagi ngomongnya!" ucap Sari.
Dari dulu sifat Tono selalu seperti itu. Lain sekarang, lain besok.
Kalau ketahuan dan Sari marah-marah, Tono akan bersumpah-sumpah tak akan mengulanginya. Tapi begitu kemarahan Sari reda, dia diam-diam kawin lagi.
"Enggak akan, Ma. Papa janji. Ini janji Papa di depan Rendi lho. Kamu dengar kan, Ren?" tanya Tono pada Rendi.
Rendi mengangguk.
"Justru itu! Kamu jangan pernah janji di depan Rendi, kalau cuma untuk kamu ingkari!" sahut Sari tetap ketus.
Tono hanya bisa menghela nafasnya saja. Percuma berdebat dengan Sari. Karena dia tak akan menang.
"Ya udah, kalau memang Papa enggak boleh tinggal di rumahmu. Papa mau cari rumah lagi yang lebih kecil." Tono mengalah.
Sari dan Rendi terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Memangnya kamu bangkrut sampai menjual rumah mewahmu itu?" tanya Sari. Padahal rumah yang ditempatinya sama mewahnya.
"Enggak. Rumah itu akan aku berikan pada Tania," jawab Tono.
"Hah?" Sari melongo.
Rendi juga ternganga.
Bagaimana mungkin rumah semewah itu akan diberikam begitu saja untuk Tania? Dia hanya istri mudanya Tono. Dan mereka baru menikah beberapa bulan.
Gila! Ini tak bisa dibiarkan. Rendi lebih berhak atas harta Tono daripada Tania.
"Enggak bisa begitu, dong!" protes Sari.
"Lho, memangnya kenapa? Itu kan rumahku sendiri. Hakku dong mau kasihkan rumah itu pada siapapun," sahut Tono.
Sari makin meradang.
Kalau Rendi lebih santai. Toh, nantinya dia akan menikahi Tania. Itu berarti dia juga bisa tinggal di rumah papanya.
"Kamu sadar enggak sih, kalau kamu itu masih punya anak. Dan Rendi lebih berhak daripada istri muda kamu itu!" ucap Sari dengan geram.
"Dasar wanita matre! Dia punya jimat apa, sampai bisa mempengaruhinya!" gumam Sari.
"Dia enggak punya jimat apa-apa, Ma. Dan dia juga bukan wanita matre," ucap Tono yang mendengar gumaman Sari.
Tono menggeleng.
"Nah, makanya! Jangan seenaknya saja ambil keputusan. Rumah kamu kasihkan ke dia. Lalu kamu seenaknya aja pindah ke rumahku. Kamu pikir rumahku itu yayasan sosial?" Sari semakin emosi.
"Papa kasih rumah itu buat Tania juga ada syaratnya, Ma," ucap Tono.
Sari menatap wajah Tono dengan tajam.
"Apa syaratnya?" tanya Sari.
"Syaratnya dia harus mau menikah dengan Rendi. Biar nanti rumah itu buat tempat tinggal mereka. Dengan anak-anak mereka. Cucu-cucu kita, Ma," jawab Tono.
Rendi tersenyum senang mendengarnya. Ternyata papanya sudah memikirkan masa depannya dengan Tania.
Sari malah semakin geram.
"Dan kenapa Papa berikan rumah itu pada Tania, bukan pada Rendi? Biar kalau Rendi nakal, Tania dan anak-anaknya bisa tetap tinggal di sana," lanjut Tono.
Rendi langsung tercekat.
Tono bukan saja memikirkan masa depannya, tapi lebih jauh lagi. Bahkan kejauhan menurut Rendi.
"Enggak! Kamu pikir aku akan merestui hubungan mereka? Enggak akan!" Sari menentangnya terang-terangan.
__ADS_1
"Ma...!" ucap Rendi.
Sari menoleh ke arah Rendi dengan tatapan nyalang.
"Jangan pernah menentang Mama, Rendi!" ucap Sari dengan ketus.
Tono pun menoleh ke arah Rendi. Dia memberi kode pada Rendi, kalau dia akan terus mendukung Rendi.
"Ya udah kalau Mama enggak setuju Rendi menikah dengan Tania. Berarti syarat buat Tania juga Papa batalin. Papa akan tetap memberikan rumah itu pada Tania. Tanpa syarat apapun! Papa pulang dulu!" ucap Tono dengan tegas.
Lalu dia keluar begitu saja dari kamar Rendi.
"Dasar tua bangka gila! Seenaknya saja dia ambil keputusan!" umpat Sari dengan geram.
Rendi hanya diam saja. Dia sangat setuju dengan Tono. Apapun yang akan terjadi dengannya, dia ingin melihat Tania hidup bahagia di rumah yang layak.
Karena yang Rendi tahu, Tono hanya membelikan rumah yang kecil untuk pamannya Tania.
"Jangan dengerin omongan papa kamu, Rendi! Dia sudah gila!" ucap Sari dengan kesal.
"Mama tetap akan perjuangkan rumah itu buat kamu! Kamu anaknya! Kamu yang lebih berhak!" lanjut Sari.
"Buat apa rumah sebesar itu kalau Rendi harus tinggal sendirian kayak papa, Ma!" sahut Rendi.
"Kamu akan punya istri Rendi. Tapi bukan Tania!" ucap Sari.
"Terus siapa? Monica?" tanya Rendi.
"Ya bukan Monica juga!" jawab Sari dengan kesal.
"Tapi kalau Monica hamil anak kamu, mau gimana lagi?" lanjut Sari pasrah.
"Enggak akan, Ma. Mama percaya enggak sih, sama Rendi? Rendi kan sudah bilang kalau tak pernah melakukannya dengan Monica!" sahut Rendi.
"Tapi kamu kan...." Sari tak sanggup mengatakannya. Pasalnya dia pernah melihat Rendi sedang bercumbu dengan Monica.
"Apa kalau cuma pegang-pegang, bisa membuat hamil?" Rendi hanya senyum-senyum saja.
Sari menatap Rendi dengan kesal.
Hh! Enggak bapak, enggak anak, sama saja!
Sari keluar dari kamar Rendi dengan kesal. Dia ingin keluar mencari udara segar.
Kepalanya terasa mau pecah.
Rendi masih senyum-senyum melihat Sari keluar dari kamarnya. Dia sudah membayangkan hari-hari indahnya bersama Tania nanti.
Sementara Tono langsung ke rumah pamannya Tania, lalu setelahnya dia kembali ke rumahnya sendiri.
__ADS_1